Kamu Lagi

Kamu Lagi
Tongkat Baseball


__ADS_3

...HAI SEMOGA SUKA DAN SELAMAT MEMBACA...


...❤️...


Pagi hari yang menyenangkan karena disambut dengan sinar matahari yang hangat dan kicauan burung Pipit yang sungguh indah. Hari ini adalah hari yang menyenangkan karena berhasil keluar dari ruangan yang membosankan. Hingga membuatnya semangat untuk bangun dan mandi oh dan tentu saja semangat pagi untuk berangkat ke sekolah.


Beberapa hari tidak sekolah menjadi kebosanan tersendiri bagi Grisya apalagi dia tidak sekolah karena sakit. Demam menyebalkan yang membuatnya tidak bisa tidur dan makan dengan nyaman, demam yang membuatnya tidak bisa pergi keluar jalan-jalan menghirup udara segar dan demam yang mengurungnya didalam kamar. Sungguh membosankan.


"Aahhh akhirnya aku bebas, yeey keluar sangkar" Ia berteriak kegirangan sambil menuruni tangga.


"Hai mama, hai bibi selamat pagi" Ia menyapamama Indah' dan bibi Asih yang ada didapur.


"Pagi non" Bi Asih menjawab salam Grisya.


Mama Indah terlihat tersenyum melihat putrinya turun menghampirinya dengan seragam sekolah serta dengan semangat 45. Ia menghampiri putrinya untuk memegang dahi memeriksa kondisi tubuh Grisya apakah sudah benar-benar sembuh atau belum.


"Mama sama bibi masak apa? Wangi banget" Ia menghirup aroma masakan yang wangi.


"Nasi goreng seafood kesukaan kamu sayang" jawab mama


"Pedes gak ma?" Grisya mendudukkan dirinya bersiap untuk sarapan berharap nasi goreng yang akan disajikan Bi Asih itu pedas.


"Enggak dong sayang kamu kan baru sembuh jangan makan yang pedes dulu" mama tersenyum mengelus rambut Grisya.


Selang beberapa menit papa datang dan menghampiri mama Indah dan Grisya yang sedang mengobrol ringan.


"Pagi ma, pagi sayang" Papa Sean menghampiri meja makan, ia mengecup pipi mama Indah dan mengusap rambut Grisya.


"Romantis banget papa dan mamaku" Grisya tersenyum memandangi kedua orang tuanya. Pengen deh nanti punya pasangan kayak papa hihi" batinnya.


"Pagi pa" Grisya dan mama menjawab papa sambil tersenyum.


"Udah bener-bener sembuh hm?" tanya papa mengusap rambut Grisya.


"Udah dong pa mana betah sih Isya sakit lama-lama hehe" Ujar Grisya menatap wajah papanya yang masih saja mengkhawatirkannya itu.


"Hari ini papa aja yang antar kamu ya kamu gak usah naik motor dulu" Ucap papa sembari mengambil piring berisi makanan yang disodorkan oleh mama.


"Oke pa siap"Grisya mengacungkan jempolnya kearah papa Sean.


Sementara keluarga itu memulai sarapan, bi Asih kembali kebelakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Seperti pekerjaan asisten rumah tangga pada umumnya, mencuci baju dan membersihkan rumah.


Bi Asih sangat betah dan sudah lama bekerja dikeluarga Edward karena mereka memperlakukannya dengan baik. Kebaikan itulah yang membuatnya betah berada dirumah itu.


Setelah menyelesaikan sarapan papa Sean dan Grisya bersiap untuk berangkat ke kantor dan sekolah seperti biasa mama mengantar hingga depan pintu. Namun terlihat mama Indah buru-buru berbalik kedalam rumah lalu keluar dengan menenteng sebuah paper bag.


"Itu apa ma?" Tanya Grisya heran menunjuk paper bag yang ada ditangan mamanya.


"Jaket temen kamu, jangan lupa bilang makasih ya karena udah bantuin kamu" pesan mama menyerahkan paper bag itu padanya.


"Siap ma, dah mama" Grisya mencium punggung tangan mamanya kemudian mengecup pipi mamanya sekilas.


"Berangkat dulu ma" Ucap papa dari arah kemudi.

__ADS_1


"Hati-hati dijalan sya, pa" mama melambaikan tangan kepada dua orang tersayangnya itu.


Tak butuh waktu lama untuk sampai disekolah yang jaraknya juga searah dengan kantor papa Sean.


"Dah papa" Grisya melambaikan tangannya saat mobil melaju meninggalkan kawasan sekolah. Grisya masuk dengan menenteng sebuah paper bag berisi jaket kedalam sekolah.


Sesampainya Grisya dikelas Cia langsung menghambur kepelukan Grisya.


"Waaahh sayangku udah sembuh" ucapnya senang memeluk Grisya.


"Utututu pasti lu kangen kan sama gue" Grisya mencubit pelan pipi Cia.


"Iya nih, itu apa? Makanan ya? Pasti buat gue nih" Celetuk Cia menepuk perutnya setelah menunjuk bawaan Grisya.


"Bukan ini jaketnya si anak baru"


"Anak baru? Leo maksud Lo"


"Hooh"


Baru beberapa saat mereka mengobrol dan membicarakan perihal jaket anak baru dan siapa yang menolong Grisya. Eeh sungguh panjang umur yang sedang dibicarakan menampakan batang hidungnya. Dengan gaya keren dan senyuman yang mempesona dia memasuki ruangan kelas.


"Sok kegantengan amat ni orang uh sabar Grisya dia udah nolongin Lo ayo kita berterimakasih" batin Grisya menenangkan dirinya sendiri untuk berhenti julid.


