Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Belajar mencintai


__ADS_3

*Happy reading guys*


"Ya ampun Isha, habis kemana aja kamu nak? nih mama nungguin kamu beliin bumbunya sampe mama matiin dulu kompornya, mama udah laper pengen cepetan makan rendang buatan mama sendiri," gara-gara Isha pulang terlambat mama Rita jadi mengomel. Kalau sudah mengomel pasti bakalan dibahas sampai besok apalagi kalau sampai menyinggung tidak dewasa dan pernikahan. Isha uring-uringan.


"Maaf ya ma, tadi ada sedikit halangan,"


"Ya udah, sana kamu mandi! mama mau lanjut masak lagi," ucapnya dikit-dikit ketus.


"Oke ma,"


"Kalau udah mandi, pakai baju langsung makan ya,"


"Oke mamaku yang syantik,"


Isha segera mandi melepaskan penat dan beban pikirannya yang telah dia lewati di hari ini.


Isha mandi dengan khidmat, mandinya sudah mirip-mirip di iklan sabun mandi. Pakai shower, menikmati setiap guyuran air yang membasahi helai rambut dan setiap inci tubuhnya. Lalu menjiwai dan terus membayangkan potongan peristiwa-peristiwa tadi.


"Kok aku jadi melankolis begini?" batin Isha.


"Kenapa akhir-akhir ini Kafa sering muncul di hadapan aku? Di saat aku baru jadian sama Rio, aneh aja gitu? jangan-jangan Rio itu temennya Kafa? atau Rio kenal sama Kafa?" gumam Isha.


"Isha! mandinya jangan lama-lama, rendangnya udah mateng! kalau mandi jangan suka ngomong sendirian di dalem, nanti ada setan ikutan ngobrol!" nampaknya mama Rita mendengar gumaman Isha. Yang akhirnya Isha hanya berdecak kesal mendengar omelan-omelan itu.


Daripada mengomel terus Isha mempercepat mandinya.


Isha selesai mandi, pakai baju lalu turun ke meja makan.


"Nohhh pah anak gadisnya baru selesai mandi," mama Rita menunjukkan layar hpnya. Kebetulan mereka sedang video call. Mama Rita sedang merindukan suaminya yang berlayar di kapal pesiar. Sudah kewajiban mereka untuk video call sehari sekali setiap pukul 5 sore. Kalau tidak dituruti, mama Rita akan ngambek 7 hari 7 malam.


"Mana anak gadis papa? umur berapa kamu tahu depan?" tanya sang papah. Kalau udah bahas umur perasaan Isha mulai tak enak. Kenapa pula papahnya lupa dengan umur anaknya sendiri.


"Humm lupa pah," jawab Isha sembarangan.


"Yehhh, umur sendiri lupa, papah mah wajar kalo lupa, tanggal lahir sendiri aja lupa,"


"Dua puluh enam pah, tapi gak nikah-nikah, Rionya masih sibuk sama kerjaannya terus," sambung mama Rita sedikit menyinggung.


"Isha sih tergantung cowonya pah, sebenarnya kalo sekarang ada cowo yang ngajak nikah, Isha siap-siap aja kok, ya pokoknya kalo Rio minta cepet-cepet gak papa," entah kenapa pemikiran Isha soal menunda pernikahan sedikit berubah.

__ADS_1


"Serius kamu?" tanya mama Rita.


"Iya dong ma,"


"Tuh pah denger, anak kamu udah siap nikah,"


"Bagus dong, nah nanti tugas kamu tanya kepastian sama Rio, bilang sama dia jangan lama-lama pacaran, langsung nikah aja,"


"Tapi apa gak terlalu kecepetan ya kalau misalkan Isha tanya kepastian sekarang?"


"Loh gak ada yang namanya kecepetan kalo dia beneran serius sama kamu, daripada lama-lama gak jelas dan ujung-ujungnya abu-abu juga, nanti kamu lagi yang rugi, umur kamu sayang udah gak muda lagi, kita juga pengen nimang cucu, papah sama mama udah tua," mendengar ungkapan dari sang papah, Isha merasa sangat bersalah dalam dirinya dan rasa tertekan pula karena harus memenuhi amanah itu.


Ya mama dan papahnya sudah tidak muda lagi. Bahkan umurnya sudah paruh baya. Isha memang agak takut jika keinginan mereka tak terpenuhi.


