
*Happy reading guys*
Hari ini Isha hendak pergi ke toko buku. By the way luka dikakinya sudah sembuh karena tinggal bekas-bekasnya saja.
Dia hendak membeli buku materi untuk bahan ajarnya. Karena merasa buku lamanya kurang lengkap pembahasannya. Dia juga perlu beberapa alat tulis untuk dia beli. Dia pergi ke toko ditemani teman satu profesinya, namanya Anjani yang sama-sama mengajar di sekolah yang sama.
Awalnya dia ingin pergi sendirian, namun Anjani meminta alias memaksa Isha untuk membawanya pergi ke toko buku bersamanya.
Kebetulan hari ini sekolah pulang lebih cepat karena sebentar lagi menjelang ujian tengah semester dan baru saja selesai diadakan rapat untuk persiapan. Jadi mereka keluar 2 jam lebih awal dari jam operasional.
Isha dan Anjani menuju parkiran kendaraan khusus untuk guru.
"Aku yang nyetir ya?" pinta Anjani dengan wajah ingin.
"Serius kamu bisa nyetir motor?" tanya Isha memastikan dan meragukan. Padahal Isha belum pernah melihat temannya itu menyetir motor. Karena biasanya dia diantar jemput suaminya. Jadi Isha ada rasa ragu saja kalau misalkan Anjani yang menyetir.
"Bisa dong," jawab Anjani percaya diri.
"Kamu udah izin sama suamimu belum kalau mau pergi sama aku?"
"Belum, aku sengaja gak bilang sama dia karena aku tahu pasti dia bakal gak izinin aku,"
"Aduhh Anjani kenapa kamu gak izin dulu? nanti kalau ada apa-apa aku lah yang disalahin sama suami kamu," Isha berdecak kesal. Bagaimana Isha tidak kesal, penampakan suami Anjani sangat sangar dan dia begitu protektif pada istrinya. Jadi wajar kalau Isha takut nanti suaminya protes padanya.
"Udah lah sini! mana kuncinya? biarin suamiku marah, paling marahnya sama aku, karena aku yang bandel," sangkalnya.
"Awas aja ya kalau aku yang kena semprot suamimu!"
"Nih!" Isha menyerahkan kunci motornya pada Anjani dengan sedikit melempar.
Anjani dengan cekatan membuka kunci motornya dan mengeluarkannya dari parkiran.
"Yuk bonceng! Alhamdulillah akhirnya aku bisa nyetir motor lagi," ujar Anjani dengan senyum sumringah.
"Duhhh nih orang kaya baru pertama kalinya naik motor aja,"
"Suamiku itu gak bolehin aku naik motor lagi, makanya setiap hari aku diantar jemput, soalnya dulu aku pernah jatuh dari motor dan sampai kakiku patah akibat kecelakaan itu,"
"Hummm pantes suami kamu begitu galak,"
"Ya begitulah suami aku,"
Anjani merasa senang bisa mengendarai motor lagi. Setelah sekian lama sejak 3 tahun lalu pernikahannya dengan sang suami. Anjani juga jarang sekali berkumpul dengan teman-teman satu profesinya karena terkadang suaminya tak mengizinkannya berkumpul.
__ADS_1
"Hari ini pelantikannya mantanmu itu loh Sha," celetuk Anjani ketika sedang mengendarai motornya. Isha masih bisa mendengar apa yang dikatakan Anjani meski angin begitu memburu di telinganya.
Isha memutar bola matanya malas setelah melihat ekspresi meledek Anjani dari kaca spion. Wanita itu mengerlingkan matanya tiba-tiba.
"Ihh apa sih bahas mantan terus? mantan ya mantan Jan, udah gak penting lagi," tukas Isha pura-pura tak peduli.
"Bohong ah! aku gak percaya kalau kamu udah gak ada rasa sama dia, kemarin buktinya kamu masih mau diajak pak Kafa buat ngobrol berdua," desak Anjani lagi dengan kekehan kecil.
"Itukan profesionalitas Anjan, dia minta aku ngobrol bareng kan di sekolah bukan di kafe, gak etik dong kalau aku nolak dia waktu itu cuma karena dia masa lalu aku atau cuma karena masalah pribadi aku,"
"Satu sekolah sampe rame dan geger, apalagi tuh bocil-bocil! masih kecil udah ngerti kalau Bu Isha pacarnya pak walikota,"
"Oh iya? jangan-jangan kamu yang ngajarin mereka? Tapi kok aku gak pernah dengar dari mulut mereka ya?
