
*Happy Reading Guys*
Di dalam warung angkringan pinggir jalan yang paling terkenal di jalan X. Isha dan Anjani mampir ke sana untuk mengisi perut mereka yang kosong dan lapar akibat mengelilingi satu toko buku.
Hanya berkeliling sebentar tapi sudah membuat perut-perut para wanita itu kelaparan.
Mengganjal perut adalah yang paling utama ketika bepergian. Sebelumya Anjani sudah bersemangat memesan banyak menu makanan yang harganya terbilang cukup murah. Sedangkan Isha hanya mengikut saja. Hanya memesan dua jenis makanan dan satu minuman sudah cukup bagi Isha.
Anjani juga bersemangat menyantap makanan-makanannya. Mulutnya bahkan tak mau diam, nyerocos tak henti-henti mengomentari setiap makanan yang dia makan.
"Hmm enak banget nih ayam, bumbunya beda dari ayam-ayam di warung lain, gue gak nyangka sih ada ayam seenak ini meskipun tanpa sambel, nih ayam kalo dicocol pake sambel terasi enak banget deh sedep, lain kali gue bawa suami ke sini kali ya, gue baru tahu ini ayam seenak ini, kenapa gak dari dulu aja ya gue ke sini ya," seru Anjani sambil terus mengunyah makanannya yang masih tersangkut penuh di mulutnya.
Sedangkan Isha mulai merasa jengah dengan suara Anjani yang begitu berisik mengganggu ketenangannya saat dia sedang sama-sama menyantap makanannya. Anjani bagaikan kritikus makanan yang tiap menitnya nyerocos.
"Bisa diem gak Jan? gue gak fokus makan nih! ayam gak jadi gue kunyah kalo lo ngomong terus," protes Isha dengan raut muka sebalnya. Karenanya Isha jadi tidak tenang untuk makan. Anjani tiba-tiba berhenti sejenak lalu memandang sinis pada Isha.
"Dihh makan mah makan aja, ngapain ribut cuma gara-gara suara, emang gue gini kok," elak Anjani tak mau kalah.
"Heh liat noh! semua pada liatin lo! ini angkringan bukan restoran VVIP baby!" saking gemasnya pada Anjani, Isha sampai mencubit lengan Anjani yang gembul.
"Ihhh sakit tau Sha! mereka mah sirik, gak bisa lihat orang bahagia, biarin mau dianggap apa sama mereka yang penting aku bahagia menikmati ayam ini," ucap Anjani berdalih dengan berlebihan.
Drrt drrtt (hp berdering beberapa kali
Tiba-tiba saja hp Anjani berbunyi. Ternyata suaminya menelpon. Tertera nama my darling di layar hpnya dengan tambahan emoticon hati.
"My darling nelpon," ujarnya setengah berbisik. Matanya membola dengan tatapan serius.
"Tuhh kan, kamu sih maunya mampir kemana-mana terus, suami kamu nyariin kan sekarang? urusannya gimana tuh?" ucap Isha kesal.
Sebab Anjani yang bandel tidak mau cepat-cepat pulang. Malah-malah kebablasan mampir ke tempat-tempat hits di kota. Anjani bilang mumpung sedang bareng teman jadi dia puas-puaskan main. Tidak tahu perasaan temannya yang panas dingin jika di
__ADS_1
"Tenang say! suami aku gak akan marah kok, kalau marah pun paling ke aku,"
"Dijamin kan? Awas ya kalau suami kamu marahnya ke aku, aku cubit kamu gak ada ampun,"
"Aku jamin deh, gak akan," Anjani menelan bulat-bulat ayam goreng itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap.
Drrt Drrtt
Dan lagi, suami Anjani menelpon lagi. Anjani memutar bola matanya malas.
"Ganggu aja sih my suami, gak bisa ya istrinya seneng sejenak," celotehnya.
"Cepetan habisin! suami kamu udah habis kesabaran itu!" ucap Isha asal untuk menakut-nakuti Anjani.
Karena berkali-kali kemudian telpon tidak henti-hentinya berdering. Dan suaranya mengusik ketenangan di sekitar. Lama-kelamaan Anjani pun malu dan cepat-cepat menghabiskan makanannya. Isha bergegas membawanya keluar tak lupa juga dia membayar di kasir.
