
*Happy Reading guys*
Isha berjalan gontai menuju ruang tengah. Melempar tubuhnya ke atas sofa.
"Awwww!" teriak Isha memekak seluruh ruangan. Dia lupa kalau kakinya sedang sakit malah melempar tubuhnya sembarangan.
"Kenapa sayang?" tanya mama Rita dari arah dapur.
"Kaki aku ma sakit banget," keluhnya.
"Makanya kalo jalan pelan-pelan dong, ketenggor ya?"
"Iyaaaa, shhhh sakit," jawabnya lanjut meringis.
Susah payah dia meraih remot tv yang ada di atas nakas. Dia tetap stay di tempatnya duduk karena kakinya sakit. Hingga dia harus menundukkan punggungnya dan melebarkan tangannya untuk meraih remot itu.
"Ini! lain kali bilang kalau butuh bantuan ya," mama Rita yang mengambilkan untuknya.
"Makasih ma,"
Dia menekan remotnya dan TV menyala. Baru saja menyalakan TV dia disuguhkan berita tentang Kafa yang akan dilantik dua hari ke depan sebagai walikota resmi. Mama Rita yang sudah melangkah masuk ke dapur jadi mengurungkan niatnya untuk melihat berita tersebut apalagi terdengar nama Kafa disebut tadi.
"Eh siapa tadi? Kafa mau dilantik jadi walikota?Kafa siapa?" mama Rita memastikan siapa Kafa yang dimaksud dalam berita tersebut.
"Dia Kafa mantan aku ma,"
Dia pun ikut duduk bersebelahan dengan Isha memantau beritanya.
Flash kamera menyorot pergerakan Kafa yang muncul dari gedung pemerintahan. Mengenakan setelan jas hitam dan celana formal seperti pejabat besar. Beberapa wartawan sudah menodongkan mic atau alat perekam ke arah Kafa. Mereka akan melakukan wawancara langsung.
"Yang bener dia mau dilantik jadi walikota? kok mama meragukan ya kalau kota ini dipimpin dia," celetuknya.
"Ya biarin dong ma, itu kan hak Kafa mau jadi apapun, mungkin aja dia punya visi dan misi yang baik buat kota ini,"
"Ya mama harap begitu, semoga masyarakat gak kecewa sama kinerja dia,"
Isha mengernyitkan dahinya.
"Kenapa mama jadi sensi begitu sama Kafa?" batin Isha.
"Gak peduli Kafa mau jadi sebesar dan sehebat apa sekarang, kamu harus tetap dengan Rio, dia harus tetap jadi pilihan terakhir kamu," ujar mama Rita sambil berlalu menuju dapurnya.
Entah kenapa penuturan sang mama membuatnya terganggu. Malah sekarang dia yang lebih menekankan bersama siapa dia menikah nanti. Bukan dari hati Isha sendiri. Atau bukan karena pilihannya sendiri. Tapi karena mamanya.
"Mama plis jangan bahas Kafa di depan aku lagi, terlepas dari kesalahan masa lalu Kafa udah minta maaf sama aku, dia pun udah tolong nyawa aku dari penjahat itu,"
Sejurus bel rumah berbunyi.
"Siapa itu Sha?" mama Rita keluar lagi dari dapur. Penasaran dengan siapa yang datang.
__ADS_1
"Gak tau, Isha susah jalan ke depan," sahut Isha malas sebab dia masih ngambek dengan ucapan mamanya tadi.
"Oke biar mama aja yang buka," ucapnya berjalan keluar dengan semangat.
"Isha!" panggil suara berat pria yang dikenalinya.
Isha pun menoleh sebab namanya disebut.
"Rio?" Isha terkejut sebab Rio mendatangi rumahnya. Langsung saja dia menghampiri Isha dan duduk di sebelahnya.
"Isha kaki kamu kenapa?" tanyanya cemas.
"Ini karena musibah semalem, but it's oke,"
"Musibah semalem? jadi bener semalem kamu ada apa-apa? pantes aja perasaanku gak enak, aku hubungin kamu berkali-kali pun gak kamu angkat," katanya terdengar khawatir.
"Hp aku?!" Isha berlagak terkejut. Mendadak dia teringat soal hpnya yang menghilang sejak kejadian semalam.
"Kenapa?" tanya Rio terheran.
"Aduuuh aku lupa, kira-kira kemana ya hpku? apa semalem kelempar di pinggir jalan? padahal banyak data-data penting di sana, nomor Nina, nomor papa sama Rio, euhh sial banget semalem!" batinnya kesal.
"Sha? kamu gak papa kan? kenapa hp kamu?"
"Uhmmm abaikan aja,"
"Tapi kamu gak papa kan? Kalau kamu masih sakit atau trauma karena kejadian semalem, aku bakal kasih waktu kamu buat istirahat dan sendiri," tutur Rio.
