
Zayden duduk di takhta nya, sambil mendengarkan penjelasan para pengawal yang baru saja menghantarkan buah ke negri alaric
"kasihan.. dikecewain orang tuanya
zayden tertawa sinis
"ambara... ambara...
pengawal tadi hanya diam
bingung me respon apa
seketika segerombolan pengawal yang lain, datang menghampiri zayden
"pangeran ini, surat dari putri ambara..
ucap mereka sambil memberikan kertas dari ambara
zayden menatap tajam mereka
"dimana ambara? , dia tidak ikut?
tanyanya
para pengawal itu mengangguk
tanpa bicara zayden langsung mengambil suratnya
"sudah kalian kembalilah, oh ya kalau kalian belum makan , makanlah..
perintah zayden kepada para pengawalnya
para pengawal itu mengangguk dan segera pergi dari hadapan zayden
zayden membuka surat dari ambara
......................
ambara azaylin,
kau pikir aku akan takut padamu?
jangan harap, zayden alaric aku membencimu!!
aku muak dengan ancaman konyol mu!!
aku tidak akan kembali ke negri alaric
aku akan tetap tinggal disini..
kau tidak perlu susah payah untuk membawaku kembali, aku tidak akan melakukan itu..
aku akan tetap tinggal disini,
sampai kapanpun itu, kau mengerti?
zayden alaric..
......................
zayden merobek kertas surat itu dan membuangnya
ia merasa semakin kesal dengan ambara
ia menulis surat dan kembali mengirimnya untuk ambara, dan membawakan beberapa barang untuknya
zayden tertawa sinis
"kau pikir dirimu hebat ambara? , kau pikir hanya kau yang membenciku? , aku juga membencimu ambara aku BENAR BENAR MEMBENCIMU!!
zayden kesal, ia berdiri dari tempat duduknya, dan pergi ke arah pasukannya Yang sedang berlatih senjata
seketika ada sebuah ide yang muncul di benaknya
ia tersenyum kearah para prajurit prajurit itu
"perhatian semuanya ada tugas untuk kalian!!
ucap zayden tegas
mereka satu persatu menoleh kearahnya
dan memberikan hormat
"kenapa pangeran zayden?
zayden kembali tersenyum
"kalian bagi tugas, Beberapa dari kalian pergi ke negri Lucifer dan katakan pada ambara, negri alaric telah diserang masyarakat alaric disekap dan pangeran zayden telah diculik
mereka saling tatap heran
"buat apa pangeran?
zayden hanya tersenyum
"ikuti saja perintahku , berangkatlah sekitar 3 hari lagi, dan sisanya, kalian perintahkan para masyarakat untuk diam dirumah dan bersembunyi untuk 3 hari yang akan datang, mengerti?
ucap zayden lagi
prajurit alaric mengangguk, walau mereka tidak mengerti untuk apa ini
zayden tersenyum sinis
"ambara.. ambara...
zayden kembali kedalam kastil , dengan senyum khasnya yang selalu melekat
melihat zayden yang masuk ke kastil , prajurit alaric segera kembali ke pekerjaan mereka masing masing
mereka saling bertanya tanya satu sama lain,
namun tidak ada juga yang bisa mengerti tentang pangeran zayden dan ucapannya
...----------------...
__ADS_1
(di negri lucifer)
ambara mulai berdamai dengan emosinya, dia mulai mau bicara dengan kedua orangtuanya
orang tuanya juga senang melihat ambara sudah mulai ceria lagi
"nak, coba ceritakan mengapa kau bisa kesini sendirian? , dimana zayden suami mu?
tanya sang ibu dengan wajah cemas bercampur penasaran
ambara masih asik menyantap buah buahan di kebun kastil
"nak, ceritakan lah nak? , ada apa denganmu dan zayden?
tanya ibunya lagi
ambara menoleh ke ibunya
"tidak apa apa ibu.. , ambara tidak ada masalah dengan pangeran zayden..
ucapnya dan lanjut menghabiskan makanannya
"tapi mengapa dia tidak ikut kesini? ,
tanya ibunya lagi
"dia sedang sibuk ibu, dia juga masih sekolah, jadi dia tidak bisa menemani
ambara berharap agar ibunya percaya apa yang ia katakan
sang ibu mengangguk mengerti
"tapi sayang?, kenapa dia tidak memberikan mu surat atau -(terpotong)
"permisi ratu zelia dan putri ambara, ini ada surat dan beberapa barang barang titipan pangeran zayden untuk putri ambara
ucap salah satu pengawal istana kepada mereka
ambara sedikit kesal
"kenapa dia ngirim surat lagi sih..,
gumamnya
ibunya tersenyum kearahnya
"astaga ibu kira kalian bertengkar, ternyata zayden udah pernah ngirim surat ya?, padahal belum berminggu Minggu kamu disini, udah ada ada aja kirimannya
ucap ibunya sambil tersenyum menggodanya
ambara tersenyum terpaksa, ia membuka barang barang kiriman zayden
ia sedikit kaget melihatnya
didalamnya berisi buku pembuatan kue, dan dress biru cantik, juga berisi handuk kecil
ambara menatap heran hadiah hadiah itu
"apa apaan ini? , mentang mentang aku gak bisa bikin kue..
