Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Tigabelas


__ADS_3

Reksa menghabiskan sebagian paruh waktunya untuk bertukar cerita dengan temannya, perempuan yang datang ke kantornya.


Awalnya kaget, tak percaya dengan perubahan temannya. Sekian tahun tak bertemu, membuat perubahan yang signifikan.


Walaupun sedikit tak suka dengan penampilan seksi, dan memperlihatkan Ben tubuhnya. Tak berani bila ia memberikan kritikan, toh mereka tak ada hubungan, dan tak ingin ikut campur urusan pribadi.


Pertemanan mereka bisa-bisa ternodai bila Reksa berkata yang sedikit menyinggung perasaan Maya.


Meskipun tak suka berusaha untuk menutupinya, supaya tak ingin jadi bumerang pertemanan mereka yang baru saja terjalin kembali, setelah sekian purnama tak bertemu, atau saling berkirim kabar.


Dia adalah Maya teman waktu keduanya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


Dulu sangat pemalu, pakaian nya sangat sopan, tutur katanya lembut. Kenapa sekarang berubah? apa karena perubahan zaman, dan teknologi yang lebih maju membuatnya banyak perubahan.


Mereka melanjutkan pembicaraan di sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya, nampak sekali Maya sumringah tiap kali memandangi wajah pria yang ada di depannya.


Wajah tampan, sedikit bule-bule membuatnya tak henti-hentinya mengangumi, wajah tanpa cacat, penampilan menawan menjadi daya tarik tersendiri untuk lawan jenis, termasuk Maya.


"Kamu kenapa ngelihatin aku sampai segitunya?" Tanya Reksa sedikit penasaran dengan sikapnya Maya, ada rasa tak nyaman di tatap begitu tak biasa.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?!" Tuturnya Reksa dengan tatapan matanya yang lembut, tidak ada aura intimidasi, nampak sekali kelembutan.


"Maya menggeleng, "kamu tampan mas Reksa," kalimat pujian yang tiba-tiba keluar dari bibirnya, membuatnya salah tingkah karena terlalu jujur dengan sikapnya yang mengagumi diam-diam.


Reksa tersenyum tipis sekali, hampir saja orang yang melihatnya tak tahu bahwa pria berjas itu tersenyum.


Reksa tak lagi menanggapi perkataan Maya, memilih memeriksa hape di saku jasnya yang bergetar. Kini fokusnya dengan layar hape yang masih menyala, tak ada niatan untuk menerima panggilan tersebut.


Takutnya ada orang iseng, membuat pemerasan dengan modus keluarga kecelakaan, ketangkap polisi, atau bahkan ada hal yang lebih parah lagi dari kata-kata tersebut.


Melihat layar hape yang berwarna, ada panggilan baru nomor yang tak di Kenal. Membuat dahinya mengernyit, siapa? pertanyaan yang terlontar di bibirnya secara lirih.

__ADS_1


Berkali-kali nampak sekali dahinya berkerut, mencoba mengingat nomor hape tersebut. Mungkin juga temannya, tetapi tak mampu ia ingat sama sekali.


Maya yang duduknya berhadapan dengan Reksa menjadi khawatir melihat perubahan Reksa. Ada segudang pertanyaan yang ia ingin lontarkan, tetapi ia urungkan takutnya membuat Reksa semakin tak nyaman.


Maya pura-pura menyendok kan makanan ke mulutnya, ekor matanya melirik kearah depannya. Hatinya seakan tak tenang melihat perubahan pria di depannya, seperti ada sesuatu, tetapi apa?


Siapa? Batinnya Reksa menimbang-nimbang nomor baru, banyak pertanyaan tetapi bingung mau bertanya dengan siapa? Maya? enggak takutnya dia berharap lebih, karena dari gestur tubuhnya bisa di lihat bahwa ada sesuatu.


Reksa bisa menguasai perasaannya, memilih untuk melanjutkan makannya. Tak ada kata yang terlontar di bibirnya, karena penuh dengan makanan.


*


Ara menikmati makan siangnya sedikit menjauh dari kantornya, memilih makan siang di cafe yang tak jauh dari perusahaan pria yang dia incar.


Dengan temannya Ara sudah melangkahkan kakinya untuk masuk ke cafe, perasaan yang bahagia membuat langkah kakinya sangat ringan.


