
*Happy Reading Guys*
Rio berdecak kesal mendengar suara Bela yang tiada henti memanggil namanya di depan pintu ruang kerjanya.
Pulpen yang sedari dia genggam mungkin saja bisa patah karena dia menggenggamnya terlalu erat.
Setiap kali pikirannya hendak fokus pada lembar kerja yang ada di mejanya. Bela lagi-lagi membuyarkannya lewat suara cempreng manjanya itu.
Suaranya bikin telinga sakit dan kepala pun sakit. Bela masih bergeming di sana sambil terus memanggil. Padahal asisten pribadinya menghalangi Bela di depan pintu. Tetap saja wanita itu kekanakan dan keras kepala.
"Tolong tahan perempuan itu! Jangan sampe dia masuk!" pinta Rio lagi yang wajahnya gusar karena ulah Bela.
Sedangkan sang asisten sudah pucat antara tidak enak pada atasan dan takut perusahaan ini di ultimatum oleh papahnya Bela.
"Apa sikap anda tidak berpengaruh pada perusahaan pak? Nona Bela kan putrinya pak Yoga," seloroh asistennya yang bernama Roman itu.
"Apa urusannya si tuan putri itu dengan perusahaan? Dia datang kemari bukan tujuan bisnis, tapi mau menggoda saya," tukas Rio.
Lagi-lagi Roman dibuat pucat oleh pernyataan atasanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Kalau pak Jaya sampai tahu. Roman pun bisa jadi tumbal.
"Tolong usir dia sekarang Roman, kepala saya sakit gara-gara dengar suaranya," Rio mengernyit dengan tangan kanan yang mengusir-usir. Sedangkan tangan kirinya memegang kepala yang pening.
Roman bimbang merasa karirnya ada di ujung tanduk. Sedangkan tuan mudanya ini memberi titah seenaknya. Apalagi raut tidak sukanya itu. Bikin Roman kesal dan bingung.
"Baik tuan akan saya sampaikan," Roman hanya bisa pasrah.
Kemudian dia keluar, lalu mendatangi Bela yang tengah berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Berdiri dengan raut angkuhnya.
"Kok lo yang keluar?! Gue minta Rio yang keluar bukan Lo!" bentak Bela pada Roman yang ketakutan setengah mati. Dia paling benci mengatasi atasan perempuan.
"Maaf ya Nona, pak Rio sedang fokus pada pekerjaannya, tolong anda menunggu dahulu," jawabnya lempeng sekaligus ada takut yang terpendam.
__ADS_1
"What? Gue disuruh nunggu, gue aduin ke papah, biar perusahaan kalian gulung tikar!" ancamnya.
Padahal sebenarnya pak Yoga tak akan sebodoh itu mengambil keputusan diluar pekerjaan lalu dikaitkan dengan bisnisnya hanya karena putri nya diabaikan.
"Lo ngomong apa tadi?" akhirnya Rio pun keluar karena sudah gregetan mendengar gertakan itu.
"Akhirnya batang hidung lo kelihatan," Bela senyum smirk.
Rio mengernyitkan kedua alisnya. Lalu berdiri angkuh di depan Bela. Dia hanya sedang membalas sikap dan celotehan perempuan ini.
"Lo ngancem gue? Cuma gara-gara gue gak mau keluar dari ruang kerja gue? Kekanak-kanakan Lo!" maki Rio.
"Hello! Gue udah dua minggu lo phpin, wajar dong kalau gue demo ke sini, nuntut janji lo!" Bela memutar bola matanya sinis.
Rio makin-makin geram. Apa ini perbuatan kedua orangtuanya. Sejak kapan dia membuat janji dengan si Bela perempuan manja yang bukan tipenya sama sekali.
"Aneh! Sebenarnya hubungan ini gue yang jalanin, atau mama papa gue sih yang jalanin, ribet banget make drama bohong segala," jelas gue gak buat janji sama nih anak manja," batinnya berucap sangat dongkol.
"Inget apanya? Sekarang gue tanya lo mau apa kemari? Gue gak suka ya udah mancing keributan tapi ujung-ujungnya nihil, ini bukan urusan bisnis kan?" tanya Rio tidak santai.
Entah kenapa setiap kali melihat Bela. Emosi Rio gampang sekali terpancing. Seperti ada tungku magma yang meletup-letup di dalam dadanya.
"Ini masih urusan bisnis, hubungan keluarga kita kan bisnis juga, gue mau Roman handle pekerjaan lo sementara, gue mau minta waktu lo sebentar buat ngedate," begitu santainya Bela melontarkan kalimat tadi.
Apa karena dia anak pak Yoga jadi dia bisa seenaknya. Coba saja kalau dia bukan siapa-siapanya pak Yoga sudah Rio seret kakinya keluar gedung kantor.
"Gila!" sarkas Rio.
Sedangkan Bela hanya merengut sambil menatapnya tajam. Nampaknya ini akan menjadi beban selanjutnya. Rasa-rasanya Rio merasakan hawa yang tak enak. Jadi lebih baik dia mengalah.
"Oke, dasar cewe banyak tingkah!" Rio sangat kesal hingga apapun yang tadi dia katakan itu di luar kendalinya.
__ADS_1
Sedangkan raut wajah Bela yang kesal tadi berubah seketika 180 derajat. Perubahan yang drastis. Bela mesam-mesem.
Dengan terpaksa dan setengah hati. Rio harus mengiyakan dan merelakan pekerjaannya dan memberi amanah pada Roman. Kalau bisa dia lebih memilih pekerjaan daripada Bela. Karena Bela adalah perempuan yang rese.
"Oh iya hari ini di desa X lagi rame loh, lagi ada bazar makanan, gue penasaran bazarnya rakyat jelata tuh gimana? Soalnya gue belum pernah lihat," lontarnya.
Terdengar kalimat merendahkan. Mimik muka Rio berubah ilfil. Mulut sampahnya sangat menyayat hati orang biasa jika mendengarnya.
"Kalo lo gak bisa hargain orang lain, mending lo cari tempat lain deh yang selevel sama lo! Jangan suka rendahin orang lain, coba lo pergi ke tempat yang sama kaya lo! Pasti mulut lo yang paling jahat," ceramah Rio.
Tumben dia menceramahi orang. Mungkin orang lain pun akan melakukan hal yang sama jika berhadapan dengan Bela.
"Gue tetep mau ke bazar," pinta Bela dengan lenjeh. Tangan perempuan itu menggaet lengan Rio. Yang sebenarnya sudah Rio tepis kasar tadi.
Tapi Bela menyimpan tangannya kembali ke tangan Rio seperti mau mau berdansa.
"Ya udah makanya mulut lo diem! Kalo nanti udah sampe sana! Lo harus jaga attitude! Atau gak gue sendiri yang malu karena biarin lo disamping gue, bakal gue usir jauh-jauh dari gue!"
"Ih jahat amat sih!" Bela memanyunkan bibirnya maju.
Karena Rio pasrah, bukan karena pasrah takut terjadi sesuatu dengan perusahaannya.
Tapi karena pasrah suara Bela yang membuat keributan di kantor sampai para pekerjanya tidak fokus bekerja. Jadi Rio yang mengalah. Karena orang waras biasanya suka ngalah.
"Roman lo bisa kan gue percaya?" Rio menepuk pundak Roman berkali-kali untuk menguatkannya.
Sedangkan Roman hanya mengangguk sedikit tak ikhlas tapi ini memang sebagian dari tanggung jawabnya.
Akhirnya mereka berdua pergi ke tempat tujuan yang Bela mau tadi.
Author : Nur Isthifaiyatunnisa
__ADS_1