
Happy Reading🍹
Pagi ini dia tengah mengetik beberapa kata di google dengan kode pencarian
🔎Kiat-kiat untuk berpacaran
🔎Tips kencan pertama kali
🔎Hal yang biasanya dilakukan saat kencan
🔎Hal yang disukai perempuan
Tangannya sibuk mengetik, membuka dan menggulir layar ponselnya. Semua kode pencarian itu tak lain untuk rencana kencannya dengan Grisya.
Tidak mungkin dengan status mereka yang pacaran mereka tidak pernah sekalipun berjalan berdua, mereka harus berjalan berdua sesekali walaupun tidak sesering pasangan lainnya.
Dia yang awalnya tidak memikirkan perihal kencan sekalipun saat ini malah terlihat sibuk merencanakan kencan. Bertanya pada Alfred dan Liam tidak ada gunanya dan hanya akan membuatnya malu.
"Mesin pencarian gak guna, tips dan saran yang dikasih semuanya alay dan lebay" gerutunya membanting ponselnya diatas tempat tidurnya, beruntung ponsel itu tidak mendarat dilantai.
Beranjak dari tempat tidur menuju jendela besar yang ada di kamarnya, matanya menangkap dua sosok manusia yang sedang berbincang dihalaman rumahnya.
Pikirnya ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertanya kemudian pergi menghampiri dua sosok itu.
Dan kini dirinya duduk di gazebo dengan menatap dua orang yang ada didepannya.
Mang Jeman menatapnya kemudian beralih pada pak Jamal. " Saya kurang tau den, tapi mungkin aden bisa tanya sama pak Jamal"
Leo memangku dagunya dengan tangan dan beralih menatap pak Jamal "Gimana pak?" Dirinya menunggu orang tua itu memberikan beberapa jawaban.
Pak Jamal mendesah pelan "Saya dulu kencannya cuma dipinggir sawah den sambil nyari keong trus malamnya kita pergi ke pasar malam buat naik wahana yang namanya gelombang cinta" jawab pak Jamal terkekeh memandang pria muda didepannya.
"Gelombang cinta? Memangnya ada nama wahana yang begitu pak?" Tanyanya heran, mendengar nama sebuah wahana yang baru pertama kali didengar oleh telinganya.
"Ada den, konon katanya kalau ada pasangan yang naik wahana itu hubungannya bakalan langgeng sampai tua" pak Jamal terlihat antusias menanggapi pertanyaan Leo.
"Iya den, saya buktinya. Dari sejak saya naik wahana gelombang cinta sama istri saya sampai sekarang saya langgeng sama istri saya den" mang Jeman memberi keyakinan pada Leo.
Leo tersenyum kikuk didepan kedua orang tua itu. Saran-saran yang diberikan semakin mengada-ada membuatnya sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, semoga itu bukan kutu karena tidak gatal. Tidak lucu dirinya yang tampan memiliki peliharaan dikepalanya.
"Kalau yang biasanya disukai perempuan apa mang, pak?" tanyanya lagi pada dua orang tua itu, berharap akan mendapat jawaban yang lebih baik.
"Kurang tau den tapi kalau istri bapak dari dulu sampai sekarang sukanya diajak pergi ke yang namanya rumah hantu den"
"Ngapain pak?"
"Uji nyali katanya" jawab pak Jamal nyengir
__ADS_1
"Wah kalau mamang beda lagi den, istri mamang sukanya berburu ular trus ularnya dijadiin sate" Jawab mang Jeman bergidik ngeri dengan hobi yang dimiliki istrinya.
Sedikit ternganga mendengar pernyataan mang Jeman "Ular kobra juga mang?" Tanyanya penasaran
"Semua ular den, kalau ular kobra mah gak seberapa buat dia. Istri saya sangat pemberani den"
"Wah gitu ya mang. Makasih ya pak, mang buat saran-sarannya saya pergi ketemu Dimas dulu" Pamitnya meninggalkan dua orang tua yang memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Kini dirinya berada dibawah pohon dan tepat menghadap kearah kolam samping rumah.
"Dim" panggilnya pada seseorang yang umurnya terpaut 5 tahun lebih tua darinya. Dimas memang bekerja dikeluarganya sambil berkuliah di salah satu universitas terbaik. Potensi yang dimilikinya membuat Papa Samuel tertarik untuk menjadikannya sekretaris di usia muda.
"Iya tuan muda?" Tanya Dimas terkejut menatapnya.
"Duduk dulu Dim" pintanya pada Dimas untuk duduk dikursi yang menghadap ke kolam disamping rumah.
Dimas ikut mendaratkan bokongnya dikursi yang diduduki Leo." Ada apa tuan muda" tanyanya kembali
"Ada saran gak Dim buat kegiatan selama kencan" jawabnya menoleh kearah Dimas yang ada disampingnya.
