Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Dua sisi


__ADS_3

"Kemana larinya Vina tadi?" Isha terus mengejar dan mencari keberadaan Vina.


Sedangkan Nina terengah-engah ikut berlari di belakang Isha. Dia hanya mengikuti kemana sahabatnya ini pergi.


Sekian detik kemudian Isha terlihat begitu sedih. Nina bingung apa yang sedang dirasakan Isha sekarang. Kenapa soal Vina atau yang berkaitan dengan Kafa masih Begitu sensitif untuk Isha.


"Plis Sha, jangan bilang kamu belum move on dari Kafa, terus gimana nasib Rio? apa kamu bohongin perasaan kamu sendiri?"


Nina butuh penjelasan dari Isha soal perasaannya sekarang. Karena Isha begitu bimbang dengan hatinya sendiri. Lima menit yang lalu setelah bertemu Vina. Isha nampak sedih dan meneteskan air matanya walaupun sedikit. Isha tidak bisa berbohong sedikit saja soal apa yang dia rasakan. Isha belum siap menerima kenyataan bahwa Kafa sudah menikah dengan Vina dan sudah memiliki seorang anak laki-laki yang tampan.


"Aku gak tau Nin, tapi aku udah memastikan gak ada perasaan lagi yang tersisa buat Kafa, tapi kenapa setelah lihat anak tadi hatiku rasanya nyesek Nin," Isha mencoba mengelus dadanya yang sesak. Namun tetap saja air mata itu terus mendesak ke pelupuk matanya. Lalu mengalir begitu deras hingga dia malu menutupi seluruh wajahnya.


"Nin, aku bingung sama hati aku sendiri, kenapa bayang-bayang dia gak bisa hilang meski udah beberapa tahun berlalu, padahal aku gak pernah lihat dia lagi setelah kejadian waktu itu, tapi kenapa dia....," ucapnya agak tersendat lalu diakhiri tangisan yang panjang.


"Aduhhh Sha, udah jangan mikirin Kafa lagi, lihatkan buktinya, kalian gak berjodoh dan Kafa adalah jodohnya Vina, udah Sha jangan kamu sesali atau sedih gara-gara laki-laki brengsek itu, sekarang udah gak ada gunanya lagi, dia udah punya keluarga,"


"Iya Nina aku paham kok, tapi apa salahnya kan, aku cuma sedih, bukan mau jadi perebut dan perusak rumah tangga mereka, aku cuma gak bisa nahan kesedihan ini,"


"Oke sini," Nina menepuk-nepuk pundaknya sendiri. Membentangkan pundaknya untuk Isha.


"Mungkin kamu butuh pundak aku buat sandaran, gak papa sini lepasin semua beban kamu, aku salut sama kamu Sha, ternyata aku punya sahabat yang sangat setia kaya kamu, kamu pernah disakiti Kafa, tapi cinta kamu sama dia gak pernah redup,"


"Sungguh Nin, aku mau lupain Kafa sampai dia benar-benar gak pernah terlintas dipikiran aku, tapi.... meskipun udah seberapa lama kita berdua gak bertemu, bayangan dia masih ada di kepala aku,"


"Memang ya sulit buat lupain cinta pertama,"


Isha pun menangis lagi karena bingung apa yang sudah terjadi pada dirinya.


"Terus aku harus gimana Nin? apa ada yang salah sama diri aku? apa aku harus pergi ke psikiater buat tau sebenarnya aku ini kenapa?"


"Gak usah lah Sha, mungkin ini perihal waktu aja, kalau kamu mau coba mencintai orang lain, pasti lambat laun kamu pun bisa lupain dia,"


Isha menghela napas panjang setelah mendengar pemaparan dari Nina.

__ADS_1


"Ya udah abaikan, sekarang kamu ikut aku pilih baju, aku mau beli baju, kamu juga boleh pilih satu uangnya dari aku,"


Isha masih tetap bergeming juga masih memikirkan hal tadi.


"Hehhhhh jangan mikirin hal yang gak penting lagi, Isha hayuk!"


"Kamu serius?"


