
Kesibukan sebagai pebisnis muda membuat Reksa semakin mempunyai banyak kesibukan, banyak juga waktunya ia abadikan dengan pekerjaan.
Tak jarang Reksa mempunyai waktu luang untuk bersantai-santai seperti ini, setiap membuka mata yang terlintas di benaknya adalah uang, pekerjaan, bukan lagi perempuan yang menjadi prioritasnya.
Kesibukan ini membawanya ke hal yang lebih baik, setidaknya dia tak harus membuang waktunya untuk dugem, kencan, dan masih banyak yang di lakukan.
Itulah Reksa mempunyai jati diri tersendiri, mempunyai target hidup yang ingin beliau capai mumpung masih muda, masih ada kesempatan untuk terus mengembangkan perusahaan untuk lebih maju lagi, baik lagi, dan banyak yang ingin dicapai.
Derrrtttttt...., handphone Reksa yang masih tergeletak diatas tempat tidur ia biarkan. Bukan tidak ingin mengangkat nya, Reksa baru saja masuk ke dalam kamar mandi, dan melakukan ritual paginya sebelum ia memulai segala aktivitasnya di luar rumah.
15menit di dalam kamar mandi kini Reksa menyudahi ritualnya, tinggal melaksanakan kewajibannya sebagai Muslim.
Sajadah sudah ia gelar, Reksa menjalankan kewajibannya sangat khusyuk, sampai terakhir ia mengucapkan salam.
Selesai dengan serangkaian ritualnya, Reksa kembali duduk di ranjang. Kembali tangannya mengotak-atik handphone nya, siapa tahu ada hal penting selama ia tinggal di dalam kamar mandi.
Panggilan tak terjawab
Siapa?
Ibu, ucapnya Reksa lirih.
Setelahnya Reksa mencoba untuk melakukan panggilan video call, mungkin ada hal penting yang membuat sang ibu menghubungi dirinya.
Pada deringan pertama panggilan itu masuk, langsung di angkat kepada sang empunya. Rasa girang tak terkira, menampilkan layar di handphonenya wanita yang selalu ia rindukan sepanjang hari-harinya.
"Assalamualaikum ibu, apa kabarnya bapak, ibu, dan adik di kampung?" Tutur Reksa tanpa memberikan kesempatan kepada sang ibu untuk membalas salamnya.
"Waalaikumsalam nak," hanya mampu sang ibu ucapkan di dalam hatinya, karena sang putra sudah menanyakan ke hal lainnya.
__ADS_1
Saking senangnya Reksa melupakan sedikit pekerjaannya, dan kini Reksa memilih mendengar cerita sang ibu yang menceritakan banyak hal
"Hahahaha.. ibu bisa saja!" tawanya Reksa semakin membuat sang ibu sedikit bisa mengobati rasa rindunya, rasa yang bsudah ia tumpuk sampai menggunung di dalam sanubari nya.
"Ibu nanti aku akan pulang bila pekerjaan Reksa sudah selesai, setidaknya sedikit berkurang. Dalam waktu dekat ini aku belum bisa pulang secepatnya, karena sedang ada kerjasama dengan perusahaan Permata Group, perusahaan baru yang berinvestasi di perusahaan ku ibu!" Reksa menjelaskan panjang ke sang ibu, ada Al tertentu yang membuatnya membatalkan kepulangannya yang biasanya ia jadwalkan setiap awal bulan. Pasti satu bulan sekali Reksa akan pulang, mengunjungi orang tuanya.
"Ya sudah tak apa-apa kalau belum bisa pulang, yang penting harus jaga kesehatan, makan jangan suka memforsir pekerjaan dan melupakan jam istirahat." ibu Melati memberikan wejangan, jauh dari putra keduanya sering membuatnya rindu.
Sekarang ini Reksa mempunyai perusahaan sendiri pasti waktunya akan habis untuk pekerjaan nya.
"Ibu mengerti! Jangan lupakan pesan ibu, bila adikmu libur nanti aku dan bapak serta adikmu yang akan berkunjung ke Jakarta, Ke.' Tutur ibu Melati sebelum menyudahi pembicaraan dengan sang putra.
"Suwun buk, ibu, bapak dan adik harus jaga kesehatan. Salam untuk mereka, katakan aku merindukan kalian. Reksa tunggu di Jakarta, kita bisa tinggal bareng seperti dulu, buk," Ucap Reksa dengan tulus hati.
