Journey Of Love Princess Ambara

Journey Of Love Princess Ambara
SEBENTAR LAGI


__ADS_3

ambara mondar mandir dikamarnya sudah seharian zayden tidak terlihat, matahari hampir terbenam tapi zayden belum saja pulang, ambara benar benar gelisah, ia sudah mencari keliling istana tapi tidak ditemukan.


ambara melihat ke arah luar jendela salju masih lebat jadi masih banyak waktu sebelum perang terjadi lantas kemana zayden?. ambara segera menghampiri quley yang sedang duduk bersama Januar selaku teman seangkatan. terlihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting ambara perlahan menghampiri mereka dan menguping pembicaraan mereka.


Januar : "aku tau quley, itu tidak mudah tapi jika kita bersemangat pasti kita akan menang!"


quley: "tapi Januar, kau tau bukan?, perang itu sebentar lagi akan berlangsung, apakah mungkin bagi kita?"


Januar : "masih ada 1 Minggu untuk kita sebelum perang itu akan benar benar dimulai, jika kita banyak berlatih kita pasti bisa"


quley : "baiklah aku akan mencoba menyakinkan diriku"


ambara kaget, 1 Minggu lagi, benar benar mengagetkan ambara segera pergi dari sana, ia berjalan dengan perasaan bimbang dengan segera ia pergi kembali ke kamarnya. "satu Minggu itu gila?, bahkan kami belum pergi untuk meminta bantuan ke negri sebelah, itu pasti akan membuang buang waktu" ambara prustasi.


seketika para pelayan mengetuk pintu kamar, ambara segera membuka nya, mereka meletakan berbagai hadiah perhiasan dan wewangian di atas kasurnya. "ratu ini hadiah dari pangeran eric untuk ratu ambara". ambara menatap heran hadiah hadiah itu "untukku?" tanya ambara. "iya putri ini hadiah ulang tahun untuk putri dari pangeran eric" jawab para pelayan itu.


ambara mengangguk, lalu meminta para pelayan itu untuk keluar, ambara melihat ke hadiah hadiah itu, dia langsung menyimpan hadiah hadiah itu didalam lemari. entah kenapa dia merasa aneh saat Eric mendadak memberikannya hadiah, tapi ambara tidak terlalu mempedulikannya karena yang ia pikirkan sekarang hanya zayden, zayden dan zayden.

__ADS_1


ambara keluar dari kamarnya dan pergi ke halaman kastil, hari semakin gelap ia merasa semakin khawatir, ia menyiapkan jaket tebal dan pergi menuju ketempat pelatihan senjata, menembus lebatnya salju turun. kakinya terasa beku saat melangkah semakin jauh dari kastil menuju ke tempat pelatihan senjata.


hingga akhirnya ia tiba disana, meski tubuhnya terasa sangat dingin, kaki dan tangannya bergetar karena masih tidak terbiasa dengan dinginnya musim dingin. apalagi perjalanan dari kastil kesana cukup panjang, harus melewati pasar dan pedesaan. ambara membuka tempat senjata senjata disimpan. akhirnya senyum tipis muncul dibibir mungilnya, saat melihat zayden ada disana sambil mengasah pisaunya.


ambara segera menghampirinya dan memeluknya sangat erat, zayden sedikit kaget ia menatap ke ambara, suhu dingin tubuh ambara dapat ia rasakan, "apa yang kau lakukan malam² disini?" tanya zayden. ambara menjawab dengan suara sedikit sayu. "aku mencarimu". ambara melepaskan pelukannya, "untuk apa kau mencariku, aku bisa pulang sendiri, tidak usah peduli" ucap zayden sambil melanjutkan mengasah pisaunya. "aku hanya khawatir jikau kau kenapa Napa, sudah seharian kau tidak terlihat di kastil" jawab ambara lugu.


"baru seharian aku tidak ada disana, sudah khawatir gimana kalau seminggu, sebulan bahkan setahun atau selama lamanya?" zayden menaruh pisaunya lalu pergi duduk ke kursi panjang yang terletak disana sambil melihat lihat busur panahnya. "apa maksudnya?, kamu mau pergi kemana?!" tanya ambara. "entahlah" jawab zayden singkat.


ambara menghampiri zayden, "sebantar lagi perang akan terjadi kan?, berjanji padaku jika kau akan menang" ucap ambara sambil memegang tangan zayden. zayden terdiam, ia menatap kedua bola mata ambara yang terlihat sangat khawatir. "kumohon berjanjilah!" ucap ambara lagi.


