Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Sembilan belas


__ADS_3

Selamat pagi.


Selamat beraktifitas.


Beberapa hari semenjak mereka di pertemukan di cafe cinta, sampai hari ke-5 Ara menyambangi kantornya Reksa demi membicarakan masalah kerja sama tentang proyek kemarin.


Tiap kali Ara ke kantornya hanya di wakilkan oleh sekertarisnya, Tak melihat barang hidungnya Reksa.


Rasa malu ia sudah buang jauh-jauh, kendati masalah pekerjaan juga tidak kalah pentingnya daripada kepentingan pribadinya.


Tak ingin egois yang mengakibatkan kesalahan fatal, akhirnya Ara mengalah untuk menekan egonya.


Bukannya mengharap untuk bertemu, sedikit penasaran hampir tiap hari dirinya ke kantor Bhakti Group tak menemukan sang Ceo.


Tak mau ambil pusing Ara tetap melanjutkan langkahnya ke kantor Bhakti Group, hari ini pembahasan terakhirnya tentang proyek yang baru berjalan.


"Pagi mbak Ara, mau ketemu pak Reksa kah?" mbak resepsionis menanyakan apa keperluan klien ceo-nya, bukan apa-apa? hanya ingin mendisiplinkan supaya tak salah memberikan informasi kepada kolega bisnisnya.


"Pagi juga mbak Sita, mau ketemu sama sekertarisnya pak Reksa mbak. Apakah beliau ada di tempat?" Setelah menjawab pertanyaan sang resepsionis, Ara kembali bertanya tentang rekan kerjanya, kebetulan beberapa hari ini di wakilkan sekertarisnya.


"Ada mbak. sebentar saya konfirmasi via telepon dulu, silahkan di tunggu mbak!" jawabnya Sita yang sangat ramah, dan selalu menyapa duluan ketika Ara datang ke kantor Bhakti Group.


Ara tersenyum


Tut Tut Tut


Sita melakukan panggilan berulang-ulang belum di angkat juga, wajahnya Sita langsung berubah sedikit cemas, merasa tak enak kala ada seseorang menunggu di ruang tunggu.


Tak Tak Tak Tak Tak


Suara sepatu pantofel terdengar nyaring bunyinya, Sita yang melihatnya bernafas lega. Orang yang di telepon ternyata baru saja masuk ke kantor.


"Ada apa Sita? muka mu kucek gitu! apa yang mengganggu pikiran mu?"


"Ehhh enggak Pak! ada tamu yang nyari bapak!"


"Siapa?"


"Mbak Ara, beliau menunggu di sebelahnya bapak, coba bapak menengok ke belakang."


Seperti apa yang di perintahkan Sita, tanpa aba-aba aku menoleh ke tempat duduk yang sedang duduk memainkan hape.


Ara tak menyadari bahwa dari tadi dirinya di tatap oleh seseorang, sekertarisnya Reksa berjalan mendekat, dan mulai menyapanya dengan suara pelan.


"Mbak Ara."


Ara sedikit berjingkat kaget mendengar suara bariton seseorang, kepalanya ia dongakkan untuk melihat sumber suara.


"Eh pak sekertaris."

__ADS_1


Ara sedikit tersenyum kikuk, aku merasa tidak enak karena sibuk bermain hape tak menyadari ada seseorang tak jauh dari tempat duduknya.


Mereka sudah berada di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor, dengan alasan ingin situasi yang baru, dan ingin makan siang bersama.


Memilih membahas pekerjaan di restoran adalah opsi yang tepat, keduanya juga jarang menghabiskan waktunya untuk makan bersama.


Kali ini sedikit banyak kendala, pada akhirnya fix sebelum makan siang tiba. Pembahasan tentang kerjasama sudah selesai, makan siang sedang berjalan.


*


Semenjak pertemuan beberapa hari yang lalu dengan partner bisnisnya, Reksa bukannya untuk menghindari. Ada pekerjaan di luar kota yang membuatnya menepi hingar-bingar ibu kota.


Setelah menyelesaikan pekerjaan di kota Surabaya, Reksa meluncur untuk pulang ke Solo untuk melepas rindu kepada orang tuanya, dan adik satu-satunya yang masih duduk di bangku sekolah.


Perjalanan kali ini aku lebih menikmati, jalur kereta api yang aku pilih. Selain cepat, nyaman, dan tidak terkena macet itulah kenapa aku memilih alternatif menggunakan transportasi kereta api?


Perjalanan yang memakan waktu yang sedikit panjang, aku memilih mengistirahatkan tubuh ku yang beberapa hari yang lalu sangat terforsir.


Tak lain tak mungkin Reksa melakukan perjalanan bisnisnya seorang diri, sang sekretaris di suruh menghandle perusahaannya di ibu kota Jakarta.


Hampir 5jam perjalanan dari stasiun kereta Gubeng ke stasiun balapan, aku menghabiskan waktu ku untuk beristirahat. Tak terasa perjalanan lama ku berakhir di stasiun balapan.


Setelah keluar dari stasiun Reksa melanjutkan menelusuri dunia maya, aku mulai sercing untuk memesan taksi online.


