
*Happy Reading Guys*
"Aku mau minta tolong sama kamu, kamu tahu kan keadaan aku yang sekarang gimana?" tutur Vina dengan sesuatu dibaliknya. Wanita ini memang ingin meminta uang pada Kafa untuk membantu meringankan beban hidupnya.
"Jangan bertele-tele, kamu mau apa?"
"Aku mau uang,"
"Uang? memangnya kenapa dengan suami kamu? dia gak mencukupi kamu kah?"
"Iya begitulah, kerjanya gak jelas dan dia cuma bisa kasih aku sedikit uang, sedangkan aku dan Dino harus makan sehat dan kebutuhan sehari-hari harus terpenuhi, jadi kamu bisa kan kasih aku uang?"
"Berapa yang kamu mau?"
"Aku butuh 2 juta,"
"Dua juta?"
"Iya,"
Kafa menghela napas panjang lalu mengeluarkan uang cash dari dompetnya.
"Ini," Kafa menyerahkan uangnya menyimpannya di meja. Vina menyunggingkan bibirnya. Dengan gerak cepat dia memasukan uang tersebut ke tasnya.
"Makasih ya, aku boleh gak nitip Dino dulu, aku mau ke toilet sebentar," Vina mengangkat tubuh Dino dan menempatkannya di pangkuan Kafa.
**
"Kok bisa ya pak Kafa berduaan sama perempuan yang udah punya anak? gak mungkin kan dia deketin janda, tapi kok perempuan itu kaya gak asing ya atau aku pernah lihat ya?" celoteh Anjani berlaga polos. Padahal jelas dia melihat Vina saat dikeributan depan toko buku tadi dengan seorang pria yang berstatus sebagai suami sahnya.
Akan tetapi kenyataannya Anjani punya ingatan yang jelek. Jadi dia cepat lupa dengan beberapa peristiwa yang sebelumnya.
Isha sudah muak melihat dan mendengar kedua orang itu berbincang dengan hangat begitu jelas di depannya. Lantas dia berniat melabrak keduanya. Tangannya sejak tadi bergetar menahan kesal. Di otak nya sudah berseliweran banyak pertanyaan tentang hubungan mereka berdua. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara mereka selama ini.
Tetapi suami Anjani mencegat Isha dan Anjani langsung dihadapan mereka. Kedatangannya yang begitu cepat membuat keduanya terkejut. Alih-alih suaminya berkaca pinggang dengan tatapan seram. Bulu kuduk pun sekejap meremang.
"Jadi mba yang udah bawa istri saya sampai ke sini?" suami Anjani yang tinggi besar dan coklat sawo matang mirip ras India itu berdiri dengan menakutkan.
"Iya, saya bawa Anjani ke sini, tapi Anjani yang meminta untuk ikut sama saya," jelas Isha dengan berani. Padahal jauh dalam hati mungilnya ada rasa takut.
__ADS_1
"Benar kamu yang mau ikut dia? bukan dia kan yang ngajak kamu?" tanyanya tegas.
"Iya suamiku, beneran aku yang minta ikut, tolong ya jangan salahin dia," Anjani setengah berlutut di hadapan suaminya dengan memohon.
"Ssst jangan begitu, berdiri! malu dilihatin orang, lagian siapa juga yang mau nyalahin dia? aku tahu kok istriku sendiri yang nakal gak mau nurut perintah suaminya, buat apa aku menyalahkan orang lain," timpalnya. Dia mentitah agar istrinya tak berlutut lagi.
Sudah puas memberi ketegasan pada istrinya. Mereka pamit undur diri.
"Sha maaf ya, gak papa kan kalau aku pulang sama suamiku?" izinnya.
"Gak papa, sana-sana!" ucap Isha dengan nada mengusir seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
Akhirnya pasutri itu pergi meninggalkan Isha sendirian. Kini dia hanya bisa menatap sepi kepergian dua orang itu. Usai ini dia harus pulang ke rumah seorang diri.
"Ternyata meskipun mereka beda prinsip dan sifat, kalau jodoh pasti tuhan bakal menyatukan mereka dengan baik, artinya mereka udah sama-sama dapet yang tepat," kata-kata mutiara baru saja terucap dari bibir Isha bahkan di saat dia sendiri belum menemukan cinta sejati yang sebenarnya.
"Isha!" tiba-tiba suara yang tidak ingin dia dengar kini memanggilnya.
Kafa datang sebab melihat keributan ketiganya dan menyadari keberadaan Isha sejak tadi.
"Kafa?" sahut Isha sedikit terkesiap. Lalu dengan cepat dia merubah rautnya ke muka datar. Sebenarnya dalam hati dia sudah gondok.
"Uhmm tadi aku...," kalimat Isha terputus yang terpungkas oleh Vina yang baru saja datang setelah dia pergi dari WC umum.
"Kafa! aduhh ternyata kamu di sini, Dino mana?" tanya Vina.
