
*Happy Reading guys*
Perlahan Isha membuka mata. Samar-samar dia melihat suasana kamar yang asing. Dinding kamar, langit-langit dan ranjang yang sangat asing. Aksesoris dan desain interior yang serba abu-abu seperti kamar laki-laki. Ada beberapa lego dan robot di atas nakas dan lemari kaca. Isha sudah menduga ini kamar anak laki-laki.
Mulutnya merintih kesakitan sembari beranjak duduk bersandar di headboard ranjang. Melepaskan beban berat di kepala dan pundaknya.
"Shhhhhh," Isha mendesis kesakitan. Tangannya terangkat memegangi kepalanya yang pusing.
"Ada dimana ini? kok aku bisa ada di sini? siapa yang bawa aku ke sini? bukannya aku tadi berhadapan sama orang jahat? jadi ada orang yang menyelamatkan aku?" dia bertanya-tanya. Lalu sejenak dia terdiam berpikir sambil terus berpendar mengelilingi kamar. Ada sesuatu yang tidak asing.
"Kok kamar ini kaya gak asing ya, kayanya aku pernah lihat kamar ini, kamar siapa ya?" gumamnya sambil mengingat-ingat.
Kreettttt! pintu terbuka. Isha terkejut dan beringsut mundur ketakutan. Khawatir yang datang adalah orang jahat.
"Isha, jangan takut ini mama," ternyata tante Mona. Seperkian detik Isha merasa lega. Wanita itu menghampiri Isha dengan membawa segelas minuman di atas nampan.
"Ternyata kamu udah sadar, mama jadi seneng,"
"Kok aku bisa ada di sini ma?" tanya Isha heran.
Tante Mona meletakan nampan itu di atas nakas.
"Iya, Kafa udah menyelematkan kamu dari orang jahat, dia gak sengaja lihat kamu dalam marabahaya, akhirnya kamu selamat kalau engga ada Kafa, orang jahat itu udah nusuk kamu pakai pisau, nih nak minum dulu airnya,"
Isha tak percaya ini telah terjadi. Kebetulan yang ajaib. Tante Mona memberikan gelas air tersebut pada Isha. Lalu diminumlah air tersebut. Setelahnya...
"Kok mama tahu kalau aku mau ditusuk pisau sama orang jahat?" tanya Isha.
"Kafa yang cerita,"
"Sekarang dia dimana?"
"Dia pergi ada urusan penting katanya, dia minta nitipin kamu ke mama," terangnya.
Isha sangat bersyukur dia diberi kesempatan untuk hidup. Sangat bersyukur ada yang menyelamatkan hidupnya.
"Jadi aku harus menepati janjiku semalam? bahwa aku harus berbuat baik pada orang yang menyelamatkan aku? tapi kenapa orangnya harus Kafa?" batin Isha berkata.
"Nah Kafa nelpon," celoteh tante Mona. Dengan cepat dia mengangkat telpon dari Kafa.
(Ma, Isha sudah sadar?) tanya Kafa dari seberang sana.
(Sudah nak)
__ADS_1
(Syukurlah kalau begitu, ya sudah ma aku mau membereskan satu urusan dulu, jaga Isha baik-baik ma)
(Oke sayang, hati-hati ya)
Panggilan pun berakhir. Tante Mona tersenyum simpul. Isha melihat luka gores di kakinya yang ternyata sudah diperban.
"Tadi luka kamu juga Kafa loh yang perban," tuturnya.
Isha terkesiap sejenak.
"Oh ya?"
"Iya,"
Entah Isha harus berkata apalagi. Kafa telah menyelamatkannya dan mengorbankan nyawanya. Pasti dia bertarung dengan penjahat itu semalam.
"Kamu istirahat dulu ya, kaki kamu pasti masih sakit, tunggu di kamar sampai Kafa pulang ya?" pesan tante Mona. Dia pun keluar dari kamar.
***
"Bodoh! kau ini bisa bekerja dengan bagus tidak sih?! menghadapi satu perempuan saja tidak becus!"
Amuk seseorang di seberang telpon memaki pria yang berusaha melukai Isha.
"Ahhhh banyak alasan, tidak berguna! kau terlalu mengulur waktu, jadi orang datang menyelamatkannya lebih dulu! gajimu tidak akan ku transfer sepeserpun! upayamu gagal!"