Mereka sudah duduk di meja yang kosong, setelah memesan makanan keduanya mulai bermain dengan hape masing-masing.


Aktris selebgram yang lagi terkenal membuat Ara mengangumi sosok perempuan yang menjadi inspirasinya.


Dari sang selebgram Ara meniru cara berpakaian, meskipun tak sama persis setidaknya ada insipirasi yang membuat Ara bisa memadukan antara atasan, bawahan, atau hijab yang ia kenakan.


Puas memandangi layar hape, tak lama kemudian pesannya sudah datang. Keduanya melupakan sejenak hape, fokus untuk menikmati makan siangnya.


Tidak ada pembicaraan serius, mereka fokus dengan makanan di depannya. Sesekali bercerita, terus melanjutkan kembali menyantap makan siang.


"Enak ya makanan, Ra." puji Hesti teman satu kantornya Ara, kebetulan mereka berteman dari awal masuk dan bekerja di perusahaan Permata Group.


"Iya, rasanya top!" puji Ara juga mengacungkan jari jempol nya.


Setelah mengagumi rasa masakannya, mereka berbincang ringan dan menyelesaikan makan siangnya.

__ADS_1


Tanpa Ara sadari ada seseorang yang ia kenal duduk dengan perempuan seksi, dari wajah pun tak bisa Ara kenali karena keduanya duduknya membelakangi nya.


Berkali-kali Ara mencoba untuk mengingat, tetapi nihil seakan tak tahu siapa seseorang itu! Dari gestur tubuhnya kayak kenal, tetapi muka nya entah seperti apa?


"Kamu kenapa, Ra?" tanyanya Hesti melihat perubahan duduknya ara yang mulai bergeser tak nyaman.


"Enggak pa-pa, Hes." jawabnya dengan pandangan matanya tak lepas dari perempuan, dan pria yang duduknya berhadapan sangat mesra.


"Ohh ya udah pulang yuk!" ajaknya Hesti yang sudah menyelesaikan makan nya juga, dan mulai bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Sebentar aku ke toilet dulu!" Tuturnya Ara yang beralasan, karena masih penasaran dengan orang yang membelakangi nya.


"Oke deh!" sahutnya Hesti yang hanya bisa pasrah, karena tak ingin membuat temannya menunda-nunda ke kamar kecil takutnya bisa berakibat fatal pada kesehatannya.


Selesai dengan ritualnya di kamar kecil, Ara celingak-celinguk mencari seseorang yang bikin penasaran. Keduanya sudah tidak ada di tempat, tempat yang semula keduanya duduki nampak kosong.


"Kemana perginya mereka?" batinnya bertanya pada dirinya sendiri.


Tak kunjung bertemu dengan seorang yang di carinya, Ara sudah kembali ke mejanya. Hesti yang melihat perubahan pada wajahnya Ara, hatinya sedikit terusik ingin bertanya tetapi ia urungkan.


Tak ingin terlalu jauh ikut campur dalam masalah pribadinya, atau masalah lainnya kecuali Ara sendiri yang bercerita ke dirinya, barulah Hesti menanggapi nya.


Di dalam mobil pulang ke kantornya, tidak ada yang saling berbicara. Mereka sibuk dengan dunianya, nampak sekali Ara fokus mengemudikan mobilnya.


Hesti lebih fokus dengan hape yang ia pegang, sesekali melihat pemandangan jalanan melalui jendela kaca.


Tak bisa di pungkiri bahwa perasaannya masih tertinggal di cafe tersebut, ada rasa ingin tahu siapa gerangan? Obyek yang membuat jiwanya tak tenang, padahal aku tak melihat siapa Dia?


"Kenapa hatiku tak rela pria tersebut duduk berdua dengan perempuan seksi?" Batinnya Ara yang berkecamuk tentang perasaannya. Padahal tak kenal, tetapi ada perasaan tak rela ada perempuan lain, kecuali dirinya yang di sana, bukan Dia!.


#Ada yang masih suka enggak ya sama cerita ini?! Maaf ya bukannya enggak niat, hanya kemarin-kemarin aku ada kesibukan mencoba nulis platform lain😁

__ADS_1


__ADS_2