
*Happy Reading Guys*
"Kenapa pak? Kok ngelamun terus?" tanya salah satu ajudan yang berdiri di samping Kafa. Sedangkan sang walikota duduk termenung di kursi kebesarannya tanpa membalas atau menyahut ajudannya.
"Pak galau ya? Mikirin cewe lagi pak?" tanya ajudan yang lain sambil menggoda. Terdengar suara kekehan diakhir.
Kafa memutar bola matanya lalu menyorot tajam pada sang ajudan yang terkekeh barusan. Ajudan tadi langsung berubah raut mukanya jadi lempeng.
"Berani-beraninya menertawakan saya, bukan urusan kalian saya mau galau atau engga!" jawab Kafa kesal.
Kedua ajudan itu saling sikut saling menyalahkan.
"Gimana pak? Pekerjaan bapak udah selesai, apa masih mau di sini?"
"Diam! Biarkan saya berpikir sebentar!" tukas Kafa setengah mengusir. Akhirnya kedua ajudan tersebut berdiri di depan pintu.
"Heh bos kenapa sih?" tanyanya sambil menyikut lengan ajudan satunya.
"Ndak tau saya juga, malah tanya ke saya, nanti bos denger marah loh, lagi sensitif dia," sahut nya memperingati temannya.
"Kayanya si bos lagi bimbang ya, saya penasaran sama cewe yang waktu itu bawa anak, si bos kok deket banget sama istri orang,"
"Eh jangan suudzon kamu, siapa tahu si bos deketin janda anak satu,"
"Kamu ini sok tahu, wong saya denger sendiri kalau perempuan itu punya suami tapi lagi ada masalah rumah tangga,"
"Wahh kamu ini nguping ya, gak sopan kamu!"
Mereka berdua malah berdebat di depan pintu.
Tiba-tiba Kafa keluar dari ruangannya dan membuat mereka terkejut hingga perdebatan pun berhenti.
"Kalian berdua?"
"Maaf pak, kami gak bermaksud gosipin bapak," ucapnya sambil memasang raut bersalah.
"Iya pak kami gak bermaksud,"
Keduanya menunduk takut. Sikap keduanya malah membuat Kafa bingung. Sebab Kafa tidak tahu apa yang mereka maksud.
"Kenapa kalian? Kalian gosipin saya?"
"Engga pak, kami berdua cuma ngobrol biasa," Lagi-lagi salah satunya menyikut temannya.
"Sekarang ikuti saya!" Titah Kafa yang berjalan mendahului mereka.
Mereka hanya bisa mengekor di belakang Kafa. Namanya juga bawahan harus mau menuruti perintah atasannya.
"Kita adakan sosialisasi dengan komunitas-komunitas yang ada di kecamatan X,"
"Dalam rangka apa pak?" tanya ajudannya.
"Saya mau memberi wadah kepada mereka untuk berekspresi sesuai daya komunitas mereka masing-masing agar komunitas mereka diketahui masyarakat dan bermanfaat bagi masyarakat, biasanya kalau kita berapresiasi kepada mereka, mereka mau muncul ke permukaan dan lebih aktif melayani masyarakat,"
__ADS_1
"Oh begitu, bapak ini masih muda tapi hebat sekali pemikirannya," pujinya.
"Saya cuma mau memperhatikan sesuatu sampai ke hal yang terkecilnya juga,"
Untuk mengadakan pertemuan tersebut. Beberapa bawahan Kafa telah diberi titah untuk membuat surat undangan. Agar nanti ada beberapa dari mereka memberikan undangan kepada ketua-ketua komunitas agar ada tindakan konfirmasi.
Kafa mendatangi lagi sekolah dasar tempat dimana Isha mengajar. Mobilnya berhenti di depan gerbang sekolah tersebut.
Kafa memandang keluar dari balik kaca mobil yang tertutup. Memperhatikan sesuatu di luar sana dengan teliti.
Sampai-sampai kedua ajudannya bingung. Kenapa harus sekolah ini lagi?
"Eh mobil bos berhenti di sini? Benerkah kita ke sekolah ini lagi?" tanya salah satu ajudannya kepada sang partner yang berada di mobil yang berbeda dari bos mereka.
Mobil Kafa dan kedua ajudannya terpisah. Kafa memakai mobil khusus walikota yang mewah dan mahal.
"Nurut aja jangan banyak tanya, mungkin bos pengen ketemu sama ibu guru cantik yang waktu itu," ngomongnya asal.
"Wehh untung kamu ingetin yah, aku sampe lupa, kita pernah disuruh bos buat jaga pintu karena mereka mau ngobrol empat mata,"
"Nah iya ibu guru cantik itu, bos itu cewenya banyak jadi jangan kaget,"
"Astaga suudzon lagi kamu,"
"Tolong mana barang yang tadi aku minta?" pinta Kafa pada sang supir. Supirnya tersebut langsung paham dan memberikan sebuah totebag besar.