"aku tidak bisa" jawab zayden yang langsung berdiri dari duduknya, ambara sedikit kecewa mendengarnya, "KENAPA?" tanya ambara dengan nada sedikit tinggi. zayden tidak mengacuhkannya. "atau mungkin kau sengaja, kau ingin menikah dengan zella kan?,jawab zayden!!". seketika air mata ambara menetes ke pipinya. zayden hanya menoleh sekilas ke arahnya "cukup ambara, jangan kekanak-kanakan, kau tau kan melawan raja Arthur itu gak mudah, dan aku gak bisa berjanji" jawab zayden.


ambara terdiam lalu mengusap air matanya, "buruan ikut aku, aku mau ke markas pribadiku dulu" ajak zayden. ambara menoleh ke zayden, "kesana, untuk apa aku kesana?" tanya ambara, zayden menoleh balik ke ambara. "jika aku meninggalkan lagi, sepertinya kau akan menangis dan merengek lagi, lebih baik kau ikut saja" jawab zayden lalu menarik ambara untuk mengikutinya keluar dari tempat senjata itu.


ambara tersenyum, alasan zayden tadi menurutnya sedikit lucu, zayden menganggapnya seolah olah masih bayi yang baru lahir. ambara dan zayden pergi menelusuri jalanan bersalju mereka berjalan menjauh pergi dari negri alaric sedikit masuk ke hutan. selang beberapa menit akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. disana ada sebuah pondok kayu sederhana. mereka langsung masuk kedalam.


didalamnya terdapat buku buku yang tersusun rapi, meja kecil, dan berbagai senjata yang tersusun rapi disana. "wow tempat ini keren" ambara melihat lihat ke sekitar sana, terdapat sebuah dapur disana, juga satu kasur berukuran tidak terlalu besar.

__ADS_1


"memasak lah untukku, aku lapar"ucap zayden, ambara mengangguk dan langsung pergi ke dapur, ada berbagai rempah rempah dan beberapa telur disana, ambara segera memasak telur telur itu membumbuinya dan menghidangkannya, ia membuat sup telur untuk nya dan zayden kebetulan perutnya sedang lapar juga.


mereka berdua pun makan bersama, sambil menikmati saljun turun. sebenarnya ambara merasa tubuhnya tidak enak, tapi setelah bertemu dengan zayden ia merasa sekarang lebih mendingan.


setelah selesai ambara langsung membereskannya, setelahnya ia kembali menghampiri zayden yang sedang duduk dikursi sambil membaca buku. ambara mengambil kursi lain dan duduk disamping zayden sambil merebahkan kepalanya di meja. zayden menoleh ke arahnya.


"lepaskan jaketmu, kayanya udah basah terkena salju" tegur zayden. ambara mengangguk lalu melepas jaketnya. dan kembali merebahkan kepalanya dimeja. "jika kau sakit beristirahatlah di kasur" ucap zayden dengan suara datar. "aku gak sakit" jawab ambara dengan suara sayu. zayden tidak terlalu menghiraukannya lalu kembali membaca, selang saat zayden membaca buku, ia mendengar ambara bersin.


zayden menoleh ke ambara lagi. "aku gak sakit kok, cuman suhunya bikin aku flu aja" jawab ambara saat menyadari zayden menatap tajam ke arahnya. ambara kembali merebahkan kepalanya diatas meja. "istirahat aja disana" ucap zayden, ambara kembali mengelak. zayden kembali tidak peduli ia lanjut membaca bukunya.


selang beberapa menit terdengar ambara kembali bersin, zayden menghela napas kasar lalu menatap tajam ambara. "aku gak sakit aku cuma-(terpotong). tanpa mendengar alasan ambara lagi, zayden langsung mengangkat ambara lalu merebahkannya dikasur.


ambara kaget, ia seketika malu, baru pertama kali dia digendong oleh zayden. ia menoleh ke zayden yang sedang menarik selimut untuknya. zayden memegang jidatnya, lalu pergi ke dapur dan membawakan segelas air hangat.


"aku gak papa" ucap ambara saat melihat zayden membawakan air untuknya. "duduk" suruh zayden, ambara terdiam dan langsung menurutinya. zayden langsung memberikan air hangat itu ke ambara, pipi ambara refleks ngeblush~.


zayden pergi kedapur dan menaruh gelas itu. dan kembali menghampiri ambara dan duduk disampingnya, "tidur" suruh zayden lagi, ambara langsung menutup kedua matanya. zayden masih duduk disampingnya sambil membawa bukunya. ambara memegang tangan zayden erat, zayden dapat merasakan tangan ambara yang sangat dingin. "tidur, istirahat dulu" ucap ambara dengan Suara halus dan lembut. "aku gak ngantuk" ucap zayden. "tidur!" suruh ambara lagi.

__ADS_1


zayden terdiam, ia meletakan bukunya dan ikut berbaring disamping ambara, ambara tersenyum lalu memeluk erat tubuh zayden disampingnya. entah kenapa kali ini zayden tidak bisa menolaknya, zayden ikut terlelap didalam pelukan hangat ambara yang sangat nyaman hingga membuat pikirannya tenang, lagipula sejak kapan zayden pernah menolak pelukan ambara.


...----------------...


__ADS_2