
Langit siang ini Langit terlihat sangatlah cerah, sinarnya membingkai kenangan sendu. Beberapa hari yang lalu kita bertemu, kali ini aku datang tapi kamu nya enggak ada di tempat semula.
Meskipun hati ingin menolak, langkah kaki ku tak mau cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Walaupun aku datang tak menemui mu, setidaknya aku bisa melihat bayangan mu duduk di kursi kebesaran mu.
Tempat yang pernah mempunyai cerita tersendiri dengan orang yang berpengaruh, di tangan dingin nya perusahaan ini berkembang pesat, sama halnya perusahaan Permata Group yang turut hadir dalam kebangkitan perusahaan
Ara sudah menyelesaikan urusannya di kantor Bhakti Group, setelah melakukan pertemuan singkat.
Ara kembali ke kantornya guna melanjutkan pekerjaannya yang beberapa jam lalu ia tunda, untuk menyelesaikan masalah kontrak kerja sama perusahaan Bhakti Group.
Memasuki ruangannya kerja senyumnya Ara langsung terbit, langsung memancarkan sinarnya.
Sudut bibirnya melengkung indah bak bulan sabit, yang menyinari bumi seisinya, termasuk senyum yang membuatnya semangat untuk bekerja.
Tok Tok Tok...
"Masuk!"
Klek
Pintu di buka teman satu kantornya yang berada di balik ketukan pintu tersebut, nampak gadis cantik seusianya yang tersenyum kearah Ara.
"Ayo masuk! jangan di situ pamali bicara di depan pintu," ucapnya Ara berbicara sedikit terkekeh melihat temannya, yang sedikit malu-malu mau.
"Isshhh niatnya aku mau godain kamu, malah aku yang kena godaan dong!" cibirnya teman satu kantornya, mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam.
Mereka duduk berdua saling berhadapan, tidak ada pembicaraan serius. Sedikit berbincang sebentar, karena tidak ada obrolan yang penting diantara mereka.
Keduanya memilih berbicara dengan banyaknya candaan, sesekali mereka tertawa terkekeh-kekeh melihat aksinya Ara yang sedikit konyol bila berada di dalam ruangan kantor seperti ini.
Septi sudah kembali ke ruangannya, mulai mempelajari lagi beberapa dokumen yang masuk, sudah di tumpuk diatas meja kerjanya.
"Baru saja santai, enak ehh sudah datang saja beberapa dokumen masuk!" Ucapnya sambil bibirnya mendumel tak jelas. Bukan tak ingin mengerjakan, hanya sedikit ingin santai untuk melonggarkan sedikit pikirannya.
Walaupun bibirnya terus mendumel tak jelas, tetap saja aku mengerjakan dengan senang hati, dan semangat '45.
__ADS_1
*
Reksa memilih bersantai di kamarnya, kamar yang dulunya pernah di tempati nya tak banyak yang berubah. Semua masih sama, hanya beberapa tempat yang sedikit di geser membuat kamarnya semakin luas.
Tangannya mengusap lembut spray yang terpasang di tempat tidur, masih tercium bau wangi.
Wanginya sangat menenangkan membuat pikirannya kembali fresh, ternyata bertemu keluarga adalah obat mujarab untuk mengobati rasa rindunya yang tertahan untuk beberapa bulan yang lalu.
Mengelilingi sudut ruangan membuat bibirnya menyunggingkan senyumnya
Menatap langit-langit kamar sembari mengingat peristiwa masa silam, masa dulunya, masa tersulit nya.
Tetapi Reksa yang dulu sudah berubah, kini aku seperti terlahir kembali dengan status yang belum berubah.
Status jomblo yang di sandang nya beberapa tahun terakhir, membuatnya tak mempermasalahkan.
Meski ada rasa ingin memiliki pasangan selalu ada, lagi-lagi aku tak ingin krusak-krusuk mengambil keputusan yang bisa mengakibatkan penyesalan di belakang.
Banyak cinta yang datang mendekat, menawarkan banyak kesempatan untuk Saling mengenal.
