Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Dikerjai mama Mona


__ADS_3

*Happy Reading Guys*


Isha bersama pengajar yang lain sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka sebagai volunteer. Memakai kaos biru langit sebagai seragam dan Id card yang menggantung di leher.


Akan tetapi Isha pergi ke belakang untuk mengangkat telpon dari Rio. Ternyata pria itu hendak memberi semangat kepadanya. Isha merasa bahagia di semangati begitu.


"Makasih ya udah semangatin aku, kamu juga yang semangat kerjanya," Isha menyemangati balik Rio.


Dua sejoli itu mengakhiri obrolan mereka. Begitu terkejutnya saat pundak Isha disentuh oleh seseorang di belakangnya. Ternyata mama Mona yang berdiri di belakangnya.


Mona memang berpartisipasi mengikuti kegiatan ini. Katanya dia bosan kalau tidak di rumah ya menghabiskan uang suaminya.


Jadi dia ingin sekali-kali ikut kegiatan masyarakat.


"Astaga! Isha kira siapa," matanya mengerjap terkejut, tangannya mengelus dada.


"Hehehe maaf ya, nelpon siapa sayang?" tanya Mona penasaran. Sebenarnya Mona tahu apa yang barusan Isha lakukan. Tapi dia hanya mau bertanya saja.


"Habis nelpon pacar Isha ma," jawabnya. Isha masih ingat panggilan apa yang harus Isha sebutkan.


"Oh pacar, masih pacar," awalnya mengangguk lalu memajukan bibirnya ke depan. Mona sedikit mencibir. Bukan mencibir Isha tapi mencibir Rio.


"Iya ma, mama lagi ngapain?"


"Mama mau minta bantuan kamu, bawain ini ke ruangan itu," mama Mona menunjuk ruangan dimana ruangan itu khusus Kafa beristirahat. Isha disuruh membawa gulungan pamflet ke dalam sana.


"Ke sana ma?" tanya Isha memastikan sekaligus ragu. Padahal mama Mona juga bisa langsung mengantarkannya ke sana. Kenapa harus dia?


"Iya kesana, ayo dong," dengan terpaksa Isha mengiyakan karena mama Mona mendorongnya ke sana.


"Rencana apalagi yang mereka berdua lakukan?" perasaan Isha tidak enak.


Dia pun masuk ke ruangan tersebut. Tapi di sana tidak ada orang. Syukurlah kalau mereka tidak sedang mengerjainya. Diletakkannya gulungan pamflet tersebut di atas meja.


"Sha lo nyariin gue?" tiba-tiba Kafa datang dengan wajah bingung.


"Nyariin?" Isha lebih-lebih bingung.


"Iya tadi lo nyariin gue kan?"


"Kata siapa?"


"Mama gue bilang barusan,"

__ADS_1


"Engga,"


"Nah lo kok masuk ke ruangan gue? Nyariin kan bener?" Kafa masih tidak percaya dan mendesaknya terus.


"Engga Kafa, gue cuma nyimpen ini, noh lihat pamflet! ihhh aneh!" Isha mendecih sebal.


Tiba-tiba Kafa menyodorkan sesuatu. Kresek putih yang entah isinya apa yang sedari tadi dijinjingnya. Isha yang hendak keluar pintu pun mengurungkan niatnya.


"Ini,"


"Apa ini?" tanya nya.


"Tadi mama bilang lo belum sarapan, jadi gue beliin ini,"


"Astaga mama Mona, sejak kapan gue bilang gitu," ucap dalam batinnya.


"Sarapan?" ujar Kafa lagi sebelum wanita itu mengambil kreseknya. Tapi Isha tak langsung mengambilnya.


"Oke makasih, tapi gue gak bilang gue belum sarapan," Isha mendelik kesal.


Tanpa aba-aba Kafa menarik tangannya, memaksanya duduk di kursi. Isha pun terduduk sendiri akibat tangan kekar Kafa menggamit kedua bahunya.


Giliran Kafa menarik satu buah kursi ke arah Isha lalu dia duduklah di situ.


Kafa membuka kresek putih tersebut dan membuka bungkusan kotak makanannya terbuka lebar.


"Lo mau ngapain?" tanya Isha makin bingung.


Kafa menggeser kursi tempat duduknya lebih mendekat berhadapan dengan Isha. Tubuh Kafa hanya berjarak 50 cm saja.


