
*Happy Reading Guys*
Hari menjelang magrib. Harusnya 3 jam yang lalu Isha sudah ada di rumah berbaring di kasur empuknya. Untungnya hari ini tidak ada jadwal les anak-anak. Jadi Isha tak terlalu khawatir soal itu.
Hanya saja dia harus siap-siap untuk menghadapi omelan sang mama yang mulutnya setajam silet jika sudah sampai rumah.
Kafa menawarkan tumpangan padanya. Bukan tawaran pulang, tapi Kafa memang berinisiatif menghantarkan Isha pulang dengan mobilnya sampai ke rumah. Lalu motor Isha akan diantarkan ajudannya.
Tapi Isha menolak dan lebih memilih pulang sendiri. Sudah tahu bahwa Kafa makhluk keras kepala. Keras kepala hanya bagi Isha. Pria itu meminta supirnya untuk mengekor di belakang wanita itu. Katanya mau mengawasi Isha sampai rumah dengan selamat.
Rasanya campur aduk, setengah senang dan setengah jengah dengan upaya Kafa. Si pria labil dan konyol itu.
Tapi karena itu, Isha merasa agak tenang saat kembali ke rumah melewati jalan yang gelap. Tahukan kalau Isha punya trauma sialan saat kejadian malam itu.
"Makasih udah anter sampai rumah," ucap Isha setelah membuka kaca helmnya.
Kafa pun turun dari mobil dan memberikan sesuatu pada Isha. Benda kotak hidup yang bentukannya mirip remukan rempeyek.
"Hp gue? Kok bisa ada di Lo?" Isha terkejut. Benar-benar tak menyangka hp lamanya ternyata selama ini ada pada Kafa. Wanita itu menerima hpnya kembali.
"Nih hp lo," Kafa waktu itu jatuh di jalan, gue ambil terus gue simpen, gue lupa mau balikin ke Lo, soalnya gue simpen di nakas," jelas Kafa.
"Oh gitu," Isha mengangguk.
"Soalnya lo juga gak nyariin nih hp, gue kira lo udah lupa, mungkin lo kira hpnya udah hilang kan?"
"Ya gue mana tahu nih hp di simpen lo,"
"Ya udah gue pulang ya, btw hpnya masih nyala kok,"
"Makasih ya,"
Titttttt! Klakson mobil berbunyi dengan keras. Hingga Kafa dan Isha menoleh bersamaan. Cahaya lampu mobil tersebut menyorot langsung ke arah mereka.
Seorang pria bersetelan jas hitam turun dari mobil tersebut dan menghampiri mereka berdua.
"Kafa? Isha? Kalian?" Rio terlihat bingung melihat kedekatan keduanya.
Kafa yang tidak keburu masuk ke dalam mobilnya kini terpaku melihat kedatangan Rio tiba-tiba. Membuat kecanggungan dalam batinnya sendiri.
__ADS_1
Pria ini membetulkan dasinya yang sedikit kendor. Mulutnya sedikit berdehem karena tiba-tiba saja kering kerontang.
Sedangkan Isha seperti pasangan kekasih yang ketahuan selingkuh dan sedang dipergoki dengan orang lain.
"Kalian berdua habis darimana?" tanya Rio.
Isha dan Kafa sejenak terdiam. Mempersiapkan jawaban dan alasannya agar Rio tidak tersinggung atau marah.
"Tadi aku gak sengaja ketemu pak Kafa, dia juga ada urusan penting di sini, makanya kita ketemu," jelas Isha rada-rada gugup.
"Sampai maghrib begini?" tanya Rio lagi. Terdengar seperti mendesaknya.
"Iya karena mulai besok Isha dan pengajar yang lain di kecamatan ini akan jadi volunteer buat memeriahkan acara yang sedang aku rencanakan, jadi kami berdua ngobrol panjang lebar soal ini," Kafa terdengar lebih santai saat menjawabnya.
"Ohh begitu, bagus dong,"
Isha bernapas lega. Syukurlah Kafa dapat memberikan alasan yang bagus. Sebenarnya obrolan panjang lebar itu tidak semuanya soal pekerjaan. Tapi ada pembahasan lain seperti masa lalu yang panjang yang habis mereka bahas.
"Santai aja bro, gue sama Isha cuma rekan kerja kok," tangan Kafa menepuk dua kali pundak Rio.
"Rekan kerja yang bentar lagi gue taklukin," ucap Kafa dalam batinnya. Dalam bisikan itu ada bayang ekspresi menyeringai.
