
*Happy Reading Guys*
Rio memutar kemudi sambil menatap lurus ke jalan aspal. Dengan raut kesal dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Srakkk
Mobilnya direm tiba-tiba ketika melihat ada sesuatu yang melintas di depannya.
"Ya ampun apa itu tadi?" gumamnya dengan mata melotot dan napas yang terengah-engah.
Rio melongok dari kaca jendelanya tanpa turun dari mobil. Ternyata tak ada siapapun di sana.
"Mungkin aku salah lihat karena aku lagi emosi," gumamnya lagi. Setelah memastikan tak ada apapun di sana. Mobilnya dia lajukan kembali namun dengan kecepatan sedang.
Rio begitu gelisah dan gundah sampai terus memikirkan keputusan mama dan papanya. Saat ini dia tidak ingin mendengar alasan apapun soal perjodohan. Sebab itu hanya membuat dirinya stres.
Mobil yang dia kemudi akhirnya sampai di rumah Isha. Dia membawa mobilnya masuk dan parkir di halaman depan rumah Isha. Tak lupa dia memberikan kode klakson.
Rio menarik garis bibirnya ke atas dan merubah raut wajahnya dengan baik. Memasang topengnya yang sering dia pakai di depan orang lain.
"Ehhh nak Rio, akhirnya dateng juga, udah beberapa hari kamu gak main ke sini, ayo masuk!" mama Rita menyambut Rio dengan senang dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Dari jauh-jauh hari setelah kedatangan Kafa ke rumah setelah menolong Isha dari penjahat. Mama Rita merasa takut kalau posisi Rio tergantikan oleh Kafa.
Bahkan mama Rita menginginkan Rio mampir ke rumahnya setiap hari. Untuk berjaga-jaga jika ada Kafa kembali ke sini. Menolak mentah jika Isha dekat kembali dengan pria itu.
"Maaf ya ma, Rio baru sempet main lagi ke sini karena ada sesuatu yang mendesak," ucapnya sopan.
"Gak papa nak, mama tahu kalo kamu sibuk ngurusin bisnis kamu, ayo duduk! mama buatin wedang anget buat kamu,"
"Iya makasih, Isha mana ma?"
"Isha lagi di kamarnya, nanti mama panggilkan,"
Mama Rita berjalan ke kamar Isha dan mengetuk pintu. Memberitahunya kalau Rio telah datang. Isha pun segera membuka pintu.
"Iya ma, Rio ada di ruang tamu?"
"Iya sayang, kamu sih di kamar terus, jadi gak denger kan kalau ada tamu,"
"Maaf ma,"
Isha pun berjalan keluar, menutup pintu kamarnya dan menuju ruang tamu.
Isha berpakaian ala kadarnya. Hanya mengenakan celana selutut dan kaos putih pendek.
Sebab dia baru saja mandi dan ingin bersantai. Namun pakaian yang ala kadarnya itu malah membuatnya terlihat seksi.
Senyuman merekah di bibir Isha menyambut Rio yang tengah duduk bersandar di sofa. Rio berusaha menutupi lelahnya dengan duduk tegap.
Saat dagunya lurus dan matanya berfokus pada Isha. Pesonanya sekejap membuat Rio terkesima. Jantung yang semula melemah kini berdegup kencang karenanya.
Akan tetapi Rio berusaha menutupi ekspresinya itu dan bersikap biasa saja.
"Habis mandi?" tanya Rio dengan melontarkan senyum.
"Iya," Balasnya sambil nyengir kuda.
"Rambut kamu basah, sini duduk!" tangannya menepuk-nepuk sofa di dekatnya meminta Isha untuk duduk di sampingnya.
"Keringin rambut kamu dulu, baru sisiran," ucapnya lembut. Lalu dia merebut handuk kecil yang dikalungkan di leher Isha.
"Eh mau apa?"
"Mau ngeringin rambut kamu, soalnya aku gak bisa lihat rambut yang basah,"
Rio mengelap dan mengusak-usak rambut Isha dengan handuk kecil. Perilakunya yang lembut dan sabar memilin rambut panjang itu.