Menunggu tak sampai 5menit taksi yang di pesannya mendarat di depannya, menggunakan taksi untuk menuju kediaman orang tuanya.


Ibu Melati sedikit tergopoh-gopoh berjalan untuk membukakan pintu, tak tahu kedatangan tamu adalah putra sulungnya.


"Waalaikumsalam..." sang ibu sedikit terkejut menjawab salamnya, tak tahu ada sang putra yang berdiri di ambang pintu.


"Masuk Nak!" sang ibu mempersilahkan masuk ke dalam.


"Sopo buk?" suara sang bapak membuyarkan lamunan ibu Melati.


"Reksa Pak!"


Pak Bhakti pun tergopoh-gopoh keluar dari kandang sapi, baru saja memberikan makan ke kandang terdengar suara seseorang di luar pintu masuk rumahnya.


Reksa menyalami tangan kedua orang tuanya dengan takzim, menciumi pipi kanan kiri sang ibu. Tak lupa juga memeluk sang bapak dengan pelukan hangat sebagai seorang laki-laki sejati.


"Bagaimana kabar mu, Nak?" tanyanya sang bapak.


Mereka sudah duduk di ruang tamu, sedang sang ibu pergi ke dapur untuk membikin kan minum kedua orang yang berarti dalam hidupnya.


"Alhamdulillah seperti yang bapak lihat sekarang ini, aku sehat Pak." jawabnya Reksa dengan merentangkan tangannya dengan sangat gagah.


Pak Bhakti terkekeh pelan mendengar jawaban putranya, benar yang di katakan Reksa. Dengan kedua mata kepalanya sendiri bahwa sang putra bener-bener dalam kondisi sangat sehat.


"Di minum dulu teh hangatnya."

__ADS_1


"Makasih buk!"


Reksa, dan sang bapak langsung menyeruput teh hangat yang masih sedikit mengepul. Setelah meneguk satu tegukan, semakin membuat ku nyaman, dan tenggorokan ku tidak terasa kering lagi.


Setelah aku membersihkan badan ku, aku kembali bergabung dengan bapak dan ibu yang masih berada di ruang tamu.


Kami melanjutkan obrolan ringan ku, sedikit kami bercanda, bertukar cerita. Aku tak pernah menceritakan pengalaman pertemuan ku di cafe cinta dengan mereka, aku tak ingin terlalu terbuka .


Hubungan ku juga masih abu-abu, kita dekat sama-sama sedang menjalani kerjasama di bidang pembangunan proyek.


Hampir tengah malam mereka mulai beranjak dari ruang tamu, rasa lelah , cape, dan ngantuk menjadi satu.


Kami kembali ke kamar masing-masing, kamar yang sudah beberapa bulan terakhir ini, jarang ia tempati karena jarang berkunjung ke Solo.


*


Dua perempuan cantik meskipun sudah memiliki buntut, bisa di bilang Kania lah yang memiliki banyak buntut.


Kecantikan Kania tak pernah luntur, walaupun sudah banyak buntut tak membuat aku berubah dalam penampilan.


Seperti beberapa tahun yang lalu, aku masih seperti yang dulu masih menjadi perempuan biasa dengan makeup tipis-tipis asalkan bisa mengaplikasikan ke wajahnya.


Bukan perawatan wajah yang mahal, atau skin care yang membutuhkan kocek yang mahal yang seperti yang di gadang-gadang banyaknya pihak.


Kania cukup melakukan perawatan rutin tiap bulannya, supaya wajahnya tambah glowing, bisa juga untuk menyenangkan suaminya. Melakukan perawatan demi sang suami, biar bisa tak melirik ke rumput tetangga yang lebih hijau.


Sama halnya Kanaya melakukan perawatan tipis-tipis, semata-mata untuk menyenangkan hati sang suami.


Walaupun mereka hari ini tak melakukan janjian terlebih dahulu, tak mereka sadari bahwa keduanya di pertemukan di waktu yang sama.


"Mbak Kania," ucapnya Kanaya yang tak kalah senangnya, ini kebetulan setidaknya ia ada temannya untuk mengobrol.


"Hi Nay, sendirian nich."


"Iya mbak."


"Sama dong hehehe."


Mereka melanjutkan pembicaraan yang kali ini sedikit serius, pertemuan yang sudah di atur keduanya ternyata tak berjalan sesuai rencana keduanya.


Walaupun ada sedikit kekecewaan, setidaknya mereka sudah di pertemukan dalam rencananya.


Hasil belum menunjukkan signifikan, tak masalah bagi keduanya. Sebagai seorang keluarga terdekat di masing-masing, mereka sudah berusaha sebaik mungkin.


Setelahnya biarkan takdir yang bekerja, Allah sangat pintar dalam membolak-balik hati hambaNya.


Mereka tak memaksakan kehendaknya harus bersama, biarkan waktu yang menjawab. Allah tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.


Mungkin hari ini belum berjodoh, tidak menutup kemungkinan hari berikutnya. Siapa tahu mereka di takdir kan berjodoh, tetapi bukan untuk sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2