Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Enambelas


__ADS_3

Keduanya sudah tiba di rumahnya masing-masing, Kanaya langsung membersihkan tubuhnya untuk berganti pakaian rumahan. Tidak ingin membuat anak-anak nya terkontaminasi kuman dari luar, sebelum berdekatan dengan sang anak Kanaya memilih mandi duluan.


Tak ada makeup tebal, bibir merah merona. Kanaya akan berubah 180 derajat, di rumah tugasnya menjadi seorang ibu, dan istri. Bila di luar rumah baru Kanaya akan dandan sedemikian rupa.


Bukan ia di rumah tak dandan, tetep memakai makeup tetapi tidak tebal. Kelihatannya tidak bermake-up, setipis mungkin Kanaya mengaplikasikan makeup di wajahnya.


"Bunda, Bunda dari mana? katanya pelgi kog sudah pulang?" tanyanya si bungsu langsung bergelayut manja dengan sang Bunda. Tak malu di bilang manja, toh emang dirinya manja.


"Ketemu onty Kania, sayang." jawabnya Kanaya singkat. Keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Kakak mana?" tanyanya Kanaya celingak-celinguk untuk mencari kakaknya.


"Ndak tahu, Bunda! adik tadi main sendili malah selu." ucapnya dengan kegirangan karena tidak ada yang gangguin.


Kanaya menanggapi nya dengan tersenyum, tak sedikit pun menyela perkataan anak bungsunya.


Semua mengalir seperti air, belum tahu kapan berhentinya?


Si bungsu terus saja melanjutkan ceritanya, dengan seksama Kanaya mendengarkan. Melihat gaya bahasa sang anak membuat Kanaya senyum-senyum, sesekali memberikan pujian.


*


Kania juga sudah di rumahnya, sempat mampir sebentar ke minimarket membelikan camilan, susu, dan belanja keperluan dapur lainnya.


Klekkk


Baru saja membuka pintu rumahnya langsung di sambut Putri bungsunya Esha. Esha sudah wangi, aroma sabun mandi menyeruak begitu saja di indera penciumannya Kania.


"Stop! jangan mendekat Bunda mandi dulu, Esha di sini dulu ya." tuturnya selembut mungkin untuk memberikan pengertian ke putrinya.


"Esha mengangguk, Esha diam di tempat kembali menyaksikan acara kesukaannya di layar televisi."


Kania sudah masuk ke kamarnya, tidak ada bersantai-santai di kamar dahulu. Di bawah ada putrinya yang sudah menunggu, Kania langsung masuk ke kamar mandi.


Serangkaian ritualnya sudah selesai, seperti hari-hari biasanya Kania memakai pakaian rumahan. Daster adalah pakaian favoritnya, selain nyaman, dan adem di pakai.


Kecuali kalau keluar rumah pasti Kania tak berani, hatinya sudah mantap berhijrah tak mungkin juga sembarangan untuk memakai pakaian asal.

__ADS_1


Ada sesuatu yang harus ia jaga, tak sembarangan juga keluar rumah tanpa minta ijin sang suami.


Duduk di meja rias adalah kebiasaannya tiap kali habis mandi, tidak muluk-muluk sedikit bermake-up tipis-tipis, dan lipstik warna nude supaya bibirnya ada sedikit warnanya.


Tak ingin putrinya menunggu lama di bawah, secepat mungkin Kania menyudahi duduknya di depan cermin.


"Bunda.." Esha berlari ingin memeluk Bundanya, sedang Kania tertawa kecil melihat tingkah lucu putrinya.


"Iya sayang, cantiknya, wanginya." Puji Kania yang duduk bersama di ruang tamu, tak henti-hentinya Kania menciumi aroma sabun mandi bayik.


"Cantik kayak Bunda, dan Kakak." ucapnya Esha sedikit malu-malu, padahal hatinya senang di puji sang Bunda.


Kania yang melihat kelakuan putrinya yang malu-malu kucing membuatnya ingin mendusel-dusel di ketiaknya, tetapi ia urungkan tak ingin membuat mood anaknya jelek.


Seperti anak kecil pada umumnya, Esha bercerita banyak hal. Kania yang berada di sebelahnya sangat antusias mendengar cerita putrinya, rasanya gemas sendiri dengan sifatnya, tingkah lakunya yang lucu


Kania selalu tersenyum, memuji jika itu layak di sematkan ke Esha. Walaupun sangat manja dengan sang Bunda, Esha juga putrinya yang pintar ke ceriwis an sudah terlihat.


*


Sampainya Ara di apartemen langsung menjatuhkan bo kongnya di sofa ruang tamu. Pikirannya sangat pusing, hampir jam 9malam Ara baru tiba di apartemen.


