
Sudah satu bulan berlalu sejak terakhir dirinya datang ke rumah sang kakak, aku bisa bermanja-manja ria dengan keponakan. Menghabiskan waktuku untuk sesi tukar cerita dengan sang kakak, banyak hal yang ingin aku ceritakan.
Pertemuan dengan pria yang pernah menjadi masa lalu nya, pria yang mampu mencuri perhatiannya. Sosok pria tampan yang menjadi pujaan, mungkin sangat berbeda dengan dulu.
Bayangan pertemuan beberapa hari yang lalu mampu menggetarkan relung jiwanya, jiwa yang pernah terluka. Kini bisa tersenyum cerah, ada seseorang yang ingin ia gapai sampai aku mendapatkan apa yang aku mau?
Aku jadi penasaran ingin mengenal nya lebih jauh, harus bisa mendapatkan pria yang mampu membuat semangat nya tumbuh berkobar-kobar.
Tak lain tak bukan adalah Ceo pemilik perusahaan Bhakti Group, pesona seorang Ceo mampu memikat hati perempuan yang berhijrah, kini Ara sudah memakai hijabnya.
Dengan pakaian anggun yang membalut tubuhnya, Ara melangkahkan kakinya untuk pergi ke tempat kerja. Tempat yang menjadi tempatnya untuk bertahan hidup, memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Mobil sedan warna hitam membelah jalanan ibu kota pagi ini, sesekali aku mulai bersenandung menyanyikan lagu kesukaan ku. Penyanyi pun juga sangat di gandrungi anak-anak muda, remaja, yang sering wara-wiri di layar kaca televisi.
Berjalan sangat anggun Ara sudah memasuki lobby utama, banyak karyawan yang sudah mulai berdatangan.
"Pagi Bu Ara." sapa para pegawai yang menunduk hormat, dan mereka tersenyum terutama kaum Adam yang terpesona dengan penampilan perempuan cantik yang berdiri di depannya.
Kaum Adam pun sampai tak berkedip memandangi pemandangan yang menurutnya sangat indah, seperti mentari pagi yang memancarkan sinarnya.
"Pagi juga, selamat bekerja!" ucapnya Ara menyapa pegawainya. Senyum tipisnya mampu menghipnotis, kecantikan Paripurna dengan pembawaan yang sangat elegan.
Ara sudah meninggalkan tempat utama, memilih untuk masuk ke dalam ruangannya. Sangat perfect sejauh mana mata memandang.
"Terimakasih Bu Ara yang cantik." serunya pegawai yang masih berdiri menatapnya.
Ara membalikkan badannya sebelum berbelok ke arah ruangannya, "Tersenyum tipis, dan mengangguk sembari melanjutkan melangkah kan kakinya."
__ADS_1
*
Reksa sudah berada di ruangan kerjanya, tumpukan kertas-kertas memenuhi atas meja kerjanya, membuat Reksa tak berkutik dengan banyaknya pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Berkali-kali hapenya berdering, tetapi ia abaikan karena pekerjaannya saat ini lebih penting daripada suara getaran di hapenya, suara getarannya sampai memekik gendang telinganya.
Fokusnya tak teralihkan, walaupun sudah waktunya sudah jam makan siang. Reksa pun memilih meninggalkan makan siangnya, dan beralih dengan kertas-kertas yang berserakan diatas meja.
*Kapan selesainya? bila belum selesai yang satunya, yang satunya sudah berdatangan , dan tertumpuk rapi di tumpukan kertas-kertas yang tulisannya membuat ia pusing tujuh keliling.
Tok* Tok Tok
"Masuk!"
Klekkk
"Maaf pak di lobby ada tamu, katanya teman bapak! beliau sedang menunggu di bawah." Tuturnya sang sekretaris memberitahu Ceo mereka.
"Siapa namanya?" tanyanya Reksa yang masih sibuk membaca dokumen diatas mejanya. Sesekali mencoba untuk mengingat, tetapi nihil ingatan nya seakan buntu, dan tak menemukan jawaban pasti.
Walaupun sudah berkali-kali mengingat, tak menemukan jawaban , atau nama seseorang yang di curiganya. Sungguh sangat buntu sekedar untuk memikirkan saja!
"Maaf pak saya lupa menanyakan!" jawabnya jujur, singkat.
"Ya sudah suruh tunggu, saya 5menit lagi saya akan turun menemui tamu tersebut!" Reksa sudah meletakkan bolpoin di tangannya. Lembaran kertas-kertas pun sudah ia tutup rapat, setelahnya baru ia buka untuk di periksa ulang kembali.
Sang sekretaris pun sudah keluar dari ruangan Pak Ceo, sudah kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
*
Tak Tak Tak
Derap langkah kaki seseorang memasuki lobby utama, Reksa celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang yang asing. Nihil tak ada seseorang pun yang ia curigai, Reksa sudah bersiap membalikkan badannya untuk kembali ke ruangannya.
"Mas Reksa.," teriaknya seorang perempuan berpakaian seksi yang memanggil dirinya, pasti seseorang yang memanggilnya mengenal dirinya dengan baik.
Reksa menoleh ke belakang untuk melihat seseorang yang memanggilnya, awalnya ragu untuk berhenti, saking penasarannya membuat Reksa menghentikan langkahnya.
Matanya terbelalak kaget melihat pemandangan yang bikin sakit mata, pakaian yang cukup terbuka membuat Reksa berkali-kali menelan air liurnya.
"M-aya!" ucapnya dengan nada di perjelas.
"Mas Reksa." sahut Maya yang terpesona dengan pria yang di panggil nya mas Reksa. Pria masa kecilnya waktu beliau sama-sama masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
Reksa membawa Maya temannya untuk naik keatas, ke ruangannya supaya lebih leluasa dalam berbincang-bincang. Takutnya bila ada yang melihat, citranya sebagai CEO tampan, kalem, dan kharismatik hilang karena kesalahan tak sengaja.
Mereka mulai mengobrol menceritakan masa lalunya, masa kenakalan mereka di mulai. Reksa mendengar cerita Maya tertawa terbahak-bahak, mengingat masa mudanya yang tak ada kalem-kalemnya.
"Sekarang kamu makin tampan, sukses! apa resepnya, Sa?" tanya Maya dengan mengedipkan sebelah matanya, niatnya untuk menggoda Reksa.
"Seperti yang kamu lihat!" jawabnya apa adanya, tidak ada yang perlu Reksa tutupin semua seperti yang terlihat sekarang ini.
Keduanya bernostalgia mengingat masa susah dulu, dengan pelajaran hidup, dan semangat ingin menjadi orang sukses. Akhirnya impiannya mulai terwujud, taraf ekonomi pun sudah sedikit membaik.
Reksa sendiri sudah banyak di kenal dunia para pebisnis muda, perusahaannya patut di perhitungkan .
__ADS_1
Perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan Pradipta group, dan beberapa perusahaan terbesar lainnya.
Kerja kerasnya membuahkan hasil manis, hasil yang m