
*Happy Reading Guys*
"Sekarang mau ngapain? jangan sampe gue udah duduk di sini, tapi lo cuma ngomongin hal sepele lagi," tukas Isha yang duduk berhadapan dengan Kafa di taman dekat sekolah.
Urat-uratnya terlihat menonjol menandakan dia sedang marah, lebih-lebih mata sipitnya melotot seperti memaksa membulat bola pingpong.
Sejak pertama kali berkenalan menurut Kafa, Isha mempunyai kesan yang kuat dan dingin sedikit kasar namun di dalam dirinya terdapat rasa iba yang kuat.
Isha punya sosok keibuan yang membuat Kafa sulit move-on. Pokoknya bagi Kafa, Isha itu beda. Tidak banyak orang yang tahu sifat asli Isha. Itulah yang membuat Isha suka.
"Jangan galak-galak dong, nanti cantik lo hilang loh, gue mau minta maaf lagi, yang kedua kalinya sama lo," pria itu menjawab dengan sedikit menunduk. Tak berani menatap mata Isha.
Setelah Kafa dan Vina kepergok ketemuan. Sejak saat itulah dia merasa bersalah pada Isha sekaligus merasa malu.
Isha hanya diam tak menjawab apapun.
"Ternyata itu lagi yang mau dia bahas?!" batin Isha.
Kafa tak enak hati lagi, dia tahu Isha sudah muak karena di masa lalu Vina selalu menjadi pengganggu hubungan mereka. Namun Kafa juga tidak bisa memilah untuk membantu orang lain. Bahkan seseorang seperti Vina yang menggagalkan rencananya pun dia mau membantu.
Tujuan dirinya hanyalah membantu Vina. Bukan karena ada hubungan yang lain. Tapi karena dia kasihan. Tak ada yang lebih dari itu.
"Setelah ini gue gak akan dekat-dekat Vina lagi, gue janji!" ucapnya dengan raut yang nampak sungguh-sungguh.
Jari kelingkingnya terangkat ke atas menandakan bahwa dia telah berjanji dan tak mengulanginya lagi.
Tidak ada wibawa seorang walikota sama sekali jika Kafa sudah berhadapan langsung dengan Isha.
Bahkan hal terkonyol bisa Kafa lakukan demi membujuk Isha. Ya memang sifat asli bawaan Kafa adalah konyol dan humoris.
"Gak deket-deket Vina lagi? Maksud lo? Bukannya Vina itu istri lo?" tanya Isha bingung namun terkesan tegas. Dia tak mau Kafa membodohinya lagi.
Kafa mengernyitkan kedua alisnya lebih dari bingung. Yang dikatakan Isha tadi bukan seperti apa yang telah terjadi.
"Siapa yang bilang kalau gue sama Vina nikah? Gue gak nikah sama dia, dan pasti lo ngira anak kecil yang dibawa Vina itu anak gue, makanya lo marah begitu iyakan?"
Isha berubah salah tingkah. Pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Marah? Gue gak marah lah, ngapain gue marah gara-gara hal begitu?" sangkalnya. Isha tak mau terlihat bahwa dia cemburu dan marah karena Vina. Masa iya Isha marah gara-gara perempuan itu. Bukan levelnya.
"Ngaku deh, lo sakit dan cemburu kan gara-gara prasangka buruk lo itu?" Kafa makin-makin memojokkannya karena terlanjur melihat Isha yang sudah salah tingkah.
"Engga Kafa, ngapain gue cemburu sama Vina dan buat apa gue cemburu ke cowo modelan lo," sangkalnya lagi, namun Isha terlihat lebih santai.
Mulut Kafa membulat seperti huruf "O". Kafa berpikir Isha hanya sok jaga image di depannya.
"Emangnya gue gak tahu, lo itu cemburu kan Sha, bilang aja kali gak usah dipendem," batinnya bermonolog.
Rasa percaya diri Kafa mulai membuncah.
__ADS_1
"Tenang, itu bukan anak gue, itu anak Vina sama Ronald, suami Vina Ronald, bukan gue, lo cuma salah paham," terang Kafa. Isha nampak terkejut sekaligus antuasias saat mendengar penjelasan dari Kafa.
Selama ini Vina membohongi dirinya lantas tujuan Vina apa?
"Terus?" tanya Kafa.
"Terus apa?" Isha penasaran.
Kafa kini memberanikan diri menatap Isha. Lalu melontarkan senyum manis. Ternyata Isha galak-galak menggemaskan.
"Lucu banget, lo gak berubah, masih cantik kaya dulu, oh ralat lo makin cantik, makin keibuan dan seksi," goda Kafa.
Bukannya senang Isha malah ngeri mendengar rayuan maut itu. Bahkan tubuhnya meremang dan ada sesuatu yang tiba-tiba berdebar di dalam sana. Meski terdengar klise mampu membuat Isha goyah namun wanita keras kepala itu tetap memperkuat gengsinya.
"Basi! Jangan sampe gue dejavu ya! Gue aneh sama lo, kita ngobrol berdua di sini cuma mau ngomongin ini doang? Bisa gak sih ada yang lebih penting lagi?" Ucap Isha dengan kesal.
