
*Happy Reading Guys*
Nampaknya harapan Isha untuk tidak bertemu dan berurusan dengan Vina lagi tidak semulus yang dia harapkan.
Setelah pulang mengajar, tak sengaja dia bertemu dengan Vina kembali yang sedang ngemong anaknya di taman dekat sekolah. Dia terlihat mendorong kereta dorong baru untuk anaknya.
Vina memanggil namanya bahkan dia berani mencegat jalan Isha di jalan kecil yang hanya muat untuk 2 motor itu. Jelas Isha dibuat geram. Wajah culas dan meremehkan itu nampak meledeknya.
"Stop!" serunya sambil menepikan kereta dorong itu di trotoar.
"Mau apa? kamu mau aku tabrak?" tantang Isha dengan sedikit memutar gas motornya.
Vina tersenyum remeh.
"Coba aja kalau berani,"
Isha berdecih kesal. Kenapa situasi ini terus terjadi. Padahal Isha tak ingin ribut dan banyak mengatakan kata kotor di depan orang ini. Dia sadar kalau dirinya sulit untuk tidak mengatakan kata sarkas dan meluapkan emosi jika sudah terpancing.
"Aku tahu, kamu kerja di sini, jadi aku sengaja ke sini buat ketemu kamu, untungnya kita ketemu ya," ucapnya dengan senyum smirk.
"Apa sebenarnya tujuan kamu ke sini? urusan kita udah selesai kan kemarin, kamu mau buat masalah baru lagi sama aku?" tanya Isha bertubi-tubi. Dia tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.
"Engga, aku cuma mau tanya sama kamu, apa sekarang ini Kafa lagi coba deketin kamu lagi?" tanyanya.
Justru Isha bingung kenapa dia tanya begitu. Apakah Vina merasa takut tersaingi olehnya. Bahkan di saat Isha berpikir mereka sudah berbahagia dengan kehidupan rumah tangga mereka.
"Kalo iya kenapa? dan kalo engga kenapa?"
__ADS_1
"Kalo iya, harusnya kamu sebagai perempuan tahu dong gimana perasaan aku, tahukan kalau Kafa itu milik aku?" akunya. Perempuan ini berani berbohong tentang hubungan palsu kepada Isha untuk membuat Isha semakin benci pada Kafa dan menjauhinya.
"Oh jadi kamu cuma mau ngasih tahu ini? kamu takut aku ambil Kafa dari kamu?" jelas Vina merasa tersaingi jadi Isha berani meladeninya.
"Iya aku gak takut sih, aku cuma mau ngasih tahu kamu biar kamu gak godain dan ganggu dia lagi, mau buat kamu sadar diri," kalimat itu terdengar menjijikan di telinga Isha. Jelas dia takut Isha merebut Kafa darinya. Tapi dia berucap mengelak.
"Ambil! aku gak butuh laki-laki kaya dia, aku bakal jaga jarak dan gak biarin dia masuk ke kehidupan aku lagi, jadi berhenti ganggu aku," pintanya. Isha menjalankan motornya lagi dan cabut dari situ.
Vina tersenyum smirk memandangi punggung Isha yang perlahan menjauh. Rencananya untuk menjauhkan Kafa dari Isha berhasil. Awalnya Vina tidak ada lagi masalah jika keduanya untuk kembali. Namun kebaikan Kafa yang rela membantunya. Menjadi peluang besar baginya.
"Dengan Isha dan Kafa semakin jauh, aku gak pusing-pusing lagi buat manfaatin Kafa, jadi aku bisa manfaatin uang dan tenaganya, toh kemarin Kafa juga masih baik sama aku dan mau bantu aku," katanya dengan percaya diri dengan senyum seringai.
Vina kembali mendorong kereta dorong itu.
***
Di sore hari di kediaman pak Jaya keluarga besar PT Nusa Utama...
Sedangkan Rio hanya memandang gusar mamanya sembari duduk di meja kerjanya yang baru saja selesai rapat online.
"Mama gak lihat aku baru saja selesai rapat?" Rio malah balik bertanya pada Yulia dengan raut yang jengah. Berita pertunangan itu tidak ingin dia dengar sama sekali.
