
langkah ambara terhenti, sorot mata nya terfokus pada zayden yang sedang bersandar dikursi takhtanya sambil melihat sebuah surat, ambara segera menghampirinya.
"surat dari siapa??
tanya ambara to the points
zayden melihat ke arah ambara yang berdiri disampingnya,
"dari anak raja Arthur, zella taleshia."
jawab zayden santai, ambara langsung mengambil suratnya dan membacanya secara perlahan
"hallo zayden alaric, kau tau kan jika nanti ayahku akan berperang denganmu, dan jika kamu kalah maka aku akan menjadi milikmu, kau tau zayden sebenarnya aku tidak terima akan hal ini tapi saat tau itu adalah dirimu, entah kenapa hati ini malah menjadi tidak sabar. meskipun faktanya kau sudah memiliki seorang istri, tapi aku tidak masalah menjadi yang kedua asalkan kau bisa menjadi milikku,aku akan menunggu sayang."
ambara melempar kertasnya dan segera pergi ke halaman belakang kastil, dadanya tiba tiba menjadi sesak, ambara menangis sesenggukan dihalaman belakang, entah kenapa dia menjadi benar benar kesal, kenapa banyak sekali cobaan hidupnya, belum usai dengan Celia datang lagi zella, entah siapa lagi setelah ini, ambara melepas semua kesedihannya menyendiri disana.
"aku gak mau diduakan, aku gak mau...
suara ambara terdengar lirih, membuat seorang pemuda yang sedari tadi memperhatikannya menjadi tidak enak, zayden langsung menghampiri ambara dan duduk disampingnya, ambara menoleh ke zayden yang berada disampingnya, tanpa berpikir panjang ambara langsung memeluk erat zayden, seolah olah tidak ingin melepaskannya, sedangkan zayden hanya diam dan membiarkan ambara tetap memeluknya.
"kenapa aku gak pernah beruntung zayden??, kenapa!??
tanya ambara yang sambil menangis sesenggukan.
"kenapa susahnya buat bahagia??, kenapa aku gak bisa sebahagia orang lain zayden!!??
ambara memeluk zayden semakin erat, zayden perlahan melepaskan pelukan ambara, ambara terdiam menatap bingung zayden, zayden berlalu pergi meninggalkannya lagi untuk kesekian kalinya, ambara menatap kosong kepergian zayden, ia perlahan mengusap air matanya, ambara berusaha menahan air matanya, kenapa dia harus merasa zayden mempedulikannya??, kenapa dia bisa berpikir zayden menyayanginya??, jangan bodoh ambara, ingat dia tidak menyayangimu, menyukaimu bahkan mencintaimu.
disisi lain zayden berdiri di teras kamar mereka, memperhatikan ambara dari atas, melihat ambara yang terlihat berusaha mengusap air matanya,
"kasihan gadis 16 tahun, ini lagi cemburu."
gumam zayden
__ADS_1
"ambara², susah kan jadi istrinya zayden alaric?"
zayden tersenyum tipis,
sedangkan ambara masih termenung ditempatnya,
"zayden, kumohon sekali aja kamu ngertiin perasaan aku , sekali aja zayden....
gumam ambara.
tepat didepan ambara, salju salju turun dengan makin lebat, ambara memeluk tubuhnya sendiri, berharap mendapat kehangatan, namun sial malah ia merasa semakin Kedinginan, tidak mau menyiksa diri sendiri ambara masuk ke dalam kastil, salah satu pelayan istana menyapanya, ia hanya tersenyum dan pergi ke ruang takhtanya dan duduk disana, sambil menikmati salju turun, seorang pelayan menghampiri ambara sambil membawakan secangkir teh hangat untuknya, ambara tersenyum dan meminumnya, tiba tiba secepat kilat ada segerombolan anak anak berlari lari ke arahnya dan tidak sengaja menabrak minumannya hingga tumpah, anak anak itu kaget mereka segera meminta maaf, dan buru buru membersihkan air yang tumpah di pakaian ambara, ambara segera menjauh, "tidak usah, kalian lanjut saja bermain, ambara melihat ke tangannya yang melepuh karena air panas, anak anak itu merasa tidak enak dengannya. "maaf ratu.." anak anak itu menunduk dengan wajah lesu, ambara tersenyum melihat mereka, "sudahlah kalian lanjut aja bermain, aku mau kedapur dulu," ambara mengambil kain dan membersihkan bekas tumpahnya sendiri, sesekali dia menahan sakit tangannya, setelah selesai tidak lupa ia mencuci tangannya, dan kembali ke tempatnya duduk tadi, kakinya terhenti saat melihat ada zayden yang duduk disana sambil mengobrol dengan beberapa orang asing, ambara menghampirinya dan duduk disampingnya.
