
*Happy reading guys*
Selama akad berlangsung tenggorokan Isha kering. Menelan saliva pun rasanya sulit. Berkali-kali dia meminum air putih hingga air di dalam botol yang ada di genggamannya habis. Sebab utamanya adalah Kafa duduk bersebelahan dengan Rio berbincang dengan begitu akrabnya.
Isha hanya khawatir kalau Kafa melontarkan sesuatu mengenai hubungan mereka di masa lalu. Dia tahu pasti bahwa pria seperti Kafa adalah pria nekat yang bisa melakukan segalanya jika dia mau. Sama seperti saat kunjungannya di sekolah, memang klise kalau alasannya hanya karena ingin bertemu dengan Isha. Tapi senekat itu dia ingin bertemu di sekolah dan menyebarkan satu gosip hingga meluas. Padahal di lain tempat pun mereka bisa bertemu.
Karena mereka terlalu dekat Isha merasa gelisah. Mulut Kafa yang kadang tidak bisa direm takut saja kebablasan.
Tak dirasa tangan Isha memilin-milin gaunnya selama berlangsung hingga gaunnya sangat lecek. Keringat dingin pun mulai bercucuran. Nampaknya sikap Isha yang begini diperhatikan oleh Kafa.
"Sepertinya pacar anda sedang tidak enak badan pak Rio," ujar Kafa sembari menoleh ke arah Isha. Isha yang sadar sedang dibicarakan langsung tersenyum simpul.
"Saya baik-baik saja kok pak Kafa, saya cuma kegerahan," ucapnya sambil tersenyum pura-pura. Tangannya mengibas-ngibas area leher.
Muka Rio berubah khawatir. Tangan besarnya menggamit bahu Isha.
"Kamu beneran gak sakit kan? tapi mukamu kok pucet gitu?"
"Gak sayang, jangan khawatir ini karena efek makeup aja kok,"
"Kalau kamu gak enak badan, jangan dipaksain ya, nanti biar aku yang kasih tau Nina,"
"Kamu ini perhatian banget sih, makasih sayang," ucap Isha berusaha romantis pada Rio di depan Kafa. Rasanya puas sekali ketika melihat perubahan raut muka Kafa yang begitu jelas. Jelas-jelas cemburu maksudnya.
"Ya udah, atau kamu mau minum lagi? kayanya daritadi kamu haus?" tawar Rio. Pria itu langsung menuangkan air putih ke gelas. Lalu dia berikan kepada Isha.
Isha tersenyum tipis.
"Makasih ya sayang," Isha menerima segelas airnya. Satu lagi sikap manis untuk membuat Kafa kepanasan.
"Sama-sama sayang," untungnya Rio pun tak malu-malu untuk menunjukkan kebucinannya di depan publik.
Akhirnya akad selesai. Pengantin masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaian mereka menjadi gaun yang baru. Namun Seno pengantin prianya menyapa para tamu-tamu besar dan menghampiri Kafa serta Rio.
__ADS_1
"Saya senang dan sangat tersanjung pak Kafa dan pak Rio telah hadir di sini, pak Kafa yang memenuhi undangan saya dan pak Rio yang memenuhi undangan istri saya, makasih atas kehadirannya," Seno menyalami kedua pria tersebut secara bergantian.
"Sama-sama pak Seno," jawab Kafa dan Rio kompak.
"Silahkan jamuannya dinikmati bersama, saya hendak masuk dahulu," Seno tersenyum ramah dan akhirnya pergi. Rio dan Kafa sama-sama mengiyakan.
Rio dengan segala kebucinannya menyiapkan satu piring kosong untuk Isha lalu dia ambil makanan berat dan jajanan yang dia pilih kemudian dia taruh di atas piring tersebut.
Setelah selesai Rio datang membawakannya pada Isha.
"Ini sayang buat kamu," menyerahkan piring berisi makanan tersebut. Juga dengan rasa bangga Rio.
"Makasih sayang," Isha merasa tersanjung sambil menerima piring tersebut.
"Ngomong-ngomong kalian berdua ini seperti pasangan yang baru jadian ya?" tiba-tiba Kafa membuka obrolan baru di tengah keromantisan mereka.
