
musim dingin telah datang, negri alaric kini terlihat ingin dipenuhi dengan salju, masyarakat alaric terlihat sudah menyiapkan segala macam keperluan mereka nanti saat musim salju benar benar memenuhi negri mereka. ambara berjalan keluar dari kastil menggunakan mantel tebal pemberian ayahnya, ia berjalan jalan untuk melihat kondisi masyarakatnya, mulai hari ini anak anak berteriak kesenangan dimana mereka akan diliburkan dari sekolah, dan akan kembali lagi setelah musim dingin telah pergi."ini memang salju keberuntungannya!!, ucap salah satu anak kecil dengan antusias. ambara hanya tersenyum mendengarnya, ia pergi ke arah kebun buah Mereka, terlihat para petani sedang mengumpulkan sisa sisa buah yang masih ada untuk simpanan mereka nanti, melihat ambara menghampiri mereka dengan wajah senang mereka langsung menyapanya.
"selamat pagi, putri cantik, bagaimana kabarmu hari ini?
tanya salah satu petani bernama Mrs.Azka, ambara tersenyum balik kepadanya dan menjawab pertanyaan Mrs. Azka itu "pagi juga Mrs.Azka pagi ini aku cukup baik, bagiamana denganmu?" Mrs. Azka menggeleng kepalanya pelan "aku selalu baik putri, dan selalu jadi yang TERBAIK!!" teriak Mrs. Azka antusias. ambara tersenyum melihat Mrs. Azka, dan ia berpamitan untuk pergi melihat keadaan lain dari masyarakat alaric. ambara kegirangan sambil meloncat loncat diatas beberapa tumpukan salju yang ia lalui, ini adalah salju pertama dihidupnya, karena negri Lucifer tempat kelahirannya termasuk negri ber iklim tropis yang tidak memiliki musim salju. wajarlah jika tingkahnya masih kekanak-kanakan saat melihat salju.
disisi lain, zayden alaric ia berdiri di ruang tengah kastil sambil mondar mandir, perasaan nya begitu khawatir dan campur aduk, mengingat ia sudah menjadi seorang raja maka pantaslah untuknya jika negerinya akan diserang dan dia harus ikut dalam peperangan selama ini dia hanya bisa ikut ayahnya dari belakang untuk melindung pasukan pasukan ayahnya dari belakang, kini ia sendiri yang harus berdiri paling depan untuk menjadi pemimpin. perasaan zayden semakin cemas saat membaca surat pemberian dari masyarakat dari raja Arthur yang konon katanya adalah raja dengan badan besar dan gagah yang sudah memiliki 15.000 pasukan perang dan 20.000 pasukan cadangan, raja Arthur juga memiliki pasukan lain yang ia rahasiakan yang bisa menyerang secara dadakan seperti pasukan berkuda hitam miliknya yang sudah terlatih dengan baik, dan sudah pernah membunuh lebih dari 12.000 pengawal, bukan lagi dengan pasukan panahnya? , ini gila!!.
__ADS_1
zayden menghempaskan tubuhnya dikursi takhtanya , dia merasa ingin menyerah begitu saja. tapi bagaimana dengan nasib masyarakat nya, jika dia menyerah otomatis masyarakat alaric akan menjadi budak para pasukan raja Arthur. dan jika dia tetap memilih untuk berperang hanya kemungkinan kecil masyarakat alaric yang akan bertahan, perasaannya semakin resah, meski perangnya akan berlangsung setelah musim dingin telah selesai tapi tetap saja ini akan menganggu pikirannnya hingga nanti. sejam kemudian ambara datang menghampirinya sambil membawakan sarapan untuk zayden. "nih sarapan, yok makan!!, ambara mengambil salah satu potongan roti yang ia buat dan mengarahkan nya kemulut zayden, zayden menoleh ke ambara "taruh saja disana, nanti akan ku makan, zayden menyingkirkan tangan ambara dari depan wajahnya, ambara menghela napas, dan menaruh rotinya kembali, dan duduk disamping zayden "kenapa? ,kamu lagi ada masalah ya? tanya ambara dengan suara lembutnya, zayden menggelengkan kepalanya "tidak ada, sudahlah kau pergi saja mendatangi masyarakat alaric aku sedang ingin sendiri. zayden pergi berlalu pergi kekamar mereka, ambara terdiam melihatnya, sudah sangat biasa baginya diperlakukan seperti ini.
ambara pergi ke halaman kastil negri alaric, untuk menghampiri anak anak kecil yang sedang bermain kapal kertas bersama, ambara duduk didekat mereka dan ikut bermain bersama mereka "ayo, putri kita bawa pergi kapal-kapal kita untuk pergi ke negri seberang kita akan adakan perang besar besaran!!! , teriak anak anak itu heboh, ambara yang melihatnya tersenyum kecil, salah satu dari anak anak itu melihat ke arah kapal kertas yang ia buat dan menoleh kearah ambara, mulut anak itu berucap mengutarakan sebuah pertanyaan "putri kau pernah pergi ke benua lain kan? bagaimana rasanya berkapal? , menyenangkan bukan? tanya Anak itu dengan wajah yang sangat penasaran. "sebenarnya sangat menyenangkan, kau bisa melihat bintang dimalam hari dengan indah, kau bisa melihat berbagai jenis hewan laut yang mungkin belum pernah kamu temui, juga bisa merasakan bagaimana tubuhmu ikut bergerak saat ombak menyentuh kapal mu, tapi semua itu akan terasa tidak apa apa saat kau merasakan itu hanya sendirian bahkan dalam kondisi kau sedang kesepian. jawab ambara, setelah mendengar Jawaban ambara anak kecil itu kembali menanyakan pertanyaan baru, "apa putri pernah merasa kesepian?. ambara tersenyum dan mengelus pelan kepala anak kecil itu, "aku tidak pernah merasakannya sama sekali dihidupku. ambara menutup mulutnya setelah kebohongan itu selesai ia ucapkan. dan kembali melanjutkan kegiatan bermainnya bersama anak anak negri alaric.
beberapa menit kemudian sebuah surat dibawa oleh para pengawal alaric untuknya, ambara dengan rasa penasaran segera membukanya.
