
Dua tahun Ara tinggal di negara Inggris, selama dua tahun terakhir ini tidak ada kendala yang berarti dalam belajarnya. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, seperti yang Ara rasakan hanya kata rindu yang terus saja menggerogoti perasaan nya, walaupun hampir tiap hari Ara selalu menyempatkan waktunya untuk berkirim kabar melalui telepon atau video call.
Tak bisa di pungkiri rindu akan tanah kelahiran itu pasti, tetapi Aira mencoba untuk mengesampingkan rasa rindu itu untuk pendidikannya, supaya cepat selesai dan lulus sesuai prediksinya.
Rasa rindu ingin berjumpa dengan keluarga itu masih ada, hanya saja Ara belum mengambil cuti liburan. Tinggal kak Kania yang merupakan keluarga satu-satunya yang di miliki Ara, sekarang tinggal di Jakarta dengan keluarganya.
Di Apartemen super mewah yang menjadi hunian Ara selama menempuh pendidikan di Inggris, lengkap dengan fasilitas yang memudahkan Ara untuk melakukan segala rutinitas nya selama di dalam apartemen.
Hari weekand ini Ara isi di dalam apartemen saja, tidak ingin keluar kemana-mana? Ara hanya ingin rebahan, guling-guling diatas kasur, dan mengistirahatkan tubuhnya dari lelahnya rutinitas kampus yang semakin padat menjelang ujian.
Belum mandi, belum sarapan, belum juga turun dari tempat tidur kecuali tadi pagi, pagii sekali Ara turun dari kasur untuk pergi ke kamar mandi dan melaksanakan kewajiban sebagai Muslim.
Masih dalam kaum rebahan, Ara mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi keluarga di Indonesia. "Bunda Kania " nama yang tertera di layar ponsel Ara, dengan satu kali sentuhan tangannya panggilan video call sudah tersambung, sudah berdering, tetapi belum di angkat.
Ara mencoba lagi menyentuh nama "Bunda Kania" untuk melakukan panggilan lagi, sudah tersambung, tetapi hanya berdering saja meskipun Ara sudah mencoba untuk melakukan panggilan berulang-ulang.
"Kemana ya kak Kania, tumben enggak di angkat, padahal kan aku rindu ingin cuap-cuap manja dengan beliau." Ucap Ara lesu karena panggilan video call nya tidak ada respon.
Menunggu beberapa detik, tidak ada panggilan dari sananya, Ara memutuskan untuk turun dari kasurnya untuk menuju kamar mandi, Ara ingin membersihkan tubuhnya yang sudah bau sedap-sedap manja gimana gitu hehehe...
******
Indonesia
Weekand nanti Kania ingin mengajak anak-anak untuk berlibur ke daerah puncak untuk dua hari ke depan. Bukan tanpa alasan Kania mengajak keluarganya untuk berlibur, itu semua sudah di rencanakan jauh-jauh hari sebelum satu bulan yang lalu.
Seperti ibu rumah tangga pada umumnya, Kania sedang menemani anak-anak nya yang belajar. Ada Kaffa dan Kaynuna yang masih butuh perhatian ekstra, kecuali si sulung Kenzi, Kama, Kalila mereka bertiga sudah mempunyai dunia sendiri.
__ADS_1
Si sulung Kenzi sudah ikut membantu daddy nya di kantor, sedang Kama, Kalila. Keduanya sibuk dengan tugas sekolah yang mengharuskan sering belajar kelompok, dari rumah ke rumah teman-teman nya.
"Unda dedek udah antuk, belajalnya di anjut ecok agi ya." Ucap Nuna yang pandangan nya mulai sayu, berkali-kali menguap, matanya hanya tinggal beberapa watt saja...
"Uhhh bilang saja malas belajal, pakai bilang ngantuk segala dik, Na." cibirnya Kaffa melihat adik bungsunya yang super manja, super-super aktifnya dan minta perhatian lebih.
"Unda Abang nya, dedek antuk benelan abangnya ahil Unda." Adunya Nuna kepada sang Bunda, dia kekeh dengan pendiriannya, dan tidak boleh jahil dengan nya ujung-ujungnya akan mengadu ke Bunda.
