Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Kafa bodoh


__ADS_3

*Happy Reading Guys*


Kafa duduk merenung di dalam kamarnya. Berbaring di atas kasur dengan kedua lengannya sebagai alas kepala. Menatap fokus pada langit-langit atap kamarnya. Sembari memikirkan sesuatu yang telah terjadi akhir-akhir ini.


"Mulut dan hati gue selalu berkata lain, padahal gue bisa aja jual cinta ke Isha sekarang, tapi...," Kafa menghentikan bicaranya dan berpikir sejenak.


"Rio, gimana sama Rio? Dia itu temen gue, gue jadi maju mundur kalau Rio beneran serius sama Isha, apalagi mamanya Isha udah gak setuju sama gue, ditambah lagi kemarin Vina ikut bikin kacau,"


Kafa terus bermonolog sampai akhirnya dia duduk lalu mengambil sesuatu di dalam nakas.


Benda kotak pipih yang bentukannya sedikit hancur. Karena telah terlempar sebab peristiwa malam itu.


"Kenapa Isha gak nyariin hp nya ya? Padahal hpnya ada di gue, apa dia kira hp nya udah hilang?"


Kafa mencoba mengutak-atik hp yang bentukannya sudah tak karuan itu. Berharap masih menyala.


"Semoga masih bisa nyala, apa gue cas dulu kali ya," dia pun memasang chargerannya.


Thringg!


Ternyata layar hpnya menyala. Itu artinya sudah tersambung dan masih bisa digunakan.


Kafa menyalakan hpnya begitu saja. Lalu penasaran hingga membuka fitur pesan. Dia gulir pesan hingga muncul nama kontak yang paling beda yakni Riyang dengan dua emot love.


"Cihh Rio sayang, lebay!!" Kafa berdecih. Yang sebenarnya sedikit merasa cemburu.


Kemudian dia tertarik membaca pesannya dimulai dari atas. Terus dia scroll ke pesan yang paling pertama.


"Oh ini tanggal mereka mulai kenalan," gumamnya makin penasaran.


Selanjutnya dia membaca satu persatu dengan serius. Akan tetapi di sisi lain hatinya dongkol dan enggan untuk membacanya terus. Tapi apa boleh buat dia masih penasaran.


"Gak jijik apa sayang-sayangan mulu manggilnya, Isha dulu gak begini sama gue," sedihnya sekaligus berharap.


"Sayang, sayang peyang!"


Sampai akhirnya Kafa berhenti di suatu percakapan dimana Rio dan Isha membahas masa depan dan juga pernikahan.


Seketika hatinya hancur saat itu juga. Seolah dia ingin mencegah dan jangan sampai itu terjadi. Tapi keadaannya sudah berubah. Kafa pikir ini sudah terlambat.


"Harusnya gue gak baca ini!" Kafa segera menekan tombol off kemudian menyimpan hpnya ke atas kasur dengan sedikit melempar.


"Gue bisa gila kalau mereka beneran nikah, gue bakal menyesal seumur hidup, karena cuma Isha cewe yang buat gue merasa dimiliki sampai sekarang, gak ada cewe sebaik dia di dalam hidup pokoknya cuma dia, meskipun mulutnya agar sarkas,"


Kafa berbicara soal kenyataan dan perasaan yang sesungguhnya. Namun dia sendiri belum berani mengungkapkannya.

__ADS_1


Kembali, dia mengambil hp butut itu dan membukanya. Kali ini dia penasaran dengan isi galeri Isha.


Dicarinya foto Rio dan Isha namun tak ada sama sekali di sana. Foto hangout ataupun foto selfie sepasang sejoli itu. Sama sekali dia tak temukan.


"Kok foto mereka berdua gak ada ya? Aneh aja buat pasangan yang sering manggil sayang, kelihatan bucin di depan tapi gak ada foto yang Isha simpan sama sekali," monolognya.


Seingatnya dulu, Isha dan dirinya sering foto bersama. Entah itu siapa duluan yang mengajak. Yang pasti dia galeri itu penuh dengan foto kebersamaan mereka.


"Tapi ini engga ada sama sekali,"


Saat tiba matanya melihat foto yang tersimpan paling bawah. Kafa dibuat salah tingkah. Ternyata Isha masih menyimpan salah satu foto kebersamaan mereka dulu.


"Ini beneran Isha masih simpen foto kita berdua? Kalau gak salah ini waktu aku kasih surprise ultah dia yang ke 17,"


Foto dimana wajah Isha masih sangat imut. Saat itu umurnya 17 tahun. Tahun kedua Isha dan Kafa menjalin hubungan


Kafa berhasil dibuat senyam-senyum sendiri hanya gara-gara foto yang Isha lupa untuk hapus.


