Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Dimanja


__ADS_3

*Happy reading guys*


Seorang anak laki-laki berusia 2 tahun menangis di kamarnya. Baru saja terbangun dari tidur pulasnya sejak 3 jam lalu. Dia menangis di tengah malam karena haus.


Vina pun ikut terbangun menyadari anaknya menangis. Dia mencoba menenangkan anaknya dengan menepuk-nepuk paha bayi kecil itu.


"Dino bobo lagi ya nak, ini udah malam, nangisnya nanti lagi ya?" ucapnya lembut pada Dino berusaha menenangkan. Tapi anak itu tetap menangis.


Vina paham tengah malam begini. Pasti Dino ingin minum susu. Karena dia sudah disapih dari 2 bulan yang lalu jadi anak itu sudah dia beri susu formula. Maka dari itu Vina menuju dapur untuk membuat susu.


Tetapi ternyata saat membuka lemari dapur susu kotaknya sudah habis. Vina lupa kalau itu kotak susu terakhir untuk Dino.


"Yah habis," keluhnya sambil menghela napas panjang. Dia kembali ke kamar menemui anaknya dengan membawa satu botol air putih.


"Maaf ya nak, susunya udah habis, Dino minum air putih aja ya," anak itu menggeleng seolah mengerti apa yang diucapkan ibunya.


"Papa kamu belum kasih uang buat beli susu nya Dino, sabar ya nanti besok mama bakal minta ke papa kamu, Dino nurut ya, mama cuma ada air putih, diminum ya sayang," Vina terus menepuk-nepuk Dino sembari memaksanya minum air putih tersebut. Namun anak itu menolak dan tetap menangis.


Bahkan Dino menendang-nendang selimut dan bantal guling kecil hingga terpental.


"Euhhhhh diam Dino! bisa diam tidak?!" Vina mulai kesal dengan suara tangisan Dino yang tak kunjung berhenti. Bahkan dia menyumpal mulut Dino dengan selimut.


"Ini sudah malam, aku mau tidur, aku mengantuk!" bentaknya lagi. Dino menangis semakin kencang. Vina sedikit tak tega melihat Dino yang agak kesulitan bernapas. Akhirnya dia melepas selimutnya dari mulut Dino.


"Lama-lama aku stress kalau ngurus anak sendirian begini! aku juga butuh ketenangan!" kesalnya.


"Euhhhh laki-laki sialan! kemana dia ninggalin rumah sampai malem begini?!" gerutunya sambil mengacak rambut. Dia beranjak keluar kamar dan mencari keberadaan lelaki yang dia maksud. Mondar-mandir memandang keluar jendela dari balik gordeng.

__ADS_1


Vina melirik ke arah jam.


"Ini sudah pukul 1, lelaki sialan itu selalu pulang malam, kalau dia pulang tapi gak bawa uang sepeserpun, aku bakal nyuruh dia tidur diluar!" tukasnya.


"Anaknya juga selalu menangis, apa dia tidak mengerti aku mengantuk dan ingin tidur? anak dan ayahnya sama-sama menyebalkan!" Vina yang sangat kesal lebih memilih duduk di kursi ruang tamu membiarkan Dino menangis sendirian di kamar.


***


Di dalam kamar Isha....


(Sayang, jangan malem-malem ya tidurnya, semoga kakinya besok lekas membaik) pesan manis dari Rio dengan emot love yang beranak pinak.


Isha membaca ambil membayangkan raut muka Rio saat mengetik kalimat tersebut.


Isha senyam-senyum sendiri setelah membacanya. Kemudian membalasnya dengan emot love juga. Lalu meletakan hpnya di samping bantal.


Isha memandangi langit-langit kamarnya lalu matanya bergulir turun ke kakinya yang diperban sambil menggoyangkan ke kiri dan ke kanan seperti anak kecil.


"Hmmm cuma karena luka kecil, aku sampe dimanjain sama Rio sampe segitunya, gimana kalau aku sakit parah," gumam Isha sambil meratapi. Lalu secepatnya tersadar bahwa itu pikiran yang buruk.


