Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Peresmian


__ADS_3

"Happy Reading*


Isha dan Rio terdiam cukup lama di dalam mobil saat perjalanan pulang. Entah keduanya sama-sama sedang memikirkan hal yang sama namun begitu kacau dan sulit untuk diungkapkan. Rio merasa gugup dan Isha pun merasa gugup.


Akhirnya keduanya tak ada yang bicara. Hanya senyap dan kecanggungan yang melanda. Hanya 5 menit tanpa kata namun sudah membunuh urat keduanya. Sunyi bagai di dalam gua.


Namun dengan memberanikan diri, Rio yang sedang memegang kemudi nya. Berusaha meraih tangan mungil nan halus milik Isha yang sedang bertengger manis di dekat tuas mobil. Perlahan tapi pasti, dia tak mau membuat Isha terkejut dan merasa tak nyaman karenanya. Saat jari jemari itu telah dia raih. Perasaan aneh menggelenyar ke seluruh tubuh keduanya. Membuat bulu roma merinding.


"Ri-Rio," Isha memanggilnya lembut karena gugup.


Akhirnya Rio membawa mobilnya melipir ke pinggir jalan. Kalimat yang sudah berputar-putar di kepala harus segera dia ungkapkan pada Isha.


"Kenapa berhenti?" tanya Isha bingung sekaligus deg-degan.


"Sha, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucap Rio dengan tatapan serius. Tatapannya membuat jantung Isha berdegup kencang. Isha sulit berkata apa-apa. Hanya bertanya sepatah kata.


"Iya?"


"Aku suka sama kamu,"


"Hmmm iya,"


"Kok iya aja?" tanya Rio bingung. Sebab Isha begitu kaku.


"I-iyaa... karena aku udah tahu, aku tahu dari sikap kamu," jawab Isha santai padahal dibalik itu sangat membuat jantung tidak aman.


"Terus?"


"Mmm kamu mau ngomong apa lagi tadi?" Isha malah balik bertanya saking gugupnya.


"Aku mau kita jadian sekarang, karena aku udah nunggu lumayan lama," ucap Rio to the point. Mempertegas tujuan dan alasannya mendekati Isha selama ini.


Isha masih syok meskipun dia tahu dengan jelas. Namun pernyataan benar-benar membuat dia gugup, malu dan campur aduk. Tapi ini momen yang tepat untuk mereka.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Rio lagi memastikan.


"Iya," jawab Isha mantap.


"Iya apa?"


"Iyaa... kita jadian,"


"Serius? kita resmi nih?"


"Serius Rio,"


"Makasih ya Isha, makasih sayang,"


Cup! satu kecupan mendarat di kening Isha begitu mengejutkan. Nampaknya Rio merasa sangat bahagia, bangga dan terharu. Rasa yang menggebu-gebu dalam dada Rio sehingga dia tak sanggup untuk menahannya. Akhirnya sudah sejak lama dia menahan hasrat untuk memiliki Isha. Dan sekarang lah titik awal perjuangan baru dimulai untuknya ke jenjang yang lebih serius lagi.


Kecupan itu membuat mata Isha terbuka selebar-lebarnya. Bukan hanya itu, panggilan sayang untuk pertama kalinya terdengar lagi ke telinganya setelah sekian lama dan terakhir kalinya dia dengar dari Kafa.


"Rio... kamu!" protes Isha dengan manja.


Isha mengangguk kecil malu-malu.


"Kalau ini?" tanya Rio sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Isha secara tiba-tiba. Tanpa izin Rio hendak mencium Isha. Namun gerak cepat Isha menghindar. Entah kenapa dirinya refleks menolak berciuman bibir dengan Rio. Jadi mereka tak sempat berciuman bibir.


"Maaf Rio,"


"Gak papa, kamu pasti belum terbiasa kan, ini pertama kalinya kan?" tanya Rio perihal ciuman bibir itu. Sebenarnya Rio agak kecewa tapi tak apa dia menghargai Isha.