Setelah makan dengan mama Rita. Isha masuk ke kamar merenungi apa yang barusan papahnya katakan.


Dia tidur terlentang memandangi langit-langit kamarnya sambil terus memikirkan caranya dia menikah dengan Rio.


"Apa aku harus ngerangkai kata-kata dulu buat tanya ke Rio soal pernikahan, rasanya kosong aja gitu, gimana aku mau nikah sama dia, sedangkan aku belum ada perasaan sama sekali, bahkan perasaan yang tadinya sempat ada tiba-tiba lenyap gara-gara Kafa," batinnya.


Isha membuat buku reminder untuk dirinya. Kiat-kiat untuk move on dan mencintai orang baru dengan tulus. Dia menulis apa-apa yang harus dia lakukan dan apa-apa yang tidak harus dia lakukan. Bagaimana caranya mencintai dan bagaimana menumbuhkan perasaan.


Isha memang lupa caranya mencintai, lupa rasanya getaran cinta, lupa rasanya bahagia karena seorang pria, kadang rasa itu tidak bertahan lama, hanya sekejap lalu menghilang tanpa membekas apapun setelahnya. Semuanya berakhir di masa dia dengan Kafa. Lalu hari-hari berikutnya tak ada lagi.


"Jadi langkah pertama adalah memperbanyak komunikasi, jadi sekarang aku harus nelpon Rio, mana hpku ya?" Isha mencari-cari meraba-raba dibawah bantalnya.


Setelah mendapatkan benda kotak gepeng itu, dia menyalakan hpnya dan menggulirkan layar hp kebawah mencari nama Rio dibarisan kontak.


"Pertama-tama aku ganti dulu nama kontaknya jadi sayang," Isha mengganti nama kontak Rio jadi sayang.


"Gini?" menimbang-nimbang.


"Mungkin baby atau honey atau my love, darling atau nama singkatan, Riyang\=Rio sayang," nama Riyang menjadi nama yang dipilih Isha untuk menamai kontaknya.


"Aku kasih emot love, berlebihan gak ya? tapi.... gak papa deh,"


Untuk mengganti nama kontak saja butuh waktu 20 menit untuk berpikir. Lalu langkah selanjutnya adalah menghubungi Rio.


(Hallo sayang) pertama kalinya Isha memanggil sayang kepada Rio lewat telpon. Rasanya agak canggung.

__ADS_1


(Hallo sayangku, kangen ya? aku mau peluk jauh dong) Rio memulai candaannya.


(Pengen peluk tapi jauh) kalimat itu terlontar dari mulut Isha begitu saja. Isha terus mempertahankan perasaan senang dan bahagianya untuk Rio. Menambahkan sedikit bumbu-bumbu manja.


(Uhmm sayang, apa aku pulang dulu ya buat ketemu kamu, rasanya aku udah gak tahan)


(Eh jangan sayang, aku gak mau ganggu kerjaan kamu, nanti aku dimarahin sama papa kamu)


(Engga kok, engga akan berani)


(Oh iya, nanti hari sabtu bisa engga nemenin aku kondangan?)


(Dimana sayang?)


(Sahabat aku nikah, tau kan Nina?)


(Aku lupa Nina yang mana)


(Oh ya, waktu itu kamu gak sempet ketemu ya? tapi bisa kan yang?) tanya Isha lagi.


(Bisa, aku selalu pengen ngelakuin hal yang disuruh kamu) gombal Rio membuat Isha guling-guling diatas kasurnya dan menggigit-gigit bantalnya. Kya!!!! mleyot hatiku.


(Uhmmm masa?)


(Iya dong)


(Kalau suruh pindahin Piramida ke rumah aku gimana?)


(Bisa-bisa, aku harus jadi om jin dulu buat mindahin Piramida ke rumah kamu) keduanya tertawa terbahak-bahak. Akhirnya kecanggungan mulai menghilang.


(Jangan jadi om jin dong, aku pengennya tetep Rio)


(Kamu nih ada-ada aja, kalau didepan aku udah aku cubit pipinya yang tembem itu) goda Rio. Suaranya yang manly membuat Isha lemah iman.


(Ihh aku gak tembem tau)


Dan sampai tengah malam perbincangan mereka terus berlanjut. Dan membicarakan hal yang itu-itu saja. Namun mengasyikan untuk dibahas.


Author: Nur Isthifaiyatunnisa

__ADS_1


__ADS_2