"Astaghfirullah ngapain aku mikir begitu?! amit-amit!" ralatnya sambil menoyor kepalanya sendiri.


Kemudian matanya kembali berpendar ke makanan dan obat-obatan yang dibelikan Rio untuknya. Mejanya penuh dengan pemberian Rio si pria royal itu. Lalu mengingat-ingat kembali jam-jam yang sudah terlewati hari ini bersama dengan Rio.


Awalnya, Rio memaksanya untuk dibawa ke dokter khusus agar dicek kakinya dan dicek tulang apakah ada bagian yang patah atau tidak.


Rio begitu khawatir dengan keadaannya. Padahal Isha sudah menolak keras untuk dibawa ke dokter. Karena percuma kan buang-buang uang. Sebab Isha pun merasa dirinya sudah baik-baik saja.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus dibawa ke dokter, aku gak mau pacarku kenapa-kenapa, terserah kalau kamu bilang gak papa terus, sebenarnya aku gak percaya kalau perempuan bilang gak papa itu pasti ada apa-apanya, aku yakin!" kekeuh Rio. Alamat Isha pun mengalah juga karena Rio yang lebih bawel daripada dia.


Sepulang dari dokter, Isha dibawa ke supermarket. Membelikannya keperluan seperti kapas, cairan antiseptik, makanan ringan, buah-buahan supermaket, susu, roti dan lain-lain. Dengan kursi roda, Isha didorong sampai ke dalam supermarket.


"Kamu itu butuh ini, butuh ini juga, ini juga buat pengganjal perut kamu kalau tengah malem laper, biar gak usah cari-cari makanan lagi di dapur, kaki kamu kan sakit gak akan kuat jalan jauh-jauh,"


Lagi-lagi Isha hanya mengangguk menuruti apa kata Rio. Bos mah memang beda.


Mereka juga mampir ke gerai hp untuk membeli hp baru karena hp Isha hilang saat kejadian semalam. Isha tentu menolak pemberian yang ini. Karena Rio membelikan hp untuknya dengan harga yang fantastis. Bahkan harganya 3 kali lipat dari hp lamanya.


"Rio, stop beli barang mahal buat aku," tolak Isha.


"Gak! pokoknya kamu gak boleh nolak!" tukas Rio yang tetap membayar lunas dikasir.


Bukan hanya itu saja. Isha pun dimanja lagi dengan makanan restoran mahal. Itu murni kemauan Rio yang terus memaksanya. Isha hanya perlu menurut padanya. Dan lagi-lagi Isha sulit untuk menolak kebaikan Rio.


Pokoknya seharian ini Rio memanjakannya dengan baik. Dan semuanya Rio yang bayar.


"Mungkin kalau suamiku bener-bener Rio, aku bakalan dimanja terus, tapi Rio terlalu baik dan terlalu sempurna buat aku, kira-kira kalau nanti aku ketemu sama orangtuanya bakal diterima dengan baik apa engga ya? kayanya mereka bikin aku insecure deh, secara dia itu anak dari pemilik PT Nusa Utama, siapa yang gak tau perusahaan itu, bahkan si Bila pun punya cita-cita kerja disana setelah lulus SMA nanti," Isha merasa senang sekaligus minder.


Hubungan mereka masih dalam tahap awal. Dan jika dilihat hanya Rio saja yang mengenal orangtua Isha. Padahal Isha belum sama sekali diperkenalkan kepada orangtua Rio.


"Kira-kira kalau aku minta ke Rio buat dikenalin ke orangtuanya dia mau engga ya? karena aku pun penasaran gimana reaksi mereka kalau anaknya pacaran sama aku, gak mungkin kan hubungan aku sama Rio cuma sebatas berdua aja, orangtua pun harus sama-sama tau," pikir Isha. Dia tidak mau hubungan mereka stuck disitu saja.


Apalagi dia sangat penasaran dengan kedua orangtua Rio sebagai orang besar yang sukses sampai memiliki anak sebaik dan setampan itu.


"Apa aku coba omongin aja ya ke dia?" pikirnya.

__ADS_1


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2