Karena waktu itu Isha dalam keadaan marah dan kecewa. Lalu menghapus foto-fotonya dengan terburu-buru. Jadi hanya foto ini yang tak sempat dia hapus. Bahkan Isha sendiri tak menyadarinya.


"Kayanya masih ada harapan buat gue balikan sama dia, mama bilang mau ganti taktik buat dapet restu dari mamanya Isha, kira-kira mama ada rencana apa ya?"


Kafa memasukkan hpnya ke saku celana dan mulai beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan keluar dari kamar dengan semangat.


Mona pun menoleh. Namun di saat Kafa melihat wajah Mona. Dia malah terkejut.


"Astaga setan!" teriak Kafa disusul tamparan keras dari Mona yang merasa tertuduh.


Plakk!!


"Enak aja ngatain mama setan!" Protes Mona sambil mendengus kesal. Sedangkan Kafa hanya meringis kesakitan sambil mengusap-usap pipinya yang panas.


"Gimana aku gak kaget dan jantungan, lagian mama maskeran full face gitu, hitam pula cuma kelihatan mata sama giginya doang,"


Lagi-lagi Mona tak kuasa untuk menggeplak bahu Kafa lagi.


"Banyak ngomong kamu, kenapa kamu manggil mama?"


Sedangkan Kafa meringis sambil mengusap-usap bahunya karena geplakan tangan Mona begitu mantap.


"Mama katanya punya taktik baru buat deketin Isha, benerkan?"


"Oh iya, mama lupa honey, gimana memangnya?"


"Ini mah aku nemuin sesuatu di hp Isha," ucapnya sambil menunjukannya pada Mona.

__ADS_1


"Kok bisa ada di kamu?"


"Waktu Isha dihadang penjahat, aku sengaja ambil hp dia yang jatuh, aku nemuin bukti kalau waktu itu Isha mau jenguk Rio ke rumahnya tapi dia malah dihadang penjahat," Kafa menaik turunkan kedua alisnya.


"Oh iya, coba mama lihat," pinta Mona merebut hp tersebut dari Kafa. Kemudian dia pun membaca pesan-pesan tersebut.


"Aduuhh mama kok sakit mata ya bacanya, kamu harus cepet-cepet ambil langkah lebih sih buat dapetin Isha balik, mama yakin Isha pun masih bisa kamu luluhkan, kamu itu kan udah pacaran lama sama dia," ucap Mona.


Kafa pun ikut duduk di samping sang mama.


"Menurut mama gimana? Apa yang harus aku lakukan?"


"Ya kamu harus deketin dia luluhin dia, luluhin mamanya dengan berbuat baik sama Isha, masa kaya gitu aja gak tau, kamu nih laki apa bukan?"


"Isha bilang dia gak mau terima permohonan maaf aku,"


"Emangnya kamu ngapain dia lagi?" Mona hampir tersulut.


"Humm aku ketahuan jalan sama Vina lagi ma,"


"Anak bodoh! Ngapain kamu ketemuan sama Vina lagi?!" dia tak kuasa untuk menjitak kepala anaknya yang buat dia gregetan.


"Aduhh mah keras banget jitaknya," protes Kafa.


"Lagian kamu bikin mama gregetan, udah tahu Isha gak suka sama Vina kamu malah ketemuan sama dia,"


"Aku gak nyangka Isha masih gak suka sama dia,"


"Bodoh banget kamu nih ya, Vina itu pernah punya hubungan sama kamu, kamu sama Isha putus gara-gara Vina, ya jelas Isha gak suka, gimana sih? Mama juga kalau ada di posisi Isha pasti gedek banget,"


"Maaf mah Kafa emang bodoh,"


"Ya emang, kamu ngapain aja ketemu sama Vina? Atau jangan-jangan Vina manfaatin kamu lagi?" tanya Mona.


"Hummm dia minjem uang mah,"


"Astaga goblok!" Mona sampai tepuk jidat dengan anaknya yang terlalu naif.


Padahal image diluaran sana dia terkenal kuat dan ambisius. Namun Kafa memang punya sisi lemahnya yang membuat dirinya rugi yaitu rasa tak enak hati dan mudah mengalah. Dari dulu hingga sekarang dia selalu begitu tak pernah berubah.


"Stop ya kepolosan kamu itu bikin mamah pusing, Kafa kamu itu udah 26 tahun, tolong kalau mau melakukan sesuatu dipikir-pikir dulu ya, udah ah mamah pusing," akhirnya Mona pun pergi meninggalkan Kafa.


Dia pusing sendiri memikirkan masalah percintaan anaknya. Tak habis pikir kenapa Kafa mudah untuk dimanfaatkan orang lain. Jelas dari dulu Mona tidak suka dengan Vina. Karena perempuan itu berpenampilan dan bergaya berlebihan seperti orang kaya padahal dia dari keluarga yang sederhana.


Author : Nur Isthifaiyatunnisa

__ADS_1


__ADS_2