Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Sulit untuk menerima


__ADS_3

*Happy reading guys*


Isha dipulangkan ke rumahnya setelah satu malam dirawat di rumah Kafa. Dia diantar sampai rumah menggunakan mobil. Sedangkan motornya tidak bisa dia pakai lagi karena sudah dibawa ke bengkel oleh Kafa. Katanya ada bagian yang rusak dari motor itu.


Isha berpikir bahwa sang mama pasti sudah khawatir. Karena semalam dia tidak pulang ke rumah. Pasti dia tidak bisa tidur dan mencari-cari anaknya.


Kafa membukakan pintu mobil untuk Isha dan membantunya berdiri merangkul pundak Isha.


"Makasih Kafa, tapi kamu gak usah sampe masuk ke dalam, biar aku jalan sendiri," pinta Isha.


"Kenapa?" tanya Kafa bingung.


"Aku takut mama marah sama kamu, dulu kan...,"


"Oh iya aku ngerti, gak papa Sha, aku pulang ya?" pamitnya.


"Iya hati-hati,"


Namun langkah Kafa terhenti. Dia berbalik badan menatap Isha dengan sebuah pikiran yang terlintas di sana.


"Kenapa belum masuk mobil?" tanya Isha heran.


"Aku gak bisa pulang begitu aja, aku harus masuk ngobrol sama mama kamu,"


"Gak usah Kaf, nanti biar aku aja yang ngomong sama mama," Isha cuma takut nanti Kafa kena omel sang mama.


"Loh apa ini? Kamu baru pulang nak? sama Kafa lagi? ada apa ini? kalian CLBK?"


Deg! keduanya tertegun dengan kemunculan mama Rita. Bertubi-tubi pertanyaan mama Rita lontarkan. Jelas wajahnya terlihat tidak suka saat melihat Kafa berani datang dihadapannya.


Kafa berjalan mendekat pada mama Rita hendak menjelaskan apa yang terjadi agar tidak salah paham. Namun wanita itu langsung melontarkan pertanyaan lain.


"Berani sekali ya kamu dateng ke sini lagi?" ucapnya dengan tatapan tak suka.


"Iya tante, maafin Kafa, aku cuma mau kasih tau semalem..,"


"Apa kasih tau apa? jangan banyak alesan buat deketin Isha lagi ya, dia udah cukup menderita sama kamu!" pungkasnya dengan nada tegas. Jarinya menunjuk muka Kafa. Pria yang ada dihadapannya hanya menunduk merasa bersalah.


"Mama dengerin Kafa ngomong dulu, kasih dia kesempatan," sambung Isha.


"Gak!"


"Mama...," Isha jengah.


Sekejap suasana hening. Namun Kafa memberanikan diri lagi untuk berbicara yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Semalam ada orang jahat yang hadang Isha, aku gak sengaja lihat Isha dalam bahaya jadi aku nolongin dia dan bawa Isha ke rumah buat aku obati, jadi semalam Isha nginep di rumah aku tante," jelas Kafa.


"Beneran nak?" tanya mama Rita memastikan. Wajahnya yang menegang tadi berubah cemas sambil memegangi bahu anaknya.


"Iya ma, kejadiannya begitu, ada orang jahat yang mau mencelakakan aku, kalau gak ada Kafa mungkin aku udah habis sama orang itu,"


Mama Rita menutup mulutnya tak percaya dengan kejadian yang semalam menimpa Isha. Akhirnya Kafa dipersilahkan masuk ke dalam untuk memberitahu secara rinci kejadian tersebut. Mama Rita begitu antusias mendengarnya.


"Terimakasih karena sudah menolong Isha,"


Kafa tersenyum cerah karena mama Rita sudah tidak marah lagi. Dirinya merasa bangga telah menjadi pahlawan untuk Isha dan membuka satu kesempatan untuknya.


"Iya sama-sama tante,"


"Tapi saya mau kamu jangan terlalu dekat dengan Isha ya," seketika langit yang cerah berubah menjadi langit gelap dengan kilatan petir. Raut Kafa berubah muram dalam sekejap.


"Kenapa tante?"


"Isha itu udah punya calon untuk pendamping hidupnya, jadi kalian tidak boleh dekat lebih dari teman apalagi sampai balikan, tante harap Kafa mengerti ya," pintanya.


Kafa menatap sayu Isha yang duduk dihadapannya. Dia begitu sedih.


Hatinya hancur mendengar penuturan itu. Ternyata kesempatan tidak bisa dibuka kedua kalinya. Mama Rita tidak bisa mentolerir kesalahannya.


