Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Tujuhbelas


__ADS_3

Beberapa hari berlalu hubungan keduanya seperti jalan di tempat, sebagai seorang kakak. Kania tahu perasaan sang adik kepada pria tersebut, misinya untuk menjodohkan mereka semakin terbuka lebar.


Ara sendiri diam-diam mempunyai perasaan, tetapi tak punya keberanian bila ia menunjukkan langsung. Sebagai perempuan Ara punya harga diri, walaupun cintanya belum ke sampaian.


Kania yang melihatnya tersenyum lebar, misinya sebentar lagi akan ia jalankan tinggal menunggu momen yang pas untuk keduanya di pertemukan di suatu tempat.


Kania juga sudah menghubungi adik dari pria tersebut, Kanaya pun setuju dengan ide yang di pikirkan Kania. Asalkan tidak ada drama-drama kecelakaan, atau hal yang membahayakan lainnya.


Hari itu pun tiba, rencana mereka akan mengundang makan malam dari pihak pria, dan perempuan.


"Jangan lupa nanti malam Kaka tunggu di kafe Cinta, harus datang enggak boleh pamit!." Ujarnya Kania yang berbicara dengan sang adik melalui jejaring sosial media, video call adalah hal yang tepat karena ingin tahu reaksi Ara.


"Tapi Ara mager Kak untuk keluar, bisa enggak ketemu di cafe Cintanya ditunda?" tawarnya Ara yang mulai bernegosiasi dengan sang kakak, berharap tidak terjadi pertemuan.


"Enggak bisa! kakak sudah reservasi tempat beberapa hari yang lalu, pokoknya kamu harus datang!" ucapnya Kania dengan sangat tegas, tidak ingin rencananya sia-sia.


Enak saja pakai di tawar, aku sudah terlanjur merogoh kocek besar, malah minta di tunda! enak saja enggak mau!


Kania perang batin, bukan tanpa alasan semua di lakukan demi sang adik. Tidak bermuluk-muluk, hanya ingin melihat Ara bahagia dengan pria yang tepat.


*

__ADS_1


Kanaya mencoba berulang-ulang menghubungi sang kakak, hingga panggilan ke lima belum ada tanda-tanda panggilan di terima.


Naya tak putus asa, aku yakin dengan usaha yang keras pasti membuahkan hasil yang manis. Manis seperti diriku, manisnya kayak madu tetapi masih manis diriku.


Kakak itu kemana? di hubungi berkali-kali tidak ada jawaban, malah suara operator yang terus saja bernyanyi.


Naya terus saja mendumel tak jelas, hampir 15menit pegang hape. Hapenya tak kunjung berbunyi, berharap sang kakak menghubungi nya kembali.


Di tunggu sampai menit ke 20, belum ada tanda-tanda ada panggilan, atau pesan masuk ke hapenya.


Naya menarik nafasnya dalam-dalam, dan membuangnya lewat mulutnya. Rasa kesalnya sedikit memudar tiap kali dirinya menarik nafas, dan mengeluarkannya.


Reksa sedang di sibukkan dengan dokumen kerjasama dengan perusahaan baru, kesibukannya membuat melupakan segala urusan pribadi mulai dari makan, dan istirahat.


Berhubung esok di buat rapat, mau tak mau Reksa harus bisa fokus untuk dokumen. Padahal Reksa tahu hapenya bergetar, tetapi ia biarkan begitu saja.


Menurutnya dokumen sangat penting ketimbang hape yang bunyinya bikin mudeng telinganya.


Berusaha untuk mengalihkan tetap saja konsentrasinya terbelah, bukan tak ingin membuka hapenya. Reksa hanya ingin menyelesaikan satu dokumen, lalu ke dokumen selanjutnya.


Sedikit longgar tentang urusan pekerjaan, kini Reksa mengambil hapenya untuk melihat siapa yang menelepon barusan?

__ADS_1


Setelah layar hapenya menyala Reksa mengernyit dahinya sedikit bingung, Tumben adiknya telepon, paling kalau tak penting tak mungkinlah Naya telepon. "apa ada keperluan urgent?"


Tak butuh waktu lama untuk menebak-nebak, akhirnya Reksa balik menghubungi sang adik. Sudah beberapa kali melakukan panggilan, tak ada sahutan dari seberang membuat Reksa mendesah kecewa.


Kekecewaannya tak berlangsung lama, Kanaya menghubungi kembali ke nomor sang kakak.


Senyum di sudut bibirnya langsung terbit sempurna, buru-buru Reksa menggeser tombol warna hijau. Ada sang adik yang lagi menyuapi keponakannya, ada taman kecil yang sengaja di buat di belakang rumah.


"Assalamualaikum Kak." sapa Naya dengan layar hapenya di penuhi wajah sang anak, Naya sendiri memilih mengumpet di belakang badan sang anak.


"Waalaikumsalam, ada apa tumben video call?" tanyanya Reksa sedikit menaruh curiga terhadap sang adik, tetapi ia berusaha untuk menepisnya.


"Tuh kan kebiasaan amnesia nya pake kumat, ya sudah kalau enggak mau aku telepon! aku tutup saja!" Naya pura-pura merajuk ingin tahu respon sang kakak.


"Tunggu!" teriaknya Reksa di seberang.


Klik


Sambungan telepon Naya tutup, ogah berbicara sama orang yang suka jual mahal. Meski dia kakak sendiri, tetap saja Naya protes dengan sikap sang kakak.


"Biarin, biar tahu rasa! emang enak di abaikan." ucapnya Naya bersungut-sungut marah.

__ADS_1


__ADS_2