Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Mama dan anak


__ADS_3

*Happy reading guys*


Sebenarnya Isha sudah kehabisan waktunya untuk kembali ke rumah. Harusnya 20 menit yang lalu dia ada di rumah dan membawa bumbu dapur milik mama. Pasti mamanya sudah marah-marah karena dia tak kunjung pulang.


Tapi menolak ajakan tante Mona pun tidak enak. Mereka sudah lama tidak bertemu. Tante Mona waktu itu pernah ke luar negeri selama 2 bulan dimana bertepatan dengan hari putusnya Kafa dan Isha. Jadi setelah putus dengan Kafa dia tidak berkomunikasi lagi. Mungkin selama itu tante Mona mencari-cari.


Dan kebetulan Isha juga sedang mengabdi selama 2 tahun di luar kota. Jadi mereka terhalang jarak. Meskipun mereka ada di daerah yang sama. Maka dari itu mereka tidak saling bertemu lagi. Apalagi mama Rita memutus kontak mereka. Menghalangi siapapun yang berhubungan dengan Kafa untuk berhubungan dengan Isha.


"Ayo! Isha pilih aja, dulu kan Isha suka vanila latte tuh," Tante Mona antusias menyodorkan menu yang ada di kafe itu.


"Sekarang engga tante," pungkas Isha dengan mata sayu.


Tante Mona terkesiap sejenak. Lalu tersenyum.


"Udah gak suka vanilla latte lagi? apa karena gak suka sama kenangannya juga?"


"Hehehe engga juga, sekarang lagi suka sama coklat aja, seleranya kadang suka berubah," ucap Isha tak enak hati. Paham sekali yang dimaksud tante Mona adalah kenangannya bersama Kafa.


"Jangan panggil tante ya, panggil aja mama, meskipun Isha udah gak pacaran lagi sama Kafa, sekali-kali main gak papa temuin mama," jantung Isha entah mencelos kemana.


Rasanya seperti ada yang merosot ke bawah dadanya. Dengan mata sayu tante Mona dan kalimat yang bernada memohon itu membuat Isha meleleh.


"Hummm iya tante," jawabnya gugup.


"Baru aja bilang,"


"Oh iya pasti ma, kalau Isha ada waktu nanti Isha main ke rumah mama,"


"Meskipun hubungan kamu gak sedekat dulu sama Kafa, jangan pernah putus hubungan sama mama, soalnya Isha aja yang klop buat mama,"


"Apa ini? kenapa ucapan mama Mona lebih sweet daripada anaknya?" batin Isha kesal. Dibandingkan Kafa, tante Mona lebih baik darinya.


"Ya udah gih, Isha mau apa? nanti mama yang bayar,"


"Mama gak usah repot-repot,"


"Kalau buat Isha mama gak repot kok, ayo jangan malu-malu sayang,"


"Ya udah vanilla latte aja,"


Tante Mona tersenyum lebar setelah mendengar pilihan Isha.


Seorang pelayan wanita datang mencatat pesanan mereka kemudian pergi ke dapur setelahnya.

__ADS_1


"Kamu udah dengerkan Kafa mau jadi walikota?"


"Iya, kemarin pun Kafa datang ke sekolah tempat Isha ngajar,"


"Oh ya?" tercengang.


Isha mengangguk.


"Ngapain aja dia? ngobrol sama kamu engga?" tanya tante Mona penasaran. Mukanya jelas sekali kalau dia kepo.


"Iya ma,"


"Anak bagus," nampaknya tante Mona memuji anak laki-laki semata wayangnya itu. Ada senyum sumringah di wajahnya.


"Nanti kamu dukung dia ya?" pinta mama Mona.


"Engga ma, aku gak mau," tolak Isha mentah.


"Loh kenapa?"


"Masih sebel sama Kafa," ucap Isha memasang wajah dongkolnya.


"Memang, Kafa itu menyebalkan, kalo mama seumuran Kafa mama juga gak kuat ngadepin dia, tapi anak mama Mona makin ganteng kan?" tanyanya dengan menaik turunkan kedua alisnya. Juga senyumnya yang lebar itu.


batin Isha.


Dan tak lama makanan dan minuman mereka datang.


"Ini mba pesanannya, sudah lengkap ya," ucap si pelayan. Isha dan tante Mona sama-sama berterima kasih.