Mama Rita pun pergi meninggalkan keduanya di ruang tamu.


"Gak bisa apa?" tanya Isha penasaran.


"Sama-sama kaya dulu lagi,"


"Jadi... kamu berharap begitu?"


"Iya,"


"Aku pun masih ragu Kaf sama kamu, tapi kayanya aku bakal berubah pikiran dan mengingkari perkataanku dulu saat terakhir kalinya kamu nyakitin aku, bahwa aku gak akan nerima kamu lagi di saat kamu kembali kemari, nyatanya masih ada perasaan semu di sini, tapi aku gak yakin Kaf, tapi kalau kamu tetap gak bisa yakinin aku, aku bakal pilih Rio untuk jadi suamiku," batin Isha berucap.


"Tetap saja restu orang tua jadi yang paling utama, tapi mama kamu nolak aku duluan," imbuh Kafa.


"Kamu kan belum coba, bilang yang sejelas-jelasnya sama mama, usahanya harus lebih giat lagi,"


"Jadi kamu setuju kalau kita bersatu lagi?"


"I think so...," Isha memutar bola matanya


***

__ADS_1


"Kenapa Isha semalam gak dateng?" ucap Rio bertanya-tanya kenapa Isha semalam tak kunjung datang.


Padahal dia sangat khawatir Isha terjadi sesuatu. Bahkan beberapa kali dia menelpon ke nomor Isha. Hasilnya nihil sama sekali tak diangkat.


Beberapa kali dia memantau layar hpnya berharap ada panggilan masuk dari Isha. Namun menjelang pagi tak ada sama sekali. Biasanya Isha akan mengucapkan selamat pagi lewat chat pribadi. Tapi pesan itu kosong.


"Isha kemana? kenapa dia gak hubungin aku? apa jangan-jangan terjadi sesuatu? atau dia tiba-tiba sibuk?"


Rio berjalan dari tempat tidurnya menuju pintu kamar namun pintu itu terbuka begitu saja. Ternyata papa dan mamanya telah kembali dari liburannya.


"Aduuuh nak duduk aja, kata bibi kamu sakit?" tanya mamanya khawatir. Dia membawa Rio untuk kembali ke atas kasurnya. Tangannya mengusap kepala dan pipinya untuk mengecek suhu badan.


"Iya ma,"


"Kenapa kamu gak langsung bilang sama mama papa aja sih,"


"Aku gak mau ganggu kalian berdua,"


"Ya gak papa sayang, kesehatan kamu itu lebih penting, mama gak mau kamu kenapa-kenapa, perusahaan harus tetap berjalan di tangan kamu,"


Rio menghela napas panjang merasa lelah. Ternyata untuk ini mereka pulang. Rio kira mereka benar-benar khawatir untuknya sebagai orangtua. Melainkan sebagai penggerak bisnis.


"Iya ma, terimakasih," Rio beranjak lagi dari kasurnya dengan raut datar.


"Kamu mau kemana?" tanya sang mama.


"Aku mau menemui Isha,"


"Isha? siapa Isha?"


Rio tertegun. Dia keceplosan menyebut nama itu. Selama ini Rio sudah menyembunyikan hubungannya dengan Isha dari kedua orangtuanya.


Karena Rio takut akan penolakan mereka pada wanita pilihannya. Papa mama Rio sangat selektif dalam mencari pasangan untuknya. Dan tentu syarat yang utama adalah perempuan yang satu level dengannya. Anak dari pengusaha juga seperti dirinya.


"Rio! Isha siapa yang kamu maksud itu?" tanya mamanya tegas.


"Oh dia calon sekretaris yang aku seleksi kemarin, aku mau menemui dia di kantor," jawab Rio berbohong.


"Sekretaris baru? apa sudah dibicarakan dengan papamu?"


"Belum, ini keputusanku sendiri,"


"Sebaiknya kamu bicarakan dengan papa, kalau terjadi sesuatu kan bisa minta tolong papamu,"


"Iya, nanti Rio usahakan untuk bilang ke papa,"

__ADS_1


Rio pun pergi dari rumahnya meskipun keadaan tubuhnya masih sakit. Dengan lepas dari kecurigaan sang mama sudah sangat beruntung untuknya. Kali ini Rio ingin memutuskan atau memilih berdasarkan dirinya sendiri. Dia tak mau kedua orangtuanya ikut campur. Apalagi untuk seorang pendamping. Apapun takdir ke depannya Rio harus berusaha dahulu.


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2