"ambara azaylin, aku cukup senang setelah melihatmu secara resmi, menjadi ratu di negri alaric, walaupun itu adalah impian ku sejak dulu. tidak apa, setidaknya aku merasa aku punya saingan baru dihidupku, meskipun kau dan zayden terlihat sangat akrab sekarang, tapi percayalah ambara, zayden tidak pernah sama sekali menyukaimu, dia mengatakan padaku jika dia hanya menikahimu karena paksaan dari orang tuannya, jadi jangan terlalu bangga pada kehidupan mu yang sekarang ambara, itu hanya tipuan belaka!!.
__ADS_1
ambara menutup surat itu, merobeknya dan membuangnya ke sampah, emosinya kembali memuncak bagaimana bisa cellia masih saja berniat menganggu hubungannya sampai sekarang, zayden tidak pernah menyukainya?, apa itu penting baginya? , lagipula dia juga tidak pernah menyukai zayden. ambara segera menenangkan emosinya, dan menghentikan permainannya dan pergi kekamar. sedangkan zayden masih berada di kamarnya, memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengalahkan pasukan raja Arthur dengan mudah, "haruskah minta tolong ayah?, tapi terakhir kali pasukan ayah kalah, dan masyarakat ayah harus menjadi budak., zayden mengusap dahinya, "bagaimana mungkin raja Arthur ingin menantang pemuda usia 18 tahun untuk berperang?, ini konyol.. , gumam zayden dengan nada kesal. dibalik pintu ambara tidak sengaja mendengar semua ucapan zayden, "berperang?!!, aku harus lakukan sesuatu!! , ambara masuk kedalam kamar dan langsung menghampiri zayden dan berdiri didepannya. zayden yang melihatnya menatap heran ambara.
"ada apa? tanya zayden ke ambara. "aku akan membantumu!!, ucap ambara dengan penuh percaya diri. zayden tersenyum sinis "kau pikir kau bisa ambara??, kau tidak tau siapa saingannya. ambara menatap kedua mata zayden lekat "aku tahu, dia adalah Arthur Zakri, dari negri ARNOL, dia memiliki tubuh yang cukup besar, dia sudah lebih dari 200 kastil ia kalahkan, dan sekarang ia berniat untuk mengalahkan negri alaric, negri yang dipimpin oleh raja zayden alaric.
zayden terdiam, bagaimana mungkin ambara tahu siapa raja Arthur, zayden duduk diatas kasurnya sambil melihat wajah ambara yang berdiri didepannya dengan penuh percaya diri "sudahlah ambara, disaat musim dingin pergi, kau kembalilah ke negrimu, dan jangan coba coba untuk mengikutiku!! ,tegas zayden. ambara melipat kedua tangannya didepan dada, "aku akan selalu berada disampingmu, apapun yang terjadi. zayden tidak menghiraukan ucapan ambara, ia merasa ambara masih kekanak-kanakan, yang tidak mengerti sama sekali apa itu perang. merasa zayden tidak menghiraukannya, ambara duduk disampingnya sambil memegang kedua bahunya, "dengarlah raja zayden, aku ambara azaylin tidak akan pernah untuk pergi dari sisimu. zayden melepas kedua tangan ambara dari bahunya. "dan aku zayden alaric, tidak peduli akan hal itu. zayden berdiri dari duduknya dan pergi keluar kamar, langkahnya terhenti saat disambut oleh salah satu pengawal yang memberikan sebuah surat untuknya. tanpa basa basi zayden segera membukanya.
__ADS_1
"raja zayden alaric, setiap peperangan pasti ada pihak yang menang dan kalah, dan yang kalah pasti harus mengabulkan permintaan yang menang, dan kau tau? ,aku tidak sama sekali berminat dengan pasukan dan masyarakatmu, aku hanya ingin nanti, jikau kau kalah, kau diharuskan untuk menikah dengan putriku "zella taleshia, sebagai tanda kekalahan mu. kau mengerti? (raja Arthur).
melihat zayden mendapatkan sebuah surat ambara langsung menghampirinya dan diam diam ikut membaca isi suratnya, seperti ada sebuah pukulan keras menimpanya, "zayden menikah?? , ia tidak akan membiarkan itu!!. zayden menoleh ke ambara yang berada disampingnya, "apa yang kau pikirkan??. tanya zayden kepadanya."kau ingin menikah?. nada suara ambara seketika menjadi sangat halus. air matanya terasa ingin menetes ke pipi putihnya, "aku akan menikah jika aku kalah. kalau aku menang aku tidak akan menikah!. ambara mengusap air matanya "zayden tidak boleh kalah!!!, ucap ambara antusias, zayden menatap ke pipi ambara yang sudah basah oleh air matanya, "aku tidak bisa berjanji kalau aku akan menang, jika nanti aku kalah, maka aku minta maaf karena aku harus menduakan mu. zayden memberikan surat nya ke ambara lalu pergi keluar dari kastil menuju tempat latihan perang. ambara menatap ke arah surat ditangannya. "zellia taleshia, semoga kali ini rencana ayahmu gagal!!", ambara membuang surat itu. lalu pergi beristirahat.