Grisya mendatangi Leo dengan paper bag ditangannya, ia meletakan paper bag itu diatas meja Leo.


"Jaket lo, makasih ya udah bantuin gue waktu itu" ucapnya sedikit ketus, bukan seperti itu maksudnya sayangnya kadar gengsinya masih tinggi.


"Hmm, lu gak usah kegeeran karena gua bantuin lu cuma gara-gara kasian liat lu doang" Leo bersikap acuh terhadap Grisya.


"Hmm iye makasih ya" ujar Grisya hendak berbalik sebelum Leo berucap kembali.


"Ini jaket gua bersih kagak nih jangan-jangan bau apek lagi" Leo melihat isi paper bag sambil sok mencium aromanya.


"Bersih dong udah dicuci dengan mesin cuci teknologi tinggi trus pake sabun cuci dari Eropa trus pake pewangi dari Paris" Grisya menjawab asal dengan menahan kesal.


"Yaudah sana lu males gua liat lu" Usir Leo


"Kampret" batin Grisya mendengus meninggalkan meja Leo.


Sementara itu Leo tersenyum setelah matanya menangkap gurat kesal diwajah Grisya. Tiada hari tanpa jahil apalagi setelah ketidakhadiran Grisya selama beberapa hari membuat zat-zat kejahilannya tidak tersalurkan. Kalau hanya bertemankan Alfred sungguh tidak bisa karena Alfred sibuk dengan pujaan hatinya.


Hmm hari ini ada pelajaran olahraga di kelas 11 IPS 3 dan 11 IPS 1 yang merupakan kelas Alfred biasanya dua kelas ini melakukan belajar secara pararel yaitu dengan menggabungkan dua kelas.


Arthur memberitahukan pesan dari guru mapel setelah kembali dari kantor bahwa mereka akan melakukan praktek permainan kasti di lapangan sepak bola sekolah.


"Semuanya ganti seragam kalian dan gunakan pakaian olahraga setelah itu cepat berkumpul ke lapangan" Ucap Arthur yang di iyakan oleh siswa yang ada dikelas 11 IPS 3.


Leo yang sudah malas pergi ke ruang ganti berniat langsung mengganti pakaiannya didalam kelas. Baru saja tangannya berada diujung baju matanya menangkap banyak pasang mata melotot kearahnya membuatnya menyambar pakaian dan berlalu keruang ganti.


"Gila tadi gue liat kotak-kotak" Teriak Tasya setelah Leo menjauh dari kelas.


"Gue juga liat walaupun kurang jelas" Histeris mereka heboh didalam kelas.

__ADS_1


Grisya menggelengkan kepalanya mendengar setiap celotehan yang tertangkap telinganya.


"Sya, habis ganti bisa bantu ambil barang buat praktek ke lab olahraga?" Tanya Arthur menghampiri Grisya yang mengeluarkan botol airnya.


"Boleh thur, tapi gue ganti dulu ya" jawab Grisya ramah kemudian beranjak menggandeng Cia keruang ganti.


"Lo sama Arthur cocok tau sya" celetuk Cia setelah mereka berada diruang ganti.


"Masa" Ucap Grisya seolah kaget.


"Gue seriusan tau semoga kalian cepat jadian" Ucap Cia geregetan sedikit berteriak.


"Heh berisik" Grisya memukul lengan Cia pelan.


"Ihh udah ditungguin ayang" Lirik Cia kearah Arthur yang berada didepan kelas.


"Banyak bacot ih" kesal Grisya.


Arthur tersenyum menatap Grisya, manis. Tapi tak semanis senyuman Leo itu yang ada dipikiran Grisya saat ini. Tidak sadar dengan apa yang ia pikirkan, tersenyum menatap Arthur dari arah yang berlawanan.


"Yuk" ajak Arthur.


"Cia titip ya" Grisya menyerahkan paper bag yang berisi baju olahraga didalamnya.


"Oke dahhh" Cia melambaikan tangannya kemudian mengedipkan sebelah matanya yang membuat Grisya geregetan.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju lab olahraga. Serasi, itu adalah pikiran setiap orang yang melihat mereka. Arthur yang kalem, cool, tidak suka membuat masalah, tampan, manis, tinggi, ah paket komplit disatukan dengan Grisya yang cantik tidak ada yang tidak cocok untuk itu. Perpaduan yang sempurna.


"Sya" panggil Arthur selangkah setelah mereka memasuki lab olahraga.


"Hmm?" Grisya berbalik menatap Arthur yang ada dibelakangnya. "Kenapa thur?" Tanyanya lagi.


Arthur mendekat kearah Grisya menyisakan sedikit jarak untuk mereka berdua. Begitu dekat membuat Grisya sedikit memundurkan langkahnya yang sedikit lagi akan membuatnya membentur tembok.


Didalam lab itu ada beberapa lemari tempat menyimpan peralatan olahraga yang tidak akan muat jika hanya satu lemari, kecuali lemarinya segede gudang.


"Anji*g, ahh bangs*t" teriak seseorang dari balik lemari tempat menyimpan beberapa peralatan olahraga membuat dua orang itu seketika menoleh kearah sumber suara.


"Ngapain lo disini?" Tanya Arthur heran.


"Disuruh pak Hardi ambil tongkat baseball" Jawabnya acuh.


.


.


.


.


Note:


Haii jangan lupa beri dukungan dengan like cerita ini dan tambahkan ke favorit kalau kalian suka semoga suka sih hehe.

__ADS_1


Jangan lupa beri komentar yang baik dan membangun supaya aku bisa buat ceritanya lebih baik lagi.


Terimakasih!!


__ADS_2