Kamu Lagi

Kamu Lagi
Pulang


__ADS_3

Ya sekarang waktunya pulang, lokasi camping telah rapi dan bersih, tidak ada satupun tenda yang tersisa. Dan kini puluhan siswa itu mengantri untuk masuk kedalam bus yang akan memulangkan mereka.


Beberapa siswa terlihat menunjukan wajah sedihnya, sedikit tidak rela jika perkemahannya berakhir dan mereka harus pulang sekarang, beberapa lainnya tentu saja memikirkan akan melanjutkan liburan dengan berbagai rencana yang sudah mereka siapkan.


"Duh habis ini gue liburan kemana ya?" Shella tersenyum girang, baginya menikmati masa liburan sangatlah penting sebelum diterpa dengan banyaknya tugas sekolah.


"Belum juga sampai rumah shell" celetuk Tasya yang muncul sambil memandang wajahnya dicermin disebelahnya.


"Gue bosan kalau diam dirumah" ucapnya menggandeng tangan Tasya.


"Ehh, sya lo mau liburan kemana lagi habis ini" celetuk Shella ketika melihat Grisya hampir menaiki bus.


"Gak tau shell" ucap Grisya nyengir.


Ia ditinggal oleh Cia. Ya ini bisa dimaklumi apalagi saat Cia sedang bersama Alfred ia tidak bisa memarahi teman baiknya itu.


"Isyaa sini, duduk disini aja" Cia memanggilnya ketika melihat dirinya yang berlalu melewati kursi yang diduduki Cia.


"Gak mau jadi racun nyamuk" Jawabnya menoleh sebentar lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi kosong yang sedikit jauh dari tempat dimana Cia dan Alfred berada.


Cia cekikikan melihat Grisya berlalu melewatinya, dirinya adalah satu-satunya teman dekat Grisya jadi mereka sering bersama. Setiap dirinya bersama Alfred pasti Grisya tetap ada bersamanya walaupun setiap ajakannya terkadang ditolak oleh Grisya dengan satu alasan tidak ingin jadi racun nyamuk.


"Ahh, akhirnya pulang kerumah" batinnya sambil menatap kearah luar. Hanya dua hari satu malam meninggalkan rumah tapi dirinya sudah begitu merindukan orang-orang dirumah.


"Kenapa busnya belum jalan juga sih" Kesalnya melirik jam tangannya, dirinya sudah tidak sabar untuk bertemu mama dan papanya dirumah.


"Hai pacar" Leo memanggilnya sedikit berbisik membuatnya terhenyak. Apa katanya? Pacar? Apa tidak salah dengar.


Leo menduduki pantatnya dikursi kosong tepat disebelah Grisya. Reaksi Grisya mendengar panggilannya membuatnya gemas, membuatnya tersenyum kemudian kembali mendekati telinga Grisya dan kembali berbisik. "Jangan bengong gitu nanti kemasukan setan" kekehnya geli.


Perkataannya sukses membuat Grisya tersentak. "Ngapain duduk disitu?" Ujarnya menatap Leo bengong.


"Emangnya gak boleh?" Tanya Leo menatapnya balik.


"Boleh sih"


"Yaudah"


Hening


"Kenapa jadi canggung gini dah" batin Leo melirik Grisya disampingnya yang terus diam memperhatikan pemandangan diluar jendela dan tidak melirik dirinya.


"Nanti kita diturunin dimana sih" Tanya Grisya seketika yang membuat Leo menoleh kearahnya.


"Disekolah sya" Jawabnya singkat.


"Oh disekolah" cicit Grisya manggut-manggut


Matahari semakin naik, untung saja hari ini tidak hujan. Terlalu lama diam membuatnya terlelap, kepalanya tanpa permisi bersandar nyaman dipundak Leo.

__ADS_1


Apa yang terjadi diantara mereka berdua tadi malam membuat mereka merasakan canggung pagi ini. Hingga mereka yang biasanya selalu terlibat pertengkaran tidak jelas kini hanya terdiam tidak tahu ingin membahas apa.


Leo menoleh kesampingnya, sesuatu yang menimpa bahunya membuatnya menoleh. "Tidur ternyata" ucapnya menyunggingkan bibirnya.


Satu jam lebih dalam perjalanan akhirnya sampai juga disekolah. Leo terbangun karena merasakan tepukan dipundaknya. Alfred dan Cia tengah berdiri menatapnya disamping tempat duduknya sekarang.


"Udah sampai" ujar Alfred ketika melihat Leo menatapnya.


Sedangkan Cia menatap Grisya yang terlelap dipundak Leo. "Tidurnya nyenyak banget"


Ucapan itu membuat Leo menoleh menatap seseorang yang duduk bersamanya. "Duluan aja ntar gua turunnya sama dia" ucapnya melihat kembali kearah Alfred.


Alfred berlalu menarik tangan Cia untuk keluar dari dalam bus meninggalkan Leo yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Matanya terlalu berat untuk terbuka, ia masih ingin tidur.