"Karena urusannya udah selesai, gue mau pulang dulu ya," pria itu pamit dan mulai menarik tuas pintu mobilnya.
"Gak mampir dulu Kaf, gue udah lama gak ngobrol sama lo lagi," ajak Rio.
Gerak Kafa pun terhenti lalu membalikan badan dan tersenyum simpul.
"Ahhh gak dulu ya, gue cape hari ini, mungkin kapan-kapan," ujarnya. Padahal sebenarnya Kafa sedang menghindari kompor panas yang kapan saja bisa meleduk. Karena melihat kemesraan mereka berdua.
"Ohhh oke,"
Dengan wajah bingung, akhirnya Rio hanya menatap kepergian Kafa yang bayang mobilnya menghilang setelah belok ke jalan lain.
"Sha?" Rio menyebut namanya ketika dilihat muka Isha yang melamun. Tubuhnya dia goncangkan dengan lembut meski berkali-kali.
Tiba-tiba saja perasaan aneh muncul. Seiring menghilangnya bayang Kafa dia merasakan kehilangan sesuatu juga. Sesuatu yang sulit Isha cerna tapi dengan cepat dia menepisnya karena hal itu menyebalkan baginya.
Apakah semudah itu Kafa termaafkan dan menempati kekosongan di hatinya. Tidak mungkin pria konyol ini jauh lebih mudah menarik hatinya ketimbang Rio yang jelas masa depannya.
__ADS_1
"Sayang! Jangan diem aja dong nanti kesambet loh,"
"Ah iya? Kenapa sayang?" Isha segera tersadar.
"Kamu kenapa? Kok diem aja?" Rio mempunyai firasat ada yang tidak beres pada Isha. Namun pria itu tetap berprasangka baik dan menepis pikiran jeleknya tadi.
"Gak papa kok, mungkin karena aku udah kecapean hari ini jadi aku pengen bengong gitu," Isha mengatakan dengan bohong tapi tak sepenuhnya bohong. Isha memang lelah setelah melewati hari ini.
"Kamu cape?" tanya Rio memastikan.
"Iya," Isha terdengar sungkan menjawabnya.
"Kamu gak nyuruh aku pulangkan?"
"Engga kok, kalau mau mampir aku bolehin asal jangan lama-lama ya,"
Bibir Rio seketika tertekuk ke bawah. Pandangan matanya sedikit turun. Dan dia pun diam sehingga menciptakan suasana hening di antara mereka. Apa ada yang salah yang sudah dikatakan Isha?
"Ayo masuk!" Ajak Isha tanpa bertanya Rio kenapa. Daripada dia salah bicara lagi.
Akhirnya Rio menurutinya. Mama Rita ternyata sudah berdiri di balik pintu utama. Isha baru tahu kalau sejak tadi mamanya memperhatikan.
"Ayo nak Rio masuk!" sapanya ramah sambil tersenyum merekah. Ditariknya lengan Isha menuju ke ruang makan. Cengkramannya begitu kuat sampai Isha meringis kesakitan. Lengannya terasa panas.
"Ihhh!" gemas, mama Rita menjitak kepala Isha. Tanpa Isha tahu penyebabnya apa. Isha dibuat bingung apa kesalahan yang telah dibuat sampai mamanya menjitak kepalanya seperti itu. Jelas Isha meringis kesakitan yang kedua kalinya.
"Mama nih kenapa sih? Aku salah apa?"
"Susah ya orang salah gak mau ngaku salah, kamu gak kasihan apa sama nak Rio lihat kamu sama Kafa berduaan hah?! Anak itu lagi yang kamu deketin, bosen mama!" sentaknya sembari melepas cengkramannya tadi.
Isha mengibas-ngibaskan tangannya yang sakit.
"Berisik ma, protes nya nanti aja bisa engga, ada Rio di sini, nanti dia denger," Isha memberi isyarat tangan agar sang mama diam.
"Kamu gimana sih? Karena kamu juga Rio sakit hati, sekarang dia tahukan hubungan kamu sama Kafa?!"
"Tenang dong ma, Rio gak bakal sakit hati cuma karena hal sepele itu, dia itu pintar, udah ah mah! Gak kasihan sama Rio dicuekin?"
Mama Rita tak menjawab malah menggeplak pantat Isha gregetan saat Isha beralih ke luar dari dapur. Demi menghindar dari tangan jahil mamanya Isha pun berlari kecil.
__ADS_1
Author: Nur Isthifaiyatunnisa