"Maaf tuan muda saya belum pernah berpacaran" jawab Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jawabannya membuat Leo ternganga.
"Serius Dim gak pernah pacaran?"
"Serius tuan muda"
Dimas sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya. "Jangan tuan muda" ucapnya menggeleng pelan.
"Jadi gimana? Ada saran gak Dim?"
"Saya gak tau tuan muda"
"Dahlah Dim, ternyata gak ada gunanya nanya sama kamu" jawab Leo kesal meninggalkan Dimas yang sedikit tidak terima dengan kata perjaka tua yang dilemparkan oleh Leo.
"Saya kan masih muda, belum pernah berpacaran saat ini belum tentu membuat saya menjadi perjaka tua kedepannya tuan muda" batin Dimas menggerutu menatap punggung pria yang meninggalkan dirinya.
...****...
Grisya menuruni anak tangga, terlihat dirinya sedikit acak-acakan karena baru saja bangun tidur.
"Mama kemana bi?" Dirinya bertanya pada bi Asih setelah keluar dari kamar dan tak melihat sang mama.
"Didepan non ketemu tamu" jawab bi Asih memegang kemoceng.
"Siapa bi?
"Gak tau non, mas-mas ganteng yang waktu itu pernah kesini" kekeh bi Asih mengingat tamu yang sedang ditemui oleh mama indah.
__ADS_1
"Siapa" batinnya sambil berlalu untuk menghampiri mamanya yang ada didepan. Rasa penasaran akan mas ganteng yang disebut bi Asih membuatnya melangkahkan kakinya dengan lebar.
Baru sedikit kepalanya menyembul dari balik pintu, seseorang menyapanya.
"Hai" seseorang tersenyum sambil menyapanya dengan melambaikan tangan.
"Ngapain disini?" Tanyanya pada seseorang yang bersama mamanya yang tak lain adalah Leo.
"Jangan judes dong sya sama temennya" mama Indah mengomentari ucapan Grisya yang menurutnya sangat ketus pada Leo.
"Isya biasa aja kok ma" protesnya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan sang mama
"Gak apa-apa Tante saya udah biasa digituin sama Grisya" Ucapan Leo membuat mama Indah mengernyitkan dahinya
"Grisya jahat sama kamu disekolah?" Tanya Mama Indah pada Leo
"Lumayan Tante" jawab Leo seolah benar
"Loh, kok malah fitnah sih" ucap Grisya semakin cemberut disela percakapan Leo dan mamanya
Mama Indah menggeleng pelan, "Udah daripada cemberut gitu mending bikinin Leo minum" Mama Indah mendorong bahunya pelan.
"Ih, iya-iya" dirinya tidak menolak perintah, menuju dapur dengan niat membuatkan segelas jus jeruk, ya lagi-lagi jus jeruk.
Beberapa menit sepeninggal Grisya, Leo menatap mama Indah "Tante saya perlu ke toilet"
"Masuk aja, nanti tanya aja sama bi Asih atau langsung temuin Grisya, tanya aja sama dia" Ucap Mama Indah yang langsung diangguki Leo yang kemudian beranjak masuk kedalam rumah.
Tidak perlu ke bi Asih, bertanya pada gadis cantik yang ada di dapur lebih menarik daripada bertanya pada yang lain.
"Pacar, mau pinjam toilet" ucapnya membuat Grisya sedikit terjangkit.
"Bisa gak sih jangan ngagetin gitu, itu disana kamar kecilnya" tunjuk Grisya pada pintu yang berada tak jauh dari tempatnya berada sekarang.
Kini dirinya sibuk mengupas beberapa buah jeruk setelah Leo berlalu masuk kedalam kamar kecil.
"Aman pacar" bisik Leo ditelinganya setelah kembali.
Bisikan itu membuatnya menoleh, dirinya membelalakan matanya, bibirnya tak sengaja bersentuhan dengan bibir pria yang ada didepannya hingga hal membuatnya terdiam selama beberapa detik kemudian menjauhkan wajahnya.
Sementara Leo masih terkejut dengan apa yang terjadi barusan, terdiam sejenak kemudian menatap gadis yang pipinya sedang memerah sekarang.
"Pacar" panggilnya membuat gadis yang ada didepannya membelakanginya kemudian menyambar jus jeruk yang ada dimeja dan berlalu meninggalkan dirinya.
Dirinya tersenyum kecil menatap punggung gadis yang melaluinya, apakah yang tadi itu bisa disebut ciuman? Mengapa rasanya aneh sekali, bolehkah reka adegan supanya dirinya bisa memastikan apakah itu bisa disebut ciuman atau sekedar kecupan saja.
Bersambung~
__ADS_1