Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Merubah taktik


__ADS_3

*Happy Reading guys*


Jaya dan Yulia pergi ke kediaman keluarga Yoga putra pemilik perusahaan properti yang sama-sama terkenal sukses setara dengan PT Nusa Utama.


Untuk mencegah Rio mendekati perempuan lain adalah mengikat Rio dengan Bela. Gadis itu sudah ditentukan oleh Jaya dan Yulia dua bulan yang lalu melalui kesepakatan antara Yoga dan Jaya saat perjamuan. Dan ternyata Bela sangat suka.


Pernikahan bagi mereka adalah sebuah bisnis. Sebab bisnis dan uang lebih penting dari segalanya. Mereka menentukan siapa istri terbaik untuk Rio selain itu untuk menyelamatkan perusahaan mereka haruslah memiliki keturunan yang baik dari silsilah keluarga yang baik.


"Yoga, kedatangan kami ke sini adalah ingin mempercepat hari pertunangan Rio dan Bela," ucap Jaya segan.


Yoga tersenyum. Pria paruh baya yang masih nampak gagah itu duduk dengan santai. Dia baru saja selesai dari aktivitas kesehariannya setiap pagi yakni membaca laporan keuangan.


"Pertunangan? apa benar Rio seburu-buru itu memintanya?" tanyanya.


"Iya," jawab Jaya singkat.


"Tapi kenapa anakmu tidak kemari bersama kalian? sebagai laki-laki yang gentle harusnya dia datang menemuiku langsung,"


"Uhmm dia ada urusan bisnis untuk menggantikan ku, aku yang memintanya, dia menyerahkan ini pada kami berdua," ucap Jaya bohong.


"Oh begitu," Yoga hanya mengangguk.


Tiba-tiba Bela datang mengacau obrolan mereka.


"Apa benar yang om Jaya katakan itu? Kalau Rio buru-buru ingin bertunangan dengan ku? Itu murni darinya atau itu permintaan om dan tante? Dari awal Bela sudah sepakat dengan pertunangan ini, tapi sepertinya Rio menghindari Bela, makanya sampai sekarang masih belum ada kejelasan," ucap gadis berusia 24 tahun itu yang merupakan anak kedua dari Yoga Putra.


Dia duduk di sebelah ayahnya sambil menggelayut manja. Yoga hanya diam membiarkan anak perempuannya bicara.


"Tidak sayang, Rio tidak menghindari kamu, dia hanya sedang sibuk dengan bisnisnya," ucap Yulia berusaha menyembunyikan yang sebenarnya.


Yulia tidak mau Bela tahu kalau Rio sudah memiliki gadis lain agar pertunangan ini berlanjut.


"Oh ya? tapi waktu itu Bela melihat Rio berada di dalam restoran dengan seorang perempuan,"


Yulia membeku sejenak. Nampaknya dia terkejut mengapa Bela bisa tahu Rio sedang bersama perempuan lain.


"Apa benar nak?" tanya Yoga memastikan.


"Mungkin kamu salah lihat sayang, Rio tidak mungkin melakukan itu, dia juga setuju dengan pertunangan ini, dia yang bilang sendiri sama tante," ucapnya berbohong.


"Jadi aku salah lihat ya, baguslah kalau begitu, tapi aku harap tante jaga Rio baik-baik karena banyak perempuan miskin di luar sana yang menyukai Rio hanya untuk menguras habis uangnya,"


Yulia terkejut mendengar apa yang disampaikan Bela. Gadis itu tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tante pastikan Rio tidak akan dekat-dekat dengan perempuan lain, dia akan disibukan dengan pekerjaannya, lalu seminggu ke depan kalian akan bertunangan,"


"Baguslah kalau begitu, karena Bela pun ingin pertunangan kami segera terlaksana, aku menyukai Rio sejak pertama kali aku melihatnya,"


"Iya Bela, Rio akan menjadi milik kamu seutuhnya,"


Seorang pelayan datang membawa minuman. Pelayan itu hanya menunduk tak berani meluruskan pandangan.


"Ini tuan minumannya,"


"Taruh di meja dan bawakan makanan yang lain," titah Yoga kepada pelayan tersebut hingga pelayan itu kembali ke belakang.


"Silahkan dinikmati dulu jamuannya, saya senang pak Jaya dan Bu Yulia datang kemari untuk memberi kejelasan terhadap hubungan Bela dan Rio, saya sudah kewalahan dengan Bela yang setiap hari semakin terobsesi dengan Rio, dia gengsi bertanya pada kalian, tapi selalu aku yang jadi sasarannya," jelas Yoga dengan semangat.


Jaya dan Yulia senang mendengarnya.


