Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Sepuluh


__ADS_3

"Tidak! aku tidak sakit!" tolaknya Ara yang ingin melepas genggaman tangannya dari genggaman tangannya Reksa.


Usaha untuk melepas nya tak semudah ia mempresentasikan hasil pekerjaan nya, tangannya yang kokoh, kuat tak mudah untuk ia lepaskan.


Berkali-kali juga Ara sudah memberontak, tetap saja tenaga yang tak sebanding dengan pria di depannya. Ara hanya bisa pasrah mengikuti kemana pria tersebut membawanya pergi, menolak pun juga percuma dengan tenaga nya yang tak seimbang.


"Mau kemana kita?" tanya Ara lagi-lagi berusaha melepas, memberontak dari cekalan tangan pria tersebut.


"Ke rumah sakit!"


"Aku enggak sakit! aku enggak mau!" teriaknya Ara yang berusaha untuk melawan, karena dirinya tak merasakan kesakitan seperti tabrakan dengan kendaraan umum.


Ara hanya merasakan pusing sedikit, tak sampai ada darah yang keluar dari rasa pusing itu.


Reksa leleh mendengar penolakan perempuan yang masih ia genggam tangannya, seakan menyerah untuk membujuknya ke rumah sakit.


Sekilas apa yang ia lihat bener adanya, tidak ada luka yang serius, tidak ada kecacatan fisik. Nampak sempurna kala netra keduanya saling bersitatap, saling memberikan keyakinan bahwa ada sesuatu yang mengusik perasaannya.


Ara menyadari perasaan yang berbeda saat tangan itu menggenggam nya, ada rasa kehangatan, hati pun rasanya nyaman berada dekat dengannya.


"Lepaskan!" teriaknya Ara memekik gendang telinganya Reksa.


Reksa sendiri malah asyik melamun, genggaman tangan pun tak pernah lepas dari tangannya Ara.


Ada geleyer aneh di hatinya, perasaan yang dulu nya membeku seperti es batu, kini mulai ada bongkahan yang mencair.


Sadar akan kesalahannya, Reksa langsung melepas genggamannya. Berusaha menutupi rasa malunya, akhirnya kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.


"Hmm!"


"Ada keperluan apa kamu kemari?" tanyanya Reksa yang masih penasaran, rasa ingin tahunya sangat tinggi.


"Mau ketemu pemilik perusahaan Bhakti Group, saya perwakilan dari perusahaan Permata Group." jawabnya Ara menjelaskan kedatangannya, tanpa ia tutup-tutupi, bener adanya Ara kesini pasti ada tujuannya.


DEG

__ADS_1


"Pucuk di cinta ulam pun tiba kata pepatah. berarti kita jodoh dong, Tuhan maha baik banget mempertemukan di waktu yang tepat, dan tidak akan salah tempat." Batinnya Reksa berterima kasih dengan pertemuan yang seolah-olah sudah ada yang mengaturnya.


Ara sudah meninggalkan pria tersebut tanpa ada kata permisi, ingin segera membereskan beberapa berkas yang ia bawa untuk di serahkan kepada perusahaan Bhakti Group.


"Alhamdulillah akhirnya aku lolos juga dari jeratan tangan beton," Ara bersyukur masih bisa melarikan diri, kini dirinya duduk sembari membenahi berkas yang sedikit berantakan.


Setelahnya Ara menerima panggilan telepon dari sang kakak, tak biasanya kak Kania akan menelepon di jam kantor bila itu memang tak penting.


Ara berusaha untuk berfikir positif, mungkin ada sesuatu hal yang membuat kak Kania menghubungi nya.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan sang kakak, Ara menemukan jawabannya bahwa pulang kerja di suruh mampir ke rumahnya.


Dengan senang hati Ara menyetujui permintaan sang kakak yang ingin dirinya mampir ke rumah, kebetulan dirinya juga merindukan keponakan nya yang makin kesini makin besar, susah untuk di ajak nginep di apartemen nya.


******


Ara sudah di persilahkan masuk oleh sekertarisnya, duduk di ruang tunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Sedang yang di tunggu masih asyik membelakangi nya dengan handphone berada di dekat telinganya.


