
Satu minggu kemudian, rencana yang sudah di dusun rapi dan di gadang-gadang akan menjadi pertemuan pertama keduanya. Membuat para Kakak heboh mengatur rencana, termasuk Kanaya yang ingin memberikan yang terbaik baik untuk sang kakak.
Tiga hari sebelum rencana nya mencapai kata sepakat, kedua perempuan cantik yang reservasi tempat. Mereka juga sudah berbicara dengan pemilik cafe cinta, seakan sudah terencana, mereka ingin yang terbaik untuk calon pasangan.
Pertemuan belum juga di gelar tetapi ada keyakinan di kubu keduanya, tidak ingin momen yang bersejarah hilang.
Mereka sengaja ingin mengabadikan momen romantis keduanya, pasti ada rasa canggung, pokoknya sangat nano-nano.
"Aku sudah enggak sabar mbak nunggu hari itu tiba!" tuturnya Kanaya berbicara dengan Kanaya melalu telepon seluler.
Bener-bener aku di buat kepo sama keduanya mbak.
"Sama aku juga ingin cepat-cepat hari esok, ingin tahu reaksi terkejut keduanya, Nay." sahutnya Kania menimpali perkataan Kanaya yang mengundang banyak bahagia.
Kania jadi tahu dari segi pembicaraannya bahwa Naya menyukai adikku Ara, berharap tidak ada jalan terjal untuk misi keduanya. Aku sendiri sudah ngebet ingin adiknya menemukan kebahagiaan, setidaknya aku bisa sedikit bahagia.
Mereka terus saja berbicara di ujung telepon, seakan tak sabaran ingin melihatnya berjodoh, dan bahagia. Seperti harapan kedua orang tua Kanaya, pasti ingin melihat putra sulungnya menikah, dan memiliki keluarga.
*
Malam berikutnya, apa yang sudah para perempuan rencanakan akhirnya berjalan sesuai apa yang di mau keduanya.
Ara sudah berdandan cantik, elegan, dengan makeup tipis-tipis tetapi kecantikannya Paripurna.
Berkali-kali berlegok-legok di depan cermin, ingin melihat sekali lagi penampilannya, tak ingin membuat sang kakak protes karena ini makan malam dengan sang kakak, dan keluarganya.
Ara tak pernah sedikitpun curiga dengan gerak-gerik sang kakak, pikirannya selalu positif kan cuma makan malam dengan keluarga Pradipta, mertuanya kak Kania.
Derrrtttttt
Hape Ara bergetar sekali bertanda ada pesan masuk ke ke hapenya, Ara menyudahi dirinya menatap dirinya di cermin besar beralih ke Suara hape yang bergetar.
Dahinya yang berkerut membaca sekilas pesan sang kakak, Ara mulai perang batin dengan isi pesan sang kakak.
Cafe cinta adalah tempat pertemuan keduanya, Ara mengingat-ingat alamat tersebut. Setelahnya Ara baru tahu bahwa di situ ada cafe, awalnya terkejut karena cafe itu sangat terkenal di kalangan muda-mudi.
"Kenapa kakaknya mengajak makan di tempat tersebut?" Ara mulai sedikit curiga, tak biasanya mereka akan makan malam di tempat tersebut. Karena tempat itu khusus untuk kaum muda, untuk berkencan, atau sekedar nongkrong.
*
__ADS_1
Reksa sudah siap, sudah mengendarai mobilnya ke alamat tersebut. Tak sedikit pun menaruh curiga, pasti makan malam seperti biasanya.
Jalanan yang ia lalui malam ini ramai lancar, di temani dengan bertaburan bintang membawa seorang Reksa ke tempat tujuannya.
Sampainya di parkiran mobil, Reksa dengan sangat tampan, gagah berjalan ke cafe cinta tersebut. Kacamata nya tak pernah lepas dari hidung mancung nya, dengan pakaian kasual Reksa berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Selamat malam! ada yang bisa di bantu, Pak." sapanya pegawai cafe yang menyapa pengunjung.
"Ohh ya saya cari meja no 5, itu terletak di sebelah mana?" tanya Reksa tak memperhatikan mba-mba yang menyambutnya dengan sangat ramah.
"Mari saya antarkan,Pak!"
Reksa berjalan di belakang pelayan tersebut, tidak ada pembicaraan antara keduanya. Reksa sibuk dengan hape di genggaman tangannya, mulai membalas pesan yang masuk ke WhatsApp
Reksa sudah duduk di tempatnya, mencari sekeliling tempatnya duduk.Nampak sekali kosong tak ada pun pengunjungnya sama sekali, pada ini cafe sangat hits untuk kalangan muda-mudi.