Diam-diam Rio memperhatikan leher Isha yang jenjang dan bahunya yang seksi. Kulit putih Isha yang sedikit basah terlihat menggoda. Hingga Rio tak kuasa untuk menahan hawa nafsunya.
Akhirnya dia diam-diam mengecup pundak dan leher Isha. Hingga perempuan itu terkejut.
__ADS_1
"Rio!" refleks tangannya menepuk paha Rio.
Pelakunya hanya tersenyum nakal sambil melanjutkan memilin rambut Isha.
"Kamu kenapa Rio? wajah kamu kelihatan cape gitu?" kedua tangannya Isha menyentuh pipi Rio yang kemudian dia tangkup. Perempuan itu memperhatikan warna muka Rio yang sedikit aneh.
"Masa sih? gak ah!"
"Tapi matamu itu loh, sayup kaya orang ngantuk kecapean gitu, kamu kalau cape istirahat aja di sini,"
"Emang boleh?" tanyanya.
"Ya boleh dong, anggap aja rumah sendiri,"
"Oke,"
Tak lama mama Rita pun kembali dengan membawa sebuah nampan. Di sana ada minuman dan beberapa camilan yang dia buat.
"Mama baru aja bikin resep baru,"
"Wahhh...," seru Isha dan Rio kompak.
"Kali ini Rio harus coba," celotehnya sembari meletakan nampannya di meja.
"Menarik,"
"Aku gak ditawarin gitu?" protes Isha dengan muka manyun.
"Kamu boleh nyobain juga kalau kamu mau,"
Mama Rita mengusap rok bajunya lalu turut bercokol disitu.
"Aku coba ya," diambilnya sebuah kue basah yang terbuat dari ketan hitam itu.
"Iya, semoga enak,"
Gigitan pertama nampaknya Rio langsung suka dengan rasanya.
"Humm iya dong, ini kan berkat usaha mama belajar masak tiap hari, btw mama dulu sekolah tata boga," mama Rita senyum malu-malu sambil merapihkan rambutnya ke belakang daun telinga.
"Oh iya?"
"Iya, sampai sekarang nih suka banget sama masak,"
"Masak apa aja?"
"Jajan tradisional, western, makanan Indonesia, Jepang, dan lain-lain,"
"Hebat ya mama," puji Rio lagi.
Kini giliran Isha yang mencicipi jajanannya.
"Enak ma rasanya, bakat masak mama emang hebat, ini sih musti di buat bisnis biar semua orang bisa menikmati masakan mama, bukan cuma kita aja," seru Isha sambil menyampaikan idenya.
"Bener banget kamu, atau mama ingin aku modalkan buat bangun bisnis?" tanya Rio.
Siapa orang yang tidak senang untuk membangun bisnis apalagi dikasih modal. Mama Rita tentu sangat senang.
"Mama gak ada kesibukan lain kan yang bikin nyita waktu?" tanya Rio.
"Gak ada," Mama Rita menggeleng.
"Nah mumpung mama gak ada kegiatan lain mama mending bisnis makanan aja, nanti aku bantu modalin dan Isha yang bantu promosi, gimana?"
Atas saran Rio yang terdengar bagus ini tentu saja mama Rita sangat setuju.
"Boleh deh," akhirnya mama Rita mengangguk setuju.
"Mmm mama setelah aku makan cemilan mama, aku boleh gak tidur di sini?" tanya Rio meminta izin.
"Boleh, dengan senang hati sayang,"
__ADS_1
Mama Rita mengizinkan Rio tidur di rumahnya malam ini. Namun Isha lebih sadar bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Kafa darinya.
***
Di sebuah kafe mewah di tengah kota dengan nuansa bohemian. Yang di setiap sisi ruangan tersebut terdapat pohon hijau dalam pot. Beserta bunga-bunga krisan, tulip dan mawar yang segar. Serta ornamen-ornamen kayu yang terlihat aesthetic.