"Iya serius dong, masa bohong, hitung-hitung buat hibur kamu gara-gara tadi,"


"Oke, makasih banyak sahabatku, emang paling the best deh,"


Ya namanya perempuan cuma muter-muter keliling mall saja sudah senang. Apalagi punya duit sendiri buat beli barang-barang yang dia mau. Itu adalah hal terberharga dalam hidup perempuan. Bisa membeli barang yang mereka mau tanpa pusing mikirin duit. Asal uang ada barang langsung ambil.


Isha masuk ke sebuah toko dengan brand terkenal. Isha hanya masuk mengikuti langkah kaki Nina kemana menuntunnya.


"Sepatu ini bagus engga?" tanya Nina sambil menunjukkan sepasang sepatu yang keren.


"Wahh bagus, buat siapa Nin?"


"Tapi itu ukurannya kecil deh gak muat kayanya,"


"Iya ya kamu bener juga, ini sih ukuran kaki aku, takut seret, tapi ini motifnya bagus, apa aku harus tanya stok yang lain ke mba nya?"


"Tanya aja Nin, barangkali ada stok nomor lain,"


"Oke," Nina pun menghampiri salah satu penjaga toko tersebut yang sedang berjaga.


Tak lama kemudian Hp Isha berdering. Ternyata Rio menelponnya. Langsung saja Isha mengangkat panggilannya.


("Sayang, masih di luar juga? belum pulang?") tanya Rio yang terdengar khawatir.


("Iya sayang, aku belum pulang, masih di luar sama Nina,")

__ADS_1


("Maaf ya yang aku ganggu waktu kamu, tapi kok aku ngerasain hal gak enak ya, takut kamu kenapa-kenapa, kamu baik-baik aja kan?")


("Aku baik-baik aja kok,") sebetulnya Isha agak terkejut Rio bertanya seperti itu. Sebab memang benar telah terjadi sesuatu padanya. Apakah saat ini batin mereka telah terikat satu sama lain.


("Syukur deh, aku tenang kalo dapet kabar dari kamu, tadi perasaan aku sempet gak enak, barangkali kamu kenapa-kenapa,")


("Engga sayangku, aku baik-baik aja, ini aku lagi nunggu Nina belanja sepatu,") Isha berusaha membuat Rio tenang dengan perasaan buruknya.


("Aku ke sana ya?")


("Kamu mau kesini? mau ngapain?")


("Aku mau buat kamu seneng, aku mau manjain kamu belanja banyak barang yang kamu suka,")


("Ihhh sayang, nanti aja ya, aku mau quality time sama Nina, ini hari terakhir aku seneng-seneng sama Nina, sebentar lagi kan dia mau nikah,")


("Uhmm ya udah, tapi jangan lama-lama ya, aku udah kangen sama kamu, mau ketemu,")


("Oke sayang, nanti aku kabarin lagi kalau udah sampe rumah,")


("Jangan lupa ngabarin ya, awas nih! aku ngadu ke mama loh,")


Isha terkekeh kecil sambil mematikan sambungnya. Rio pria yang selalu membuatnya tertawa dan memiliki kesan yang berbeda. Meskipun begitu, Isha masih tetap berusaha menumbuhkan perasaannya sampai rasa itu semakin dalam. Karena begitu Rio sangat baik padanya dan suka menghiburnya.


"Nin, pacar gue udah kangen katanya,"


"Uhmmm gitu," Nina mengangguk mengerti sambil membuat senyum kecil.


"Maaf ya dia agak posesif,"


"Gak papa, ya namanya juga pacar yang sayang, pasti ya begitu,"


Dalam lubuk hati Isha yang paling dalam. Sebenarnya banyak sekali kebimbangan di sana. Sebab meskipun kehadiran Rio dan kepergian Kafa berjalan melewati jalan yang berbeda. Dan Rio pria yang menetap di hidupnya sekarang. Tetap saja Isha masih sedikit berharap soal Kafa namun rasa bencinya pada Kafa lebih besar dan menutupi harapan kecilnya tersebut. Sehingga kehadiran Rio memunculkan harapan baru dan tujuan baru untuk bersanding selamanya dengan Rio namun masih dihantui bayang-bayang Kafa. Sebelum Isha melihat kebahagiaan Kafa secara langsung bersama dengan pasangannya barulah Isha akan melepasnya dengan ikhlas.

__ADS_1


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2