
ambara azaylin begitu senang, hari ini dia sudah berusia 17 tahun, dan dia benar benar bahagia karena ia dapat merayakan nya dengan orang yang ia sayang dan juga yang ia benci yaitu zayden alaric.
setelah lilin selesai ia tiup, ambara langsung memotong kue buatannya dan memberikannya kepada suaminya, lalu kepada sahabat suaminya. ambara tersenyum bahagia, saat menatap zayden yang sedang memakan kuenya, tanpa ia sadari dibalik tatapannya, ada seseorang yang sedang menatapnya dengan perasaan kesal dan cemburu.
"ambara jangan lupa setelah ini kau siapkan barang barang mu, kita akan langsung berangkat untuk pulang". ambara mengangguk meskipun kepulangan mereka sangat mendadak, ambara tidak terlalu mempedulikannya, mungkin saja zayden mendapat tugas dadakan, atau apa. yang pasti mereka harus segera pulang.
setelah acara ulang tahunnya selesai, mereka langsung membawa barang barang mereka keluar dari kastil, rayyan menatap mereka berdua dengan tatapan misterius. "semoga kalian selalu bersama selamanya" ucapan terakhir rayyan membuat ambara tersenyum. berbeda dengan zayden yang hanya membalasnya dengan ekspresi datar. "oh iya ambara, kau bisa mengambil ini sebagai hadiah ulang tahunmu dariku" rayyan mengeluarkan sebuah panah dan busur khusus yang sangat indah dan memukau dari belakangnya. ambara tersenyum bahagia, tidak menyangka akan mendapatkan hadiah se istemewa itu, ia benar benar senang. "terimakasih raja rayyan, kau yang terbaik" ucap ambara yang membuat rayyan menyunggingkan senyumnya.
setelah selesai berpamitan dan berterima kasih, ambara dan zayden beserta beberapa pasukan terutama tuan quley, langsung pergi berlayar kembali ke negri mereka, sebelumnya ke negri mereka. zayden berencana untuk bertamu ke negri orang tuannya, ambara pun tidak keberatan, dia benar benar senang jika bisa berkunjung ke tempat mertuanya.
__ADS_1
ambara menghampiri zayden yang sedang duduk diruangannya, sambil tersenyum manis ambara duduk didepan zayden. "apa yang kau inginkan?" tanya zayden yang menyadari ada yang berbeda dari sifat ambara. ambara tersenyum penuh arti sambil memegang bahu zayden. "kau belum memberikan hadiah untukku" ucap ambara SE berani mungkin. awalnya dia ragu untuk mengucapkannya, tapi entah kenapa dia mendadak menjadi yakin. zayden mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke ambara yang duduk di meja didepannya yang membuat ambara menjadi sedikit lebih tinggi.
"hadiah?, apa yang kau inginkan?" tanya zayden, Ambara tersenyum mendengarnya, awalnya dia pikir zayden akan menghinanya dan mengatakan dia cewe yang banyak mau. "terserah apapun itu" jawab ambara. mendengar jawaban ambara, zayden langsung tersenyum licik padanya. "bagaimana jika hadiahnya...(terpotong). "raja, kita telah sampai!!!!" teriak salah satu pengawal kapal. ambara menoleh ke zayden, "yo, kita udah sampai, tapi ingat ya.., hadiahmu tetap ku tagih" ambara menatap tajam zayden. zayden mengangguk dan tersenyum tipis padanya. ambara merasa heran, sejak kapan zayden menjadi penurut.
ambara dan zayden segera turun dari kapal dan berjalan menuju kastil mertuanya. Raja David dan ratu Sonia. negri mereka sangat khas dengan hutan Pinus yang cantik. ambara benar benar bahagia ia segera mengajak zayden untuk buru buru kedalam, ambara tidak sabar bertemu dengan mertuanya. "ambara, zayden.. mendadak sekali kalian datang tunggu aku panggilkan ratu Sonia dulu" ucap raja David kepada mereka. mereka mengangguk dan segera duduk di kursi yang telah disediakan.
zayden merasa jantungnya berdegup kencang, perasaan nya antara senang dan kesal. "mungkin nanti, untuk sementara kami harus mengurus banyak hal, tidak sempat untuk liburan" sahut zayden. mendengarnya ambara merasa sedikit sedih dan kecewa. padahal dia sudah berharap bakal liburan bersama dengan pria yang tidak ia sukai itu.
"baik mah, kami mau istirahat dulu, nanti sore kami bakal pulang" ucap zayden lalu berangkat dari duduknya menuju kamarnya dulu. ambara hanya diam dan memilih untuk bersantai dengan kedua mertuanya sambil menceritakan banyak hal. hingga sore pun tiba ambara menyempatkan untuk belajar banyak masakan baru dari mertuanya. mereka berencana membuat ayam bakar saus tomat, untuk makan sore mereka.
__ADS_1
"ambara, kau memang anak yang baik, zayden beruntung memilikimu" puji mertuanya di sela sela memasak
"terimakasih mah, zayden juga pasti beruntung punya ibu seperti mamah" ucap ambara, yang membuat pipi ratu Sonia memerah.
"lebih tepatnya, zayden beruntung memiliki kalian berdua dihidupnya" sahut raja David yang mendadak memasuki dapur.
ambara tersenyum malu, menurutnya dia bersyukur memiliki mertua sebaik mereka. selang beberapa menit rapat saat hidangan nya sudah masak sempurna, mereka menikmati makanannya bersama, juga dengan zayden. setelah selesai mereka langsung membereskannya dan bersiap siap untuk pamit pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1