"Ini pak sesuai pesanan bapak," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Tadi saat di perjalanan menuju sekolah tersebut. Kafa sempat meminta supirnya untuk membelikan dia satu set kostum di dalam toko baju.
Isi totebag tersebut adalah sebuah sebuah jaket hoodie berwarna hitam, topi hitam, masker hitam dan kacamata hitam.
Lalu Kafa pun mengenakan semua yang ada di dalamnya.
"Semoga penyamaran ini gak bikin orang-orang curiga," gumamnya. Setelah itu dia keluar dari mobil dengan penyamarannya.
"Hati-hati pak wakot," ucap sang supir.
"Loh kok ada orang asing di dalam mobil pak bos?" Prasangka ajudannya yang melihat dari dalam mobil.
"Astaga, matamu ini kudu dicolok dulu apa, itu pak bos lagi nyamar, kamu tahu tadi si Danu suruh masuk ke toko baju, dia disuruh beli itu, mungkin pak bos pengen nyamar," ucapnya gemas pada temannya yang lemot.
"Duhh pinter banget kamu, tapi kenapa pak bos nyamar?"
"Ya ndak tahu kok tanya saya, itu urusan pak bos,"
"Kita keluar gak nih?"
"Pak bos gak nyuruh paling kita disuruh diem di mobil, lagian pak bos lagi nyamar ngapain dijaga, nanti yang lain malah curiga lah,"
"Iya ya kamu bener, pinter banget temenku ini," bangganya sambil menepuk-nepuk pundak kawannya tersebut.
"Oh ya jelas, saya suka lihat kartun Conan,"
__ADS_1
Kafa terus berjalan menuju parkiran. Anak-anak sekolah mulai terlihat berhamburan keluar kelas. Kafa mencoba bersembunyi ke arah tembok pembatas antara parkiran dan jalan utama menuju gerbang.
"Dihhh!" seorang anak berbadan gembul dengan permen lollipop besar di tangannya menatap Kafa dengan tatapan aneh dan sinis.
"Kamu siapa? Kamu penjahat ya? Penculik anak-anak?" tanya si bocah gembul itu menuduh. Wajahnya berubah ketakutan.
"Om!"
Kemudian anak itu pun kabur, berlari cepat keluar gerbang dengan wajah takut.
"Astaga, aku hampir dituduh penculik anak, untung anak itu gak teriak,"
Saat Kafa menemukan sosok Isha yang sedang mendekat ke arahnya. Kafa mulai mengatur posisinya dan tiba dimana Isha berbelok ke arah parkiran. Kafa pun menarik lengan Isha hingga wanita itu terkejut.
"Tolong! Ada orang jahat!" Teriak Isha minta tolong. Mulut Isha dibekapnya lalu tubuh Isha yang lebih kecil darinya dihimpit di antara tembok dan tubuh Kafa yang kekar.
Pak satpam yang kebetulan lewat langsung menoleh ke arah sumber suara. Dia berlari masuk ke parkiran dan melihat sesuatu yang terjadi.
"Wehh penjahat!" pak Satpam berteriak dan hendak mengangkat pentungannya.
"Pak! Pak! Stop! Ini saya!" teriak Kafa berkali-kali sebelum satpam tersebut membuatnya babak belur dengan tongkatnya.
Kafa membuka kacamata dan maskernya.
"Ka-fa?" Isha syok. Mulutnya masih dalam bekapan Kafa.
"Oalah pak Kafa, ya ampun pak kenapa nyamar begini, saya jadi mengira orang jahat tadi, maaf ya pak, oh iya pak Kafa kenapa berduaan sama ibu Isha yang cantik?" Tanyanya penasaran.
"Ini uang tutup mulut," Kafa memberikan 3 lembar uang seratus ribu kepada sang satpam.
"Loh pak," pak satpam bingung namun ada senengnya juga.
"Kurang?" tawar Kafa lagi.
"Humm gak pak ini cukup kok, makasih pak, semoga have fun sama ibu guru cantiknya,"
Akhirnya pak satpam meninggalkan mereka berdua dengan hati senang sambil melipat dan memasukkan uangnya ke dompet.
Isha berusaha melepaskan bekapannya sejak tadi karena dia kehabisan napasnya.
"Maaf," Kafa segera melepaskan tangannya dari mulut Isha.
"Kamu mau bikin aku mati?!" tukas Isha dengan raut kesal. Napasnya telah tersengal-sengal.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, penting!"
Isha memutar bola matanya malas, enggan menatap Kafa yang berdiri dekat di hadapannya.
"Kamu bisa kan lepasin tangan kamu dulu dari tangan aku?" tanyanya culas. Kafa langsung melepaskan cengkramannya.
"Sorry my bad,"
Author : Nur Isthifaiyatunnisa
__ADS_1