Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Tidak ada ciuman


__ADS_3

*Happy Reading guys*


Rio baru saja keluar dari mobilnya berjalan masuk ke ruang tamu rumah Isha dengan menenteng dua kresek putih bertuliskan brand makanan. Dengan senyum semangat dia menyapa mama Rita yang sudah menyapanya di ruang tamu. Dia memang selalu menggebu-gebu jika Rio hendak bertamu ke rumahnya. Perlakuan mama Rita pun lebih ramah pada Rio dibanding pada anak perempuannya sendiri.


"Aduhhh repot-repot bener nih nak Rio bawain makanan segala, padahal mama juga masak loh, makasih ya," ucap mama Rita basa-basi padahal dia senang bukan kepalang mendapatkan banyak makanan.


"Gak papa ibu mertuaku yang cantik," puji Rio membuat pipi mama Rita mengembang.


"Uhmmm bisa aja, cari Isha kan? bukan cari mama?"


"Hehehe iya dong ma, anak mama yang cantik itu mana?" tanya Rio dengan nada menggoda.


"Anak mama baru pulang tuh, dia lagi ada di kamarnya, kayanya lagi pakai baju, baru mandi dia,"


"Oh gitu, ya udah Rio nunggu aja di sini,"


"Iya nanti juga keluar dia, kalau gak keluar mama nanti yang manggil,"


"Oke ma,"


Setelah menerima kresek makanan tersebut, Mama Rita pun langsung membawanya ke dapur.


"Yuhuuuu dapet makanan enak,"


Tak lama, akhirnya Isha pun keluar dari kamarnya dengan penampilan yang segar. Isha baru saja selesai dari ritual mandinya yang begitu lama. Mandi susu. Alias mandi susu ala spa rumahan.


"Tuhhh nak Rio udah dateng, bawa makanan enak lagi, ajak ngobrol tuh, jangan dicuekin!" tegur mama Rita pada Isha dengan berbisik-bisik.


"Iya iya, Isha ngerti ma," ucap Isha dengan memutar bola matanya malas. Lalu dia menghampiri Rio yang sedang duduk di sofa sambil memainkan hpnya.


Setelah Isha mendekat, Rio pun mematikan hpnya dan mulai berbicara pada Isha.


"Sini duduk!" Rio menepuk-nepuk sofa disampingnya. Meminta Isha duduk di sana.


"Maaf ya aku baru dateng, baru selesai mandi nih,"


Rio tiba-tiba mendekat dan mengendus-endus di sekitar telinganya.


"Ehhh kenapa?" Isha terkejut dan sedikit beringsut karena tak nyaman.


"Kamu wangi,"


"Iya nih habis shampoan," Isha senyum tak nyaman.

__ADS_1


"Shampo kamu wangi pake shampo apa?"


"Shampo khusus rambut kering, yang baunya olive oil itu loh,"


"Oh, rambut kamu juga halus," Rio memuji sambil menyisir rambut Isha dengan jari jemarinya. Isha hanya tersenyum kikuk. Bukan karena dia malu. Tapi dia sedikit risih dengan sikap Rio. Tapi Isha berusaha menahan rasa itu. Dan mencoba nyaman di dekat Rio.


"Kamu mau tau merek shamponya?"


"Engga, tapi setiap kali kamu habis shampoan aku mau cium rambut kamu," ucap Rio begitu manis hingga Isha tersipu sendiri.


"Kamu aja deh cium rambut kamu sendiri,"


"Gak bisa, kan rambut aku pendek sayang,"


Seketika suasana hening, Rio mendekatkan dirinya pada Isha untuk bercengkrama lebih dekat dan mendekatkan wajahnya pada Isha.


Namun Isha segera menghentikan Rio sebelum sesuatu yang lebih terjadi di antara mereka.


"Rio stop!" Isha memberi jarak bibirnya dengan bibir Rio menggunakan jari telunjuk.


"Aku kira yang sekarang kamu gak akan nolak," Rio sedikit kecewa.


"Aku akan tetep nolak sebelum kita sah ya," Namun Isha tetap bertindak tegas untuk menolak berciuman. Karena dia juga tak mau kisah lama terulang kembali. Bisa saja kan Rio bukan jodohnya. Isha takut seperti yang dulu dia pernah alami bersama Kafa. Pokoknya tidak ada lagi ciuman kedua yang haram sebelum mereka berdua menjadi sepasang yang sah. Itu hanyalah sebagai proteksi dirinya sendiri.


