
udara dingin pagi hari menembus kedalam mantel tebal yang dikenakan Ambara, ambara memeluk tubuhnya sendiri menahan dinginnya udara laut saat musim dingin, padahal baru 1 jam saja mereka telah meninggalkan negeri alaric, tubuhnya sudah mulai menggigil. melihat ambara yang sendirian quley menghampirinya, dan duduk disamping ambara, kebetulan saat di kapal zayden terlihat lebih senang menyendiri, sehingga tidak mempedulikan ambara sama sekali. quley tersenyum kepadanya
"ratu ambara, kenapa kau tidak didalam saja bersama dengan raja zayden??
tanya quley kepadanya
"tidak apa², aku hanya lebih suka pemandangan laut, jadi aku memilih untuk diluar saja menikmati pemandangan laut lepas yang indah"
quley mengangguk
sepintas muncul sebuah pertanyaan dibenak ambara,
"kak quley, apa kau tau tentang negri yang ingin kita datangi??
mendengar pertanyaan ambara, quley kembali tersenyum.
"tentu putri, negeri yang ingin kita datangi adalah tempat tinggal sepupu nya raja zayden, dia adalah keluarga sekaligus sahabat bagi raja zayden, negeri mereka sangat damai, tapi hanya satu hal yang tidak ada di negri mereka yaitu salju, disana tidak ada musim salju, mereka hanya terdiri dari dua musim yaitu panas dan hujan. meskipun sering terkena panas tapi masyarakat disana tetap saja memiliki kulit yang bersih dan cantik."
__ADS_1
mendengar penjelasan quley, ambara merasa masih kurang puas, ia kembali bertanya kepada quley.
"lantas, siapa nama dari sepupu zayden itu??,
"namanya adalah rayyan, raja rayyan arzakra, dia memiliki ciri ciri fisik dengan tubuh sedikit kecoklatan, tapi dia sangat manis.
ambara mengangguk, ia terdiam melihat ke arah lautan lepas didepannya
quley memperhatikan ambara dan melihat ke arah laut yang dilihatnya.
"mengapa ratu sangat suka dengan laut??
"entahlah saat melihat laut, aku merasa sangat damai dan tenang, aku rasa laut seperti bisa menghapus semua masalahku"
jawab ambara, quley mengangguk
Berjam jam mereka lalui dilaut sambil bercerita bersama, karena melihat kondisi cuaca yang semakin memburuk ambara pergi kedalam kapal dan menghampiri zayden, sedangkan quley pergi ke ruangannya untuk melihat kondisi kapal dan awaknya.
__ADS_1
ambara melihat zayden yang sibuk memperhatikan lukisan lukisan wajah 2 orang Cowo yang sedang bermain bersama.
"siapa itu??
tanya ambara,
"bukan urusanmu!!"
zayden melipat lukisan lukisan wajah 2 pria tadi dan menyimpannya didalam tas kecil miliknya, lalu pergi meninggalkan ambara sendirian, ambara menghela napasnya ia duduk dikursi zayden tadi dan merebahkan kepalanya di atas meja, ambara perlahan menutup kedua matanya. ambara tertidur dengan lelap, tanpa menyadari jika sebentar lagi akan sampai.