Ara makin di buat jengkel dengan tingkah Ceo Bhakti Group, tidak menghargai tamu nya yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.


"Ahh si al ketemu Ceo kog songong." umpat nya Ara yang di batinnya, tak mau membuat masalah yang ini saja belum di lihat.


Melihat seksama tingkah lucunya perempuan yang di urus perusahaan Permata Group. Ada niatan untuk menjahili nya, tetapi ia urungkan tidak ingin membuat citra nya buruk.


Uni pertemuan pertamanya setelah sekian tahun tak pernah bertemu, kira di pertemukan disaat masing-masing dari kami sudah sukses, dewasa setidaknya mempunyai pekerjaan yang mampu menghidupi anak gadis orang.


"Ehmm." suara deheman Reksa membuka perbincangan mereka.


DEG


"Dia! tunggu dia kan yang menabrak ku tadi kog bisa ya, dia duduk di ruangannya Ceo, jangan dia mau menipu ku!" Lagi-lagi Ara menggerutu, seakan tak percaya pria yang dulu ia temui duduk di kursi kebesarannya, kursinya Ceo.


"Maaf pak saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini, bukan untuk bertemu dengan bapak." Tutur Ara menundukkan kepalanya, tak mau netra nya bersitatap dengan makluk menyebalkan di depannya.


"Saya Ceo Bhakti Group, perkenalan nama saya Reksa Bhakti." Reksa mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.

__ADS_1


"Bapak bohong ya." sahut Ara sedikit dengan gayanya sedikit bercanda, karena Ara sendiri belum percaya atas ucapan pria di depannya dalam memperkenalkan dirinya.


"Terserah mau percaya apa tidak! setidaknya saya sudah jujur siapa saya sebenarnya." Reksa selagi lagi mempertegas dalam memperkenalkan dirinya, tidak ingin ada yang ingin di tutup-tutupi.


Ara terdiam, bibirnya seakan terkunci rapat. Mendengar perkataan pria di depannya membuatnya sedikit syock. Tak percaya laki-laki di depannya adalah seorang Ceo, bukan kah dia dulu bekerja dengan Kaka iparnya sebagai sekretaris.


"Hallo saya masih di sini lho!"


"Hmm maaf."


Setelah perbincangannya sedikit cukup alot, akhirnya menemukan kesepakatan yang membuat Ara tak henti-hentinya melebarkan senyumnya.


Giginya yang putih, rapi, dan lesung pipit di pipi nya semakin menambah kadar kecantikan Ara.


Reksa semakin terpesona melihat senyum perempuan yang masih ia ingat, walaupun peristiwa itu sudah lalu, masih membekas di dalam sanubari nya.


*****


Seperti janjinya dengan sang kakak, Ara langsung cus ke rumah kak Kania, dan tak kembali ke kantor. Jam kantor pun tinggal satu jam selesai, akhirnya ada memilih membolos satu jam demi bisa segera menemui Kakak nya.


"Assalamualaikum ."


"Waalaikumsalam, ehh non Ara! masuk non!" jawabnya bibi, dan mempersilakan Ara untuk masuk ke dalam.


"Makasih bi, kak Kania mana bi?" tanya Ara untuk memastikan keberadaan sang kakak.


"Non Kania di ruang keluarga nemeni bermain, non kesana saja, bibi mau lanjut memasaknya." jawabnya bibi.


"Oke deh bi!"


Ara mengacungkan jempolnya, kini berjalan ke ruang keluarga. Dari luar ruangan pun terdengar sangat ramai, ada suara Esha yang sangat familiar di telinganya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


"Yeeahh ada onty Ala ke lumah Esha." seru Esha dengan kegirangan.


Esha terlonjak-lonjak bahagia, onty yang beberapa hari ini di rindukan akhirnya datang juga dengan membawa makanan kesukaannya. Semakin membuat Esha melebarkan senyumnya, senyum yang mematikan kaum Adam kelak Esha dewasa nanti.


__ADS_2