
Hari keberangkatan pun tiba, Ara memilih penerbangan malam setelah keponakannya tidur, takutnya si bungsu Nuna yang dekat dengan dirinya susah untuk di tinggal. Jurus terakhirnya ujung-ujungnya pasti nangis, membuat orang rumah semakin ribut bila putri rajanya Nuna nangis.
"Sudah siap, Ra."
"Sudah kak, tinggal pakai sepatu Kak."
"Kakak tunggu di ruang tamu, kamu jangan pakai lama, Ra."
"Siap kakakku!"
Ara melanjutkan mengikat tali sepatunya, sepatu sneakers keluar terbaru dengan harga sangat fantastik dia dapat. Sebagai hadiah ulang tahun, dan bertepatan nya keberangkatan ke luar negeri.
.Ara sudah membuka pintu kamarnya, sekali lagi melihat di dalam nya sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamarnya penuh dengan kenangan indah. Ara hanya bisa menghela nafasnya, untuk melegakan perasaan nya sedikit sesak harus mandiri tanpa sanak saudara di sana!.
*****
Bandara Soekarno-Hatta pada malam hari sangat sepi, tidak ada lalu lalang orang lewat di sekitar bandara. Hawanya yang dingin membuat Ara merinding disko melewati tempat parkir yang sepi.
Sampai di tempat duduknya, Kania, Ara, dan Yudha duduk bersisian di bangku kosong. Sembari menunggu jam keberangkatan yang masih ada waktu 30menit, mereka manfaatkan untuk mengobrol hati ke hati.
Ara menjadi pendengar seksama, ketika sang kakak mulai membuka bibirnya untuk menasehati sang adik atau dirinya yang akan pergi meninggalkan Indonesia dalam kurun waktu yang tidak ada tahu kapan pulang ke Indonesia lagi. "Ingat pesan Kaka Ra, belajar yang rajin biar bisa membawa kesuksesan yang kamu impi-impikan selama ini, Kakak hanya bisa kasih doa, biaya biar kamu bisa sukses pas kembali ke tanah air."
"Terimakasih Kak, pokoknya aku akan selalu ingat apapun itu, akan selalu ingat pesan Kakak!"
Makasih kak sekali lagi."
Ara kembali merengkuh tubuh kakaknya yang memeluknya sangat erat, meskipun matanya sudah penuh dengan lelehan air mata yang siap untuk meluncur deras. Beralih Ara mengucapkan terimakasih untuk Kaka iparnya, lelaki yang penuh tanggung jawab sebagai pengganti bapaknya.
Pesawat sudah take off dari bandara Soekarno-Hatta, sudah mengudara di atas langit malam untuk meninggalkan negara Indonesia menuju Birmingham Airport Negeri Inggris yang menjadi tujuannya untuk menimba ilmu, untuknya mengajarkan arti sebuah kemandirian.
*****
Yudha dan Kania sudah perjalanan pulang, jalanan yang sangat lengang di sertai angin malam yang sangat kencang membuat Kania kembali merapatkan jaketnya.
"Kenapa Yank?"
__ADS_1
tanya Yudha menoleh ke sampingnya.
"Dingin udaranya Mas."
Jawab Kania apa adanya.
"Mau Mas angetin, sini deket-deket mas nanti dinginnya langsung hilang."
Tutur Yudha untuk menggoda sang istri, alisnya terangkat naik turun.
"Apaan sih mas, nggak lucu tahu orang lagi nyetir mobil kog pakai godain istrinya."
sahutnya Kania melebar sudut bibirnya menerima godaan suaminya, yang menurut Kania tidak ada yang lucu.
Didalam mobil pun mereka bersenda gurau, rasa kantuk yang kian menderanya seakan sirna tersapu oleh godaan receh suaminya yang tidak ada lucu-lucunya.
Sampai di halaman depan, keduanya di sambut tangisan melengking putrinya. Buru-buru Kania melepas salt belt terlebih dahulu, meninggalkan sang suami yang masih sibuk memperkirakan mobil pada tempatnya.
"Hiksss..Unda.... itut.."