Duduk seorang Kafa dengan pakaian santainya beserta seorang wanita beranak satu yakni Vina yang nampak berdandan menor.
Lipstik merah yang menggoda. Vina sengaja berdandan untuk menarik perhatian Kafa. Dirinya meminta bertemu dengan Kafa untuk melakukan sebuah transaksi.
Diketahui Vina hendak meminjam sejumlah uang lagi pada Kafa. Karena Kafa merasa tidak enak hati, dia setuju untuk meminjamkan uang pada Vina lagi.
"Ini uangnya," Kafa menyodorkan amplop berisi uang 10 juta kepada Vina.
Wanita itu langsung mengambil amplopnya sembari menampakkan senyum lebar. Sumringah ketiban rejeki nomplok alias dapat pinjam.
"Makasih Kafa," sahutnya dengan suara dilembut-lembutkan.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama suami kamu? sampai kamu minjem uang lagi?" tanya Kafa penasaran.
"Suami aku, dia selingkuh, dia gak mau nafkahin aku lagi," ucapnya sedang mencari belas kasih dari Kafa.
"Serius kamu? kamu gak bohong kan?"
"Kafa.. aku gak bohong, ngapain aku bohong,"
"Kenapa Ronald lakuin itu? bukannya dia dulu sudah sepakat buat bertanggungjawab,"
"Ya namanya juga manusia, manusia itu bisa berubah kapan saja, aku pun gak tahu kenapa Ronald tega melakukan itu," wajahnya palsunya dia tampakkan di depan Kafa untuk mengelabuhinya.
"Lalu rencananya uang itu buat apa?" tanya Kafa.
"Aku pinjam ini untuk kebutuhan sehari-hari aku, Dino masih kecil, kalau dia udah bisa ditinggal sendiri, aku bakalan cari kerja buat lunasin hutang aku ke kamu, percaya deh," Vina berusaha meyakinkan dengan kata-kata manisnya.
"Gimana sama orangtuamu? kenapa gak kamu titipkan saja Dino ke orangtuamu atau mertuamu,"
"Aku gak mau repotin mereka, kasihan mereka udah tua,"
"Ohh," Kafa hanya mengangguk.
"Kamu terlalu baik apa terlalu polos sih? aku makin suka kalau kamu begini, memanfaatkan kamu lagi ternyata ada untungnya juga, yang terpenting aku harus jauhin perempuan itu dari kamu," batin Vina. Senyum smirk tampak di bibirnya.
"Aku laper, kita kan udah sampai ke sini, kenapa kita gak pesen makanan dan lanjut ngobrol?"
"Aku ada urusan lain," ucap Kafa sedikit sungkan.
"Kelihatannya kamu santai-santai aja, jangan bohong deh, aku mau nanya-nanya soal Isha sama kamu," Vina mulai mengulik-ngulik topik yang tidak disukai Kafa.
Apalagi mengingat peristiwa dulu saat Vina melabrak Isha. Kafa tahu keduanya masih berseteru sampai sekarang.
"Selain Isha memang gak ada pembahasan lain yang bikin kamu tertarik?"
"Hahaha," Vina tertawa keras.
"Kenapa? kamu lagi bete sama Isha? atau jangan-jangan dia mau nikah sama orang lain?"
"Maksud kamu?" tanya Kafa bingung.
"Kamu gak tau kalau Isha udah sama laki-laki lain?"
"Aku tahu, dia temen sekolah aku dulu, namanya Rio," tentu Kafa menjawabnya setengah emosi.
"Wow hebat dong, kamu gak takut kehilangan Isha?"
"Gak!" tukas Kafa. Padahal dia hanya menutupi gengsinya.
"Hmmm tapi rasanya kamu kemarin marah sama aku gara-gara bikin Isha salah paham sama kamu," Vina sedikit menggodanya.
"Ini bukan urusan kamu ya! udah gak usah bahas Isha di depan aku lagi!"
"Iya iya deh," Vina memutar bola matanya sembari tersenyum smirk.
__ADS_1
Author : Nur Isthifaiyatunnisa