Buru-buru Anjani mengangkat telpon dari sang suami yang raut wajahnya sudah Anjani bayangkan. Betapa seramnya dia kalau sedang marah.
Anjani memberi kode pada Isha agar tak membuat suara. Barulah dia membuka telpon dan mendekatkannya ke telinga.
"I-iya sayang, sebentar lagi aku pulang," jawab Anjani tersendat dan takut-takut.
"Pulang apanya? kamu sama sekali belum di perjalanan kan?"
Suaminya bagai cenayang. Isha bahkan sampai menggelengkan kepala mengetahui kemampuan suami Anjani.
"Iya ini mau pulang sayang, makanya jangan marah,"
"Aku udah terlanjur marah! sekarang kasih tahu dimana kamu sekarang?!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Mau apa tanya begitu? aku gak mau pulang sama kamu! aku mau pulang bareng Isha!"
__ADS_1
Isha menepuk jidatnya saat Anjani dengan sengaja menyebutkan namanya untuk pengaduan. Dia sudah terseret dan tidak bisa mengelak lagi.
"Kenapa kamu sebut nama aku sih?!" Isha menahan kesal dan gregetan. Rasanya mau memukul kepala Anjani saat itu juga.
"Oke, aku udah lacak nomor kamu, ternyata kamu lagi di kota, aku datengin kamu sekarang!" suaranya terdengar seperti ancaman penjahat. Suami Anjani begitu sungguh-sungguh. Lalu panggilan pun berakhir. Isha dan Anjani saling bertatapan dengan tatapan ketakutan.
"Gimana Anjani? suami lo marah dong! Lo sih!" timpalnya.
"Ihh jangan nyalahin gue juga dong! suami gue yang terlalu posesif! eh bentar-bentar Sha, mata gue salah lihat atau apa ya? mirip pak walikota ya, coba lo lihat sana!" pinta Anjani sembari jari telunjuknya mengarah ke suatu tempat.
Isha menoleh ke sana kemari bingung.
"Apa sih?"
"Coba lihat ke sana Sha!" dengan sedikit kasar Anjani memutar dagu Isha dengan tangannya ke arah yang dimaksud.
Isha tertegun lama. Ketika melihat seseorang yang dikenalinya ada di hadapan sana.
Kafa terlihat sedang berbincang dengan Vina masa lalu Kafa sendiri. Apalagi perempuan itu sembari menggendong anak lelakinya. Dan lebih menyakitkannya lagi mereka saling menatap dan berbicara dengan serius.
Lalu tak lama Kafa pun terlihat meminta kepada Vina untuk menggendong anak itu. Dino, bahkan Isha ingat sekali nama anak yang disebut Vina waktu itu. Dino begitu senang ketika berada dipangkuan Kafa. Isha segera menggugah hatinya yang mulai terasa sesak.
"Jadi anak itu...," ucapnya tersendat sebab saliva begitu melekat ditenggorokannya. Kenyataan yang tak pernah ingin dia saksikan langsung.
"Dia anak siapa Sha? Omg jangan bilang itu anaknya...," mulut Anjani menganga lebar lalu segera dia tutup dengan tangannya.
"Kenapa sakit? kenapa sesek? bukannya dulu juga pernah lihat kejadian ini? bukannya dulu juga udah nerima rasa sakit ini? harusnya terbiasa dong, harusnya udah paham dong harusnya gimana?" batin Isha bermonolog.
Tanpa sadar tas belanjaan yang dia bawa sudah teremas begitu kuat. Hingga tali pengikatnya hampir putus.
"Harusnya aku berpikir jernih waktu itu, gak terlena sama omongan manisnya meskipun dia nolongin aku, harusnya aku tau dan sadar kalau Kafa itu cuma main-main dan sampai kapanpun dia cuma mau mempermainkan aku, seharusnya aku sadar dan memikirkan soal anak yang sekarang digendong Vina adalah anak Kafa juga, kamu bodoh Sha! bodoh banget! lihatkan sekarang! kenyataannya mereka masih berhubungan baik dan kamu dibodohi yang kedua kalinya!" dari dalam dirinya terus membatin perih, sesak dan kecewa.
__ADS_1
Isha merasa bodoh mengetahui hubungan yang terlihat diantara keduanya. Padahal itu hanyalah kesalahpahaman belaka.
Author: Nur Isthifaiyatunnisa