"Sya bangun" panggilnya menepuk pelan pipi Grisya. Beberapa kali panggilannya tidak berhasil membuat Grisya bangun.


"Sayang bangun, udah sampai. Kalau gak bangun nanti aku cium" bisiknya pelan ditelinga Grisya.


Grisya mengerjap, menutup mulutnya yang menguap lalu menatap keluar jendela. "Udah sampai ya?" Tanyanya yang diangguki Leo.


"Ayo keluar" Ajak Leo menggenggam tangannya.


Mengekor dibelakang Leo dengan tangaannya yang digenggam laki-laki didepannya, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya hingga panggilan Cia tidak digubrisnya sama sekali.


"Isyaaa" panggil Cia mengguncang tubuhnya.


"Sadar dong, buruan telepon papa lo buat jemput"


"Papa pasti lagi kerja sekarang"


"Trus gimana?"


"Gue pesen taxi aja deh"


"Sama Leo aja ya, gue takut lo kenapa-napa", Hanya anggukan yang didapatinya.


"Iya, biar dia gua yang antar" ujar Leo yang disetujui Cia.


"Gue duluan ya sya, yang jemput udah datang" pamit Cia menatap Grisya yang memejamkan matanya bersandar dipundak Leo.


Ia memanggil Leo lalu memberi kode dengan menunjuk hpnya. Leo yang paham maksudnya seketika memegang kepala Grisya sambil tersenyum.


Cia berlalu meninggalkan mereka. Leo menarik Grisya menuju toilet. "Bangun hei, cuci muka sana biar sadar" ucapnya yang diiyakan oleh Grisya.


Ia menunggu Grisya sambil mengetik pesan di hpnya menghubungi supir rumahnya agar segera menjemput dirinya disekolah.


Tak lama seseorang menghampirinya. Ya siapa lagi kalau bukan Arumi. Gadis itu memperhatikannya sejak ia keluar dari bus, berbincang dengan Cia, hingga sekarang.


"Leo" panggilnya yang hanya ditatap oleh Leo. Dia sedikit kesal pasalnya Leo selalu bersama Grisya sehingga dirinya tidak memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Leo.

__ADS_1


"Ngapain didepan toilet?" Tanyanya menatap Leo kemudian menatap pintu toilet yang tertutup.


"Nungguin Grisya" jawab Leo santai.


"Ohh, mau balik bareng ya? Gue boleh ikut gak?" Tanyanya menatap Leo berharap.


Leo memasukkan ponselnya kedalam saku celananya kemudian menatap Arumi. "Gak bisa, gua nanti numpang di mobilnya Alfred"


Arumi hanya mendesah kecewa, matanya menatap tak suka pada Grisya yang berdiri didepan pintu toilet yang telah terbuka.


"Le" panggil Grisya membuat Leo menatapnya.


"Udah selesai?" Tanya Leo tersenyum.


Grisya mengangguk kemudian berjalan mengekori Leo karena tangannya digenggam Leo sekarang. Meninggalkan Arumi yang hanya diam menatap mereka dari belakang.


Mereka berhenti didepan mobil hitam, Leo memasukkan barang-barang mereka kedalam mobil.


"Masuk" ujarnya meminta Grisya mengikutinya masuk kedalam mobil.


"Supir dirumah kamu ya?" Tanya Grisya menatapnya bertanya.


"Bukan, dirumahku mana ada supir" jawabnya membuat supir didepan tampak heran.


"Jalan pak" ujarnya meminta supir menuju alamat Grisya.


"Pak boleh singgah sebentar di supermarket gak pak, saya mau beli minum"


Supir melirik Leo dari kaca depan, kemudian mengangguk ketika melihat anggukan dari Leo. "Boleh non" ucapnya kemudian menepikan mobilnya.


"Sebentar ya" ujarnya menatap Leo kemudian membuka pintu mobil.


Ditengah kegalauannya menatap isi kulkas ia melihat tangan seseorang mengambil sebotol air mineral. Membuatnya menoleh kebelakang tidak jadi mengambil susu yang baru saja dipegangnya.


"Arthur" Ucapnya.


"Lo sama siapa?" Arthur menanyainya.


"Dijemput sama supir tadi" jawabnya tersenyum.


"Oh, ambil aja minumnya" ujar Arthur terkekeh melihat Grisya yang tak jadi meraih sebotol susu stroberi.


"Oh iya, gue lupa" jawab Grisya terkekeh kemudian meraih sebotol susu stroberi dan sebotol air mineral didalam kulkas. Ia yakin Leo pasti lebih memilih air mineral.


Arthur masih setia mengekorinya yang sedang memilih beberapa makanan ringan sambil menuju kasir.


"Biar gue yang bayarin" Ucap Arthur tersenyum menatap Grisya ketika sampai didepan kasir.


"Gak perlu, gua yang bayar" Leo menyerahkan selembar seratus ribu pada kasir. Tidak banyak belanjaan Grisya, tidak mencapai seratus ribu juga. Lagipula tidak rugi hanya untuk membayar belanjaan kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2