*
Dengan mobil sedan warna hitam, Ara memasuki pelataran parkir yang sangat sepi. Biasanya akan ramai banyaknya pengunjung yang akan memenuhi cafe ini, tetapi malam ini sangat sepi. Apa tutup ya? tetapi lampu kelap-kelip menyala, alunan musik lewat melodi terdengar sangat merdu.
Memasuki cafe tersebut untuk pertama kalinya sangat sempurna, tempatnya sangat cantik, di hiasi bunga-bunga segar di sudut ruangan.
"Ada yang bisa di bantu mbak?" tanyanya perempuan tersebut dengan sangat ramah, murah senyum, dan suaranya lembut.
"Ehh saya mau ketemu dengan seseorang mbak, di meja no X mbak." jawabnya Ara sedikit tak enak hati mengabaikan perempuan yang berdiri di sebelahnya.
"Mari saya antar ke meja tersebut."
"Baiklah terimakasih."
Senyum di sudut bibirnya tak pernah lepas, sekian bulan akhirnya bisa makan malam dengan sang kakak di tempat yang benar-benar sangat cantik
Pandangan matanya mengedar ke sudut ruangan, tidak ada siapapun di dalam, hanya ada satu meja yang terisi satu orang.
.
Tiba-tiba dahinya mengernyit seakan kenal dengan pria tersebut, setelah pelayan tersebut meninggalkan dirinya.
Ara mulai melangkahkan kakinya menuju meja no X, tak lain tak bukan meja tersebut diisi pria yang duduk dengan pandangan matanya fokus dengan layar hape.
__ADS_1
"Permisi!" Ara berbicara pelan, tak ingin menganggu konsentrasi pria yang duduk dengan pakaian kasualnya.
Mendengar suara yang tak asing bagi telinganya, Reksa mendongakkan kepalanya untuk melihat seseorang yang menyapa nya.
Deg
Pandangan mata keduanya bertemu, bibirnya seakan terkunci untuk mengeluarkan satu patah kata pun. Mereka sedikit kaget, karena meja no X adalah nomor yang sama yang di kirim kak Kania.
Ara sudah menarik nafasnya sebelum memulai pembicaraan lebih dulu, bila ia tetap diam akan semakin dirinya mati kutu dengan keadaan yang serba salah ini.
"Maaf pak ini meja yang sudah di pesan Kakak saya, untuk makan malam bersama keluarga." tuturnya Ara dengan lembut, tak ingin menarik perhatian para pegawai di cafe ini.
"Enak saja, ini juga tempat yang di pesan adik saya untuk makan malam bersama keluarga juga." sahutnya Reksa menyangkal, karena Reksa datang ke tempat ini atas rekomendasi sang adik.
"Mungkin kamu salah alamat!" ucapnya sinis.
Ara membalikkan badannya untuk merogoh hape di dalam tas, berusaha untuk menghubungi sang kakak.
Tut Tut Tut...
Ara terus saja menggerutu kesal karena nomor hape sang kakak tak bisa di hubungi, Ara semakin bingung mau menghubungi siapa lagi?
Mereka terus saja berdebat dengan merebutkan meja no X, tidak ada yang mau mengalah karena keduanya merasa benar.
Perdebatan mereka mengundang para karyawan di cafe tersebut, mee berbondong-bondong mendatangi keduanya yang tengah argumen tak mau kalah.
Setelah di lerai oleh pegawai cafe tersebut, mereka diam tak lagi berapi-api dalam merebutkan meja no X.
Yang paling mencenanggkan lagi ucapannya para pegawai, "Bahwa cafe ini sengaja di pesan untuk makan malam kalian berdua." Kata yang terngiang-ngiang di otaknya Ara.
"Mau marah pun sama siapa?
Hatinya sangat dongkol berduaan dengan pria yang menurutnya asing, sedang Reksa sendiri nampak biasa saja. Baginya melihat wajah kesal perempuan yang berada di depannya mengulum senyum, pemandangan yang sangat indah, sayang bila tak di abadikan kamera hapenya.
*
Beda halnya dengan kedua perempuan yang melihat pertemuan keduanya ngakak sendiri, apa yang di rencanakan berjalan sesuai apa yang sudah mereka rencanakan.
Melalui cctv yang langsung ke kamera hape keduanya, mereka bisa melihat dengan bibir terus mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Tak sabar menunggu episode selanjutnya akan seperti apa? semoga saja mereka bisa saling mengenal lebih jauh, dan bisa saling menurunkan egonya untuk kepentingan masa depan keduanya.