"Uhmm dia sama ajudanku," jawabnya rada gugup.
Lalu Kafa terdiam sejenak hendak melihat reaksi Isha setelah kedatangan Vina yang begitu mengejutkannya. Kafa terlihat sedikit gugup dan bingung.
"Anak itu anak kamu sama Vina?" tanya Isha dengan tangan bergetar.
"Hmmm bu..," Kafa hendak berujar dengan nada pelan. Menjelaskan apa yang sudah terjadi. Namun Vina segera menyapa Isha dan memotong ucapannya.
"Ehhh ini Isha ya? halo apa kabar?" sapa Vina dengan ramah. Sengaja mencegat perkataan Kafa. Wanita itu mengayunkan tangannya. Begitu juga Isha menjawabnya dengan sedikit enggan.
"Aku baik, sangat-sangat baik," jawab Isha agak ketus.
"Aduhhh senang banget ya ketemu lagi sama kamu, kamu makin cantik aja Sha, gimana sekarang? kamu udah nikah?" tanya Vina dengan senyum yang menyiratkan sesuatu.
__ADS_1
Jelas pertanyaan semacam pernikahan membuat Isha dongkol. Siapapun yang bertanya tentang itu padanya Isha akan kesal. Sekalipun orang terdekatnya.
"Aku udah nikah atau belum, gak ada urusannya sama kamu," jawab Isha ketus.
Vina terkesiap dengan perubahan raut Isha yang menekuk. Namun Vina tahu jelas bahwa Isha belum menikah. Dia hanya mengetesnya saja.
"Loh Sha aku nanya baik-baik loh sama kamu,"
Bahkan Isha tak percaya sama sekali. Apakah Vina orang yang sudah berubah atau belum. Isha masih menganggap Vina adalah musuhnya. Masih menganggapnya sebagai orang yang sudah merebut kebahagiaannya.
"Gak usah sok baik di depan aku, kamu lupa dosa yang kamu buat dulu, kalian berdua sudah bekerja sama buat hancurin hidup aku!" timpal Isha. Mukanya yang putih pias.
"Isha kenapa kamu bilang begitu? aku sama Vina sekarang gak ada hubungan apa-apa lagi, soal di masa lalu bukannya kamu udah maafin aku?" Kafa berusaha berdalih.
Setelah mendengar itu. Isha tentunya semakin kesal. Pria ini begitu inginnya mendapat permohonan maaf dari Isha. Namun kenyataannya dibelakang berbanding terbalik dengan ucapannya. Sifat Isha yang mudah sekali overthink dan mengalami trust issue karena peristiwa di masa lalu. Semakin wanti-wanti takut tersakiti yang kedua kalinya oleh Kafa.
"Gak! setelah lihat kalian berdua masih akrab begini, aku ralat permohonan maaf dari kamu, aku gak jadi maafin kamu!" keputusan Isha meralat permintaan maaf dari Kafa sudah bulat.
"Sha! kamu gak bisa nilai aku dari apa yang kamu lihat, kamu gak tau kan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Vina, kamu jangan asal ambil keputusan begitu," upayanya.
"Ya memang, aku gak tahu apa yang udah terjadi sama kalian, makanya aku punya hak untuk menilai kalian dari pandangan aku, karena aku bukan dukun atau peramal yang bisa nerawang masa depan atau masa lalu," tandasnya.
"Sha, bisa gak kamu dengerin aku dulu, kenapa kamu dari dulu selalu gak bisa kasih kesempatan buat aku bicara dan menjelaskan perasaan aku sih,"
Isha menatap Kafa tajam lalu beralih memandang Dino yang sedang berjalan mendekat dengan ajudan yang mentitahnya berjalan.
"Selamat ya! kalian pasangan yang cocok," Isha menjabat tangan keduanya. Kafa dan Vina terdiam kebingungan.
Sejatinya Isha juga manusia biasa yang keras kepala dan punya batas diri. Akhirnya dia lebih memilih pergi menghiraukan Kafa.
"Terserah dia mau mohon sebanyak apapun dan menjelaskan sebanyak apapun kalau dia itu gak ada apa-apa sama Vina, toh dia sama Vina jelas udah nikah dan punya satu anak," gerutunya. Isha tetap bersikeras dengan tuduhan dan pikirannya sendiri.
Sedangkan Kafa sangat marah dengan Vina yang tidak membiarkan dirinya untuk menjelaskan.
"Kenapa kamu motong ucapan aku tadi? aku kan mau menerangkan semuanya ke Isha, kalau kita emang udah gak ada apa-apa,"
"Ya kamu aja kurang tegas dan jelas, dari dulu juga kamu selalu mengedepankan ego dan gengsi kamu, kalau kamu cinta sama dia harusnya kamu berusaha dengan sejelas-jelasnya! kamu yang terlalu bertele-tele!" ucap Vina menyalahkan Kafa.
Author : Nur Isthifaiyatunnisa
__ADS_1