"Maaf ya aku gak bisa,"


"Gak papa sayang, aku hargai kamu, harusnya aku yang minta maaf, seenaknya aja cium kamu," ucap Rio lembut dengan mengusap-usap kepala Isha hingga gadis itu tenang.


Isha pun tersenyum lebar namun dengan rasa tak enak hati padanya. Rio pun menjalankan mobilnya kembali. Isha termenung sejenak. Memikirkan kembali masa lalu dimana Kafa menjadi ciuman pertamanya. Isha berpikir bibirnya sudah kotor. Bibirnya sudah menjadi tempat berlabuhnya bibir Kafa. Dia merasa Isha tidak pantas mendapatkan pria sebaik Rio dan Rio mendapatkan bibir bekas yang sudah terkotori oleh Kafa. Justru hal ini membuat Isha merasa bersalah. Sebab begitu tololnya dia di masa lalu karena mudah sekali memberikan harga dirinya kepada seorang pria yang belum halal untuknya.

__ADS_1


"Oh iya, kalau kita berjodoh dan hari pernikahan kita sudah dekat, kamu mau pesta pernikahan yang kaya apa? coba kamu bilang sama aku, soalnya aku gak paham sama sekali soal pernikahan impian seorang perempuan,"


"Karena aku gak suka sesuatu yang ramai dan membuat aku lelah, aku cuma mau pernikahan yang sederhana aja, cukup undang 100 orang terdekat, gak perlu hiburan atau semacam apapun karena aku memang orang yang cepet cape kalau bergerombol terus,"


"Wahhh begitu ya, kenapa kamu beda dari perempuan di luar sana ya, aku lihat teman-temanku yang lain kalau adain pernikahan sampai 2 hari atau 3 hari, hiburannya banyak lagi, tapi kamu engga gitu ya?"


"I don't know, aku ngerasa itu cuma buang-buang uang aja, mending uangnya buat usaha atau di tabung, jadi kan lebih hemat,"


"Aku gak salah sih pilih kamu buat jadi pendamping aku di masa depan, kamu memang cerdas dan gak neko-neko, tapi uang aku banyak kalau kamu mau pernikahan yang mewah, aku gak masalah sama sekali,"


"Rio....,"


"Okey deh kalo ibu negara maunya begitu ya udah, aku gak bisa maksa,"


Isha pun terkekeh kecil. Dia merasa bahagia akhirnya mereka berdua resmi berhubungan pacaran.


***


"Hello beb! ada apa?" tanya Isha pada Nina melalui panggilan telpon. Tiba-tiba saja Nina menelpon setelah satu bulan mereka lost kontak.


Sekarang Nina sedang bekerja di luar kota bahkan beda provinsi. Sudah 2 tahun Nina merantau ke luar kota meninggalkan Isha sendiri. Hanya lewat telpon mereka berbincang dan bercerita. Ya namanya kehidupan dewasa. Pasti akan sibuk dengan dunianya masing-masing. Bermain sudah tidak lagi menjadi kesenangan. Kesenangan yang utama adalah uang. Maka uang harus dicari.


"Isha, aku kemarin udah izin cuti, sekarang aku lagi dalam perjalanan pulang kampung nih, aku masih di kereta nih tapi sebentar lagi nyampe di stasiun,"


"Ihhh Nina kok gak bilang-bilang sih kalau mau pulkam, ya udah aku ke sana ya jemput kamu,"


"Oke,"


Isha segera menutup panggilan telponnya. Dia bergegas menjemput Nina di stasiun. Namun sebelum itu dia memakai pakaian yang pantas dan wangi sebelum bertemu dengan Nina sahabat baiknya setelah sekian lama tidak bertemu. Pertemuan mereka harus berkesan baik kan.


Isha berpamitan dengan sang mama. Dia berpikir harus memakai mobil karena tentunya Nina membawa banyak barang kan. Jadi untuk jaga-jaga saja.


"Aku udah kangen banget sama Nina, kira-kira sekarang dia kaya gimana ya? apa ada yang berubah dari dia yang dulu?" monolog Isha dengan antusias.

__ADS_1


Author ; Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2