Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Dihadang orang jahat


__ADS_3

*Happy reading guys*


"Ma aku cape mau istirahat, pengen tidur," keluh Isha setelah seharian bekerja. Pagi mengajar lalu pulang-pulang langsung ngajar anak-anak les. Kebayang kan gimana capenya dia. Harus jadi orang tua murid padahal dia sendiri belum punya anak.


Kini Isha hanya ingin meluruskan kaki dan pinggangnya yang terasa pegal dan berat di atas tempat tidurnya.


"Tapi kamu jangan lupa makan sore ya, mama gak mau kamu kurus dan sakit gara-gara gak makan," omel mama Rita yang sebenarnya itu tanda perhatiannya sebagai seorang ibu.


"Iya maa," jawab Isha agak malas. Isha berjalan membungkuk seperti zombie. Untuk membuka pintu pun tangannya terasa lemah dan kebas.


"Haahhhh!" Isha membanting tubuhnya ke atas ranjang hingga membal dan menghela napas panjang.


Sewaktu merebahkan tubuhnya. Hidung Isha yang mungil dan sensitif membaui sesuatu yang busuk. Dia mengendus berkali-kali mencari asal baunya. Kala mencium ketiaknya sendiri Isha ingin muntah.


"Hoeee! ketiaku bau juga ya," keluhnya sendiri. Ternyata dia baru sadar kalau ketiak itu bau.


Tahu-tahu hpnya berdering. Segera Isha meraih hp miliknya yang masih bersembunyi di dalam saku bajunya dengan tergopoh.


"Rio nelpon," gumamnya. Langsung saja dia menarik tanda hijau ke atas menjawab telpon sang pacar.


(Hallo sayang) suara Rio terdengar lemas.


(Iya sayang? kenapa kok suaranya begitu?) Isha sedikit khawatir.


(Malam ini aku gak jadi balik ke luar kota yang, aku sakit, sekarang aku lagi gak berdaya di kamar, kena pilek sama pusing,) ucap Rio dengan suara serak-serak manja. Lalu diakhiri dengan suara batuknya. Laki-laki kalau lagi sakit memang suka dimanja-manjain ya.


(Aduuh sayang, pasti kamu kecapean ya, maaf ya sayang selama kamu pulang ke sini aku repotin kamu terus)


(Gak papa sayang, aku malah seneng repotin kamu, aku sakit bukan gara-gara kamu kok, ini karena aku kurang minum vitamin dan kurang olahraga aja)


(Kamu mau apa? nanti aku ke rumah kamu)


(Gak usah sayang, aku gak mau repotin kamu, kamu pasti lelah sehabis ngajar)


(Oh gak kok, gak cape sama sekali, gak masalah nanti aku ke sana ya?) namanya juga berkorban untuk sang pacar. Meski lelah Isha harus tetap memberi perhatian kepada sang pacar yang sedang terkapar sakit.


Setelah panggilan berakhir. Isha pun lekas mandi. Dia juga sudah tak tahan dengan bau badannya sendiri.


"Ehh mau kemana kamu? makan dulu sini!" baru saja Isha ingin membuka pintu ruang tamu. Mama Rita sudah memintanya untuk makan. Dia sampai lupa kalau dia belum makan.


"Iya ma," akhirnya Isha nurut saja.

__ADS_1


Isha makan makan dengan cepat dan seadanya karena dia harus bergegas ke rumah Rio.


"Kenapa buru-buru gitu?" tanya mama Rita yang risi melihat cara makan anaknya yang terburu-buru.


"Rio sakit ma, aku harus ke sana jenguk dia,"


"Sakit apa? sakitnya parah?" mama Rita agak terkejut dengan kabar ini.


"Engga sih, dia bilang pusing sama pilek ma,"


"Loh yang bener? kemarin dia sehat-sehat aja,"


"Bener ma, kasihan dia, apalagi papa mamanya lagi berlibur di luar negeri, cuma ada pembantunya aja,"


"Ya udah, kamu jenguk dia, tapi jangan malem-malem ya pulangnya," pesan mama Rita.


"Iya ma,"


"Makannya yang pelan jangan buru-buru gitu, nanti kamu keselek,"


Sekejap mulut yang mengunyah cepat tadi berangsur perlahan.


"Oke ma,"


"Hati-hati ya jangan ngebut, jangan lupa baca doa,"


"Oke mamaku sayang,"


"Aduuh kok perasaanku gak enak ya, semoga Isha gak kenapa-kenapa," ucap mama Rita dalam batinnya. Instingnya merasakan kekhawatiran. Tapi dia segera menepis perasaan buruk itu.


Isha langsung tancap gas motornya. Di perjalanan dia bersenandung ria menyanyikan lagu kepompong. Bukan untuk menghibur diri melainkan karena dia takut melewati jalan yang begitu sepi padahal waktu masih menunjukkan pukul 7 malam.