Mereka menikmati makanannya dengan khidmat. Tante Mona sepertinya sedang kelaparan, makanya dia makan dengan rakus. Isha pun sama-sama lapar. Tapi dia harus jaga image di depan tante Mona. Makan dengan cantik lebih anggun untuk perempuan muda seperti dirinya.


Tiba-tiba saja Isha memikirkan sesuatu tentang hubungan Kafa dan Vina. Apakah Kafa dan Vina telah menikah? Lalu mempunyai anak? Namun kemudian berpisah? Vina menjanda dan Kafa mencari istri baru? sungguh teka-teki yang rumit.


"Hahhhh!" desah Isha. Tante Mona sampai terheran-heran melihat Isha tiba-tiba begitu.


"Kenapa sayang? kepikiran sesuatu?"


"Ahhhh itu, aku lagi mikirin materi les buat nanti besok," ucapnya beralasan. Isha merutuki dirinya begitu bodoh, mendesah karena memikirkan banyak hal tentang Kafa dan Vina. Padahal semua itu diluar kendalinya dan tak ada hubungannya sama sekali dengannya.


"Kamu ngajar les?"


"Iya ma,"

__ADS_1


"Hummm bagus dong, sekalian buat latihan kalo kamu punya anak nanti,"


Isha pun terdiam mencoba memahami apa yang diutarakan tante Mona.


"Mama hubungin Kafa suruh ke sini jemput mama,"


"Hah? mama manggil Kafa kesini?" tanya Isha terkejut.


"Iya, sebentar lagi dia nyampe sini,"


Isha ketar-ketir mengetahui bahwa Kafa akan datang ke sini. Berbanding terbalik dengan tante Mona yang begitu senang dan antusias. Sepertinya mereka telah merencanakan ini. Pikir Isha menduga-duga.


"Nah tuh dia,"


Isha menoleh ke arah tante Mona tunjuk. Dimana Kafa sedang berjalan menghampiri mereka dengan gaya kasualnya. Kaos pendek hitam dan celana jeans pendek warna putih. Sendal jepit 10 ribuan menghiasi kakinya. Tapi tetap terlihat mahal dipakai Kafa.


"Hai mantan, hai mama," sapa Kafa dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Kalau Isha sebuah gunung berapi. Saat ini juga dia ingin meletus dan menumpahkan lavanya ke wajah Kafa. Sudah sembarangan memanggilnya begitu, pasang tampang sok kerennya pula.


Tapi realnya, Isha lemah iman. Dia hanya terdiam membeku dan tidak berdaya dibawah pesona Kafa. Hanya saja perisai gengsi yang tingkatannya 100 persen itu berusaha membentenginya dari godaan Kafa.


"Makasih sayang udah mau ke sini temenin mama, mau gak pulangnya dianter Kafa?" tawar tante Mona. Dan bagi Isha itu bukan tawaran yang bagus. Dengan ketidakadaan jarak diantara mereka. Akan berpotensi Isha melemah dan luluh. Jadi sekuat tenaga Isha harus mempertahankan dirinya dan terus mengingat kejelekan dan keburukan sikap Kafa yang dulu.


"Ingat Kafa brengsek! dan kamu udah punya Rio!" batin Isha membentengi diri.


"Terimakasih ma, tapi Isha bawa motor kok,"


"Motornya ditinggal dulu, nanti biar bawahan Kafa yang bawa ke rumah kamu,"


"Gak usah ma, gak usah, Isha bisa sendiri kok, makasih mama,"


Isha pun segera mencium tangan tante Mona dan pergi dari sana. Dia tidak mau mendengar alasan-alasan lainnya.


"Yahhh gagal sayang," tante Mona kecewa sembari menepuk-nepuk pelan pundak Kafa.


"Aku kaget mama lagi makan sama Isha berdua disini, makasih ma udah berusaha buat comblangin Kafa sama Isha lagi,"


"Suatu keberuntungan yang kebetulan, pas banget mama lagi kangen-kangennya sama Isha," Tante Mona tersenyum tipis. Rasanya ada kelegaan tapi belum sepenuhnya terpenuhi.


"Ya udah ma, kita pulang yuk!"


"Iya nak,"

__ADS_1


Author: Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2