"Pokoknya sore ini atau malam ini kamu harus ngobrol berdua sama Bela, mama dan papa udah sepakat kalau pertunangan kalian harus dilaksanakan secepatnya!" Yulia menegaskan pada Rio soal pertunangan itu. Yang pada kenyataannya hanya disepakati oleh sepihak saja.
"Astaga mama!" Rio makin jengah. Bahkan dia beranjak dari meja kerjanya dan berlalu dari ruangan yang berada di sebelah kamarnya tersebut dan beralih ke kamarnya.
Yulia membuntuti Rio hingga ke kamarnya.
__ADS_1
"Rio! mama dan papa sudah membicarakan ini dengan kedua orangtua Bela, kalau kamu gak jelas begini, kita juga yang nanggung malu," dalihnya dengan pemaksaan.
"Iya nak dan pak Yoga sangat senang jika pertunangannya dipercepat, bahkan Bela sangat-sangat setuju, dia begitu senang, kamu gak bisa mengecewakan Bela," sambung pak Jaya.
"Kenapa bisa mama sama papa melakukan ini tanpa persetujuan aku? harusnya aku juga berhak tau karena ini soal kelanjutan hidup aku," tandas Rio. Jelas ini perihal kelanjutan hidupnya.
Rio hanya ingin hidup berumah tangga dengan perempuan yang dia pilih. Bukan perempuan pilihan kedua orangtuanya yang hanya berlandaskan perjodohan bisnis.
"Ya karena kamu sudah diam-diam mendekati perempuan lain selain Bela, perempuan yang belum jelas bebet bobotnya dan belum tentu baik buat kelanjutan hidup kamu!" timpal Yulia lagi. Meski Rio dengan jelas menolak. Mereka tetap kekeuh dengan keputusan mereka. Hanya saja Rio masih bisa menolak dan mengelak.
"Ma! Pa! aku cape sama kalian! aku udah cape sama kerjaan yang kalian percayakan ke aku ditambah lagi sama perjodohan ini, bisa engga sih kalian mengerti perasaan aku?!" Rio meminta keadilan untuk hidupnya. Bahkan untuk sekedar cinta pun dia tak boleh memilih.
"Rio! mama dan papa sudah berupaya bicara layaknya orangtua kepada kamu, kalau kamu menolak! papa tidak akan segan-segan untuk menyita semua fasilitas kamu! kamu pria bodoh yang mengedepankan cinta daripada uang, bahkan orang miskin pun tahu uang adalah segalanya, maka dari itu mereka bekerja keras! tapi kamu... hanya menjadi anak yang kurang ajar kepada orang yang sudah membuat hidupmu berkelimpahan dan melupakan realita!" ucap pak Jaya dengan panjang lebar dan penuh ketegasan.
Ancamannya tak main-main kepada anak semata wayangnya itu. Dia adalah penerus satu-satunya. Bahkan sebelum anak perempuan pertamanya meninggal dunia. Kemampuan Rio dalam dunia bisnis lebih mumpuni. Maka dari itu pak Jaya berharap banyak pada Rio.
Namun pak Jaya hanya memberikan gertakan saja pada Rio. Agar anaknya berpikir jernih bahwa uang adalah prioritas utama dibandingkan cinta.
Terlebih pernikahan antara pak Jaya dan Yulia pun terbangun karena adanya hubungan bisnis. Jadi mereka anggap cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu meski awalnya mereka tidak saling mencintai.
"Apa kamu mau mengecewakan kami berdua Rio? Orangtua yang sudah merawat kamu sejak dalam kandungan, membesarkan kamu dengan segala kelebihan dan kelimpahan, kamu tidak kekurangan apapun karena papa mu bekerja keras untuk kita bertiga dan kamu malah lebih memilih perempuan itu," Yulia masih berusaha membujuk Rio agar anaknya berubah pikiran akan pilihannya. Wajah memelas dan memohon dia tampakan pada anaknya itu.
"Aku pusing! gak mau memikirkan hal ini dulu!"
Dengan hati gusar, Rio pun meninggalkan rumah hendak menenangkan hati dan pikirannya. Begitu banyak beban yang dia terima dan banyak sekali harap yang harus dia wujudkan sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga ini.
"Semoga Rio mau berubah pikiran ya pa," tutur Yulia penuh harap.
__ADS_1
"Semoga ma,"
Author : Nur Isthifaiyatunnisa