
ambara sedari tadi tidak bisa berkata kata, tubuhnya mengaku sejak bertemu ibu dan mertuanya, entah kenapa dia merasa pertemuan kalian ini terlihat lebih berbeda, dimana mereka bertemu di dalam kamar ibunya dan disana hanya ada mereka bertiga, dan dengan Suasana hening dan sunyi.
"ee.. ada apa yang Bun,mah?
ambara merasa sangat gugup, padahal bila dipikir pikir untuk apa dia gugup
"yaudah kita mulai topik aja ya sayang..
ucap ibunya sambil tersenyum yang sedari tadi tidak lepas diwajahnya
ambara hanya mengangguk pelan
ratu Sonia memegang bahu menantunya pelan, sambil masih tersenyum,
"ambara sayang, tepat hari ini dirimu resmi menjadi seorang ratu dinegri alaric, kami ingin bertanya padamu apa alasan seseorang menjadi ratu?
tanya ratu Sonia
ambara berpikir sejenak, mengingat semua pengalamannya
"karena dia menikahi seorang raja?
jawab ambara sesuai pengetahuan nya
"jawabanmu sudah benar, tapi ada hal lain yang membuatnya benar benar pantas disebut seorang ratu.
ibunya menatap mata anaknya dengan tulus, ambara merasa hari ini kedua sosok wanita didepannya adalah ratu yang hebat dan ibu yang hebat, dia berharap kedua orang itu ingin membagikan pengalaman mereka kepadanya. karena ambara ingin menjadi mereka.
ambara menatap bingung kedua wanita didepannya
"apa yang membuat seseorang pantas dipanggil ratu bun?
tanya ambara pelan
__ADS_1
"yang pertama, dia adalah seorang wanita yang tau apa itu harga diri, yang kedua dia adalah wanita yang memiliki jiwa pemimpin, yang ke tiga dia adalah wanita yang tidak menjadi beban di negerinya, ke empat, dia adalah wanita yang bisa mengerti perasaan orang lain, seperti suaminya, keluarga, masyarakatnya dan orang lain.
jelas sang ibunya
ambara yang mendengarnya terdiam, beberapa menit kemudian ia mulai berani bertanya sesuatu
"lantas jika dia tidak seperti yang ibu bicarakan, dia bukan seorang ratu?
kedua ibunya menggeleng
"tentu dia bukan ratu, dia hanya beban yang dinikahi suaminya dan beban masyarakatnya, dan tidak layak dipanggil ratu
ratu Sonia menjawab pertanyaan nya
"tapi Bu, jika dia tidak menikah dengan raja, dan dia memiliki sifat sifat itu, tetap saja kan dia bukan ratu?
pertanyaan ke dua terlontar dari mulut ambara
kali ini ibu kandungnya yang menjawabnya
ibu ambara kembali tersenyum dan mengelus pelan kepalan anaknya, ambara tidak bisa berkata kata, dia rasa apa yang dikatakan ibunya ada benarnya.
"jadi bagaimana menantu ku ambara, kamu mau jadi ratu yang sebenarnya ratu?
tanya ratu Sonia
ambara tersenyum lalu mengangguk mantab. kedua ibunya tersenyum kepadanya, merasa sangat senang ambara bisa mengerti apa yang mereka ucapkan.
"baiklah sayang, kita liat Beberapa tahun yang akan datang, apakah negri alaric akan menjadi lebih makmur dan kaya, mengalahkan negri tempat ratu zelia dan ratu Sonia memimpin, bagaimana kau sanggup sayang?
ambara menyakinkan dirinya, dan mengiyakan ucapan ratu Sonia baru saja,
"satu hal lagi pesan dari ibu, sejauh manapun nanti langkah kakimu melangkah, sejauh mana pun nanti, luka yang menggores hatimu, sejauh mana pun nanti kamu rasa terluka, sejauh mana pun pengalaman mu nanti, jangan lupakan dan jangan tinggalkan zayden.