"Enak aja! mereka juga ngerti kali! anak-anak jaman sekarang mana ada yang polos dan gak tau namanya pacaran, kayanya murid-murid kamu itu gak berani bilang langsung di depan kamu, takut dihukum suruh maju ke depan kelas hahahaha,"
Anjani tergelak keras. Sampai akhirnya mereka tiba di toko buku yang mereka tuju.
"Benerkan ini tokonya?" tanya Anjani memastikan sambil memarkirkan motornya di sana.
"Iya bener banget,"
Gedung toko yang begitu besar. Memiliki 4 lantai dengan cat merah dan kuning yang mendominasi. Serta 60 persen temboknya terbuat dari kaca. Halaman parkirnya juga luas dan rindang jadi tak perlu khawatir kepanasan.
"Ikut dong, ogah banget nunggu kamu diluar sendirian kaya orang hilang, kalau udah kedalem toko pasti cewe mah ada aja yang mau dibeli, lagian aku bawa uang kok,"
"Humm awas kalap!"
"Hayukk ah! biasanya juga kalap,"
Akhirnya mereka masuk ke dalam toko. Memilah dan memilih apa yang akan mereka beli.
Terjejer rak-rak buku kira-kira satu lantai itu dipenuhi seratus rak buku. Yang setiap raknya diisi puluhan buku. Setiap raknya diberi penanda genre atau jenis buku agar pembeli atau pengunjung dapat mengenali jenis bukunya.
Isha langsung saja pergi ke barisan rak buku matematika untuk tingkat sekolah dasar. Dia mencari buku paket matematika yang sangat dia perlukan.
"Ini buku paket matematika buat anak kelas 5, rasanya referensi buku yang itu gak lengkap, jadi aku perlu beli buku ini buat nanti," ujar Isha sambil memperhatikan buku yang dia pegang.
"Oh iya ya? kamu kan mau dipindahin ngajar di kelas 5 ya?"
"Iya," Isha membolak-balikan buku tersebut untuk mengecek harga buku tersebut.
"Berapa Sha?" tanya Anjani.
__ADS_1
"176.000 rupiah, murah?"
"Hummm murah dong," Anjani tersenyum kecut melihat harganya.
"Dah jangan mikirin harga, nanti tinggal minta ganti aja duitnya sama pak Yoman,"
Pak Yoman adalah kepala sekolah di sekolah tempat Isha mengajar.
"Iya emang aku pengennya begitu,"
"Eh eh itu ada ribut-ribut apa?" ucap salah seorang pengunjung toko kepada kawannya saat melintas di belakang Isha dan Anjani sambil berlalu pergi keluar toko.
Isha dan Anjani saling bersitatap.
"Ada apa sih?" tanya Anjani. Isha mengedikkan bahu tidak tahu.
Para pengunjung yang lain ikut berhamburan keluar toko tertarik melihat keributan diluar. Ada dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang bertengkar hebat.
Di sana sudah ada beberapa orang yang melerai termasuk kasir toko buku dan satpamnya.
"Tolong ya mas dan mba nya kalau ribut jangan di sini! ini tempat umum, nanti mengganggu orang lain yang mau datang kemari," satpam berusaha menengahi. Tapi salah seorang dari mereka kekeuh dan malah menyerang lawannya.
"Siapa sih? gak tahu malu banget ribut diluar, kalau masalah rumah tangga ya jangan ribut di depan umum lah, ganggu jalan aja," gerutu Anjani yang melihat keributan di tengah sana.
Mereka berdesakkan hanya untuk melihat keributan tersebut. Karena badan Anjani lebih tinggi dari Isha jadi dia mudah melihat keributan di tengah sana.
Sedangkan Isha bersusah payah jinjit-jinjitan hanya demi melihat itu.
"Apa sih Jan? nasib badan mungil begini amat," dengus Isha kesal.
"Lo gak usah balik ke rumah! selingkuh aja sana sama pelacur itu! dasar laki gak tanggung jawab!" teriak salah seorang dari mereka. Itu suara perempuan yang terdengar tidak asing di telinga Isha.
"Apa lo?! bisanya nuduh aja! gak mau tau fakta yang sebenarnya!" teriak laki-laki tersebut membalasnya dengan tatapan tajam yang meledak-ledak.
"Udah woy bubar! bubar! kalian berdua bubar!" pak satpam setempat berusaha membubarkan penonton yang berkerumun.
"Orang itu udah diamanin Sha," ujar Anjani.
"Sial! padahal aku kaya kenal suara perempuan yang teriak tadi," ucapnya sambil berpikir.
"Siapa Sha?"
"Ya aku kurang tau, aku gak bisa lihat orangnya, tapi suaranya aku kenal banget, apa barusan itu Vina ya?" Isha mempraduga.
__ADS_1
Author : Nur Isthifaiyatunnisa