"Kemana nih orang-orang? kok pintunya nutup semua ya? apa iya jam segini udah pada tidur?" gumam Isha masih terus melanjutkan perjalanannya.


Isha hampir melupakan sesuatu. Tujuan dia keluar malam kan karena ingin menjenguk Rio yang sedang sakit. Biasanya kita harus bawa sesuatu ketika menjenguk seperti buah-buahan atau roti tawar dan susu.


"Aku ke sana dulu kali ya, semoga masih ada tukang buah yang masih buka," harapnya namun kejadian sial menimpanya.


Ngengggggggg!! ngengggggg!! deru motor cempreng secepat kilat melintas di sisi Isha. Badan motor itu menyerempet bahunya.


Srakkkk!!! gubrakkk!!

__ADS_1


Motor Isha pun jatuh ke aspal. Begitu juga dengan Isha yang tergeletak di jalan aspal. Orang yang menyerempet Isha sudah kabur entah kemana tanpa ada pertanggungjawaban.


Dia merintih kesakitan sambil berusaha bangkit bergeser ke pinggir jalan untuk menghindari kendaraan yang melintas. Sempat tadi kepalanya terbentur keras untungnya dia mengenakan helm SNI. Jadi hanya lecet-lecet di helmnya.


"Alhamdulillah syukurnya aku gak kenapa-kenapa, kenapa sih itu orang naik motor kenceng banget gak pake lihat di depan ada orang, motor gue rusak jadinya!" maki Isha sambil meratapi nasibnya.


"Gimana dong? semoga motornya baik-baik aja," dia berjalan menuju motornya yang masih tergeletak dengan kaki yang sedikit pincang.


Isha meringis merasakan perih di kakinya. Seperti ada darah yang menetes. Saat dia berjongkok melihat keadaan kakinya. Dia baru menyadari bahwa ada bekas sobekan yang cukup panjang di sisi kaki kanannya. Dan membuat luka gores yang cukup panjang. Tapi sedikit berdarah-darah.


"Ya Allah kaki aku berdarah," Isha semakin histeris. Isha takut sekali dengan darah. Karena dia punya trauma masa kecil tentang darah. Dia pun menangis merasakan ketakutan.


"Jangan-jangan tadi itu begal, dia gores kaki aku pakai pisau," ucapnya menduga-duga. Memang luka itu bukan seperti luka gesekan. Lukanya terlihat rapih terlihat dari sobekan di celananya.


"Aku harus gimana? di sini gak ada orang sama sekali, aku harus minta tolong ke siapa?" resahnya sambil terus mengeluarkan air mata tak kuasa menahan rasa takut sekaligus sakit.


Isha berusaha berdiri dan berjalan ke arah motornya. Namun setiap kali berdiri sakitnya terasa. Biarpun begitu Isha pantang menyerah. Dia masih sekuat tenaga berusaha.


Namun secara mengejutkan. Pemotor yang menyerempetnya tadi kembali menghadang. Isha terkejut dan sangat takut. Dia pun bingung harus melakukan apa di saat genting begini. Kalau saja kakinya baik-baik saja dia bisa lari ke jalan kecil menuju pemukiman.


"Siapa kamu? mau apa kamu ke sini?"


Orang yang berperawakan tinggi besar mengenakan jaket kulit hitam celana jeans hitam dan helm hitam itu diam tak menjawab pertanyaan Isha. Dia malah turun dari motor dan semakin berjalan mendekat hingga Isha sangat ketakutan.


"Jangan coba deket-deket!" teriak Isha takut.


Orang itu sengaja tak melepas helmnya. Agar identitasnya tidak diketahui. Tapi Isha tahu dia seorang pria. Orang itu mengeluarkan senjata tajam miliknya yang telah membuat goresan di kaki Isha. Isha menelan salivanya. Kini dia berada dalam ancaman.


"Tolong! tolong!" Isha berteriak keras. Itu adalah pilihan terakhirnya dikala dalam bahaya. Suasana makin mencekam dikala jarak antara mereka hanya beberapa senti. Isha terus menghindar berjalan mundur.


"Tolong!"


"Aaaaa!!" pria itu menyerang Isha namun dia dapat menghindarinya.


"Tolong!" Isha berlari dengan terseok-seok sambil menahan rasa sakit. Batin Isha menangis meratapi nasibnya.


"Kalau aku gak selamat malam ini, hari ini adalah hari terakhir aku ketemu mama," isaknya dalam batin.


"Kalau ada orang yang nyelametin aku, aku janji bakal berbuat baik sama orang itu dan membalas jasanya,"


Sedetik kemudian semuanya nampak gelap.

__ADS_1


Author: Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2