"Sama-sama Le, sudah dulu ya telepon nya ibu mau lanjut bikin sarapan, nanti kita sambung lagi kapan-kapan lagi, Le." pamitnya ibu Melati untuk menyudahi panggilan telepon nya, hari juga sudah menampakkan sinarnya, pasti suami dan anak bungsunya sudah menunggu di meja makan
Sambungan telepon pun sudah terputus, Reksa belum beranjak dari duduknya. Perkataan sang ibu masih terngiang di kepalanya, rasa haru menyelimuti perasaan nya rasa nya enggan untuk memulai aktivitasnya di kantor.
Reksa pagi ini datang ke kantor sedikit telat, selesai di telepon sang ibu bukan nya membuatnya semangat malah membuat Reksa sedikit sedih tak bisa pulang bulan ini.
Enggak pa-pa enggak pulang, jangan lupa jaga kesehatan, makan, dan jangan suka memforsir pekerjaan.
Perkataan itu selalu terngiang-ngiang di otaknya, Bila mengingat nya perasaan nya semakin sendu. Makin merindukan mereka di sana, banyak yang ingin Reksa ceritakan kepada sang ibu, lagi-lagi kesibukan nya membuat menunda kepulangannya.
Reksa berjalan tak melihat jalan, pikirannya benar-benar tidak pada tempatnya.
Brukkk
Tak di sangka kedua orang yang dulunya pernah saling kenal, kini mereka di pertemukan lagi dengan insiden tabrakan yang terhindarkan di lobby utama.
__ADS_1
"Auuhhhh." Ara memegang keningnya karena terkena benturan keras, tidak tahu bahwa itu tubuh seseorang, setahunya itu benda keras yang menghantam keningnya.
"Kamu kenapa? ada yang sakit? ayo kita ke rumah sakit takutnya nanti ada geger otak." ajaknya Reksa berjongkok di depan perempuan tersebut.
Ara belum berani membuka kelopak matanya, suara yang sangat familiar, suara seseorang yang pernah ia dengar tetapi di mana ya?
Bukan nya menjawab pertanyaan pria tersebut, malah Ara sibuk dengan dunianya. Ara masih saja menerka-nerka seseorang yang yang mengeluarkan suara, batinnya terus saja meronta-ronta ingin segera membuka mata, dan tahu siapa pria tersebut.
Pelan tapi pasti Ara sedikit memicingkan matanya, dan membukanya secara berlahan karena ingin mengintip dulu sebelum membukanya dengan sempurna.
Deg
Jantungnya langsung berdetak ketika netra ini sakit bersitatap, tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya. Mereka masih sibuk menerka-nerka takdir seperti apa ini? Kenapa takdir seakan berpihak kepada mereka, Tuhan seakan tahu apa yang terbaik untuk keduanya.
Makin tampan, makin menunjukkan kedewasaannya bener-bener pria idaman setiap wanita
Mereka masih sibuk dengan pikirannya, belum ada yang terlontar dari bibir keduanya. Keasyikan keduanya mengundang banyak karyawan menyaksikan tontonan live Romeo dan Juliet.
"Ada yang senyum-senyum, ada yang memuji keduanya dengan kata cantik, tampan. Mereka sangat cocok bersanding di pelaminan, akan ada pernikahan Akbar tahun ini!" bisik-bisik para karyawan berseliweran, Reksa langsung menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Hmm." Reksa berdehem untuk mengeluarkan rasa canggung nya, dan membungkam bisik-bisik tetangga di perusahaan.
Setelah mendengar suara deheman bos mereka, mereka sudah membubarkan dirinya, sudah kembali ke tempat kerjanya. Tidak ingin mendapatkan pemecatan bergilir, mereka hanya ingin mencari aman dengan meninggalkan lobby utama.
"Maaf!" ucapnya lirih dengan tulus hati.
"Ahh enggak pa-pa, lupakan saja!" Tuturnya Ara yang berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Ayo kita ke rumah sakit, takutnya ada luka serius, dan harus segera di obati!" ajaknya Reksa sudah mengandeng tangannya Ara, Ara merasakan hawa yang berbeda hanya mampu diam saja dengan mulutnya yang terkunci rapat.
__ADS_1
Maaf ya lama tak menyapa di cerita ini, terimakasih ternyata cerita ini masih ada yang suka. Makasih mbak'e sudah menunggu kelanjutan cerita ini, dan jangan lupa untuk mampir untuk terus mendukung cerita ini sampai ending.