"kami ingin tinggal disini boleh kan raja zayden??"
ucap salah satu pemuda diantara mereka,
zayden mengangguk, "anggab saja sekarang negri alaric adalah tempat kalian dilahirkan, anggab saja semua orang disini adalah keluarga kalian" ucapan zayden itu mampu membuat mereka meneteskan air mata, secara bergantian mereka memeluk zayden, sambil mengucapkan terimakasih berulang kali.
ambara bingung dengan apa yang terjadi
"mereka melarikan dari negerinya, karena raja mereka yang selalu menyiksa masyarakatnya, jadi mereka tidak tahan, dan pergi kesini berharap tempat tinggal"
jelas zayden, ambara mengangguk dan tersenyum ke para pemuda itu,
"tinggallah disini dalam waktu yang lama, jika kalian ingin kalian bisa tidur di kastil ini, semua masyarakat bisa bermain main, bersantai dan bersenang-senang di sini"
jelas ambara
"benarkah!!!
terlihat mereka sangat terharu, para pemuda itu mengucapkan terimakasih berulang kali, zayden dan ambara ikut bahagia melihatnya.
"baru pernah aku bertemu dengan sepasang raja dan ratu yang sama sama-sama memiliki hati bersih dan baik"
__ADS_1
puji salah satu dari mereka
"kalian berdua adalah sepasang kekasih yang sangat serasi, tetaplah bersama selamanya"
ucap yang lainnya, ambara dan zayden saling menoleh satu Sama lain, mereka saling tatap tanpa ada yang bicara satu sama lain, zayden memalingkan wajahnya, kembali melihat ke para pemuda itu.
ambara terdiam, ia juga ikut memalingkan wajahnya, zayden tersenyum kembali, "sudahlah, lebih baik kalian beristirahat terlebih dulu, nanti kami siapkan tempat tidur untuk kalian di kastil ini" mendengar ucapan zayden para pemuda itu menolaknya "tidak usah raja zayden, kami lebih baik tidur di desa saja" ambara heran dengan jawaban mereka, "kenapa??" mereka tersenyum, "tidak apa² kami hanya ingin tinggal di desa saja" jelas mereka, ambara dan zayden mengangguk, para pemuda itu langsung pamit permisi meninggalkan ruangan.
"besok pagi keluarga Celia akan berkunjung, dan ku harap kau tidak cari masalah dengan mereka"
ucap zayden setelah para pemuda itu pergi,
ambara sedikit terkejut, celia dan keluarganya mau kemari, untuk apa??, sudah pasti Celia akan cari masalah dengannya,
"aku tidak pernah cari masalah dengan siapapun"
jawab ambara
"terserah, yang pasti kau tidak boleh membuat onar besok!, mengerti??"
ambara hanya diam, ia berlalu pergi meninggalkan zayden, dan pergi kekamar. ambara menendang dinding kamarnya, "padahal selama ini Celia yang selalu cari masalah denganku, bukan aku!!" ambara kesal, ambara duduk diatas kasurnya, "aww..." ambara merintih kesakitan saat mengingat tangannya yang melepuh, ia segera mengambil perban dan langsung membalut lengannya, zayden masuk kekamar dan memperhatikan apa yang dilakukan ambara, zayden berwajah tidak peduli, langsung berbaring disamping ambara sambil menutup kedua matanya, ambara menoleh kearah zayden, ia menatap kesal zayden. "kenapa aku menikah dengan pria sepertinya" gumam ambara kesal, "aku juga tidak mau menikah denganmu, aku menyesal melakukannya" sahut zayden, ambara membelalakkan matanya, ia menatap sinis zayden dan ikut membaringkan tubuhnya, ia membelakangi tubuhnya, dan perlahan ikut menutup kedua matanya,
"besok ikut aku ke negri tempat temanku"
ambara heran
"bukannya besok Celia datang??
tanya ambara
"tidak jadi, aku baru ingat kalau aku ada tugas"
jawab zayden, mendengarnya ambara merasa sangat senang, berjalan jalan ke negri lain, pasti menyenangkan, dan juga tidak jadi bertemu dengan Celia, sangat bahagia.
__ADS_1
ambara buru buru tidur, tidak sabar dengan hari esok yang akan datang, ambara tidak bisa berhenti tersenyum.
...----------------...