Ttttuttt! panggilan berakhir.
Pria itu menendang motornya karena kesal. Namun tiba-tiba saja suara samar-samar sirine mobil polisi datang dari arah belakang. Pria tersebut ketar-ketir dan menarik motornya agar berdiri. Semakin mendekat mobil polisi tersebut hingga pria itu kabur kalang kabut.
***
Isha menunggu terus menunggu. Hingga rasa kantuk menyerangnya. Jam terus berjalan menunjukan pukul 3 pagi.
"Kafa!" tante Mona samar berteriak.
Isha khawatir telah terjadi sesuatu pada Kafa. Ingin sekali dia turun dari kasur tapi kakinya begitu sakit dan berat.
Jebrakk!!
Pintu kamar terbuka keras. Kafa masuk dengan basah kuyup dan baju yang lusuh. Tidak hanya itu, dia mendapat luka di pelipis dan bibirnya.
"Kafa?" Isha syok melihatnya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja Sha?"
"Kamu tanya aku? aku yang harusnya tanya, kamu kenapa?" Isha balik bertanya.
"Aku gak kenapa-kenapa, aku baik-baik aja kok,"
"Itu muka kamu, kenapa banyak lukanya?"
"Biasa, laki-laki," Kafa tersenyum menyeringai.
"Nak lepas baju kamu dulu, bajumu basah nanti kamu sakit," tante Mona membantu Kafa melepaskan kemejanya yang lusuh, basah dan kotor itu.
Tante Mona seenaknya melepas baju Kafa dihadapan Isha hingga dia membeku dan memalingkan wajah.
"Ya ampun nak, badan kamu lebam-lebam," Tante Mona ngeri melihatnya.
"Nanti aku obati sendiri,"
Kafa berjalan ke lemarinya dan mengambil kotak P3K dari dalam sana. Sedangkan tante Mona membawakan handuk kecil untuk mengelap badan Kafa. Apa yang dilakukan Isha hanya bisa terdiam terkesima dengan penampakan tubuh atletis Kafa yang terbuka sejelas-jelasnya.
Kafa mengobati luka-lukanya sendiri. Isha ingat dulu Kafa adalah anak yang nakal. Dia pernah satu pergaulan dengan anak-anak geng motor. Apapun jenis pergaulan dia pernah terjun langsung. Sampai Isha pun lelah untuk menahannya dan melarangnya. Dia tak sanggup dengan hobi Kafa yang mudah bergaul sana sini.
Sehingga lingkungan itu membentuk Kafa yang kreatif dan penuh inspirasi namun menciptakan karakter lain yang berbahaya. Kafa mudah sekali marah dan bertindak sesuka hati. Bahkan dia pernah memukul anak laki-laki dijalan karena menggoda Isha saat itu. Hingga tante Mona harus membayar kerugian untuk nyawa anak laki-laki itu yang hampir dibuat mampus oleh Kafa.
"Sini aku obati," secara sadar Isha ingin membantu mengobatinya. Ini pun demi janjinya sendiri yang akan berbuat baik pada orang yang telah menyelamatkannya.
"Aku bisa sendiri," tolak Kafa. Diam-diam tante Mona keluar dari kamar meninggalkan mereka.
Dengan lembut Isha menarik tangan Kafa dan merebut handuk kecil dan kotak P3K nya. Tangan mungilnya mulai menelusuri setiap inci tubuh Kafa yang basah. Mengelapnya disana.
Dengan telaten Isha membubuhi obat ke luka-luka itu. Sejurus Kafa meraih tangan Isha dan menarik tubuh mungil Isha mendekat ke dadanya.
"Kafa..," sebutnya agak kaget.
"Kenapa kamu keluar malam? kamu gak tahu bahayanya jalan ke arah timur itu?" tanya Kafa sedikit berbisik di telinga Isha. Reflek Isha mendorong tubuh Kafa hingga Kafa beringsut mundur.
"Apa urusan kamu tanya-tanya begitu?" Isha menunduk menutupi rasa malunya.
"Ini urusan aku juga, kalau kamu sampai kenapa-kenapa gimana? siapa yang mau nolongin kamu kalau bukan aku?" omel Kafa sambil menyentil dahi Isha.
"Kafa! sakit tau!"
"Biar! aku juga sakit kalau kamu sakit,"
__ADS_1
Author : Nur Isthifaiyatunnisa