Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Duapuluh Satu


__ADS_3

Tiga hari bukan waktu yang cukup untuk menikmati hari libur di kota Solo, tempat orang tuanya tinggal.


Melepas rasa rindu tak cukup untuk tiga hari saja, rasanya susah untuk mengucapkan kata untuk kembali pulang.


Ada rasa enggan untuk kembali pulang ke Jakarta, tetapi ada tanggungjawab besar yang membuatnya harus berpikir ulang untuk tetap tinggal di Solo.


Dengan sangat keterpaksaan Reksa mulai keluar kamar dengan satu koper besar, yang ia bawa hanya beberapa pakaian, dan dokumen-dokumen penting saja.


"Jadi pulang malam ini, Nak," ucap sang ibu sendu. Rasanya tak rela di tinggal, baru saja kemarin bertemu sudah harus di pisahkan lagi.


"Iya buk, besok aku harus masuk kantor, pekerjaan sudah menunggu di Jakarta." Tutur Reksa memberikan pengertian ke ibunya.


Tak ada pilihan lain, mau tak mau ibu Melati rela di tinggal putranya kembali. Walaupun di rumah masih ada si bungsu, tetep saja ada yang beeuby bila di antara ketiga tidak ada.


Malam menjelang, pukul 7malam Reksa sudah meninggalkan rumahnya menggunakan taksi online.


Satu jam mengudara di udara, Reksa sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta dengan selamat.


*

__ADS_1


Mau tak mau pagi ini Reksa sudah masuk ke kantor, padahal baru saja tadi malam ia tiba di Jakarta. Kalau bukan karena ada rapat penting pagi ini, pastinya aku akan mengambil cuti istirahat satu hari.


Baru saja menginjakkan kakinya di lobby utama langsung di sambut para pegawainya menunduk hormat, ada yang menyapa, ada pula yang tersenyum.


Reksa bukanlah atasan yang arogan, Reksa adalah orang yang simpel. Tidak banyak bicara, tetapi pintar dalam berpikir, terutama membaca gerak-gerik bahasa tubuh pegawainya.


"Pagi pak Reksa," ucapnya para pegawai berdiri hormat dengan merapatkan barisan, kepalanya ia menunduk sebagai rasa hormatnya kepada atasan.


"Pagi juga, saya duluan ke ruangan." Reksa berbicara sembari berlalu begitu saja, meninggalkan senyum tipisnya.


"B-baik Pak!" Mereka serempak menjawab perkataan pak Reksa dengan penuh rasa kebahagiaan.


Jarang-jarang pak Reksa bersikap ramah, apa mungkin dalam mood yang lebih baik? atau emang sudah berubah lebih baik lagi. Bisik-bisik tetangga terus saja berseliweran antara pegawai satu, dan pegawai lainnya.


"Bener-bener kita harus kembali bekerja, sebelum orang lain tahu bahwa kita bahwasanya sedang ngerumpi." celetuk salah satu pegawai yang ikutan nimbrung.


Setelahnya mereka kembali ke meja kerjanya masing-masing, walaupun ada sedikit rasa tak rela untuk membubarkan diri, demi kebaikan bersama akhirnya mereka sama-sama membubarkan diri.


*

__ADS_1


Di ruangan kerjanya Reksa tak berhenti tak tersenyum, seperti ada energi positif yang datang tiba-tiba. Tak lain tak bukan pertemuan dengan orang tuanya, mampu membawa dampak positif.


Sudah banyak tumpukan dokumen, masih belum Reksa sentuh. Seakan sedang ikut dalam lamunan bahagia, tak menyadari bahwa dirinya berada di kantor.


"Ehemm." suara deheman seseorang mampu menyudahi lamunannya.


"Ada apa?" tanyanya Reksa sedikit ketus. Wajahnya pun ia paling kan, kesal khayalan indahnya sedikit terganggu.


"Ada cewek cantik nyariin kamu!" jawabnya sekertarisnya.


Senyum terpatri di wajah tampannya.


"Siapa?" Reksa semakin penasaran.


"Dara Larissa, perempuan cantik, pintar, kalau aku harus gercap (gerak cepat), sayang kalau dilewatkan entar lama-lama di ambil orang lain. Kan sayang cantik gitu!" Tuturnya Sekertarisnya panjang lebar.


Mimik wajahnya Reksa berubah merah padam, perkataan sekertarisnya sangat menarik membuatnya minat untuk membahas obrolan pagi ini.


Melihat ekspresi wajah Reksa, semakin yakin bahwa atasannya sedikit menaruh perasaan. Lagi-lagi Reksa berusaha untuk menepisnya, di lihat dari wajahnya pun sudah sangat kentara.

__ADS_1


Mereka larut dalam perbincangan, tak sadar waktu terus saja berjalan meninggalkan sedikit demi sedikit kerugian bagi seorang Ceo.


Waktu adalah uang, slogan itu tepat bagi seorang pengusaha, dan memiliki jiwa bisnis yang tinggi. Sama halnya Reksa tidak sadar bahwa sedikit merugikan waktunya bila membicarakan tentang perempuan yang ada di angan-angannya.


__ADS_2