Reksa tak merespon, tak ingin memberikan harapan palsu ke beberapa perempuan. Memilih menyendiri sampai sekarang, bukan nya itu pilihan yang tepat?
*
Tiga hari menghabiskan waktunya di Solo, aku sudah harus kembali ke Jakarta. Banyak orang yang menggantung kan nasibnya di perusahaan, banyak orang yang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam hidupnya.
Setelah berpamitan dengan orang tuanya, serta adik bungsunya. Reksa sudah dalam perjalanan menuju Bandara, suasana lalu lintas malam ini ramai lancar.
Cahaya pinggir jalan sangat tempramen mengiringi perjalanan nya dari rumah, walaupun masih enggan untuk kembali.
Tetapi banyak yang harus di pikirkan terutama nasib orang banyak, dan nasib perusahaan yang baru saja ia rintis.
Sampainya di Bandara tak menunggu lama, pesawat sudah take off meninggalkan tanah kelahirannya.
Masih ada asa yang tertinggal, masih ingin kangen-kangenan dengan keluarga, terutama kedua orang tua.
__ADS_1
Lagi-lagi aku harus realistis, pekerjaan juga sangat penting untuk kelangsungan hidup yang lebih baik lagi.
Satu jam pesawat mengudara, kini aku sudah tiba di bandara yang tak jauh dari tempat tinggal ku yang sekarang.
Tidak ingin berbasa-basi, atau merepotkan orang lain walaupun orang itu orang suruhannya, atau kepercayaannya. Aku memilih langsung pesan taksi online, daripada aku membangunkan seseorang.
Saking capeknya, ngantuknya, aku langsung ambruk keatas tempat tidur ku. Tak ingin sekedar basa-basi untuk membersihkan badan, mandi, atau berganti pakaian.
Pikirannya tertuju yang namanya kasur, tempat ternyaman nya untuk melepas penat, lelah, dan pikiran yang tak sehat.
Beristirahat adalah alternatif terbaik untuk mengistirahatkan rasa lelah di badannya, dan dengan aku bisa memejamkan kelopak mata ku.
Setidaknya aku bisa mencari uang, demi bisa mencukupi segala kebutuhan yang semakin hari semakin meningkat tajam.
*
Satu minggu lamanya tak bertemu pria yang mengganggu pikirannya, nampak Ara sangat enjoy menikmati kariernya, pekerjaannya tanpa perlu mengingat peristiwa kelam pertemuan tak terduga.
Setiap akhir pekan aku menyempatkan untuk menginap di rumah sang kakak, banyaknya pekerjaan mampu sedikit mengobati rasa lelahnya.
Dengan bermain dengan si kecil Esha, sedikit mengurangi ku dengan satu orang yang bernama Reksa. Membangkitkan semangat ku lagi menjadi onty yang lebih baik.
Sampainya aku di depan pintu rumah sang kakak, sudah berkali-kali aku mencoba memencet bel di luar pintu kak Kania. Belum juga di buka, setelah beberapa menit baru ada suara seseorang yang menyahuti dari dalam.
Klekkk
"Assalamualaikum Bi." sapa Ara dengan senyumnya. Tak lupa aku bercengkrama sebentar, sebelum masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam mbak Ara, maaf ya mbak bibi lagi dibuk di belakang," ucapnya sang bibi sembari membalas senyum, dan merasa tak enak hati.
Setelah di persilahkan masuk ke dalam, aku langsung kearah belakang karena mendengar tawa seseorang. Tawanya membuat ku mengulum senyum, suara nya sangat familiar..
"Onty Ala aku," ucap Nuna berlari.
Aku terkekeh mendengar suara cempreng Nuna, keponakan yang sangat dekat dengan ku. Aku langsung menyambut dengan merentangkan kedua tangan ku, dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1
Mereka berpelukan Teletubbies, melepas rindu yang sudah hampir satu pekan tak bertemu.
Keponakan yang lainnya juga ikut menghampiri ku, ada Kaffa dengan sikap cuek, tetapi suka membaca buku. Kalau seperti ini serasa aku memiliki anak banyak. Ini yang membuat ku selalu merindukan mereka, bila lama aku tak berkunjung.