Jodohku Tetangga Apartemen

Jodohku Tetangga Apartemen
Bab Duapuluh Dua


__ADS_3

Maaf ya othor skip.


Proyek kerjasama mereka berdua sudah berakhir, keduanya pun juga jarang bertemu tak seintens dulu.


Tetapi ada yang berbeda dengan hubungan keduanya, tidak tahu dari arah mana yang memulai.


Mereka tiba-tiba sangat dekat, sering jalan bareng di luar jam kantor. Walaupun belum ada kata kepastian dalam hubungan ini, tetapi dari sorot matanya tidak bisa berbohong.


Sama-sama saling menyayangi, tetapi sangat gengsi untuk mengutarakan maksud, niat hati mereka masing-masing.


Dari kedekatan ini, Ara berharap hubungan ini berjalan seperti apa yang di mau. Tak muluk-muluk untuk hubungan ini, berharap bisa lebih dekat, lebih bisa saling mengenal satu dengan lainnya.


Tepat malam minggu ini mereka berdua berencana untuk ngedate, di apartemen nya Ara tengah bersiap di depan cermin.


Tangannya sangat lincah memoleskan bedakk, dan pemerah bibir. Tak ingin bermake-up tebal, Ara hanya memakai bedak tipis-tipis, dan lipstik supaya wajahnya tak pucat.


Ting Tong


Bel apartemen Ara berbunyi, membuatnya semakin gugup. Bukan yang pertama , tetapi rasanya baru saja mereka bertemu, lalu janjian.


"Iya sebentar!"


Ara menyudahi duduk di depan cermin, sesekali melihat penampilannya dari kaca besar di depannya.


Di rasa sudah rapi, Ara berjalan untuk menyambar tas, dan hape.

__ADS_1


*


Di taman kota tempat yang mereka pilih untuk menghabiskan malam minggu pertamanya. Duduk di bawah lampu tempramen, di hiasi langit berwarna terang, seakan tahu perasaannya bahwa mereka berkencan.


Angin pun sangat mendukung untuk hubungan keduanya, mereka bercengkrama ringan, sesekali mereka tertawa bersama.


Tak bisa memungkiri bahwa perasaan keduanya tengah berbahagia, tak ingin membuat momen ini cepat berlalu, keduanya mengukir kenangan indah malam ini.


"Gimana perasaan mu, Ra?" tanya Reksa yang memandangi wajah ayu, wajah yang memerah ada semburat warna merah di pipi cantiknya.


"Aku bahagia!" jawabnya Ara sedikit malu-malu.


"Aku juga tidak kalah bahagianya."


Ara terdiam sejenak mendengar perkataan pria yang ada di sebelahnya, jantungnya semakin berdegup kencang, nafasnya naik turun karena rasa gugupnya.


"E-enggak!" elaknya Ara memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ara menyembunyikan semburat jingga di pipinya, tangannya ia usap-usap untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Reksa yang berada di sebelahnya mengulum senyum, senyum yang membuat hatinya juga ikut bergetar.


Merasakan perasaan yang sama, energi yang di bawa perempuan di sebelahnya berdampak tak baik untuk kesehatan jantung, dan jiwanya.


*

__ADS_1


Sebelum pulang ke apartemen keduanya mampir di restoran pinggir jalan, suasana malam minggu membuat suasana sangat ramai.


Mereka kesusahan untuk mencari tempat duduk, ekor matanya Reksa melirik ke sudut ruangan, mencari tempat yang kosong.


Di pojok dekat jendela pilihan Reksa, karena tidak ada lagi tempat yang kosong, hanya tempat duduk itu yang tersisa.


Sembari memandangi wara-wiri lalulintas yang lewat, Reksa dengan seksama mencuri pandang ke Ara.


Perempuan yang di ajaknya berkencan di malam ini, malam yang semakin romantis, di sambut dengan senyum yang terpatri indah.


Setelah menikmati hidangan makan malamnya, mereka sudah berjalan menuju apartemen.


Di dalam mobil pun tidak ada yang bersuara, Ara berkali-kali menguap, kedua ekor matanya sampai berkaca-kaca.


"Maaf ya!"


"Enggak pa-pa, tidur saja kalau sudah ngantuk nanti aku bangunkan bila sampai apartemen."


"Beneran enggak apa-apa?"


"Enggak santai saja!"


Sesuai apa yang di perintahkan pria yang sibuk menyetir, Ara mulai memejamkan kelopak matanya.


Mulai menyelami mimpi indahnya.

__ADS_1


Reksa yang berada di sebelahnya ikut tersenyum tipis, "ternyata kamu gampang sekali untuk tidur."


__ADS_2