Bau khas dari parfum Kafa tercium kuat sampai ke hidung Isha. Permukaan kulit tangan yang berurat itu nampak lebih dekat. Wajah Kafa yang terawat itu begitu jelas pori-porinya halus seperti kulit orang Korea. Rambut klimis nya terlihat sangat hitam.


Wajahnya yang tampan membuat dirinya lupa kalau Kafa adalah pria konyol yang menyebalkan.


Kafa is perfect!


"Ayo aaaa," Kafa memberikan aba-aba untuk membuka mulut. Sendok itu sudah melayang di depan mulutnya. Isha merengutkan mukanya.


"Apaan sih?" Isha mencoba menepis tangan Kafa. Sigapnya Kafa tak mampu untuk Isha lawan. Alih-alih menjauh. Pria itu malah menggeret lagi kursi yang diduduki Isha lebih dekat dan hampir saja wajah mereka bersentuhan. Sebab Isha sedikit tergoncang tubuhnya.


Sontak Isha beberapa kali mengerjap karena terkejut. Kalau hidung mereka saling bertempelan bagaimana. Isha was-was dalam batinnya.


"Ayo makan, lo gak boleh nolak, gue udah beliin ini sampe gue jalan ke depan jalan sana, kaki gue udah capek, sebagai gantinya Lo harus makan! pokoknya lo harus habisin semua ini!" paksa Kafa.

__ADS_1


Isha membuat tubuhnya mundur sambil mengangkat kursi yang masih menempel di pantatnya itu. Benar, dia belum menyerah. Tahukan dia itu orang yang keras kepala.


Lagi-lagi Kafa kembali menarik kursinya lebih dekat. Lupa ya kalau Kafa sama keras kepalanya.


"Lo gila! Kalo ada orang lain yang lihat gimana?" protes Isha sambil mendorong bahu Kafa.


"Oh gitu, gampang," ucapnya dengan muka santai. Seperti laga Bollywood, Kafa menjentikkan jarinya.


"Kalian berdua tutup pintunya!" titah Kafa pada kedua ajudan yang ternyata sudah berdiri di depan sana.


Isha dibuat melongo oleh ulah Kafa yang tak terduga. Sampai dia menggelengkan kepala sambil menggigit bibir bawah menahan kesal.


"Nah udahkan?" tanyanya setelah titahnya itu beres. Menampilkan senyuman jenaka yang menyebalkan.


Isha menoyor dahi Kafa. Tidak terlalu serius. Tapi membuat Kafa terkesiap dengan apa yang telah dilakukan Isha. Beraninya dia menoyor seorang walikota seperti dia.


"Wahh berani ya lo toyor seorang walikota,"


"Ya berani lah!" tantang Isha dengan dagu dimajukan.


"Awas aja kalo nangis sampe ngadu ke mama,"


Isha melet meledek Kafa. Hal terseru dari dulu yang pernah dia lakukan adalah meledek Kafa sampai membuatnya jengkel.


"Aku cium kamu! Kalo kamu gak mau sarapan," Kafa malah melontarkan ultimatum kecilnya untuk menakuti Isha. Gara-gara dikerjai mama Mona mereka jadi main berduaan begini.


"Coba aja kalo bisa," Isha masih terus menguras kesabaran Kafa sampai menipis.


Entah kenapa dia rindu sekali bercanda dengan Kafa.


Di balik pintu ada 3 orang yang menguping bahkan mengintip dari sana. Mereka bertiga berebut untuk melihat dari satu lubang kecil di pintu itu sampai dorong-dorongan.


"Heh awas kalian! Giliran aku yang mau ngintip," titah Mona sambil menggeser tubuh jumbo dua ajudan itu untuk menyingkir. Kemudian memicingkan sebelah matanya dan mendekat pada lubang pintu itu.


Sambil terus mengintip, dia menggumam.


"Wahhh sudah mulai nempel kaya lem lagi, aku jadi seneng deh,"


"Mungkin maksud nyonya kaya perangko gitu," salah satu ajudan mencelah karena mendengar tuannya bergumam.


"Kalian ini ngapain ikut-ikutan mulu, kerja dong kerja!" ucapnya dengan tangan mengusir.


"Ini lagi kerja nyonya," jawab salah satu ajudannya sambil tersenyum.

__ADS_1


Mona memberengut sambil mengibaskan rambutnya. Lalu lanjut mengintip lagi.


Author: Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2