
...Hai selamat membaca,semoga suka ya❤️...
Hari mulai gelap dan setiap tenda juga sepertinya sudah siap. Tidak ada lagi yang sibuk menancapkan kerangka tenda apalagi mencari kayu bakar dan sebagainya untuk membuat api unggun karena semuanya sudah beres. Masalah perut juga sudah tuntas karena sekolah menyiapkan makanan, yaa walaupun hanya nasi kotak dan air mineral itu sudah sangat cukup membuat perut kenyang.
Malam ini hanya berkumpul mengelilingi api unggun sekedar bercerita dan menonton acara stand up comedy dadakan kemudian beristirahat karena esok hari mungkin saja ada kegiatan yang seru.
"Tolong agar tidak ada yang kelayapan malam ini, apalagi mojok dibalik pohon atau batu apalagi sampai memanjat pohon demi kelancaran pertemuan kalian, itu berbahaya" Ucap pak Iwan mengingatkan para siswanya.
"Ciee pengalaman ya pak" Alfred ternyata bisa lucu juga ya. Setelah diketahui hanya bisa bermesraan dengan Cia didepan Grisya.
"Jangan sembarangan kamu saya tidak mau kalian kenapa-kenapa" Pak Iwan menetralkan debaran jantungnya. Emm sepertinya memang ada pengalaman.
"Sudah sana kalian tidur" perintahnya lagi yang seolah-olah mengusir secara tidak langsung.
"Beb, kamu kalau ada apa-apa bilang ya apalagi kalau butuh sesuatu aku pasti siap bantuin kamu 24/7" Alfred menggenggam tangan Cia sambil tersenyum.
"Iya beb ueekk" Sebelum Cia menjawab Alfred dua anak bebek yang tidak pernah akur itu lebih dulu menjawab dengan gaya mengolok-olok.
"Meh apaan si kalian berdua, Iya beb aku pasti ngabarin kamu" Cia tersenyum senang.
"Iri? Bilang bos!" Ucap Alfred kearah Leo dan Grisya yang tidak ditanggapi oleh dua anak itu.
"Hai"
"Oh hai" Grisya terkejut. Seseorang menghampirinya yang sedang menghadap api unggun sambil mendengarkan obrolan yang membuat telinganya lelah.
"Tenda kamu yang mana?" Tanyanya duduk disebelah Grisya
"Yang itu Thur" Grisya tersenyum menunjuk ke arah tendanya yang membuat Arthur mengangguk mengerti.
"Sama Cia?" Arthur kembali bertanya.
"Haha iya sama siapa lagi kalau bukan sama Cia"
"Oh gitu kalau butuh bantuan jangan sungkan ya aku pasti bantuin kamu" Arthur mengingatkan.
"Oke siap" Grisya mengacungkan jempolnya kearah Arthur sambil tertawa.
"Huh lebay amat pake kata aku kamu segala. Yang satunya sok perhatian dasar pahlawan kemalaman, geli gua"
Mengomel dalam hati setelah melihat pemandangan didepan matanya. Leo masuk kedalam tenda dan membaringkan dirinya. Memaksakan diri untuk memejamkan mata karena bosan.
"Nape lu?" Alfred masuk kedalam tenda setelah berpamitan dengan Cia.
"Ngantuk" Leo menjawab cuek.
"Halah lu bilang aja cemburu liat Arthur sama Grisya tadi" Alfred mengolok.
__ADS_1
"Banyak bacot lu ah, kagak ada hubungannya sama manusia lebay kayak mereka" Leo memejamkan matanya membelakangi Alfred.
"Hmh gua tandain lu, liat aja nanti kapan waktunya" Ucap Alfred dalam hati kemudian ikut memejamkan matanya.
Tengah malam tepat pukul 00.30
Ada cahaya senter yang terlihat dari dalam tenda, ada bayangan yang melintas dan sepertinya sedang buru-buru juga sedikit terdengar suara perempuan yang meringis kecil.
Gangguan itu membuat Leo membuka matanya dan beranjak ingin keluar tenda untuk memastikan apa yang ada diluar sana. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak.
Yang dipikirkannya bukan hantu dan semacamnya karena dia cukup pemberani dan tidak terlalu mempercayai hal-hal semacam itu. Yang dia pikirkan adalah orang pacaran, bagaimana dia mau berpikiran seperti itu zaman sekarang anak SD pun sudah bisa punya 3 pacar sekaligus.