__ADS_1
ucapan ratu zelia membuat hati ambara terasa sedikit terpukul, jangan meninggalkan zayden sampai kapanpun?, tetap bersama dengan zayden?, disaat Celia yang masih berusaha mendekati zayden disaat seringnya zayden membuatnya kesal dan menangis, haruskah ia bertahan?, mampukah ambara?
"ambara, bagaimana? kau setuju kan sayang?
tanya ratu Sonia
ambara terdiam, ia bingung ambara merasa ia tidak bisa berjanji, mungkin hari ini zayden baik padanya, tapi?, beberapa hari setelahnya, beberapa Minggu setelahnya, atau mungkin tahun?. zayden pasti akan kembali ke sifat awalnya lagi yang angkuh, emosional, dan yang seolah olah menganggap ambara hanya pelayan pribadinya.
"sayang, kenapa kau tidak setuju? , bersumpah lah sayang jangan tinggalkan zayden, meskipun kalian bertengkar nanti, atau mungkin berpisah, mohon ambara, bersumpah lah, jangan tinggalkan zayden, dan jangan pernah lupakan zayden.
ibu zayden, tersungkur dilantai, memegang kedua kakinya sambil memohon. ambara kaget ia segera menjauhkan kakinya, dan memeluk ibu zayden.
"berjanjilah sayang, sampai kapanpun, jangan pernah tinggalkan... zayden putraku.. , kumohon padamu ambara...
ambara merasa tidak enak, bahunya dapat merasakan air mata ratu Sonia menetes dipundaknya, sedangkan ratu zelia ikut memeluk ambara dan ratu Sonia.
"berjanjilah sayang, itu adalah satu hal, yang bisa ratu Sonia minta padamu, kumohon sayang demi ibumu juga.
ucap ibunya lagi,
ambara merasa semakin terpukul, ia tidak tau berbuat apa, haruskah?, haruskah?!!!.
setelah beberapa menit suasana kamar hanya diisi suara kesedihan dan tangis, ambara pun memcahkan keheningan itu
"iya aku bersumpah, aku berjanji akan tetap bersama dengan zayden.
ucap ambara dengan suara halus,
mendengar jawaban ambara, kedua wanita itu memeluk ambara dengan sangat kuat, mereka memeluknya dengan penuh kasih sayang, beribu ucapan terimakasih kasih mereka ucapkan untuk ambara, sedangkan ambara masih berusaha bersahabat dengan pikirannya, ia bingung mengapa kedua wanita didepannya begitu senang ketika ia bersama dengan zayden. apa alasan dibaliknya? , apakah ada hal yang mereka sembunyikan?, apa yang sebenarnya terjadi?
mengapa ambara azaylin harus tetap bersama dengan zayden alaric?
...----------------...
__ADS_1
malam itu angin menyelimuti tubuh ketiga wanita itu, mereka bertiga bercanda, dan tertawa bersama malam itu, kebetulan malam itu mereka memaksa ambara untuk tetap bersama mereka malam ini, dengan senang hati ambara menyetujuinya, suara burung hantu dapat terdengar dari ujung jendela kamar, malam itu bulan bersinar dengan terang, berbentuk dengan sempurna, tepat hari itu, ambara rasa hari sangat mendukung suasana malam mereka, ambara merasa sangat bahagia, lebih dari kata bahagia, ia berharap melam ini tidak akan pernah berganti menjadi siang, ia berharap semoga bulan yang bersinar dilangit, tetap saja bersinar dengan cerah, dan juga kedua wanita cantik didepannya ini, tetap berada disisinya kalau bisa selama lamanya, namun sayang semua yang ia harapkan belum tentu bisa tercapai. faktanya hari terus berlalu malam belum tentu tetap menjadi malam, bulan belum tentu bisa ada disana untuk menyinari malam yang gelap, dan kedua wanita didepannya belum tentu bisa bersamanya sampai kapanpun dan dimana pun, itu faktanya, semua yang terjadi tidak selalu sesuai ekspektasi kita.
...****************...