Mbak yang bekerja di rumahnya sangat sigap, mengendong si kecil untuk menenangkan tangisnya. Tangannya terus saja pok-pok bo kong Nuna yang terus saja menangis, tangan terus saja meraih tangan sang Bunda yang sedang berjalan kearah mbak dan Nuna.
"Cup...sini sama Bunda."
Ucap Kania mengendong putrinya, sembari tangannya mengusap lembut air mata yang masih menetes.
"Kenapa bangun?" tanya Kania mengendong putrinya berkeliling ruang tamu, tangan nya tidak henti-hentinya menepuk-nepuk bo kong Nuna.
"Itut onty Unda."
Nuna dengan rengekan membuat Kania gemas sendiri melihat putrinya yang manja......
"Mbak istirahat dulu saja biar Nuna sama aku, ada juga Mas Yudha sedang parkiran mobil di luar." Tutur Kania kepada mbak.
"Baik buk, aku masuk ke kamar dulu, selamat malam nona kecil." sahut mbak yang berpamitan beristirahat dulu kepada majikan kecil nya Nuna.
__ADS_1
Tak tak tak...
Sandal dan keramik rumahnya bersuara saling beradu, dari kejauhan Yudha sudah tahu bahwa putrinya sedang ngambek pasti manjanya akan susah untuk di hilangkan.
"Mau di gendong sama Daddy?"
tawar Yudha sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan putrinya. Tak sesuai harapan si bos kecil tidak mau menoleh ke Daddy nya, malah asyik menelusup ke ketiak sang Bunda.
"Ya sudah daddy duduk saja ahh nemenin kamu, dan Bunda habisnya kamu ndak mau di gendong daddy." Ucap Yudha mengecup rambut putrinya yang sedikit acak-acakan.
Dengan penuh kesabaran, usapan, kelembutan Kania untuk bos kecilnya mampu memejamkan kelopak matanya meski masih ada sedikit sesenggukan. Kania tersenyum kearah sang suami, sembari tangannya tidak henti-hentinya menepuk-nepuk bo kong putrinya yang sangat montok.
"Akhirnya Putri kita tidur mas."
Ucap Kania dengan senyum penuh kelegaan... Yudha pun membalas senyum istrinya dengan matanya tinggal beberapa watt lagi.
Terpaksa mereka mengajak tidur bos kecilnya di antara mereka berdua, sama-sama mereka merebahkan tubuhnya di kamar utama, kamar Bunda Kania dan daddy Yudha. Nuna berada di tengah-tengah mereka, dengan tangan kedua orang tuanya saling memeluk Nuna kanan-kiri.
******
Perjalanan di dalam pesawat tidak ada kendala berarti, Ara bisa tertidur nyenyak dengan berselimutkan angin malam berhembus menuju pagi dini hari.
Hampir 17 jam berapa di dalam pesawat membuatnya sedikit oleng ketika keluar dari pesawat. Bukan mabuk udara, rasa pening tiba-tiba membuatnya duduk sejenak sebelum melanjutkan turun dari pesawat.
Sampai di Bandara Birmingham Inggris, Ara sudah di jemur seseorang yang merupakan kaki tangan nya Yudha. Seseorang yang sengaja di kirim Yudha untuk membantu adik iparnya selama berada di Inggris.
Setelah diantar kan sampai apartemen, seseorang itu sudah pamit dan apabila ada apa-apa segera menghubungi nya. Seseorang itu sudah meninggalkan nomor telepon nya, akan terus mengawasi nya dari kejauhan supaya tidak di ketahui Ara
Ara sudah nyaman dalam tidurnya, di perjalanan kali ini sangat berkesan karena ini perjalanan pertamanya naik pesawat terbang waktu malam hari.
Baru juga sampai beberapa jam lalu di apartemen nya, Ara sudah merindukan keponakan nya yang berada di Indonesia.
"Onty udah kangen kalian, padahal onty baru saja tiba di disini! padahal onty pergi nya lama, sampai onty lulus." Batinnya Ara menatap langit-langit kamar nya yang bernuansa dengan warna putih.
Lama kelopak matanya belum mau terpejam, lama kelamaan akhirnya terpejam juga dengan harapan yang baru, berharap esok adalah hari yang baru untuk menyongsong masa depan menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1