
Tidak mereka ketahui ternyata kedua orang yang pernah bersahabat, sengaja mendekatkan sang adik dengan adik temannya, dan merupakan satu kompleks perumahan.
Mereka adalah Kania, dan Kanaya. Berawal suami mereka menjalin kerjasama, akhirnya keduanya kini bertetangga dengan kompleks perumahan yang sama.
Keduanya istri dari pebisnis muda, sukses. Walaupun suami Kania dulu yang terjun ke dunia bisnis, tak membuat suaminya Kanaya minder untuk bersaing.
Berawal dari rekan bisnis, sekarang mereka berteman mempunyai visi misi yang sama. Mereka berencana menjodohkan Ara, dan Reksa.
Sebagai kakak, Kania sangat tahu bebet, bibit, bobot pemuda yang menjadi incarannya. Reksa Bhakti pria yang dipilihnya untuk menemani Ara sang adik, pria yang tepat untuk di jadikan calon suaminya Dara Larissa, adik satu-satunya Kania.
Hari ini mereka janjian di sebuah cafe, ingin membicarakan perihal perjodohan. Tak muluk-muluk harapan Kania, hanya ingin melihat sang adik bahagia, menemukan pria yang tepat.
Seiring berjalannya sang waktu, Kania sudah merubah penampilannya. Kini sudah berhijab, bener-bener sudah berubah menjadi lebih baik lagi.
Setelah suaminya sudah berangkat bekerja, anak-anak juga sudah bersekolah. Kini tinggal dirinya di antar sang sopir untuk ke cafe, tempatnya mereka janjian.
Kali ini Kania lebih dulu tiba di cafe tersebut, dengan pakaian anggun, elegan Kania melangkah kan kakinya untuk masuk ke area cafe.
Sang sopir pun sudah meninggalkan pelataran parkir, karena permintaan ibu bos yang tidak usah di tunggu, akhirnya sang sopir pun memilih pamit untuk kembali pulang ke rumah.
Kania sudah duduk di dekat jendela, ada pegawai yang menghampiri tempat duduknya. "Mau pesan apa buk?" tanya pramuniaga tersebut.
"Bentar ya mbak, aku lagi nunggu teman! nunggu teman datang dulu mbak baru kita pesan." tuturnya Kania lembut.
"Baik buk saya tunggu pesanannya!" sahutnya pramuniaga dengan sangat ramah, baik, dan senyum tipis.
__ADS_1
Kania membalas senyum tak kalah manis juga, kembali ke posisi semula. Kania sibuk dengan hape di tangannya, sibuk menyelusuri dunia maya.
Tak menyadari bahwa di pintu masuk ada seorang perempuan yang mencari keberadaan duduknya, bukannya sombong hanya saja Kania tak tahu ada yang mencarinya.
*
Tak Tak Tak
Hentakan sandal hels beradu dengan lantai marmer untuk memasuki cafe, netra nya celingak-celinguk untuk mencari sosok seseorang yang sudah membuat janji lebih dulu.
"Duduknya dimana mbak Kania ya? Padahal sudah di cari-cari, posisinya tetapi belum ketemu juga?" tanyanya dengan posisi masih celingukan mencari keberadaan duduknya.
Kanaya sudah merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil hape, belum juga memencet nomor tujuannya. Naya menemukan seorang perempuan yang di carinya, sedang duduk di dekat jendela.
Naya yakin bahwa mbak Kania adalah perempuan yang baik, tidak mungkin membocorkan rahasianya.
"Maaf mbak aku telat, maklum anak-anak sedikit rewel tahu Mak nya akan pergi !" tuturnya Kanaya dengan mengatupkan tangannya.
"Enggak pa-pa aku juga baru sampai kog! silahkan duduk, Naya." sahutnya Kania mempersilahkan tamunya untuk duduk dulu..
"Makasih mbak." Naya tersenyum manis sembari mendudukkan bo kongnya di kursi yang kosong.
Setelah memesan minuman, dan makanan. Mereka memilih menikmati makan siangnya dulu baru mereka melanjutkan perbincangannya.
*
__ADS_1
Ara di sibukkan dengan tugas kantornya yang menumpuk, jangankan untuk makan, untuk ke kamar kecil pun ia sampai tak sempat untuk beranjak dari duduknya.
Fokusnya pada layar komputer menghiraukan panggilan Hesti, Ara lebih fokus pada pekerjaan nya karena malam ini tidak ingin lembur.
Ingin cepat-cepat pulang ke apartemen, ingin segera merebahkan badannya supaya rasa penat memikirkan pekerjaannya segera sirna. .
"Ara." teriaknya Hesti yang sudah berdiri di depan pintu.
Hesti mendengus kesal karena panggilan nya di abaikan, tidak ingin berdiri terus menerus. Hesti memilih meninggalkan Ara yang tidak mau di ganggu, mulai menghentakkan kakinya saking kesalnya di cuekin.
Ara yang tahu mengulum senyum melihat Hesti kesal, mau gimana lagi? bila di tanggapi pasti Hesti tak akan berhenti untuk nerocos, sedang pekerjaan yang menggunung harus segera di selesaikan.
*
Setelah menyelesaikan santap makan siangnya, mereka mencicipi hidangan penutup. Mereka memilih es krim, dan makanan yang hits di cafe tersebut untuk menu desert keduanya.
Kania menarik nafasnya untuk memulai bercerita, mereka mulai mengobrol dalam mode yang serius. Naya pun mendengarkan sangat seksama, dari raut wajahnya sudah di ketahui bahwa mereka membahas kerjasama antara perjodohan.
Keduanya menemukan kesepakatan untuk mempertemukan calon pacar, karena sepasang itu sangat cocok bila di persatu kan dalam ikatan suci pernikahan.
Keduanya sudah kembali ke rumahnya masing-masing, setelah menemukan musyawarah untuk mufakat.
Tak henti-hentinya di dalam mobil Kania tersenyum, membayangkan seperti apa pertemuan keduanya nanti.
Rasanya tak sabar untuk membuat janji bertemu, bila tak harus mengantar ke sekolah Putri bungsunya pasti Kania mau memajukan pertemuan tersebut.
__ADS_1