"Syukurlah jika Bela memiliki perasaan yang seperti itu,"


"Iya, cita-citanya itu kan ingin menikah muda, iya kan nak?" tanya Yoga pada Bela. Gadis itu tersenyum malu-malu.


"Ihh papah ini jangan gitu dong,"


***


Kafa berjalan gontai menuju rumahnya. Harapan dan keputusasaan berjalan beriringan. Isha sudah memberi kesempatan untuk Kafa berjuang. Namun sebaliknya mama Rita menolak mentah-mentah jika Kafa kembali lagi.


"Kenapa nak? mukamu ditekuk begitu? oh ya gimana kemarin usaha kamu deketin mantu mama?" tanyanya.


"Ada kabar bagus dan ada kabar buruk ma, mama pilih yang mana dulu?" ujar Kafa.


"Ya mama pilih kabar bagus dulu lah, apa tuh kabar bagusnya?" tanya Mona antusias. Wajahnya penuh harap saat hendak mendengar kabar tersebut.


"Kabar bagusnya Isha mau kasih kesempatan buat Kafa lagi,"


Raut muka Mona seketika sumringah mendengarnya. Dia senang akhirnya harapannya terkabul. Terkabul Isha akan menjadi bakal mantunya.


"Wah bagus dong, akhirnya menantu mama mau kasih kesempatan buat kamu lagi,"


"Kabar buruknya, tante Rita gak mau aku balik lagi sama Isha,"


Deg! sekejap muka berubah suram.


"Kok bisa?" tanya Mona masih tak percaya.

__ADS_1


"Kamu ngelakuin kesalahan apa nak? sampai mamanya begitu?" sambung Mona lagi dengan kesal.


Kafa merebahkan dirinya ke atas sofa dengan lemah.


"Kayanya aku udah jahat banget sama Isha, mungkin waktu itu Isha nangis setiap hari gara-gara aku, mama Rita ngelihat anaknya menderita ya jadinya begitu, mungkin gak mau anaknya jatuh ke tangan yang sama,"


"Kamu sih nakal!" Mona menyalahkan Kafa sambil menoyor kepalanya.


"Aduh mama ini, jangan ditoyor juga dong! kepala Kafa pusing loh!" keluhnya dengan mendengus kesal.


"Biarin! biar tau rasa! pokoknya kamu harus ganti taktik," tukas Mona.


"Apa tuh ma?"


"Udah nanti mama yang mikirin caranya, yang terpenting sekarang kamu mempersiapkan diri buat dilantik jadi walikota besok, kamu harus berprogres dengan cepat, biar hati mamanya Isha pun tergerak, biar dia ngerasa Kafa tuh udah cocok jadi suami Isha,"


"Iya mamaku yang cantik, yang pengen banget Isha jadi mantunya,"


"Harus! soalnya kamu juga bakalan gila kalau Isha gak jadi jodoh kamu, nanti kaya dulu ngurung terus di kamar gara-gara habis putus sama Isha, sok-sokan kuat dan tegar!"


"Udah ma udah! buka kartu terus,"


Mona menepuk lagi pundak anaknya dengan gemas. Lalu mencium keningnya berkali-kali.


"Semangat ya sayang, nanti besok papa kamu juga bakal nyempetin waktunya dateng ke acara pelantikan kamu,"


"Papah mau dateng?" Kafa terkejut mendengar papahnya akan datang.


"Iya," jawab Mona.


"Dari Amerika ke sini? mau ngapain?"


"Ya kasih ucapan selamat buat anaknya dong, masa mau ngebom kantor walikota," ucapnya asal ceplos.


"Terus aja sibuk sama bisnisnya dan sama istri barunya itu, Kafa males ketemu papah,"


"Ishhh gak boleh gitu, gitu gitu juga papahmu, biar punya istri baru pun duitnya kan tetep ngalir ke mama, lebih banyak pula sampe bisa kuliahin kamu ke luar negeri, uangnya buat kamu nyalon jadi walikota, sogok sana sogok sini," jelas Mona dengan semangat.


Padahal semenjak suaminya menikah lagi diam-diam Mona mengalami luka batin. Tapi dia berusaha menyembunyikannya dari Kafa. Agar anaknya tetap bersemangat melanjutkan hari-hari tanpa memikirkan papahnya yang sedang lupa daratan itu.


"Iya juga ya," Kafa mengangguk kecil sambil mengusap dagunya.


"Ya maka dari itu, kalau istri baru mah, paling satu atau dua tahun lagi bakal dicerai, mama yakin papamu juga bakal balik lagi ke mama, nih mama cuma mau pesen sama kamu ya, jangan kaya papahmu, hargai satu wanita saja jangan serakah oke,"

__ADS_1


"Iya mama, Kafa gak akan kaya gitu, Kafa cuma cinta sama Isha,"


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2