Jodohku Ya Kamu

Jodohku Ya Kamu
Tak sengaja bertemu


__ADS_3

*Happy Reading Guys*


Bela kegenitan berusaha menggandeng lengan Rio. Risih, berkali-kali Rio menepis tangan Bela yang hendak menelusup masuk di antara lengannya. Bagaimana pun Rio tidak suka pada Bela. Sebab dia tak ada perasaan sama sekali.


Meskipun kedatangan Bela adalah kehendak kedua orangtuanya. Tetap saja Rio tak menginginkan drama untuk keduanya.


Dia bukan pria-pria diluar sana yang dengan gampang menerima ajakan perempuan yang bukan dia inginkan. Kalau sekedar jalan ya jalan saja.


Pantang sekali bergandengan di depan umum yang malah akan menimbulkan asumsi lain. Ini pun dengan terpaksa dia lakukan karena Rio tahu Bela perempuan yang nekat dan menyebalkan.


"Bisa gak sih tangan lo diem? Lo kaya benalu tahu gak nempel mulu?!" hardiknya.


Tak memikirkan dia anak pak Yoga atau bukan. Perusahaan maju karena usaha keluarga bukan karena hubungan pernikahan. Dan itu tak ada hubungannya. Lagi pula perusahaan mereka setara.


Bela memberi sorot mata tajam dikata sebagai benalu.


"Mulut lo ya? Laki-laki mulutnya tajem banget," Bela tersenyum sinis.


"Lo rese!" balas Rio.


Tak berselang lama. Ada beberapa staff kantor dari perusahaan milik Bela yang sama-sama sedang berkeliling bazar. Bela mengetahuinya dan menarik lengan Rio untuk menghampiri mereka.


"Kalian di sini juga?" sapa Bela berseri-seri.


"Iya nona, ehm nona Bela sama calon tunangannya itu ya? Yang anak pak Jaya dari Nusa Utama? Hummmm cie..." ujar salah satu staffnya dengan mimik menggelitik.


"Iya, perkenalkan dia ini Rio CEO baru Nusa Utama," Bela memperkenalkan dengan bangga.


Bela berusaha menggandeng tangan Rio. Kelewat jengah namun pria itu kelewat sabar pula. Dia hanya diam menerima rangkulannya.


Mulut-mulut staff itu membulat membentuk huruf O maju ke depan. Mereka memperkenalkan diri satu persatu.


"Kalian mau kemana?" tanya Bela.


"Kita mau keliling lagi nona, di sini banyak jualan yang unik-unik, mau lihat hal yang menarik juga, katanya di sini banyak aksi panggung dari beberapa komunitas di kecamatan X ini," jelasnya.


"Oh iya?" tanya Bela antusias.


"Iya,"


"Wahhh kayanya seru tuh,"


"Kayanya nona, soalnya acara ini bakal di laksanakan sampe malem, ini cuma acara pembukaan aja nona, nanti acara penutupan besar bakal dilaksanakan 2 Minggu ke depan,"


Bela begitu tertarik dengan penjelasan staffnya.

__ADS_1


"Ini acaranya pak walikota, nona juga bisa ketemu pak walikota hari ini," jelasnya lagi.


Mendengar nama walikota, Rio teringat Kafa. Dia hampir lupa kalau ini acaranya Kafa. Dan kemarin Isha berkata kalau dia menjadi relawan dari acara ini.


"Aku lupa kalau Isha jadi relawan di sini, gimana kalau aku papasan sama dia, ketahuan jalan sama Bela," katanya dalam batin. Seketika hatinya was-was jika sampai Isha tahu dirinya ada sini jalan dengan Bela.


Dirinya takut Isha akan berprasangka buruk padanya dan kecewa.


"Aku gak mau lanjut jalan lagi," ucapnya beralasan.


Rio mendadak menolak untuk melanjutkan kencan sepihak mereka. Tentu saja membuat Bela bertanya-tanya.


"Kenapa?"


"Kaki aku tiba-tiba sakit," lagi-lagi cuma alasan.


"Mana coba yang sakit? Aku bawa plester, mungkin bisa nyembuhin sakitnya," ucap Bela sambil merogoh sesuatu dalam tasnya. Yang hendak dia ambil adalah sebuah plester.


Rio beranjak pergi dari sisi Bela sambil menggerutu.