"Aku sekarang udah baik-baik aja Rio, aku gak trauma sama sekali karena alhamdulilah semalem ada orang baik yang nolongin aku," tutur Isha sembari tersenyum simpul.
"Syukurlah kalau begitu, orang baik siapa yang udah nolong kamu? aku mau kasih sesuatu ke dia buat balas budi karena udah nolong kamu,"
Mendengar perkataannya raut Isha berubah tegang.
"Kenapa kamu sebaik itu sih padahal harusnya aku yang bales budi ke orang itu," ucapnya.
"Kalau dia tahu orang yang nolong aku adalah Kafa temannya sendiri, bisa gawat! Kafa pasti bakal umbar status lama diantara kita ke Rio, aku yakin dia bakal keceplosan," sambungnya lagi dalam hati.
"Kamu baik banget sih sayang, tapi kamu gak perlu lakuin itu biar aku aja yang balas budi ke orang itu," jelas Isha sedikit memberi alasan logis agar Rio tidak melakukan bagiannya.
Sebab akan menjadi masalah rumit jika keduanya saling terhubung.
"Memang kamu kenal siapa orangnya?" tanya Rio.
Mama Rita menyaksikan obrolan mereka berdua dari jauh. Mata Isha langsung menangkap kode dari sang mama yang hampir membeberkannya. Dengan gerakan kedip yang cepat, Isha meminta sang mama untuk tidak ikut campur dan memintanya kembali ke dapur. Namun wanita itu berdiri bertengger di tembok sambil melipat kedua tangannya.
"Apa salahnya hah? Kamu usir mama?" ucapnya dengan isyarat jarak jauh.
"Pliss ma, jangan kasih tau," Isha memberi kode memohon kepada sang mama agar diam.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Rio lagi.
"Kamu gak perlu tau, yang pasti aku gak terlalu kenal orang itu, dia cuma orang yang kebetulan lewat aja,"
"Oh begitu, syukurlah masih ada orang baik di dunia ini, maafin aku karena udah bikin kamu terluka begini,"
"Ini bukan salah kamu sayangku, aku sendiri kan yang minta dateng ke rumah kamu, tanpa kalau jalanan sepi itu berbahaya," Rio menggenggam tangan Isha dengan romantis.
"Mama bisa pergi dulu?" titah Isha pada sang mama sebab dia malu jika dilihat begitu.
"Oke, ini urusan anak muda, mama juga mau nelpon papa ahhh,"
"Aku di sini bakalan jaga kamu," ucap Rio sambil mengelus puncak kepala Isha.
"Bukannya kamu juga lagi sakit ya? bibir kamu pucat tuh," ucap Isha setelah memperhatikan bibir Rio yang pucat.
"Gak papa kok, aku kuat, aku cuma bosen aja di rumah,"
"Bosen di rumah? memang kenapa? ohhh ya aku inget papa mama kamu kan lagi pergi liburan, pasti kamu bosen karena itu,"
"Hmmm iya kamu bener banget, pacar aku pinter banget sih," puji Rio terus mengusak rambut Isha gemas.
***
Di kediaman rumah keluarga pemilik Nusa Utama Group....
"Anakmu pa, tiba-tiba saja mencari sekretaris baru, apakah sekretaris lamanya bekerja dengan buruk?" tutur ibunda Rio yakni Yulia.
"Kenapa memang? Benarkah Rio melakukan itu?" tanya pak Jaya.
"Iya, bahkan dia sudah memilih siapa yang menjadi sekretarisnya, dia sebut nama Isha tadi,"
"Isha? sebentar papa akan menanyakan itu pada HRD, aku juga akan menanyakan kinerja sekretaris lama itu sampai-sampai Rio hendak menggantinya, padahal papa rasa anak itu bekerja dengan baik,"
Pak Jaya menghubungi bagian HRD untuk mengecek data pelamar atau calon sekretaris baru. Ternyata setelah dia cari tahu dari informan. Tak ada pelamar bernama Isha atau pun pelamar di posisi sekretaris. Karena mereka posisi itu sudah penuh.
"Apa yang sedang disembunyikan Rio?" pak Jaya bertanya-tanya.
"Kenapa pah? apa katanya?" Yulia bertanya.
"Tidak ada sama sekali pelamar bernama Isha," jawabnya.
"Jadi apakah Isha itu adalah gadis yang sedang Rio dekati?"
"Mungkin saja anak itu sedang jatuh cinta pada perempuan lain,"
"Lalu bagaimana dengan pernikahan bisnis antara Rio dan Bela? seharusnya kita harus meminta kepada keluarga pak Yoga untuk mempercepat pertunangannya, agar Rio tidak direbut perempuan lain,"
"Mama benar, kita harus membicarakan ini pada pak Yoga secepatnya," tutur pak Jaya dengan serius.
__ADS_1
Author : Nur Isthifaiyatunnisa