Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Lima


__ADS_3

Libur telah tiba....


Libur telah tiba....


Hore!... horee!. hore!...


Libur telah tiba....


Libur telah tiba...


Hatiku gembira...


Sepenggal lirik lagu-lagu anak-anak pada zamannya, mewakili perasaan Ara yang tengah berbahagia. Liburan akhir tahun ini, Ara memutuskan untuk pulang ke Indonesia, ke negaranya. Negeri yang di tinggalkan beberapa tahun, baru liburan tahun ini Ara meninggalkan Kota Inggris untuk pulang ke tanah air tercinta.


Ara tengah berkemas untuk beberapa pakaian nya di masukkan ke dalam koper, pakaian pun Ara minimalkan karena pergi untuk kembali lagi. Ada buah tangan untuk keluarga di tanah air, tak banyak barang bawaannya Ara hanya membawa dua koper yang berisi pakaian dan buah tangan.


Koper sudah siap untuk di geret untuk keluar apartemen, dua koper pun sudah berdiri di samping ruang tamu. Meskipun mudiknya masih menyisakan tiga hari lagi, Ara prepara untuk tiga hari sebelumnya.


Bila di tanya tentang perasaannya pasti bahagia lah, rasa itu susah untuk di tukar dengan jumlah nominal beberapa digit angka.. Kerinduan tentang keluarganya, tentang tanah airnya, kerinduan akan keponakannya yang sudah mulai tumbuh dewasa.


Di atas ranjang ini, Ara menatap langit-langit kamarnya. Bila flasblack tentang perjuangan nya dulu bersama sang kakak, tak pernah terbayangkan bisa kuliah di luar negeri. Syukur-syukur bisa lulus dari sekolah menengah atas itu saja sudah senang, setidaknya dirinya punya ijazah sekolah untuk mencari kerja.


Ara membolak-balik badannya untuk mencari posisi yang nyaman, tak lupa juga ponsel di tangan tak lepas dari genggaman tangannya...


Dengan peliknya hidup yang di alami dulu bersama kakaknya, Ara memutuskan berhijrah di pertengahan sekolah menengah atas. Semua sudah Ara pikiran matang-matang, bukan karena di paksa kakaknya atau seseorang. Pyurr semua keinginannya, tidak ada yang menyuruh dan lain sebagainya. Hijrah nya di mulai dari diri sendiri, hingga sampai sekarang pun Ara masih mengenakan hijab dan pakaian sopan.

__ADS_1


Hanya mengingat saja perjuangan dulu mampu menggetarkan hatinya, semua butuh proses dan tidak ada yang namanya instan. Perjuangan panjangnya merubah nasibnya, di sini di Kota Inggris Ara bisa mewujudkan impiannya untuk kuliah di negara Inggris. Negara yang mempunyai hati tersendiri untuk Ara, di Kota Inggris ini kenangan nya terukir manis. Kariernya kelak akan di mulai menjadi pebisnis satu-satunya perempuan yang mempunyai catatan yang bagus, semoga saja."


*****


Kania masih di sibukkan mengurus suami, entah gimana ceritanya suaminya pagi ini sang manja seperti putri bungsunya. Pakaian yang telah di siapkan sebelum Yudha ke kamar mandi oke oke saja, setelah keluar kamar mandi Yudha memiliki pendapat warna yang berbeda. Alhasil semuanya di ganti warnanya, dan model pakaian pun sesuai minat sang suami.


"Kamu kenapa sih mas berubah begitu? belum juga satu jam sudah berubah-ubah, apa ada masalah di kantor?" tanya Kania sembari mengancingkan, kancing kemejanyaa. Kania mendongak keatas untuk menatap wajah suaminya, untuk tahu respon sang suami seperti apa?


Yudha menggeleng, "Enggak ada." jawab Yudha singkat.


Jawaban suaminya yang singkat menandakan sedikit ada masalah mungkin, tetapi Kania urung menanyakan perihal lebih lanjut ke mas Yudha.


Kania fokus mendandani suaminya, yang kali ini bukan seperti suaminya. Nampak sekali raut wajahnya yang sedikit gelisah, padahal Kania siap mendengarkan keluh kesah suaminya. Bila ada sesuatu yang ingin di ceritakan dari hati ke hati kepada dirinya.