"zayden kamu nyindir aku atau gimana sih..
gumamnya dengan nada kesal
ibunya terkekeh
"artinya dia ingin kau bisa membuatkan kue untuknya sayang..
ambara menoleh ke ibunya dan kembali menyimpan buku itu
"aku tidak akan melakukannya
ibunya tersenyum lalu melihat kearah dress biru yang diberikan menantunya untuk putrinya
"dress ini sangat bagus ,cocok untukmu nak, ini dress mahal
ucap ibunya sambil melihat lihat dress nya
ambara tidak menghiraukannya, ia tidak peduli seberapa mahal dress itu jika zayden yang memberinya dia tidak akan pernah menerimanya
ambara melihat surat zayden, dia berpamitan dengan ibunya untuk kembali kekamarnya, karena takut ibunya tau kalau dia dan zayden sedang bertengkar
ibunya hanya menggelengkan kepalanya
"percintaan anak muda, memang romantis
ucap ibunya sambil melihat dress itu.
ambara berjalan kekamarnya, memasukinya dan mengunci pintunya
ia segera membuka suratnya
......................
zayden alaric,
ambara azaylin, kau pikir kau hebat?
aku tidak akan menjemputmu untuk apa aku melakukannya? , tidak penting untukku.
oh ya barang barang pemberian ku itu,
bukan karena aku peduli padamu?
sejak kapan aku harus peduli padamu?
oh ya, kau bilang, tidak akan kembali lagi kesini
sudahlah, aku juga tidak peduli
jangan sampai kau kembali ya..
......................
"dia tidak ramah..
__ADS_1
ambara merobek robek kertas itu menjadi kecil dan membuangnya lewat jendela
"oke.. , aku tidak akan membalas Surat mu zayden, aku tidak akan melakukannya
ambara geram
"kenapa semakin hari, aku semakin kesal dengannya aku membencinya!!
ambara menghentak hentakan kakinya
ia menarik napas kasar dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri
ambara kini benar benar telah menghapus riasan diwajahnya, dia menjadi malas untuk berhias
ambara menyisir rambut ikal panjangnya
"dia pikir dia hebat?
ambara tersenyum sinis ,dan menatap lekat wajahnya di cermin
"zayden alaric, aku sangat membencimu!!
ucapnya masih kesal
seketika ada yang mengetuk pintu kamarnya
ambara segera membukakan pintu kamarnya
ada pelayan istana berdiri didepan kamarnya
"putri ambara.. ada keluarga bangsawan dari negri sebrang berkunjung, raja menyuruh tuan putri untuk ikut menyambut mereka
ucap pelayan istana kepadanya
ambara mengangguk
"katakan pada mereka aku akan segera datang kesana!
pelayan mengangguk dan segera pergi
ambara kembali duduk di kursi riasnya , mengambil ikat rambut dan mengepang rambutnya
setelah selesai ia segera keluar menghampiri tamu ayahnya
ambara duduk dikursinya
ia tersenyum kearah tamunya
seketika dia terdiam
"ambara!!
seorang gadis yang sangat dikenalinya, menatap nya dengan perasaan tidak menyangka
ambara terdiam
"cel.. Lia
ucapnya dengan suara halus tapi terdengar
benar saja itu celia dan keluarganya yang datang berkunjung ke kastil orang tuanya
"jadi kau anak dari raja xelo dan ratu zelia?!!
tanyanya
"kalian saling mengenal?
tanya ayah Celia kepada mereka
ambara hanya diam tiba tiba dadanya menjadi sesak
Celia hanya mengangguk ucapan ayahnya
mereka berdua saling tatap, tidak ada percakapan selanjutnya, sesekali mereka saling curi pandang
hingga akhirnya keluarga Celia dan ambara berhenti mengobrol, mereka menikmati hidangan khas negri lucifer
Celia sengaja duduk disamping ambara
ambara tidak menghiraukannya
"ambara, kenapa kau disini?, apa kau sudah dilantik menjadi ratu?
tanya Celia
ambara menatap heran celia
"ratu? , maksudnya?
tanya ambara heran
Celia terdiam dan memikirkan sesuatu
"oohh tidak ada, oh ya kenapa kau disini tidak di negri alaric?
tanya Celia lagi
"aku hanya berkunjung,
jawab ambara seadanya
sejujurnya dia risih, dan masih sangat kesal dengan Celia
seketika otaknya berpikir sesuatu
"berarti zayden sendirian disana, kenapa dia tidak ditemani Celia? ,apa yang terjadi?
banyak pertanyaan yang muncul tapi dia berpikir untuk melupakan segalanya dan menikmati makanannya
sedangkan Celia, dia seperti sudah menyiapkan sesuatu entah apakah itu..
ambara tidak mempedulikannya lagi.
...................
__ADS_1