"Otaknya gak bisa diajak kerjasama,"


Bela akhirnya menemukan plasternya dari dalam tas alih-alih dia juga kehilangan batang hidung Rio yang entah kemana.


"Eh mana dia? Rio mau pergi kemana?!" Bela berlari mengejar Rio.


Dan brughh!!


Tubrukan pun terjadi. Rio yang tak melihat arah depan jalan menubruk punggung seseorang.


"Aww!" Isha mengaduh. Hampir saja dia terjatuh karena tubrukan keras itu.


Terkejutlah Rio ketika Isha berbalik menatapnya.


"Rio?"


"Eh Isha," Rio terperangah sembari hendak membalikkan badan. Dia ingin kabur sepertinya tidak ada jalan lain. Depan ada Isha, belakang ada Bela.


"Aduuh gawat ada Isha!" gumamnya.


"Kamu kenapa ada di sini?"


"Ya aku penasaran sama bazar jadi aku ke sini," jelasnya dengan sedikit terbata. Napasnya seperti tercekat udara kian menipis. Bela di ujung sana berteriak memanggil namanya.


"Oh gitu," jawab Isha sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Iya gitu, maaf ya sayang aku harus cari temen-temenku," ujar Rio masih tersenyum kikuk. Langkahnya sudah gemas, ingin segera kabur dari situ.


"Kamu sama temen-temen kamu?"


"I-iya," ucapnya tergagap.


"Ya udah, have fun ya,"


"Iya sayang," Rio memberi kecupan di pipi Isha sebelum dia kabur dari situ. Kecupan pun mendarat, membuat Isha tertegun sebentar. Tak terasa pipinya memerah dan mulai memanas.


"Apaan sih Rio? Di sini kan banyak orang, malu banget," gumamnya malu-malu. Isha pun melanjutkan pekerjaannya lagi sambil senyam-senyum.


"Rio!" teriak Bela setelah berhenti dari lelahnya mengejar Rio, mengambil oksigen sejenak dan membungkukkan punggungnya.


Perempuan itu berhenti tepat di belakang Isha yang sedang menjajakan sesuatu ke banyak pengunjung. Isha menoleh ke belakang mendengar suara Bela yang memanggil Rio.


"Rio gila! Kenapa larinya cepet banget sih?!" keluhnya.


Isha mengerutkan kedua alisnya sambil menatap Bela heran. Sebaliknya Bela menatap sinis Isha. Mereka berdua saling bertatapan begitu lama. Padahal Isha tak mengenal sama sekali siapa wanita yang ada di depannya ini.


Bela menaikan sebelah alisnya kemudian berlalu dari situ dengan wajah tidak suka. Isha merasa bingung ditatap seperti itu. Apa ada yang aneh dengan dirinya.


"Lah kenapa cewe tadi? Natap gue segitunya, tunggu... tadi dia bilang Rio?" Isha memikirkan hal tadi. Tapi Isha cepat-cepat menghilangkan pikiran konyol itu.


"Humm gak mungkin sih Sha, nama Rio banyak bukan cuma dia doang," ujar Isha menepis hal itu sembari mengedikkan kedua bahunya.


Lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


Bela terus mencari keberadaan Rio. Ternyata pria itu bersembunyi di belakang panggung. Tak sengaja dia bertemu dengan Kafa yang sedang berbincang serius dengan bawahannya.


"Rio!" seru Kafa.


"Eh elu Kaf,"


Kafa bergeming sejenak memandang Rio. Merasa aneh melihat Rio yang terengah-engah.


"Lo kenapa? Habis dikejar macan?" tanya Kafa asal.


"Hahaha lo ada-ada aja Kaf, engga ini gue sesek napas gara-gara penuh orang, banyak juga ya pengunjungnya," ucapnya berbohong. Pria itu pura-pura menelisik sekitar sambil berkacak pinggang.


"Iya nih alhamdulilah, mereka pada antusias, btw lo nyari Isha?" tanya Kafa basa-basi.


"Uhmm barusan gue ketemu dia,"


"Oh," Kafa manggut-manggut namun hatinya berubah mendung. Ternyata temannya ini sudah bertemu dengan Isha. Kafa sudah bayangkan raut muka Isha yang senang bertemu dengan Rio.

__ADS_1


Author : Nur Isthifaiyatunnisa


__ADS_2