Dari jauh terdengar suara langkah kaki mendekat seperti suara sepatu. Ternyata yang datang adalah Bila sepupu Isha yang masih SMA. Dia datang dari desa sebelah.


"Mba Isha!" seru Bila dengan senyum lebar. Bila melepas sepatunya dan masuk. Gadis itu membawa tas ransel yang besar berisikan baju-baju.


"Ehh Bila, sini masuk! Baru main lagi nih bocah, kemana aja kamu? Mba Isha gak ada temen tidur kalo kamu gak main ke sini," ucap Isha. Dia senang melihat Bila akan menginap di rumahnya malam ini.


"Hehehe iya mba maaf, Bila sibuk ngerjain tugas sekolah, banyak kerja kelompok juga," Bila terdiam dan sedikit bingung melihat laki-laki yang duduk berdekatan di sebelah Isha.


"Cieeee siapa mba?" goda Bila dengan lirikan matanya pula.


"Ini pacar mba, kenalan dong biar tau,"


Bila mendekati Rio lalu duduk di sampingnya.


"Aku Bila!" Bila mengulurkan tangannya lebih dulu. Gadis ini tersenyum ramah.


"Panggil aja mas Rio,"


"Hummm mas Rio, pacaran sama mba Isha dari kapan?"

__ADS_1


"Baru-baru kok,"


"Wihhh masih anget ya hihihi," Bila terkekeh kecil.


"Kamu nih!"


"Aku paham kalo soal pacaran,"


"Iya kamu emang jago pacaran, tapi tetep sekolah harus bener,"


"Iya dong, masa pacaran jago, sekolah gak jago, kan mba juga sama kaya waktu sekolah dulu jago pacaran,"


"Ssssttt Bila! jangan gitu ah!" Isha langsung menepuk bahu Bila yang duduk diantara Isha dan Rio.


"Hehehe maaf mba, Bila bercanda, mas Rio jangan percaya ya, mba Isha itu orangnya setia kok, tapi mas Rio jangan pernah nyakitin mba Isha, nanti aku yang pasang badan buat mba Isha kalo mas Rio ngapa-ngapain mba Isha, awas loh ya!" ucap Bila dengan serius namun dengan raut wajah yang bercanda.


"Uluhhh Bila sok sokan ah mau jagain mba Isha!" mama Rita ikut nyahut.


"Ya gak papa dong, Bila kan udah gede, Bila juga sayang sama mba Isha, mba Isha udah jagain Bila dan nemenin Bila main,"


"Iya oke, Bila laper engga? tadi mas Rio bawa makanan, kalo mau makan ambil di meja dapur ya, di kulkas juga ada," mama Rita menawarkan Bila makanan.


"Wahhh Bila mau dong, tapi Bila mau naruh tas dulu di kamar mba Isha,"


"Boleh-boleh hayuk!" mama Rita merangkul Bila. Gadis itu masuk ke kamar Isha dan melempar tasnya di sana. Kemudian mama Rita membawa Bila ke dapur. Mama Rita sengaja membawa Bila ke dapur agar Rio dan Isha bisa mengobrol berdua.


"Aku ke sini ketemu kamu karena besok aku bakal ada kerjaan diluar kota, jadi aku pengen berduaan sama kamu lama-lama, biar nantinya gak nyesel biar stok kangennya gak terlalu penuh,"


Mendengar Rio yang tiba-tiba akan pergi ke luar kota. Isha sedikit terkejut.


"Loh kok tiba-tiba?"


"Iya sayang emang tiba-tiba, maaf ya, aku disuruh ayah buat mantau cabang perusahaan yang ada di Bandung, kamu tahu kan aku ini anak satu-satunya yang paling mereka andalkan,"


"Iya aku tahu,"


"Jangan ngambek ya, nanti kalo kangen jangan marah-marah, bilang aja kangen," ucap Rio dengan mencubit hidung Isha. Dan menatapnya dengan binar cinta.


"Aku gak marah, yang penting kita masih bisa berkomunikasi karena kunci hubungan yang paling utama adalah komunikasi dan saling pengertian, aku gak mau sehari pun kamu gak hubungin aku,"


"Oke sayang kalo itu mau kamu, aku bakal kasih kabar ke kamu, sehari dua kali atau tiga kali deh,"


Dari dulu Isha memang tidak mau hubungan yang diam tanpa komunikasi. Komunikasi itu penting, sesibuk apapun orang, jika orang itu dirasa penting pasti akan berkabar. Isha mau dianggap ada dan penting.

__ADS_1


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2