"Wadaw jangan-jangan beneran ini" Batinnya was-was
Perlahan ia berjalan mendekat kearah sumber suara, ringisan kecil itu masih terdengar ditelinganya sampai sekarang, dengan membawa senter kecil yang ia matikan karena tidak ingin ketahuan ia terus mendekat kearah sumber suara itu.
Tapi tiba-tiba saja,
"AAAAAAAAA!!!!!" Spontan saja Leo menutup mulut Grisya. Ternyata dugaannya salah.
"Lele" ucapnya.
"Lele lele lele, ngapain lu tengah malam mondar-mandir sendirian? Mau ngepet ya?" Leo tidak menduga kalau itu ternyata adalah Grisya ia pikir ia akan menemukan sesuatu yang oh my God tepuk kepala.
Grisya menepuk dan menyikirkan tangan Leo yang membekap mulutnya.
"Kenapa kagak minta temenin ke Cia" Leo bertanya.
"Dia tidur kebo gak bangun-bangun" Ucap Grisya pelan sambil sesekali meringis karena kebelet pipis sambil sesekali menyatukan kedua kakinya.
"Yaudah ayo gua temenin" Leo menawarkan dirinya menemani Grisya.
"Hah? Tapi kemana?" Grisya bingung.
"Ya kemana lagi kalau gak kesana jauh-jauh dari tenda" Dengan enteng Leo menunjuk kearah semak-semak yang tidak terlalu jauh dari tenda.
"Tapi kan ada toilet khusus buat buang air segala macam disana" Tunjuk Grisya kearah toilet kecil .
"Kejauhan keburu lu pipis di celana" Ujar Leo santai.
"Duh malu banget tapi gak apa-apa deh daripada pipis di celana sekali doang gak masalah kan?" batinnya
"Yaudah deh" Grisya membuntuti Leo.
Leo menghidupkan senter yang sedari tadi dia matikan. Menuju ketempat yang lumayan bisa dikatakan tersembunyi dan aman.
"Sya?" Panggilnya pelan.
__ADS_1
"Hmm??" Grisya masih diam memegang ujung baju Leo.
"Sana buruan, nanti pipis di celana gimana? Ucapnya lagi.
"Gue takut, lo tungguin gue ya jangan ditinggalin" Grisya memohon dengan sangat.
"Iya gua jagain cepetan sana"
Sementara itu Grisya yang pergi pipis sebentar-sebentar memanggil Leo dan disahuti Leo dengan deheman. Sampai dimana ia memanggil Leo dan tidak disahuti oleh Leo diapun mulai panik karena takut ditinggal.
"LEOOOO!!!!!!" teriaknya karena mendengar sesuatu.
"Kenapa??" Leo panik berlari menghampiri Grisya.
Grepp Grisya memeluk tangan Leo erat. Malam ini tidak ada dendam kesumat diantara mereka berdua tidak tau lagi kalau besok akan bagaimana.
"Ada suara-suara disitu jangan-jangan ular" Grisya masih dengan wajah ketakutannya mengadu kepada Leo sambil terus memegang erat lengan Leo.
"Udah jangan takut lagi mungkin itu tikus doang" Leo menenangkan.
"Gak tau balik ke tenda yuk gue takut ni"
"Udah tuntas?" Leo cekikikan menanyai Grisya.
"Hah?" Sedetik kemudian ia paham.
"Ihh apaan si ayo balik cepetan" Grisya malu. ia menjawab seolah tak mengerti maksud Leo.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke tenda karena jaraknya juga memang tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 6 menit berjalan kaki. Tanpa disadari oleh sang empunya tangan, Grisya masih setia memeluk tangan Leo dan Leo tidak mempermasalahkan itu tapi tumben sekali.
"Makasih ya udah nemenin"
"Sama-sama dah sana tidur" Leo berlalu saat Grisya sudah masuk ke tenda.
******
"Huuh gua pikir bakalan ada pertunjukan spektakuler ini malah nemenin cewek pipis" Leo terkekeh kemudian merebahkan dirinya dan tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Haiii jangan lupa tinggalkan jejak pembaca yaa itu berharga banget buat aku, ayo like, komen dan vote biar author makin semangat menulis. Terimakasih yaa❤️