Sejenak mengistirahatkan tubuhnya, 5menit kemudian Ara sudah beranjak dari duduknya. Tak butuh ini itu, Ara langsung nyelonong ke kamar mandi guna membersihkan badannya yang sudah bau tak sedap.


Saking capeknya Ara tak menyempatkan sedikit waktunya untuk memakai skin care, memilih naik keatas kasur untuk merebahkan tubuhnya.


"Alhamdulillah ketemu kasur." ucapnya penuh syukur sesekali netra nya ia pejamkan, lalu terbuka kembali.


Hapenya pun ia tergeletak di meja ruang tamu, posisi masih di dalam tas. Tak ingin bermain hape Ara membiarkan saja, memilih memejamkan matanya sebelum esok bangun untuk memulai paginya.


Beberapa hari terakhir ini bangun paginya seperti terjadwal, setiap kali jam 5pagi Ara sudah bangun. Bila sempat untuk memasak Ara akan masak, bila tak memungkinkan Ara memilih membeli saja.


Saking ngantuk nya Ara sudah tertidur pulas, tidak lagi memikirkan banyak nya kertas. Malam ini biarkan dirinya beristirahat tanpa gangguan, masih ada hari esok yang sudah menunggunya tumpukan kertas-kertas memenuhi meja kerjanya.


*


Jam 9malam Reksa masih sibuk berada di ruang kerjanya, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Di kantor pun tak memungkinkan waktunya untuk mengerjakan, alternatif nya ia bawa pulang di kerjakan setelah sampai apartemen.

__ADS_1


Kesibukannya sebagai pebisnis muda tak di ragukan lagi, ketekunan, keuletannya mampu bersaing dengan perusahaan yang sudah melalang buana di dunia bisnis.


Awalnya pesimis, tetapi dorongan yang kuat, dan doa orang tua mampu membuat Reksa bangkit untuk membuktikan bahwa aku mampu berjalan dengan perusahaan lain


Reksa bisa membuktikan, kini Reksa menjadi pebisnis muda yang banyak di gandrungi kaum hawa.


Banyak berlomba-lomba untuk menarik simpati, tetapi Reksa hanya menganggap nya teman, rekan bisnis semuanya tak lebih dari urusan pekerjaan.


Reksa sudah selesai mengerjakan pekerjaan nya, kini sudah berada di kamar. Kamar yang di dominasi warna grey, terlihat sangat maskulin.


Diatas tempat tidur pun Reksa masih mengotak-atik hapenya, sesekali melihat sosial media. Beberapa hari yang lalu sempat meng-upload foto pribadinya waktu aku berolahraga gym.


Senyumnya terbit sedikit membaca komentar para penggemarnya, tak ada niatan untuk membalasnya satu-persatu. Reksa hanya melihatnya sekilas, lalu ia tutup hapenya.


*


Suasana pagi di kantor sangat sibuk, bila tidak ada penundaan. Pagi ini akan kedatangan tamu dari permata Group.


Ada pembahasan tentang kerjasama proyek baru, mau tak mau keduanya sering bertemu. Tak di pungkiri ada perasaan berbeda juga tiap kali mata kamu saling menatap, tetapi aku berusaha untuk mengendalikan diriku.


Tak Tak Tak


Ara sudah sampai di lobby kantor rekan kerjanya, menunggu sebentar sebelum mendapatkan pemberitahuan sang resepsionis.


Sesekali Ara memainkan hapenya, tak menyadari ada sepasang mata yang mencuri-curi pandang kearah tempat duduk Ara.


Tak jauh dari tempatnya Ara duduk, Reksa sudah berada di balik tembok besar. Badannya yang besar sungguh tak terlihat, membuat Ara tak menyadari bahwa ada seseorang di belakangnya.


Mereka sudah duduk berdua di ruang meeting, pegawai lainnya belum juga datang. Ara tak berani mengangkat wajahnya, rasanya sangat canggung berada di ruangan berdua.


Walaupun dulunya sempat kenal, tapi ada rasa canggung seperti perasaan ketemu pacar. Sungguh rasanya sangat nano-nano.


Akhirnya Reksa mulai mencairkan suasana, sedikit pembahasan tentang tanya kabar? lalu di lanjutkan pembicaraan masalah pekerjaan, tidak ada kecanggungan lagi, pegawai yang lain sudah tiba di ruang meeting.


Mereka membicarakan banyak hal terutama masalah pekerjaan, dan proyek-proyek yang tengah mereka jalin kerjasamanya.


Tidak ada pembahasan masalah pribadi, setelah menemukan kesepakatan bersama. Ara pamit undur diri untuk meninggalkan ruang meeting, walaupun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya.

__ADS_1


Mereka sama-sama tersiksa karena rasa kagumnya yang sudah mendarah daging, rasanya tak etis bila perempuan duku yang memulai nya.


__ADS_2