"Abang enggak boleh gitu dong, mungkin adik ngantuk beneran." Tutur Kania mencoba untuk menengahi perdebatan kecil putra-putrinya.
"Tuh kan bang, dengelin apa kata Unda, ndak boleh gitu ama aku, nanti Abang di jewel Ama Unda, daddy balu tahu lasa." Ujar Nuna sudah setengah sadar, sudah memeluk di ketiak Bundanya.
"Sudah-sudah kalian ini kalau lagi bersama seperti ini, pasti ada aja bahan untuk perdebatan." Kania berusaha mengambil titik tengahnya, dan tidak memihak ke satu anak-anaknya.
"Beresin bang buku-buku nya, setelah itu jangan lupa gosok gigi, cuci kaki, tangan baru Abang istirahat."
Kama mulai membereskan buku-buku yang berserakan diatas karpet kecil khusus untuk tempat belajar nya. Sedangkan Bunda Kania membopong tubuh putrinya untuk di bawa ke atas tempat tidurnya.
******
Yudha dan Kenzi baru saja keluar dari ruang meeting, baru saja mereka menyambut investor asing yang baru saja menanamkan modalnya di perusahaan nya.
"Capek ya."
"Lumayan dad."
Ya begitulah dunia bisnis, tidak ada yang instan semuanya butuh perjuangan panjang untuk mencapai angka kesuksesan. Seperti yang baru saja kita menghadapi investor yang beda negara, bahasa semua membutuhkan jam terbang baru bisa menghadapi klien yang beda-beda tipis dengan kita hehe...
__ADS_1
*****
Reksa Bhakti, Pemilik wajah rupawan, sekertaris dari Perusahaan Abadi Group. Pengalamannya sudah malang melintang di dunia bisnis, siapa juga yang tidak kenal dengan Wiratama Wiratmaja pengusaha kaya raya, memiliki banyak perusahaan di beberapa kota besar di Indonesia.
Wiratama sendiri merupakan sahabat kecilnya Reksa, dan sekarang berubah status menjadi adik iparnya. Meskipun masih ada hubungan kekeluargaan, tidak menghormati rasa hormat nya kepada sang atasan. Reksa selalu memanggil atasan nya dengan bahasa formal, kecuali mereka sedang berduaan seperti ini pasti keduanya akan memanggil aku kamu.
"Gimana Sa perkembangan proyek baru kita dengan perusahaan Pradipta?"
tanya Tama. Keduanya berada di ruangan nya Tama, mereka sedang membahas beberapa audit dana yang tidak sinkron dengan tim audit keuangan.
"Prospek nya kelihatan nya bagus, tidak di ragukan lagi perusahaan Pradipta sudah sangat terkenal seantero dunia."
Tutur Reksa sesuai apa yang di lihatnya.
"Kerja bagus!"
"Lanjutkan!"
"Kamu mah enak tinggal tanda tangan saja, kalau aku harus kesana kesini untuk mencari informasi dulu sebelum menjalan kerjasama." cibirnya Reksa berkeluh kesah, seperti hal itu sudah biasa, Tama pun tak pernah mengambil hati ucapan sekertaris nya.
*****
Kanaya Bhakti ibu dari ketiga putra-putrinya, memiliki anak kembar berjenis kelamin laki-laki. Kesibukan menjadi ibu rumah tangga, dan seorang istri pengusaha muda tak membuatnya bersedih hati. Gelar sarjana di perguruan tinggi di negeri ini, ia tanggalkan demi bisa menjadi seorang isteri dan sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya....
Kini Kanaya menikmati perannya sebagai seorang istri, ibu dari anak-anaknya. Walaupun kegiatan nya terbatas di lingkungan rumah saja, tak membuat dirinya hilang untuk bergaul atau berwajah tua sebelum waktunya.
Meskipun berstatus ibu rumah tangga, Kanaya sangat rajin, pintar menyenangkan suaminya. Kanaya sendiri pandai merawat tubuhnya, ibu dari Baby twins masih kelihatan seperti anak abege padahal usia sudah tak muda lagi di karenakan mempunyai dua buntut.
__ADS_1
Menurut readers alurnya gimana? kasih masukan dong biar Mimin bisa untuk memperbaiki, supaya bisa ngena di hati kalian para pembaca cerita ku.