"Daddy, Unda Una udah andi dong." pamer Nuna dengan memainkan rok tutu nya, dan rambutnya juga di kuncir kuda. Siapa pun yang melihatnya pasti akan gemas dengan kecentilan putri bungsunya, manjanya seperti sang daddy sebelas duabelas.


"Ndak boyeh di ubit-ubit ental pipi Una tambah besal, Una ndak uka!"


"Nanti cantiknya Una ilang, Una ndak au di ilang jehek."


"Hahahaha duplikat kamu banget Mas." bisiknya Kania lirih. Yudha yang mendengar bisikan istrinya menarik sudut bibirnya, untuk memberikan senyum tipisnya.


"Tenapa Unda bicik-bicik ke deddy? ilang aja Una antik, ndak usah bicik-bicik di depan Una, Unda malu ya hihihi.."


Kania tidak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya mendengar kosakata putrinya yang mulai banyak kemajuan. Meskipun masih agak belepotan setiap kosakata nya, tetapi Kania bangga sebagai seorang ibu dari empat orang anak-anaknya dan seorang istri pemilik Pradipta Group.

__ADS_1


******


Beda halnya dengan Kanaya mempunyai suami yang bisa diajak kerjasama untuk mengasuh anak-anak nya bergantian. My twins sudah bisa mandiri urusan mandi, makan, bobok nya. Tidak harus ada usapan lembut tangan Bundanya, seperti hari-hari sebelumnya.


Kini My twins sudah menjelma jadi mas yang baik untuk adiknya Esha, mereka jarang sekali berargumen atau melakukan perdebatan kecil. Seiring sang waktu, mereka sudah mulai dewasa tidak bermanja-manja lagi dengan Bundanya atau pun sang Papa.


Berbicara tentang Esha, gadis kecil itu masih saja manja bila berhubungan dengan kata Bunda dan Papa. Meskipun sudah mau punya adik bayik oek oek... tetap saja Esha tidak ada yang lawan kemanjaan nya.


Sebagai seorang ibu Naya tak mempersalahkan tentang kemanjaan putrinya, itu wajar namanya anak-anak belum bisa di bilangin seperti mas twins. Seakan-akan Naya tidak ingin waktu cepat berlalu, anak-anak menjadi besar. Pasti Naya akan merindukan masa-masa ini, masa perkembangan, tumbuh kembang anak-anaknya.


"Nda agi di ana? Elca dali tadi calo-calo Nda tapi Nda nya ndak tetemu." Ujar si kecil yang memberenggut bibirnya, pipinya yang mengembung dan montok menambah menggemaskan putrinya.


"Maaf ya cantik, Bunda tadi lagi mandi makanya Esha cariin Bunda, Bunda enggak ada di kamar." Tutur Naya berusaha untuk memberikan pengertian ke putrinya.


"Oce Nda, ndak pa-pa sekalang Elca udah teremu Nda, Elca seneng dech!" sahut Esha bergelayut manja di lengan sang Bunda, dan memberikan satu kecupan manis di pipi cantik Bunda kesayangannya.


*****


Beberapa tahun menjadi sekretaris sahabatnya, adik iparnya . Kini Reksa sudah mengembangkan sayapnya ke dunia bisnis, Reksa mulai mendirikan perusahaan kecil-kecil an yang mulai di rintis dari nol.


Pengalaman di dunia bisnis yang sudah beberapa tahun terakhir ini ia geluti membawanya untuk mempunyai perusahaan sendiri. Meskipun itu masih kecil, tetapi Reksa pantang menyerah untuk mengembangkan sayapnya ke dunia bisnis.


Dengan balutan tuxedo dengan dasi kupu-kupu melekat di lehernya Reksa, Reksa tampak tampan sekali dengan tuxedo warna navi untuk menghadiri undangan kolega bisnisnya.


Reksa dan Tama datang bersamaan, Tama pun tidak membawa sang istri karena tiba-tiba badan Esha demam akibat berenang sampai lupa waktu. Akhirnya mereka datang berduaan tanpa membawa pasangan, bukan berarti dia g*y, keduanya masih normal hanya saja Reksa belum mempunyai istri.

__ADS_1


Kasih Mas dong, menurut readers alur ceritanya gimana? lambat ap kecepatan, boleh ya di kasih krisann nya.


terimakasih.


__ADS_2