Dia datang dan duduk di sebelah Isha dengan memasang wajah sinis. Dia sinis begitu antara iri karena tidak bisa atau iri karena harusnya dia yang melakukan itu.
Rio tersenyum lebar. Sebaliknya Isha merasa dongkol dalam hatinya. Kenapa Kafa selalu mepet-mepet dan hadir di antara mereka.
"Jangan panggil aku pak, aku ini teman sekolahmu loh," protes Kafa.
Rio terkekeh.
"Ya ya oke, kalau anda merasa gak nyaman,"
"Kalian itu kelihatannya romantis banget, kaya baru-baru jadian," seloroh Kafa lagi.
Isha mengernyit heran sebab Kafa membicarakan hal yang itu-itu saja. Sedangkan Rio hanya senyam-senyum mendengarnya. Bahkan Rio tahu bahwa Kafa sedang iri padanya.
"Engga juga, kita cuma ingin saling berbagi kebahagiaan aja, sesama pasangan harus saling perhatian bukan," tutur Rio. Jawaban itu membuat Kafa terdiam. Mungkin sangat dongkol juga kan. Lalu samar-samar terdengar dia mengambil napas dalam. Nampaknya dia telah terbakar api.
"Ohh begitu, tapi aku gak biasa melakukan itu sama pasanganku,"
__ADS_1
"Seru banget Kaf, harusnya kamu coba hal yang romantis sama pasanganmu, biar betah Kaf, apa jangan-jangan kamu masih jomblo sampe sekarang?" ledek Rio diiringi dengan tawa renyahnya.
"Jangan sembarangan kalau ngomong, aku ini udah punya pacar, bahkan calon istri,"
Isha memutar bola matanya mendengar penuturan itu. Diam-diam dia menggerutu, kemarin memberitahu banyak orang kalau dia sedang cari istri sekarang dihadapan Rio bilang dia sudah punya calon istri.
"Oh ya?"
"Iya," Kafa berbohong.
"Syukurlah kalau begitu, cepat-cepat lah kamu nikah, biar jabatan jadi walikota nanti gak berstatus single, kan bingung kalau ditanya masyarakat kalau walikotanya jomblo,"
Ucapan Rio berhasil membuat Kafa kalah telak. Ternyata Rio sepandai itu untuk membuat Kafa jengkel. Isha jadi suka melihatnya.
"Kamu pas awal pacaran gak tanya siapa mantan yang pacarmu punya?" kini Kafa jadi bahas yang tidak-tidak. Makanan yang awalnya penuh di mulut Isha dan tak sempat dia kunyah tertelan begitu saja saking syoknya mendengar pertanyaan itu.
"Si Kafa ini makin ngawur aja! awas aja kalo ngumbar masa lalu mulutnya gue sumpel pake serbet!" batin Isha jengkel. Isha cepat-cepat menghabiskan makanan di piringnya.
"Aku gak mau lakuin hal bodoh itu sih, karena masa lalu ya masa lalu, yang terpenting kita fokus sama masa depan, gak usah cerita masa lalu yang buat kita dan pasangan kita tercerai berai," jawaban bijak dari Rio membuat Isha merasa tenang.
"Yang! piringnya udah kosong, bisa engga ambilin lagi buat aku?" Isha sengaja menyuruh Rio agar mereka tidak terus-menerus berbincang.
"Bisa dong sayang, sini aku ambilin ya," Rio membawa piring itu dan mengambil beberapa jajanan lagi untuk Isha.
Setelah Rio pergi, Isha tak kuasa lagi untuk memaki-maki Kafa.
"Bisa engga mulut kamu gak usah tanya-tanya begitu? kamu sengaja mau hancurin hubungan aku sama Rio?!" sulut Isha. Namun dia mengendalikan suaranya agar tidak terlalu kencang agar orang lain tak mendengar mereka.
"Aku tanya balik sama kamu, kamu sengaja sok-sokan romantis di depan aku supaya aku cemburu gitu?"
Alis Isha bertaut karena heran. Kenapa sih Kafa ini?
"Jadi kamu cemburu?" tandas Isha.
__ADS_1
Kafa terdiam dengan menggemeretakan giginya. Dia tidak menjawab apapun hanya diam dengan wajah kesal.
Author : Nur Isthifaiyatunnisa