Beberapa laki-laki yang mendekatinya sudah pernah melakukan ini padanya. Dan Isha benar-benar tahu polanya.
"Ada, besok lo harus ikut gue!" lontar Kafa. Isha langsung menoleh ke arahnya dengan mata terbuka lebar. Apa itu?
"Apa? ikut lo?" ucap Isha dengan nada tinggi.
"Gue ngadain perkumpulan beberapa komunitas di kecamatan ini dan lo harus ikut jadi volunteer,"
"Gue? Jadi volunteer? terus gimana anak murid gue? Gue gak mau ya lo seenaknya gitu, mentang-mentang lo walikota di sini lo seenaknya ngatur orang," tolak Isha mentah-mentah.
Dia tidak rela kalau anak murid kelasnya terlantar karena dia bekerja di tempat lain. Bisa dibayangkan bila dia benar-benar ikut dengan Kafa dan berita baru muncul hingga tersebar luas. Bisa ribut satu sekolah. Dan Isha dicap menelantarkan anak muridnya hanya demi menemani mantan.
Sekali lagi Isha terkejut.
"Gue juga udah minta buat semua pengajar di sini jadi relawan sekaligus semua murid-murid di sekolah ini untuk ikut seminar,"
"Seminar? Tujuannya?"
"Karena gue mau mereka punya bekal hidup buat hadepin kenyataan di dunia luar bukan cuma ngandelin akademik aja, nanti gue bakal cari pakar buat sharing materi ke mereka,"
"Lo makin cerdas ya?" Isha memujinya namun terdengar sarkas serta mukanya yang terlihat tidak santai.
"Loh ya jelas, gue kan lulusan Oxford University," ucap Kafa menyombongkan diri. Sambil melekukan bibirnya ke bawah.
"Ya gue tahu, tapi buat apa anak SD lo ajak seminar? Mereka gak akan ngerti,"
"Loh jangan meragukan kemampuan anak-anak SD, justru dimulai dari umur mereka sudah harus tahu seminar-seminar motivasi dan bekal-bekal hidup yang sebenarnya, gue gak mau anak-anak di sini bodoh kaya gue nantinya,"
"Lo kan pinter?" memuji tapi bukan memuji yang sebenarnya.
"Makasih, tapi menurut gue kemampuan gue ini dibawah standar," jarinya bergerak di udara membuat garis horizontal.
"Gak usah merendah buat meroket!"
__ADS_1
"Gak juga, lo itu gak tahu kan gue harus mempersiapkan diri beberapa tahun buat menghadapi realita hidup di lingkungan gue waktu itu,"
Isha menggelengkan kepala.
"I don't know,"
"Makanya lo harus sering-sering dengerin cerita perjalanan hidup gue,"
Isha menyipitkan kedua matanya. Maksudnya apa Kafa bicara begitu.
"Gue tuh bodoh, gue selalu terbawa arus sama orang-orang di sekitar gue, kaya gak punya prinsip, makanya waktu itu gue milih nyerah dan ninggalin lo, bodoh kan gue?"
Isha menghela napasnya panjang dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hmmm mulai ngegombal, btw apa program ini bakal lo adakan di beberapa kecamatan lain?"
"Of course, gue mengutamakan kecamatan ini karena di sini tempat lahir gue dan tempat lahir cewe yang gue sayang yaitu lo,"
"Hummm gitu," Isha mengangguk pelan dan lekuk bibir ke bawah.
Sebenarnya Isha sudah berbunga-bunga hatinya tapi dia menahan untuk tidak salah tingkah dan pura-pura tidak peka.
"Iya, terus alasan kedua gue karena gue lagi pengen modus sama Lo," Kafa mulai berani gombal-gombal lagi. Kali ini Isha tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum. Tapi tetap saja dia diam-diam menyembunyikannya.
"Oh modus, kira-kira kata yang ke berapa ya di kamus lo?"
"Kata yang ketujuh, yang pertama cinta, yang kedua bakti, yang ketiga setia, keempat baik, lalu suka menolong, yang keenam ceria nah ketujuh ini modus, sebenarnya modus itu kata ke sepuluh sih,"
"Gue aduin ke rakyat lo ya, kalo lo nyakitin gue lagi,"
"Gak berani dan gak akan,"
"Cihh!" Isha berdecih meremehkan.
"Btw dari tadi lo haus kan?" tanya Kafa.
"Humm iya sedikit,"
"Danu!" Kafa mengjentikan jarinya kepada sang supir yang berdiri tak jauh dari mereka berdua. Danu langsung mengangguk mengerti apa yang dimaksud.
Lalu dia menghampiri Kafa siap menerima perintah.
"Tolong belikan minum air kelapa kemasan dan belikan stroberi juga," perintah Kafa sembari mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lalu diberikannya pada Danu.
"Oh baik pak," Danu pun segera pergi menjalankan perintah.
"Lo masih inget gue suka air kelapa kemasan?" tanya Isha dengan sedikit rasa terharu.
"Inget dong, lo slalu bawa itu kemana-mana kan?"
__ADS_1
Isha mengangguk sembari tersenyum kikuk. Obrolan terus berlanjut hingga hari menjelang malam.
Author: Nur Isthifaiyatunnisa