malam telah tiba. disisi yang lain, zayden sedang asik melihat di peta perjalanan mereka, "mungkin delapan jam lagi kita akan sampai" ucap quley kepadanya, zayden mengangguk, ia memperhatikan sekelilingnya, udara sudah mulai hangat, musim dingin mulai menghilang, kini mereka sudah mendekati daerah ber iklim tropis. "hey!! lihatlah apa itu??!!!" teriak salah satu pengawal antusias, mendengarnya banyak yang menghampirinya sambil melihat apa yang terjadi, begitu takjub nya mereka saat melihat lumba lumba bersama teman temannya sedang berenang bebas, zayden terlihat sangat bahagia melihatnya benar benar menakjubkan, tidak ingin menikmatinya sendirian zayden buru buru menghampiri ambara, membangunkannya untuk melihat ratusan lumba lumba itu, merasa terganggu ambara mulai terbangun, "ada apa?" tanya ambara dengan suara parau, tanpa basa basi zayden langsung menariknya dan membawanya keluar dari ruangan menuju ruang tengah kapal, "lihatlah!!" ucap zayden antusias, ambara berusaha memperhatikan dengan jelas apa yang ingin zayden perlihatkan padanya, samar samar ia mulai menyadari itu adalah puluhan lumba lumba, eh tidak itu ratusan!!!. mata ambara terbuka lebar, ia benar benar takjub melihatnya, "wah.. menakjubkan!!!" ambara berteriak histeris memanggil lumba lumba itu, zayden tersenyum melihatnya, "keren kan??" tanya zayden, ambara mengangguk bahagia, selang beberapa menit kemudian ambara terdiam ia melihat ke bawah kapal mereka terlihat ada sesuatu yang besar terlihat ingin melewati kapal mereka, ambara memperhatikan dengan seksama, berusaha mengenali apa itu, seketika ambara menyadari saat melihat ada sebuah ekor ikan berukuran lebih besar dari kapal mereka terlihat ingin menampakan diri. menyadari itu adalah ikan berukuran besar ambara berteriak ketakutan, ia segera memeluk kuat zayden yang berada disampingnya, "zayden!!!!, tolong aku!!" teriak ambara heboh, zayden melihat apa yang ambara perhatikan sedari tadi "itu hanya ikan ambara, dia tidak akan memakan mu juga, dia tidak selera denganmu" ucap zayden sambil tertawa. ambara memukul bahu zayden dan melepaskan pelukannya, zayden masih asik menertawakannya. quley menggelengkan kepalanya melihat ke arah mereka, "dasar anak muda" quley pergi meninggalkan mereka berdua.
melihat zayden yang masih tertawa, ambara kesal dan kembali memukul kuat bahu zayden. menyadari ambara memukulnya lagi, zayden menghentikan tawanya, dan melihat sinis ke ambara, "udah berani mukul ya??" tanya zayden sinis, ambara terdiam, ia memalingkan wajahnya berpura pura tidak pernah melakukan apa apa. seketika zayden menyentil telinga ambara, ambara memegang telinganya, emosinya kembali meluap, ambara menatap tajam zayden. "apa mau mukul??, silahkan.. paling ku terjunkan kamu ke laut habis ini" ucap zayden, ambara menghentak hentakan kakinya kesal meninggalkan zayden, sedangkan zayden masih tertawa puas melihatnya.
ambara pergi kekamarnya dan dihampiri oleh zayden, mereka saling tatap kebencian. ambara mengambil bantalnya dan melemparnya ke wajah zayden, membuat zayden kaget, ambara tertawa puas melihat zayden. merasa tidak suka ditertawakan zayden mengambil bantal lain dan melemparnya lagi ke ambara, dan terjadilah perang bantal, tapi kali ini hasilnya seri , tidak ada yang menang di antara mereka, ending dari perkelahian mereka adalah berdamai.
malam itu mereka saling berdamai satu sama lain tidak ada perkelahian untuk sementara, tak ada rasa egois diantara keduanya, malam ini mereka seolah olah bisa saling mengerti perasaan satu sama lain.
__ADS_1
ambara berbaring di pangkuan zayden, sambil tersenyum bahagia. "zayden kenapa kamu mau bawa aku ke tempat temanmu?" zayden terdiam untuk beberapa menit, "tidak ada aku hanya ingin membawamu jalan jalan". jawab zayden, seketika ambara teringat dengan anak raja Arthur "zayden kau sudah bertemu dengan putri raja Arthur??". mendengar pertanyaan ambara, zayden menghela napasnya malas, "kenapa??" tanya zayden dengan nada malas. "tidak mengapa aku hanya penasaran". jawab ambara. "iya aku sudah pernah bertemu sejak aku masih berusia 6 tahun" sahut zayden. ambara menoleh ke zayden. "jadi bagaimana menurutmu, apa dia cantik??" tanya ambara. zayden hanya diam pura ² tidak mendengar. "zayden!!, bagaimana apa dia cantik??, dia teman lama mu kan?!!" tanya ambara. "kami tidak pernah berteman, aku hanya sekedar kenal dengannya, kalau masalah cantik aku tidak tahu, menurutku semua wanita cantik kecuali..... dirimu" ucap zayden. seketika mood ambara memburuk, "dia tidak cantik??, berarti Celia dan gadis itu lebih cantik darinya" ambara cemberut dia segera beranjak dari pangkuan zayden. dan pergi berbaring ditempatnya tanpa ada sepatah katapun yang ia tanyakan. zayden hanya menggeleng melihat kelakuannya.
...----------------...